
Tak terasa sudah dua tahun semenjak eyang meninggalkan mereka semua untuk selama-lamanya, kini mereka tidak lagi tinggal di kediaman Yudha karena semenjak kepergian eyang pria itu memutuskan memboyong keluarga kecilnya menuju kediaman utama.
Banyak sekali yang berubah di keluarga mereka semenjak kepergian eyang.
Salahsatunya adalah Tidak ada lagi Bi Ida yang merawat kediaman mereka, karena semenjak kepergian eyang wanita paruh baya itu memutuskan mengundurkan diri dan memilih membantu di panti asuhan tempat Eyang biasa singgah.
Awalnya Adisti dan Yudha menolak keras, apalagi wanita paruh baya itu sudah sangat dekat seperti keluarga bagi mereka, namun dengan segala penjelasan yang ada akhirnya mereka setuju.
Lalu setahun yang lalu Angga dan Tari memutuskan untuk pindah ke rumah mereka yang berada di pinggiran kota setelah mereka menikah, kedua nya memutuskan menikah lalu memilih mengganti profesi sebagai petani di rumah mereka yang sekarang.
Awalnya semuanya terasa sulit bagi Adisti yang memeng sudah akrab dengan mereka semua, namun lama kelamaan akhirnya dia terbiasa.
"Aksa kemari nak" Adisti kelelahan menghadapi putra bungsunya yang mulai aktif sekarang.
Jika biasanya putri nya membantu mengurus Adik nya kini tidak, Adisti harus menghadapi tingkah laku Aksa seorang diri.
Acia sekarang tengah mempersiapkan ujian nya untuk masuk ke sekolah menengah pertama di usianya yang ke sebelas tahun, memang lebih cepat dari yang di jadwalkan karena memang anak itu cerdas.
"Mama"
Adisti menyerah dia kesulitan mencari keberadaan bocah laki-laki itu yang tengah bersembunyi.
Dia mengabaikan panggilan Aksa dan lebih memilih duduk bersimpuh di lantai karena merasa lelah hanya untuk berjalan menuju Sofa.
Tubuhnya ia senderkan pada dinding lalu meletakkan piring yang di bawanya di lantai.
Adisti terpejam berusaha mengatur nafasnya, Memberi makan Aksa adalah sebuah tantangan bagi nya.
Sensasi dingin terasa di pipinya langsung membuat nya yang semula terpejam kini terlonjak kaget.
"Mas! Aku kira apa" dingin-dingin yang dia rasa tadi ternyata di sebabkan oleh Yudha yang menyodorkan sekaleng soda di pipinya.
Yudha Tertawa geli, sebegitu melelahkan nya kah menghadapi Aksa?
Adisti membiarkan suaminya ikut duduk menyender di dinding tepat di sebelahnya, mereka meminum soda yang tadi Yudha bawa bersama-sama, melupakan keberadaan si kecil yang bersembunyi entah di mana.
"Kamu selesai olahraga ya?" Adisti mengendus - ngendus bau yang Keluar dari tubuh Yudha.
"Memangnya bau?" Melihat cara istrinya mencium tubuh nya seperti itu membuat nya ikut mengendus bau badannya juga.
Tidak bau....
Adisti menutup hidung nya wanita itu mengerenyitkan dahinya tidak suka.
"Jauh-jauh dari ku mas, kamu bau sekali" Ucap Adisti mengibas ngibas tangan nya di depan wajahnya.
Yudha memutar bola matanya malas sejak kapan istrinya mempermasalahkan bau badannya?
Bukan nya menjauh dari Adisti pria itu malah semakin merapatkan tubuh mereka berdua, membuat Adisti yang sejak tadi kebauan semakin menjauhkan tubuhnya dari sang suami.
"Aku akan memukul mu jika kamu mendekat mas!!" Sumpah demi tuhan Adisti merasa jika suaminya saat ini sangat bau.
"Mana ada bau! aku bahkan bertambah wangi jika berkeringat" Sahut Yudha tersinggung dengan perkataan istrinya.
"Mas!" Adisti semakin keras mendorong tubuh Yudha dari nya.
"Aaaaaaa!"
Kedua manusia itu menoleh ketika suara teriakan yang melengking keluar dari balik tirai jendela.
Aksa berteriak sambil berlari kearah ayah dan ibunya.
Grep
"Aduh!"
Yudha mengelus telapak tangan nya yang tak sengaja terinjak oleh putra bungsunya.
Aksa memeluk ibunya erat memposisikan tubuhnya di antara kedua orangtuanya, bocah kecil itu melirik sinis pada ayahnya.
"No Daddy! Mama is mine!" Ucapannya tegas.
Mata bulat Aksa semakin membulat besar ketika mengatakan kalimat nya.
Yudha mendengus sebal sejak kapan istrinya menjadi milik putra nya?
"Hey bayi kamu darimana? lihat mama kelelahan karena kamu" Yudha mengabaikan celetukan Aksa yang mengatakan jika Adisti adalah miliknya.
"Mama lelah?" Aksa menatap Adisti sedih dengan mata bulatnya.
__ADS_1
"Bagaimana tidak lelah? kamu selalu berlarian ke sana kemari dengan menggunakan popok saja! memalukan" Marah Yudha
Aksa yang semula menghadap ibunya langsung melayangkan tinjuan kecil nya pada wajah sang ayah.
"Akh! hey bayi!" jengkel Yudha
Adisti tertawa melihat tingkah suami dan putranya, senyumnya semakin mengembang saat Aksa memeluk nya begitu erat seolah melindungi nya dari Yudha.
"Darimana dia mendapatkan perilaku seperti itu?" Dengus Yudha jengkel
"Apa yang sedang kalian lakukan di sini?" Acia yang baru saja pulang dari tempat les nya melihat pemandangan menyedihkan keluarganya yang duduk lesehan di dinding tembok.
Yudha membuang mukanya datang lagi sang pengacau.
"Kemari nak" panggil Adisti pada Acia menyuruh putri sulungnya ikut bergabung dengan mereka.
"Bagaimana les nya?" Adisti bertanya saat Acia ikut duduk bersamanya.
Selagi Adisti berbasa-basi dengan Acia, Yudha tengah asik menjahili Aksa.
"Baik, pelajaran nya terlihat mudah untuk ku" Bukannya sombong tapi memang dia sudah mempelajari Semua itu sebelum nya, jadi rasanya les tidak di perlukan.
"Mama tidak terkejut lagi"
"Aku lebih senang belajar memasak bersama mama daripada les" Acia memeluk ibunya sayang.
Adisti tersentuh dengan perkataan putri nya barusan.
"Kamu bisa belajar memasak kapanpun nak, yang terpenting untuk mu sekarang adalah belajar" ucap Adisti.
Kemudian istri Yudha itu berbisik di telinga putri nya,"Daddy mu itu semakin tua sekarang, jika kamu tidak belajar siapa yang akan membantu nya mengurus perusahaan?" bisik Adisti.
"Sayang aku mendengar nya" Sahut Yudha yang sedang memiting Aksa di ketiaknya.
Adisti yang semula tertawa bersama Acia langsung menjerit kaget melihat keadaan putra nya.
"Mas! apa yang kamu lakukan!"
.
.
Mereka duduk memutar di makam eyang, kedua tangan saling bertautan lalu memejamkan kedua mata sembari menunduk.
"Terimakasih banyak eyang" Ucap mereka semua bersamaan.
Saat bangkit dari duduknya kepala Adisti tiba-tiba saja pening, pandangannya memburam sebelum akhirnya jatuh pingsan.
"Adisti/Mama!"
.
"Selamat Tuan! istri anda sedang mengandung"
Adisti dan Yudha saling bertatapan ketika dokter mengatakan jika istri Yudha itu tengah mengandung.
"Usianya Sudah tiga Minggu"
"Terimakasih dokter"
Pelayan mengantar kan dokter yang memeriksa Adisti keluar, lalu setelah nya Acia yang tengah menggendong Aksa masuk kedalam.
Acia meletakkan Aksa di atas kasur kemudian dia sendiri ikut duduk di samping ayahnya.
"Apa mama baik-baik saja?" Tanya gadis remaja itu khawatir dengan keadaan ibu Nya.
Acia mengerucutkan kening nya melihat kedua orangtuanya hanya tersenyum tidak jelas.
"Ada apa?" Tanya nya penasaran
"Sayang maaf, sepertinya beban mu akan bertambah satu lagi" Adisti berucap.
Tanpa menjelaskan lebih detail Acia mengerti kemana arah pembahasan ini.
"Oh, Tidak! jangan katakan padaku jika mama.....
Acia tidak mampu meneruskan kalimatnya apalagi ketika Adisti mengangguk-angguk seolah membenarkan keraguan nya.
Acia memijit kepalanya lelah sepertinya dia akan menjadi tua lebih cepat sekarang.
__ADS_1
Sedangkan Aksa tidak mengerti pria kecil itu hanya ikut Tertawa ketika kedua orangtuanya Tertawa.
"Sungguh? astaga aku saja belum hamil-hamil sekarang, tapi kalian sudah akan memiliki anak lagi" Dara mengerucutkan bibirnya sebal.
Adisti Tertawa bagaimana bisa hamil jika Dara saja baru menikah Minggu lalu.
"Waktu kalian masih panjang" Sahut Adisti.
Melihat wajah sahabat kecil nya itu sepertinya Andhika tertekan dengan istri barunya.
Ya Andhika dan Dara memutuskan menikah setelah pertemuan mereka saat kremasi eyang sari dua tahun lalu, tapi karena banyak pertimbangan mereka menunda hingga dua tahun lamanya, tapi syukur nya setelah pendekatan dengan waktu yang lama Andhika dan Dara memutuskan menikah Minggu lalu.
"Bantu jelaskan padanya" Dika bersuara terlihat sekali pria itu lelah menghadapi istrinya.
"Hey apa salahnya?" Dara merajuk
Adisti Tertawa melihat interaksi keduanya tidak menyangka jika akan ada momen seperti ini.
Selain kesedihan atas kepergian eyang mereka juga mendapat beberapa kebahagiaan lain, contoh nya seperti yang ada di hadapan mereka ini.
Dara juga sudah berdamai dengan Acia, beberapa kali putri sambungnya itu menginap di rumah ibu kandungnya.
Yudha menggenggam kedua tangan Adisti.
"Aku bahagia sekali Mas, Terimakasih banyak" Adisti tersenyum lembut menatap suaminya.
Acia mendekat pada ibu dan ayahnya kemudian gadis kecil itu ikut menggenggam tangan ibu sambungnya.
"Seharusnya kami yang berterimakasih" ucap gadis itu.
Yudha dan Acia menatap Adisti lembut, "Terimakasih karena telah hadir di hidup kami" ucap mereka bersama-sama.
Adisti tidak bisa membendung rasa bahagianya, wanita hamil itu kemudian memeluk suami dan putri nya begitu erat.
"Mama!"
Aksa menangis tidak bisa menjangkau ibunya, karena bocah itu kini berada di pangkuan Andhika.
"Sayang sekali mama mu tidak peduli pada mu" ucap pria itu, Aksa semakin histeris di buatnya.
Semua orang yang ada di sana tertawa karena tingkah laku Aksa.
"Kemari nak" Adisti merentangkan kedua tangannya meminta putra nya mendekat.
Aksa berlari ke dalam pelukan sang ibu.
"Mama menyayangi kalian semua"
Tidak ada yang menyangka jika kehidupan Adisti akan menjadi seperti ini, hubungan yang di awali dengan kebaikan oleh Eyang dia akhiri dengan kebahagiaan juga oleh-nya.
Adisti tidak pernah menyangka akan ada momen di mana dia bisa merasakan kebahagiaan seperti ini dalam hidupnya.
Dan dia sangat berterimakasih pada Eyang dan keluarganya yang membawa dia ke dalam hubungan nya sekarang ini.
"Terimakasih banyak" Adisti tersenyum begitu bahagia dalam dekapan keluarga kecilnya.
END
.
.
Huwaaa!!
Finally ending guyssss π
Susah ngelanjutin ni cerita sebenarnya π€£
Apalagi bikin cerita tanpa konflik Tu susah banget π
Jadi akhirnya aku memutuskan cerita ini end di chapter 70 πππ₯³
Terimakasih ya buat Reade's yang udah baca cerita aku ini, terimakasih juga atas vote dan komentar nya ππ
Maaf kalo cerita ini ga nyambung atau banyak typo nya....
Tapi aku seneng bisa namatin ni cerita πβΊοΈ
Soooo tunggu cerita aku yang lain ya guyssss βΊοΈβΊοΈβΊοΈπππ₯³πππ
__ADS_1