Ibu Sambung Yang Tak Dianggap

Ibu Sambung Yang Tak Dianggap
Acia dan Adisti


__ADS_3

Sama seperti sebelumnya Malam ini Acia kembali makan di meja yang panjang seorang diri lagi, Sekarang dia sudah mulai terbiasa.


Sesekali Acia melirik kearah dapur walaupun masih samar-samar namun dia masih bisa mendengar suara gelak tawa para pelayan di belakang sana.


Dirinya bingung sebenarnya apa yang orang-orang itu bicarakan hingga bisa se ramai itu?


Acia meletakkan sendok nya perlahan di atas piring, lalu ia turun dari kursi untuk melihat ke dapur, bukan melihat lebih tepatnya mengintip karena Cia tidak ingin menampakkan dirinya di antara mereka.


Melihat mereka semua tertawa bahagia seperti itu membuat nya merasa iri.


'Aku ingin bergabung juga' Lirihnya dalam hati.


Saat ia berbalik tubuh nya hampir saja oleng karena menabrak Ibu sambungnya.


Bruk!


"Hati-hati Nona" untung saja Adisti menangkap tubuh kecil Acia, Mungkin saja jika respon nya lambat bocah itu akan terjatuh kelantai.


Acia tersentak kaget saat melihat Adisti berdiri di belakangnya.


"P-permisi"


Belum selangkah gadis itu pergi Adisti terlebih dahulu mencegatnya.


"Anda bisa bergabung dengan kami Nona"


Apa?


Acia terbelalak mendengar saran dari Adisti, bolehkah?


.


.


Hening .....


Tidak ada satupun suara yang keluar dari mulut mereka semua, mulai dari BI Ida, Tari dan Angga tidak ada yang bersuara sedikitpun.


Padahal biasanya Angga dan Tari lah yang banyak berceloteh di antara mereka semua, tapi karena kedatangan satu orang yang tidak terduga membuat mereka terkejut.


"Sebaiknya aku pergi"


Acia akan bangkit dari duduknya tapi untungnya tidak jadi karena Angga.


"Eh?! tidak boleh Nona! anda harus menghabiskan makanan anda di sini dulu, Baru boleh pergi" Sahut pria itu serius.


Para wanita di sana menahan tawa yang akan keluar dari mulut masing-masing karena perkataan Angga.


"Seperti itu kah?"


"Hahaha!"


Tawa mereka semua pecah saat kalimat polos Acia mengalir begitu saja.


Tidak ada yang menyangka jika Gadis dingin seperti Cia percaya dengan perkataan Angga.


"Angga hanya bercanda Nona" Adisti bersuara.


Gadis itu menoleh pada ibu sambungnya, tanpa sadar bibir nya ikut melengkung samar saat melihat senyum wanita itu.


"Makanlah sepuasnya di sini, anda juga bisa membuangnya jika tidak suka" Kali ini Bi Ida ikut menimpali, Acia adalah putri pemilik rumah ini semua yang ada di sini adalah milik Acia.


Terserah apa yang ingin gadis itu lakukan.


"Kenapa Bibi malah mengajari yang tidak baik pada Nona?" Sahut Tari merasa tidak terima pada ucapan Bi Ida.

__ADS_1


Perkataan nya berbeda sekali saat mereka yang tidak ingin menghabiskan makanan itu, Jika Tari ataupun yang lainnya Tidak menghabiskan makanan maka Bi Ida tidak akan memberikan makanan pada mereka.


Tapi ini? BI Ida malah menyuruh membuang makanan jika tidak suka.


"Nona anak baik, mana mungkin dia membuang makanan" Bi Ida mengusap lembut rambut lebat milik Acia.


Jika bersama dengan Bi Ida tau eyang, Acia memang sangat penurut.


Adisti tersenyum kecut, ternyata Bi Ida pandai menjilat. Padahal Acia sering sekali tidak menghabiskan makanannya.


"Sudah-sudah ayo kita makan" Ucap Angga bersemangat.


Adisti dan Bi Ida melayani Acia dengan sangat hati-hati, selagi gadis ini tidak bersikap ketus maka mereka akan melayani nya sepenuh hati.


Di sebrang sana Angga terus Menyendok nasi dan lauk kedalam piring Tari.


"Sudah cukup!" Tari ingin sekali memukul kepala Angga dengan centong yang ia pegang jika saja Nona mereka tidak ada di sana.


"Makan yang banyak, kamu bertambah kurus sekarang" Jawab Angga perhatian.


Walaupun Tari menampilkan wajah kesal dan marah, tapi dalam hatinya dia tersentuh oleh perhatian Angga padanya.


.


Tok! Tok!


"Masuk!" Suara Acia menyahuti dari dalam kamarnya.


Adisti membuka pintu kamar putri sambungnya, lalu masuk kedalam setelah Acia memberikan ijin.


"Nona, Susu anda"


Acia yang tengah membaca bukunya langsung meletakkan nya di atas meja begitu saja, jika dilihat-lihat Adisti adalah ibu yang sempurna.


Lihat senyum yang selalu bertengger di bibirnya, Bagaimana reaksi Adisti saat melihat berita tentang Ayahnya ya?


"Tunggu"


Adisti berbalik, "Ya Nona?"


Acia gugup apakah dia harus mengatakan nya pada Adisti?


"Rumor tentang Daddy, apa kamu-


"Tidak apa Nona" Jawab Adisti cepat, jawaban yang sangat tak terduga untuk Istri yang mendengar suaminya bersama wanita lain.


"Saya senang anda peduli pada saya" Adisti begitu bahagia sekarang Acia tidak lagi bersikap dingin padanya.


Hubungan mereka mungkin saja akan bertambah baik hari ke hari nanti.


"Sekarang Tidurlah"


Adisti membantu putri nya berbaring lalu menyelimuti tubuh kecil itu menggunakan selimut berwarna biru gelap miliknya.


"Bisa buatkan aku bekal?"


Wanita yang tengah merapikan meja belajar itu langsung menoleh pada Acia.


"Tentu saja!" jawabnya penuh semangat.


.


.


Pagi harinya Adisti sudah menyiapkan makanan untuk bekal Acia, bahkan dia rela bangun dari subuh hanya untuk menyiapkan bekal tersebut dengan sempurna.

__ADS_1


Betapa senangnya dia saat Acia meminta bekal, Karena membuat kan bekal untuk anaknya nanti adalah impiannya sebelum menikah dulu.


"Wah-wah? untuk siapa Mbak?" Tanya Tari heran, tidak biasanya Adisti membuat bekal seperti ini?


"Nona menginginkan bekal" Jawabnya senang.


Tari mengerutkan dahinya heran, kenapa hanya dengan membuat bekal Adisti bisa se senang itu?


"Aku merasa heran dengan hubungan kamu dengan Nona, Mbak"


Treng!


"Aduh!"


"Hati-hati"


Lihat itu? Kenapa Adisti sampai terkejut seperti itu dengan pertanyaan nya?


"A-apa yang kamu maksud?"


"Bukan apa-apa, hanya merasa heran pada sikap Nona yang berubah drastis seperti ini, padahal dia dulu sangat membenci kamu kan?"


Adisti terdiam, dia hampir lupa jika Tari tidak mengetahui tentang status nya di rumah ini.


"Entahlah" jawab Adisti seadanya.


Tari mengambil buah apel lalu memakannya, kemudian wanita itu berkata


"Kamu seperti Ibunya saja" ucapnya asal.


"Aku memang ibunya, Tari"


Brak!


"Apa?!" Tari tidak percaya dengan apa yang ia dengar dari Adisti, apa Acia benar-benar putri nya?


"Anak asuh" Sambung Adisti, yang langsung mendapat delikan tajam Oleh Tari.


"Kalau itu aku juga Tau!" jengkel nya.


Siapa yang tidak tau jika Adisti adalah ibu asuh Acia saat gadis itu bayi dulu? semuanya juga tau Adisti di pekerjaan di rumah ini juga untuk mengasuh Acia.


"Sudahlah pergi bantu Bi Ida sana" Usir Adisti pada Tari.


"Iya iya!"


Setelah kepergian Tari, dia berlalu untuk menemui Acia di kamarnya, ini sudah siang tapi gadis itu tidak ada tanda-tanda akan turun.


Di tangga Adisti berpapasan dengan Suaminya yang baru saja turun dari tangga.


"Mau kemana?" Tanya Yudha pada Adisti.


Senyum yang semula terpancar begitu Indahnya kini berganti dengan tatapan jengah.


'Bukan Urusan mu!'


Ingin sekali dia berteriak seperti itu pada suaminya, tapi dia menahannya.


"Keatas"


Setelah itu Adisti meninggalkan Yudha begitu saja tanpa mau berpamitan pada suaminya.


Rasakan!


TBC.....

__ADS_1


__ADS_2