
Tidak banyak yang berubah saat setelah Yudha mengungkapkan status mereka pada para pelayan, Namun Tari yang sebelumnya sempat berfikir negatif pada Adisti kini telah kembali ke sikap nya yang semula.
Perubahan Hanya terjadi pada Yudha, pria yang selalu bersikap dingin itu kini selalu menempel pada Adisti.
Awalnya Adisti takut jika Acia tidak menyukainya tapi ternyata apa yang ia takutkan itu tidak terjadi, Acia sedikit demi sedikit bisa menerima nya sebagai istri dari ayahnya.
Seperti hari ini Yudha yang biasanya lembur sampai pagi kini Sudah tiba lebih awal di rumah bahkan sebelum waktunya makan malam.
Acia tidak lagi kesepian saat makan malam karena ayahnya menemaninya, Suami dari Adisti itu juga selalu membawakan Waffle kesukaan Acia saat pulang dari kantor.
"Daddy"
Yudha mengangkat pandangan nya ketika putri nya memanggil.
"Yes honey?"
Acia terlihat gugup saat akan mengutarakan perkataan nya, Gadis kecil itu juga melirik kearah ibu Sambung nya yang sedang membereskan sisa-sisa makanan mereka.
"Minggu depan sekolah mengadakan acara, dan orang tua siswa di harapkan hadir" Ungkap nya pada akhirnya.
Adisti melirik Yudha, seperti nya pria itu terlihat tengah berfikir.
Biasanya jika ada acara seperti yang di katakan oleh Cia tadi, Dara lah yang akan menghadirinya seorang diri sebagai perwakilan. Tapi mengingat wanita itu sedang tidak berada di kota ini maka Yudha yang terpaksa hadir.
"Dad? Bagaimana?" tanya Cia tidak sabaran, teman-teman akan hadir dengan kedua orang tua mereka dan Acia juga ingin kedua orang tuanya hadir.
"Akan Daddy pikiran" Jawab Yudha lalu pergi dari ruang makan, dia perlu membereskan beberapa hal sebelum meninggalkan kantor Minggu depan.
Acia dan Adisti menatap kepergian Yudha dengan berbagai macam pandangan mereka.
Jika Acia merasa takut ayahnya tidak akan hadir, maka Adisti juga merasakan hal yang sama.
Tidak masalah jika Yudha masih tidak mau memperkenalkan nya ke depan publik, Tapi harapan Adisti adalah Acia bisa merasakan seperti anak-anak lain yang orang tuanya hadir bersama.
Adisti mengangkat Piring kotor yang sudah ia tumpuk, berniat pergi kebelakang sebelum sebuah tarikan kecil di ujung bajunya terasa.
Saat menoleh ternyata Acia yang menarik nya.
"Ada apa Nona?" Tanya Adisti heran
Acia belum melepaskan tangannya dari ujung baju Adisti, gadis itu ingin mengatakan sesuatu tapi dia ragu.
"K-kamu akan datang kan?" Tanyanya
Adisti mengerutkan dahinya tidak mengerti, datang kemana maksudnya?
"Maksud Nona?"
"Acara sekolah, Kamu harus datang bersama Daddy" Jelasnya pada Adisti.
Tanpa menunggu jawaban Ibu Sambung nya Acia langsung berlalu begitu saja dari sana, meninggalkan Adisti dengan segala pikiran nya.
"Astaga" Gumam Adisti pada akhirnya.
__ADS_1
Dia akan sangat senang menghadiri acara seperti itu Untuk Acia, tapi masalahnya Apakah Yudha mau pergi bersamanya?
.
.
Tiga hari menuju Acara di sekolah Acia. Adisti sama sekali belum berani mengatakan apapun pada Yudha, pria itu juga tidak pernah mengungkit mengenai acara itu di depannya.
"Mbak?"
"Hm?"
Tari mengerucutkan bibirnya kesal saat Adisti hanya merespon seperti itu ketika ia panggil.
"Dengarkan aku Mbak" rengek Tari mencoba mengalihkan perhatian Adisti dari pikiran nya yang entah kemana.
"Iya? ada apa?" Akhirnya Adisti mengalihkan perhatian nya pada Tari.
Tari tersenyum senang, kemudian dia mengeluarkan dua buah dress berbeda warna di hadapan Adisti.
"Pilih! Yang mana yang menurut Mbak bagus?"
Adisti mengamati kedua dress yang Tari tunjukkan kepadanya, saat ini mereka berada di dapur dan bukannya memasak Tari malah menyuruh nya memilih dress.
"Kamu ingin memberikan nya untuk ku?" Tanya Adisti.
"Tidak perlu repot-
"Tuan Yudha bahkan bisa membelikan dress yang sepuluh kali lipat bagus nya dari ini, untuk apa aku memberikan dress ku pada Mbak?" Sewot Tari
Adisti mencebik kesal, "Lalu untuk apa?" Tanya nya kembali.
Wanita itu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru Dapur, memastikan tidak ada orang selain mereka di sana.
"Aku dan Angga akan berkencan besok" Bisik Tari lirih, takut-takut perkataan nya di dengar oleh orang lain.
Adisti menatap Tari terkejut, benarkah mereka akan berkencan?
"Secepat ini?" Adisti tidak menduga jika Tari secepat ini move-on dari Doni mantan kekasihnya.
Tari mengangguk malu-malu
"Sebenarnya belum berkencan, hanya saja ini kesempatan yang bagus untuk hubungan kami kedepannya" Tari jelas tau siapa yang sangat di sukai Angga, tapi Setelah mengetahui jika Adisti sudah menikah dia tidak lagi khawatir Angga akan terus mengejar Adisti.
Istri Yudha itu menatap penuh prihatin pada Wanita yang lebih muda dari nya itu, Jika Tari dan Angga bersama maka Adisti adalah orang pertama yang paling bahagia untuk hubungan mereka berdua.
"Kenapa kamu jadi sedih seperti itu?"
Tari mengangkat wajahnya menatap Adisti.
"Kalian besok berkencan kan? mulai dari sekarang kami harus bersiap-siap" Adisti tersenyum lebar pada Tari.
Wajah yang semula sendu itu kini berubah menjadi seperti semula, Tari pun membalas senyuman Adisti.
__ADS_1
"Jadi yang mana yang harus ku pakai?"
Adisti kemudian menunjuk drees berwarna Biru Malam yang Tari pegang di sebelah kiri tangan nya.
"Kamu akan terlihat cantik memakai nya"
"Sudah ku duga mbak akan memilih drees ini, karena aku juga berencana memakai nya" Ucap Tari sangat senang karena selera nya dan Adisti ternyata sama.
"Kalau begitu aku akan menyimpan nya dengan baik!"
Adisti menggelengkan kepalanya melihat Tari berlari meninggalkan dapur menuju kamarnya.
Karena pemindahan beberapa pelayan Yudha berinisiatif membuat sebuah Rumah di samping rumah besarnya, gunanya untuk tempat tinggal pelayan yang lain selain Bi Ida.
Dan sudah seminggu ini Tari, Angga dan Paman Gusti mulai tinggal di rumah itu. hanya beberapa kali saja mereka pulang ke rumah masing-masing.
Tok! tok!
Adisti menoleh ke belakang saat mendengar ketukan pintu.
"Nona?"
.
Kedatangan Acia ke dapur untuk menemui nya ternyata karena gadis itu ingin di temani membeli Waffle dan Ice Cream di Kedai milik Serina.
Namun sayangnya saat mereka datang Serina tidak ada di toko.
"Anda ingin tambah lagi Nona?" Adisti ingin tertawa saat melihat Acia begitu lahap memakan makanan nya.
Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya, wajah Acia jadi terlihat lucu saat mulutnya belepotan di sekitar bibir nya.
Adisti mengambil tissue dari dalam tas yang ia bawa, lalu mulai membersihkan bibir Acia.
"Pelan-pelan Nona, Tuan akan marah jika melihat wajah putri nya belepotan seperti ini" Ucap Adisti sambil tersenyum Geli.
Acia membiarkan Adisti membersihkan wajah nya dengan tissue.
"Apa Daddy Setuju Untuk datang?" Tanya Acia menatap Adisti dengan harapan.
Senyum yang tadinya bertengger di bibir Adisti kini perlahan menghilang ketika Acia bertanya mengenai hal itu padanya.
"Nona tau sendiri bagaimana Tuan kan? sepertinya akan Sulit meminta nya datang" Jawab Adisti.
Mendengar perkataan Adisti, Acia jadi tidak lagi berselera memakan makanan nya.
"Tapi anda tidak perlu khawatir, saya akan pastikan Tuan akan datang" Yakin Adisti.
Acia menatap Adisti lalu gadis itu mengucapkan kalimat yang tak terduga.....
"Bersama mu kan?"
TBC .....
__ADS_1