Ibu Sambung Yang Tak Dianggap

Ibu Sambung Yang Tak Dianggap
Tidak Seistimewa Itu?


__ADS_3

Kondisi Angga sudah membaik dari sebelumnya walaupun harus rehat untuk beberapa hari lagi sebelum benar-benar pulih, syukur nya pukulan yang di berikan Tari mengunakan botol kaca kemaren tidak berdampak buruk.


Pria itu menyesali perbuatannya kemaren, entah setan dari mana yang mempengaruhi nya hingga bisa berbuat hina seperti itu pada seorang wanita yang ia cintai.


Terhitung sudah dua hari Angga menginap di rumah sakit hanya Tari dan Bi Ida saja yang mengunjungi nya selain orangtuanya tentunya.


Gadis itu tidak merasa bersalah sama sekali setelah menyerang Angga, karena dia tau betul apa yang di lakukan oleh teman prianya itu tidaklah benar.


Orang yang diharapkan oleh Angga tidak pernah sekalipun mengunjungi nya, sebenarnya dia tidak berharap Adisti akan datang menjenguknya, tapi setidaknya dengan melihat Adisti baik-baik saja itu sudah cukup untuk Angga.


Klek!


Lamunan Angga terhenti begitu mendengar pintu ruang inap tempat nya di rawat terbuka.


Pria dengan pakaian pasien itu terlihat sangat terkejut ketika tau siapa yang datang mengunjunginya.


"T-tuan?"


.


Sepuluh menit berlalu sejak kedatangan pria bergaya elegan itu, tapi tidak ada suara yang keluar sejak kedatangannya.


Jika Yudha saja hanya diam seperti itu sambil bekerja melalui gadget nya mana berani Angga mengitrupsi kegiatan Yudha.


Tek


Angga menegang begitu Yudha menyudahi kegiatan nya dan langsung menatap kearah nya datar.


"Bagaimana kondisi mu?"


Pertanyaan yang terasa biasa saja jika orang lain mengucapkan nya, tapi saat Yudha yang bertanya pertanyaan itu terdengar seperti 'Kenapa tidak mati saja?'.


Angga menelan kesulitan menelan ludahnya melihat bagaimana tatapan Yudha yang seperti mengulitinya.


"Baik Tuan" dua kata itulah yang bisa keluar dari mulutnya.


Yudha mengubah posisinya menjadi duduk menyender ke sandaran sofa lalu kakinya bertumpu satu sama lain.


Melipat tangannya dia atas paha Yudha terlihat sangat berwibawa sekali saat ini, Angga merasa tidak sebanding dengan Bos-nya tapi bisa-bisanya hanya karena cinta dia hampir saja kehilangan kewarasan dengan merebut wanita milik Yudhakara.


"Tau kesalahan mu apa?"


Tentu saja Angga tau "M-maaf karena saya berani mengganggu wanita anda Tuan" Angga menundukkan kepalanya merasa sangat bersalah.


Namun kepalanya kembali terangkat begitu kekehan Yudha terdengar.


"Wanita saya? siapa?" Keningnya mengerut heran.


Angga tersentak tidak mungkin dia salah kan? kejadian di perpustakaan begitu teringat jelas di ingatannya jadi tidak mungkin dia salah.


"Angga... Angga, Siapa yang kamu maksud dengan wanita saya? huh?" Yudha tertawa remeh, yang membuat Angga sedikit merasa tidak nyaman.

__ADS_1


"Adisti hanyalah seorang pembantu, dia tidak seistimewa itu untuk menjadi wanita saya" jawaban tidak terduga keluar dari bibir Yudha.


Kepalan tangan nya mengerat begitu nada mencemooh yang Yudha keluarkan untuk Adisti, seburuk apapun Adisti di mata nya namun di dalam hati Angga sangat membenci orang yang merendahkan wanita itu.


Sret!


Yudha mengecek jam di tangannya lalu bangkit dari duduknya.


Tap


Kakinya melangkah mendekati supir pribadinya itu.


"Jangan berbuat sesuatu yang menjijikkan lagi di rumah Saya, mengerti?"


Angga tidak menjawab dia hanya terdiam melihat Yudha yang semakin jauh meninggalkan ruangan nya.


Adisti tidak pantas bersama Yudha


Tidak!


Yudha lah yang tidak pantas untuk wanita seperti Adisti.


Mungkin Adisti hanya tersesat dalam kenikmatan sementara karena Yudha bisa memenuhi segala kebutuhan yang wanita itu ingin kan, tapi dia tau cepat atau lambat Adisti akan menyadari jika Yudha bukanlah pilihan yang tepat untuk nya.


Sampai saat itu terjadi Angga berjanji akan melindunginya.


.


.


Pekerjaan hari ini tidak terlalu banyak karena itu malam ini Adisti tidak begitu mengantuk seperti biasanya, sudah lewat jam sembilan malam tapi Yudha belum juga pulang.


Mungkin Yudha lembur lagi?


Adisti duduk di kursi yang menghadap langsung kearah jendela yang menampilkan pemandangan malam hari, di pangkuannya terdapat sebuah buku novel romantis yang sudah ia baca setengahnya.


Ternyata niat membacanya hilang begitu Adisti duduk di kursi itu, melihat pekarangan rumah Adisti jadi mengingat bagaimana Angga selalu mencuci mobil sambil menggodanya yang tengah menyirami tanaman.


Jika ingat masa-masa itu tidak pernah terbayangkan olehnya bahwa Angga bisa berbuat jahat padanya.


Salah nya juga memberikan sebuah harapan pada pria sebaik Angga, jika dari awal Adisti dengan tega menolak Angga mungkin pria itu tidak akan berbuat seperti ini padanya.


Grep!


Adisti melirik sekilas seseorang yang tengah memeluk nya dari belakang dia tersenyum saat tau suaminya lah yang tengah memeluknya.


Yudha tidak lembur ternyata..


"Sedang memikirkan apa?" Yudha menyenderkan kepalanya pada bahu terbuka Adisti.


Usapan lembut di berikan pada kepala Yudha yang berada di bahunya.

__ADS_1


"Bukan hal penting Mas"


Yudha tidak percaya tapi dia memilih diam saja.


"Mas sudah makan belum?"


Anggukan dirasakan Adisti di pundaknya.


"Kalau begitu biar aku siapkan air hangat untuk mandi ya?" Pelukan mereka terlepas.


Adisti berjalan menuju kamar mandi untuk menyiapkan air hangat, meninggalkan Yudha di belakang sana yang masih terus menatapnya.


Benarkah Adisti tidak seistimewa itu? ucapan nya pada Angga tadi di rumah sakit, apakah sungguhan?


Yudha tidak tau jelas mengenai perasaan nya yang sesungguhnya pada Adisti, jika melihat perbedaan status mereka saat ini Yudha merasa belum bisa menerima jika Adisti adalah istrinya.


Tapi tidak salah jika Yudha begitu bergantung pada Wanita itu, Adisti adalah orang penting dalam hidupnya.


"Mas?" Adisti memanggil dari tadi tapi Yudha hanya melamun saja.


Sebenarnya siapa di sini yang sedang memikirkan sesuatu?


"Apa ada masalah?" Adisti menepuk lembut dada suaminya, membantu Yudha melepaskan jas yang melekat pada tubuh atletis nya.


Yudha hanya membiarkan Adisti melakukan tugasnya.


"Hanya sedang berfikir, lelaki seperti apa yang beruntung bisa menikah dengan mu, jika kita tidak pernah bertemu?" Yudha asal bicara.


Adisti menghentikan kegiatannya membuka satu-persatu kancing baju Yudha, matanya menatap penuh pada sang suami.


Mungkin dengan mudah Adisti akan menjawab Angga lah yang akan menjadi suaminya jika Dia tidak pernah menikah dengan Yudha.


Tapi tidak segila itu membahas lelaki lain di hadapan suaminya.


Kancing terakhir terlepas Adisti pun menyudahi kegiatan nya.


"Sudah, sekarang Mas mandi sebelum airnya dingin"


Yudha merasa tidak puas dengan pengalihan pembicaraan Adisti, melihat keterdiaman wanita itu Yudha tau jika istri nya itu sudah memiliki jawaban.


Rahangnya mengeras membayangkan ada lelaki lain yang berani merebut Adisti dari nya.


Bukan Rasa Cinta yang saat ini Yudha rasakan, lebih kearah sebuah hak kepemilikan.


Adisti adalah miliknya!


Cup


Yudha meninggalkan sebuah ciuman di bibir sang istri sebelum pergi ke kamar mandi.


Apa ada sesuatu hal yang terjadi pada Yudha? kenapa dia bisa bersikap semanis ini hari ini?

__ADS_1


Adisti menggelengkan kepalanya mengenyahkan pikiran-pikiran kotor yang terlintas di kepala nya.


TBC...


__ADS_2