Ibu Sambung Yang Tak Dianggap

Ibu Sambung Yang Tak Dianggap
Dara end.....


__ADS_3

Adisti memperhatikan seperti ada yang aneh dari Acia dan ibu kandungnya, mereka berdua terlihat sangat jauh walaupun berada di satu ruangan yang sama, sesuatu yang janggal menurut Adisti.


"Aku mau ganti baju dulu" Setelah mengatakan hal itu Acia langsung pergi begitu saja meninggalkan Dara dan Adisti di bawah.


"Nyonya, anda ingin minum apa?" Tanya Adisti sopan.


Bukanya melihat kearah Adisti, Dara malah fokus pada Perut Adisti.


Tari melihat bagaimana Dara memperhatikan perut Adisti seperti seorang predator yang mendapat mangsanya.


"Mbak istirahat saja di dalam, biar aku yang membuat minuman" Tari tidak ingin kejadian buruk di alami oleh Adisti saat hanya berdua saja bersama Dara.


"Tapi"


"Mbak, Tuan Yudha menyuruh mbak untuk istirahat kan?"


Dara mengeraskan genggaman tangan nya yang saling bertautan ketika nama mantan suaminya di sebut, apakah Yudha sangat memperhatikan Adisti?


Adisti pun menuruti perkataan Tari dia kemudian pergi ke kamar nya meninggalkan Dara sendiri di ruang tamu.


Saat sampai di depan pintu kamar, ternyata Acia keluar dari kamarnya Adisti yang melihat putri sambungnya sudah berganti pakaian pun tersenyum tipis.


"Bagaimana sekolah hari ini?" Adisti menghampiri Acia, Biasanya mereka selalu mengobrol bersama mengenai hari-hari Acia dia sekolah.


Tapi karena Dara mengajak Acia makan siang tadi kegiatan itu jadi tertunda.


Acia menatap Adisti


"Aku ingin bermain dengan mama" Ucapnya sambil memeluk Adisti erat, tangan Acia sibuk mengelus perut ibunya.


"Kita bermain nanti ya? sekarang kamu temui Mommy Dara di bawah" Adisti mengusap lembut rambut panjang Acia.


Rasanya tidak enak jika membiarkan Dara seorang diri saat wanita itu berniat bertamu, Eyang tidak ada di rumah dan suaminya juga begitu, jadi satu-satunya orang yang bisa menyambut Dara adalah Acia.


Adisti sendiri merasa kelelahan sejak tadi dia ingin mengistirahatkan tubuhnya sejenak di atas kasur.


"Tapi Mama janji ya?" Acia mengulurkan jari kelingkingnya di depan Adisti.


"Janji apa nak?" seingatnya dia tidak memiliki janji dengan Acia.


"Malam ini aku akan tidur di kamar mama dan Daddy" Ucap Acia masih menunggu Adisti mengulurkan jari kelingkingnya juga.

__ADS_1


Adisti Tertawa kecil mendengar hal itu, dia sih tidak masalah Acia tidak di kamarnya, tapi apakah Yudha mau?


"Hanya tidur untuk apa membuat janji?" Heran Adisti.


Acia mengerucutkan bibirnya, jika tidak di buat janji rencananya tidur bersama ibu sambungnya pasti akan gagal karena ayahnya.


Pernah suatu malam Acia mengatakan pada Adisti dan Yudha jika gadis itu ingin tidur bersama, awalnya Acia merasa senang karena keduanya menyetujui permintaan gadis itu, namun rasa senang itu berubah menjadi rasa kesal saat Yudha mengunci pintu kamarnya saat Acia ingin masuk.


Alhasil Acia hanya bisa menangis sambil mendobrak pintu dari luar.


Adisti tertawa ketika kembali mengingat kejadian itu, dia tidak tau apa-apa yang ia kira malam itu Acia tidak jadi tidur bersama tapi ternyata Yudha mengunci pintu kamar mereka tanpa sepengetahuan nya.


"Jangan khawatir, Daddy pulang larut malam ini, jadi kamu bisa menempati kasur nya"


Acia tersenyum senang kemudian dia pergi kebawah menemui ibu kandungnya.


.


Langkah kaki kecil Acia membawa tubuh nya menuruni anak tangga menuju lantai bawah, samar-samar dia bisa mendengar suara seseorang yang tengah berbicara.


Siapa? batin Acia bertanya-tanya, karena di ruang tamu hanya ada ibu nya, lalu siapa yang berbicara dengan ibunya?


Pertanyaan Acia langsung terjawab saat gadis itu melihat Eyang Sari duduk dengan tenang bersama Dara yang duduk di seberangnya.


Wanita tua itupun berbalik ketika panggilan dari sang cicit terdengar, menyambut Acia dengan senyuman Eyang membawa gadis kecil itu duduk di kursi sebelah nya.


"Mana Adisti?" tanya eyang pada Acia.


Biasanya menantu nya itu sangat senang berkeliaran dengan perutnya yang sudah tidak di katakan kecil itu, tapi saat ia sampai di rumah bukan Adisti yang ia temui melainkan Dara.


"Mama ingin istirahat di kamar" jawab Acia sama seperti perkataan Adisti Tadi.


"Selamat Eyang, sebentar lagi eyang akan punya Cicit lagi" Dara memotong pembicaraan Acia dan Eyang Sari dengan mengucapkan selamat.


"Hm, Terimakasih" balas eyang singkat lalu kembali fokus pada Acia di sampingnya.


"Kamu sudah makan nak?" tanya eyang.


Tidak langsung menjawab Acia lebih dulu menatap pada ibu kandungnya, sebenarnya dia masih lapar sekarang apalagi makanan nya tadi tidak ia habiskan, tapi tidak enak dengan Ibunya.


"Kenapa melihat ke sana? kamu sudah makan?"

__ADS_1


"Sebenarnya aku sudah makan tadi bersama Mommy, tapi aku masih lapar Eyang" jujurnya pada eyang, entah apa yang ibu nya pikiran Acia tidak ingin tau.


"Begitu? pergilah makan dulu"


Tanpa berlama-lama Acia kemudian berlalu meninggalkan Dara dan Eyang sari berdua saja.


"Aku mengajaknya pergi makan siang di restoran tadi, tapi ternyata Acia belum kenyang" Dara tertawa kecil.


Wanita itu berusaha membuat suasana obrolan menjadi cair namun respon yang di tunjukkan eyang sangat berbeda dengan apa yang dia harapkan.


"Acia bukan anak yang terlalu banyak makan, tapi di suatu kondisi Gadis itu sering merasa tidak nyaman, akibatnya dia tidak bisa menelan semua makanan dengan benar" Eyang bersuara sembari meminum teh di cangkir.


Sesekali dia melirik pada Dara ingin mengetahui bagaimana ekspresi yang di tampilkan wanita itu.


Eyang sebenarnya ingin menekankan jika Acia tidak merasa nyaman dengan Ibu kandungnya sendiri, semoga saja Dara menyadari nya.


"Apa maksud Eyang? Acia adalah putri ku, tidak mungkin dia merasa canggung dengan ibu kandungnya sendiri!" Sahutnya tidak terima.


"Tepat sekali, Acia merasa canggung dengan mu itu bukan karena kesalahan Nya, melainkan kesalahan mu sendiri"


Dara sama sekali belum berubah, dulu maupun sekarang Sandara adalah wanita yang hanya mementingkan diri sendiri.


Karena kesibukan wanita itu dia sampai lupa jika ada anak yang menunggu nya di rumah, sehingga posisi yang seharusnya Dara dapat kan di hati Acia tergantikan oleh Adisti yang selalu ada untuk gadis itu.


"Apa ini karena Adisti? apa wanita itu yang mempengaruhi putri ku?!" Sebelumnya sesibuk apapun dia di rumah sakit, bahkan sampai tidak bertemu dengan putri nya dalam waktu yang lama, Acia tetap menyayangi nya.


Tapi sekarang? bagaimana bisa putri nya bersikap canggung dengan ibu kandungnya sendiri?


"Dara, jangan lupa karena siapa Kamu bisa sampai berada di level ini"


Suasana bertambah dingin di tambah lagi Eyang sari mulai membawa kenangan di mana sebelumnya Dara bukanlah apa-apa.


"Saya bisa saja menghancurkan semua yang kamu miliki sekarang juga" eyang berucap dengan santai, namun dalam perkataan nya tersebut tersirat banyak ancaman di dalamnya.


"Memangnya apa kesalahan ku? kenapa kalian sampai berbuat seperti ini?" Dara sangat menghormati keluarga mantan suaminya, tapi kenapa ini yang ia terima?


"Hiduplah seperti biasa nak, jangan ikut campur dalam urusan keluarga Yudha dan Adisti lagi" Selama ini eyang sudah bersabar, tapi sekarang tidak lagi.


Jika Dara masih tetap terus mengganggu Menantunya maka ia akan turun tangan.


"Pikiran bagaimana perjuangan mu untuk berada di posisi ini"

__ADS_1


TBC....


__ADS_2