
Adisti meremas jari-jarinya gugup saat Eyang berkata ingin berbicara dengan nya dan juga Yudha.
"Eyang merasa bersalah pada mu Nak" Eyang sari membuka suaranya di hadapan cucu menantunya.
"E-eyang? Bersalah tentang apa?" Adisti merasa tidak enak, Wanita di hadapannya ini sangatlah baik padanya selama ini, dia bingung bersalah mengenai apa yang di maksud Eyang?
Di sebelah Adisti, Yudha hanya bisa terdiam pasrah saat neneknya berbicara dengan sang istri.
"Eyang tidak habis pikir dengan kalian berdua" Wanita Tua itu menatap cucu dan menantunya dengan pandangan beragam.
Begitupula dengan Adisti yang masih tidak mengerti apa yang terjadi di sini.
Pertama Eyang meminta maaf padanya, lalu berubah menjadi seperti menyalahkan dirinya dan Yudha.
"Aku sudah menjelaskan nya Eyang" Yudha menyahut.
Eyang sari memicingkan matanya pada sang Cucu.
"Kamu pikir dengan hanya menjelaskan nya saja, Eyang akan memaafkan kamu!"
Adisti semakin merasa tidak nyaman dengan keadaan ini.
"Keputusan Eyang sudah bulat! kalian akan menghadiri pesta rekan Bisnis kita malam ini" Final Eyang Sari tidak ingin di bantah.
"Eh?" Adisti terbelalak mendengar ucapan Eyang, Pesta apa?
"Tidak bisa Eyang!"
Deg!
Suara tinggi Yudha membuat Adisti yang berada di sebelah nya terkejut, tidak menyangka Yudha bisa meninggikan suaranya di depan nenek yang ia hormati.
Dadanya nya terasa seperti di remas begitu kuat saat Yudha dengan keras menolak permintaan Eyang, bahkan pria yang tidak pernah berbicara dengan nada tinggi pada Neneknya itu bisa membentak seperti tadi.
"Apa yang tidak Bisa? Eyang menikahkan kalian berdua itu untuk hal seperti ini, Eyang ingin kamu dan Adisti bisa berdiri berdampingan di depan semua orang" Eyang Sari semakin merasa bersalah dengan wanita lembut di hadapannya.
Wanita mana yang tidak sakit hati di perlakukan seperti itu oleh suaminya?
Yudha berdecak kesal ingin sekali mengumpat, tapi dia tahan.
"Adisti" panggil eyang sari lirih pada cucu menantu nya.
Adisti mendongak pada Eyang
"Iya Eyang?" Lirihnya
Dia tidak merasa tersinggung pada semua penolakan Yudha, dia juga tidak peduli jika Yudha tidak mengaggap dirinya.
Hanya saja haruskah pria itu menolak nya sekeras itu?
"Temani Yudha menghadiri pesta itu Ya?" Eyang sari menatap penuh permohonan pada sang menantu.
Adisti melirik pada Yudha di sebelahnya, Suaminya itu masih betah bertahan dengan wajah datarnya.
"Baiklah" Kata yang terucap dari bibir Adisti membuat Yudha berdecih dalam hati.
__ADS_1
"Temani dia sebagai seorang istri, bukan pembantu"
Deg
Wajah Adisti berubah pucat saat Eyang mengatakan kata Pembantu di hadapannya, jadi eyang sudah tau semuanya? pantas saja Wanita itu terlihat sangat marah pada Yudha dan Dirinya.
.
.
Seperti perkataan Eyang beberapa waktu lalu Adisti akan menemani Yudha ke pesta rekan bisnisnya yang akan di mulai pukul 9 malam nanti.
Mulai dari sehabis magrib para stylish datang berbondong-bondong atas perintah eyang untuk mendandani Menantunya.
"Sudah selesai Nyonya" seorang stylish wanita yang mendandani Adisti tersenyum puas melihat perubahan wanita di depannya ini.
Mungkin tidak terlalu terlihat perbedaan nya karena memang Adisti sudah sangat cantik bahkan sebelum ia mendandani wanita ini, hanya saja tambahan make-up membuat Adisti terlihat sangat anggun sekarang.
Adisti menatap pantulan dirinya di cermin, benarkah ini dirinya?
"Anda tidak perlu terkejut dengan kecantikan anda sendiri nyonya" stylish tersebut tersenyum geli melihat wajah kliennya.
"A-anda sangat hebat bisa merubah saya menjadi seperti ini" Ucap Adisti malu-malu.
Awalnya stylish itu bingung saat nyonya besar Kara, Eyang Sari menghubungi nya untuk mendandani Menantunya, seingatnya Yudhakara sudah bercerai beberapa tahun yang lalu, lantas siapa menantu yang di maksud Eyang sari?
Dan akhirnya rasa terkejutnya hilang ketikan bertemu dengan Adisti, Ternyata Yudhakara sudah menikah lagi dengan gadis dari keluarga sederhana.
"Pekerjaan saya Sudah selesai nyonya, anda bisa menunggu tuan Yudha di sini"
Adisti mengangguk paham, kemudian membiarkan Stylish tersebut pergi meninggalkan dirinya seorang diri di ruangan itu.
"Apa sebaiknya aku tidak pergi ya?" Adisti merasa ragu dengan apa yang akan ia lakukan ini.
"Jangan berfikir yang tidak-tidak nak"
Suara Eyang di belakangnya membuat Adisti langsung membalikkan badannya.
"E-eyang" gumam Adisti lirih
Eyang Sari tersenyum melihat betapa sempurnanya Menantu nya ini, bayangkan saat Adisti memiliki anak nanti akan secantik apa cucunya itu.
"Kamu sangat cantik" Eyang mengusap lembut wajah sang menantu.
"Terimakasih"
Klek
Yudha masuk kedalam ruangan tempat Adisti berada.
Untuk sejenak dia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari sang istri.
"Jangan menatap seperti itu" Eyang menyadarkan Yudha dari lamunannya.
Yudha berdehem menghilangkan kecanggungan yang terjadi.
__ADS_1
"Ayo berangkat" Ajak Yudha pada sang istri.
Menatap Eyang sebentar lalu saat wanita tua itu mengangguk kan kepalanya Akhirnya Adisti berjalan kearah suaminya.
"Ayo"
Adisti melingkari tangannya di lengan Yudha, sepasang suami-istri istri itu lalu langsung berjalan meninggalkan Ruangan.
.
Yudha membukakan pintu mobil untuk sang istri.
"Terimakasih"
"Hm"
Setelah Wanita itu masuk kedalam Yudha berjalan memutari mobil untuk duduk di kursi pengemudi.
Mobil mewah tersebut berjalan santai meninggalkan area rumah.
Di perjalanan tidak ada yang membuka suara, Awalnya Adisti pikir Yudha baik-baik saja dengan keberadaan nya menemani nya ke acara, tapi kening Adisti mengerut saat mobil yang mereka kendarai berhenti di persimpangan jalan yang lumayan sepi.
"Ada apa Mas?" Adisti mencoba berfikir positif, tidak mungkin kan Pria itu meninggalkan nya di sana?
"Turun"
Namun ternyata dugaannya benar Yudha benar-benar menurunkan nya di jalan.
Hati Adisti mencelos seketika dia memperhatikan keadaan sekitar yang sangat sepi.
"Tapi Mas"
Adisti menggigit bibir bawahnya takut bagaimana jika ada orang jahat?
"Hanya sebentar Adisti, setelah pestanya selesai Saya akan menjemput kamu di sini" Jelas Yudha.
Bukannya merasa lega Adisti malah semakin takut.
Benarkah pria itu akan menjemput nya? jika memang Yudha tidak berniat jahat padanya, seharusnya pria itu menurunkan nya di tempat yang lebih Ramai.
Tanpa sadar air matanya mengalir melewati pipinya.
Yudha yang melihat air mata istrinya mengalir hanya terdiam.
Lalu Adisti benar-benar turun dari mobil milik Yudha tanpa membuang waktu lagi.
"Tunggu di sini, saya tidak akan lama"
Dalam hati Adisti berdecih pada pria brengsek di depannya, bahkan setelah mobil itu berjalan melewatinya begitu saja Adisti tidak bisa menahan air matanya yang mengalir begitu deras.
"Huhuhu! Hiks! Dasar Yudha brengsek!" Adisti duduk berjongkok di pinggir trotoar jalan, menyembunyikan wajahnya di antara lututnya.
kruyuk!
"Setidaknya turunkan aku di tempat Yang menjual makanan" Adisti tidak bisa berhenti menangis, dia lapar sekarang.
__ADS_1
"Adisti?"
TBC.....