
Tidak terasa berbulan-bulan telah terlewati dengan berbagai macam situasi, kondisi baik dan buruk yang Adisti lewati.
Hari ini adalah waktu nya istri dari Yudha untuk melahirkan putra pertama mereka melalui proses persalinan.
Waktu dini hari Adisti mengalami kontraksi yang sangat hebat untung saja Yudha siap dengan segala yang akan terjadi pada istrinya yang tengah hamil tua pada saat itu.
Dan karena itulah sekarang mereka bisa cepat sampai ke rumah sakit dengan aman dan selamat.
Beberapa waktu yang lalu Adisti sudah di pindahkan ke ruangan bersalin oleh dokter, Yudha dan keluarganya tengah menunggu istrinya di luar ruangan.
Eyang menepuk-nepuk pundak Cucu nya agar pria itu tenang, Bahkan Acia juga ikut merasa khawatir melihat ayahnya sekarang.
"Tuan Yudha? Anda bisa menemani Nyonya di dalam"
Seorang perawat keluar dari ruangan bersalin Adisti, dan menawarkan Suami dari pasien untuk menemani di dalam.
Tanpa membuang waktu lagi Yudha langsung masuk ke dalam ruangan kemudian Perawat langsung menutup pintu setelah Yudha masuk.
Di dalam Yudha menghampiri Adisti yang terbaring di ranjang rumah sakit, wajah istrinya itu penuh dengan keringat tapi tetap saja senyum nya tidak pernah hilang dari wajahnya yang pucat.
Yudha berdiri di samping ranjang Adisti, dia tidak fokus pada sekitar karena yang menjadi fokusnya adalah istrinya.
"Kamu pasti bisa" Yudha berucap lirih
Jika dulu saat Dara melahirkan Yudha hanya bereaksi seadanya, kini berbeda dengan Adisti.
Hanya melihat istrinya terbaring di ranjang rumah sakit saja pikiran negatif mulai bermunculan di pikiran nya.
"Tentu saja!" Adisti meninggikan suaranya kesal.
Sakit yang dirasakan pada perutnya membuat ia tidak bisa mengontrol emosi nya.
"Sayang kenapa bersuara seperti itu?" Yudha kaget karena Adisti seperti tidak suka dengan ucapannya.
Memangnya kenapa dengan ucapan semangat nya? Yudha membatin
"Aku bisa mengahadapi mu selama ini! rasa sakit ini tidak ada apa-apa nya!" Adisti semakin meninggi kan suaranya bersamaan dengan rasa sakit yang ia rasa.
"Tidak apa Tuan Yudha, mungkin efek samping kontraksi membuat istri Anda mengeluarkan isi hatinya" Dokter wanita itu tidak bisa menahan senyumnya, jarang-jarang ada pasangan yang seperti ini di rumah sakit nya.
Dan parah nya lagi itu adalah pasangan Yudha dan Adisti yang fenomenal.
Setidaknya Yudha merasa sedikit lega mendengar perkataan dokter.
Yang di tunggu-tunggu akhirnya tiba sebentar lagi Bayi yang Adisti kandung akan segera keluar.
"Nyonya, tarik nafas lalu hembuskan" dokter mulai memberikan instruksi pada Adisti.
Di samping sang istri Yudha tidak henti-hentinya berdoa sekaligus memberikan kecupan hangat di tangan Adisti yang ia genggam.
"Hah...hah....Huff!" Adisti menghembuskan nafas nya mengikuti perkataan dokter.
"Bagus nyonya, kepalanya mulai terlihat"
"Argh! Hah!....hah!"
Setelah beberapa kali dorongan akhirnya bayi yang Adisti kandung selama sembilan bulan lamanya terlahir ke dunia.
__ADS_1
Suara tangisan bayi terdengar memenuhi ruangan bersalin, bahkan sampai di luar karena mereka yang menjaga di luar itu merasa senang mendengar tangisan bayi Adisti.
"Syukurlah!" Semua orang sangat senang Adisti bisa melahirkan bayinya dengan selamat.
Di ranjang rumah sakit Adisti berbaring lelah setelah berhasil melahirkan putra nya, dia bisa melihat bayi merah itu di bawa oleh dokter untuk di bersihkan.
"Terimakasih Sayang"
Yudha mencium seluruh wajah berkeringat istrinya, tidak henti-hentinya dia mengucapkan terimakasih pada istrinya yang berjuang melahirkan putra mereka.
"Bayi kita lahir Mas" Adisti menangis mengingat bagaimana perjuangan nya merawat bayi itu saat di dalam kandungan.
Dia tidak menyangka bisa melahirkan putra nya sekarang ini.
Yudha mengangguk dia masih menciumi tangan Adisti yang ia genggam.
"Kamu berhasil melakukan nya" Lirih Yudha sangat berterimakasih.
.
.
Adisti di pindahkan setelah wanita itu di bersihkan oleh perawat.
Ruangan yang Adisti tempati sangatlah Ramai karena keluarga suaminya sudah berkumpul di satu ruangan dengannya.
"Siapa namanya?" Tanya Acia yang tengah mengusap lembut pipi merah Adik nya yang baru saja lahir ke dunia.
Adisti menatap Yudha suaminya, memang selama mengandung Adisti memikirkan beberapa nama namun keputusan itu ia berikan saja pada suaminya.
Semuanya menoleh pada Yudha saat pria itu mengucapkan suatu nama.
"Aksa Yudhakara, melihat wajahnya yang jernih aku terpikir nama Aksa cocok untuk nya" Ungkap Yudha
Adisti tersenyum senang dengan nama yang suaminya berikan untuk Putra mereka.
"Nama yang bagus" sahut nya langsung di setujui oleh yang lain.
Bahkan eyang sampai tidak menyangka jika cucunya bisa memberikan nama yang indah itu.
"Aksa, Ini kakak" Acia memperkenalkan dirinya.
Semua orang tertawa melihat tingkah konyol gadis kecil itu.
Ketika semuanya tengah fokus pada bayinya, Adisti merasa sangat menyayangkan ketidak hadiran paman dan bibinya di sini.
"Ada apa hm?" Yudha melihat ke khawatiran di wajah istrinya.
Adisti menoleh pada suaminya kemudian dia menggeleng.
"Kamu merindukan paman dan bibi ya?" Yudha bisa menebak jika kekhawatiran Adisti pasti tidak jauh-jauh dari keluarga istri nya di kampung.
"Iya, sayang sekali mereka tidak bisa hadir di sini" Ucap Adisti Sendu.
Tiba-tiba saja acia datang menghampiri Adisti yang berada di ranjang, mengabaikan keberadaan ayahnya yang masih ada di sana.
"Mama sedih? apa Daddy mengganggu mama?" Acia menatap tajam Sang ayah dengan tajam.
__ADS_1
Yudha yang melihat tatapan tajam putri nya itu hanya mengerenyitkan dahinya heran, memang nya apa yang dia lakukan?
Adisti tersenyum lembut pada putri sambungnya, rasa sedihnya sedikit berkurang karena ada Acia yang masih memperhatikan dirinya di sini.
"Tidak sayang, mama hanya merindukan paman dan bibi mama di kampung" Ucap nya tidak ingin putri nya semakin khawatir.
"Memangnya kakek dan nenek tidak bisa kemari?" Tanya Acia polos.
Yudha dan Adisti saling berpandangan sebenarnya bisa saja paman dan bibinya kemari, tapi yang membuat Adisti sedih adalah momen kebersamaan nya.
"Kamu tenang saja nak, besok Eyang akan menyuruh supir untuk menjemput mereka" Eyang mengusap lembut wajah menantunya.
Adisti tersenyum tipis merasa berterimakasih pada kebaikan eyang.
"Terimakasih Eyang" Ucap nya.
Tok! Tok!
Bunyi pintu kamar rawat Adisti yang di ketuk dari luar membuat mereka semua mengalihkan perhatian pada pintu.
"Bi Ida, tolong lihat siapa yang mengetuk" Pinta eyang pada pelayan nya.
"Baik Nyonya"
Setelah bi Ida membuka pintu kamar ternyata Dara lah yang mengetuk pintu kamar Adisti.
Bi Ida mempersilakan mantan majikannya untuk masuk kedalam.
"Dara?" Eyang heran melihat keberadaan ibu kandung Acia.
Sedangkan Yudha sendiri tidak terkejut lagi karena Dara adalah salah satu dokter spesialis di rumah sakit ini.
Dara tersenyum canggung pada semua orang yang ada di dalam ruangan khususnya pada Eyang sari.
"Maaf jika kedatangan ku mengganggu waktu kalian" Ucap nya canggung, kali ini dia benar-benar tulus mengunjungi Adisti.
"Ada apa?" tanya Yudha tidak suka pada mantan istrinya.
"Aku hanya ingin mengucapkan selamat dan terimakasih pada Adisti"
Mendengar namanya di sebut Adisti semakin menegang.
"Selamat atas kelahiran putra Kalian berdua, dan juga terimakasih selama ini kamu sudah menjaga putri ku dengan baik Adisti, maaf jika selama kamu mengenal ku aku tidak pernah bersikap baik, tapi kali ini aku sungguh-sungguh minta maaf pada kalian semuanya" Dara sudah memikirkan semuanya.
Sejauh apapun dia berusaha untuk kembali dekat pada Yudha, itu tidak akan pernah bisa.
Dan karena perbuatannya itu semua orang yang dulunya dekat dengan nya kini perlahan mulai menjauh khususnya Putri nya sendiri.
Bahkan hatinya terasa sakit melihat Acia sama sekali tidak menatap nya.
"Sekali lagi tolong maafkan aku"
Tidak ada yang bersuara mendengar ucapan Dara barusan, namun dalam lubuk hati Adisti yang paling dalam tidak pernah dia menyimpan benci pada Dara sedikitpun.
Setelah mengucapkan apa yang ingin ia sampaikan Dara berjalan keluar dari ruangan Adisti, dan sampai wanita itu hilang dari balik pintu pun Acia tidak menoleh sedikitpun.
TBC......
__ADS_1