Ibu Sambung Yang Tak Dianggap

Ibu Sambung Yang Tak Dianggap
Acia dan Dara


__ADS_3

Bel Sekolah tempat Acia menuntut ilmu baru saja berbunyi Ketika pelajaran sekolah yang sudah di mulai sejak pagi akhirnya berakhir, semua anak-anak berlarian keluar menuju jemputan mereka.


Acia sendiri lebih senang menunggu jemputan nya di dalam sekolah daripada harus menunggu di luar gerbang.


Untuk pertama kalinya dalam hidup Dia merasa begitu senang bisa pulang kerumah, Rasanya tidak sabar bertemu dengan ibu Sambung nya.


Apalagi semenjak kandungan ibu nya semakin membesar, mengusap perut ibu nya sudah menjadi rutinitas sehari-hari nya sekarang.


"Acia? Mama mu datang menjemput" Wali kelas Acia menghampiri anak didik nya, di depan ibu dari Acia sudah datang untuk menjemput.


Dengan penuh semangat Acia meninggalkan wali kelas setelah berpamitan dengan wanita itu.


Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri mencari keberadaan Adisti.


"Sayang?"


Acia menoleh kebelakang sembari tersenyum lebar, namun saat ia menoleh bukan Adisti yang ia temui melainkan Dara, ibu kandungnya.


Senyum yang semula bertengger di bibir Dara perlahan menyusut bersamaan dengan Ekspresi Acia yang juga terlihat tidak senang bertemu dengannya.


"Apa kabar sayang?" Tanya Dara mendekati Acia.


"Baik Mom" Acia membalas senyuman ibu kandungnya canggung, kapan ya terakhir kali mereka bertemu? rasanya sudah lama sekali.


"Mau ikut Mommy?" Ajak mantan istri Yudha itu, berharap Acia mau ikut bersamanya.


Gadis itu tidak langsung menerima ajakan ibu kandungnya, terlebih dahulu dia mencari keberadaan orang yang sebenarnya ia tunggu.


Senyumannya merekah begitu lebar ketika Adisti yang tengah ia cari berjalan tidak jauh dari nya, wanita itu terlihat sangat keberatan dengan beban yang ia bawa di perut.


"Mama!"


Bruk!


"Eh? pelan-pelan" Adisti terkejut begitu Acia berlari dan langsung menerjang dirinya, untung saja tubrukan nya tidak terlalu kuat.


Dara Tidak kalah terkejut dengan pemandangan yang ia lihat sekarang, Adisti tengah mengandung? sejak kapan?


Melihat dari besarnya perut Adisti dia menebak usianya sekitar Lima bulan.


Dan apa tadi? Acia memanggil Adisti dengan panggilan Mama?


"Nyonya Dara?" Sejak kapan mantan istri suami nya ada di situ?


Dara tersenyum tipis membalas sapaan Adisti.


"Boleh aku membawa Acia makan siang terlebih dulu?" Dalam hati Dara berdecih, untuk apa dia harus meminta ijin hanya untuk makan siang dengan putri nya?

__ADS_1


Adisti memandang Acia Bertanya apakah gadis itu ingin pergi, Tapi melihat wajah muram putri sambungnya itu Adisti bisa menebak jika Acia tidak mau.


"Kamu mau nak?" Terpaksa, rasanya tidak sopan menolak permintaan orang yang jelas-jelas adalah ibu kandung putri sambungnya.


Dara memutar bola matanya jengah untuk apa wanita pembantu itu bertanya lagi?


Acia mengangguk lesu tidak bersemangat, padahal dia ingin cepat-cepat pulang lalu tidur di pangkuan Ibu sambung nya.


"Kalau begitu biar Mama tunggu di dalam mobil ya?" pesan Adisti yang langsung di tolak Dara.


"Tidak perlu, biar aku yang mengantar putri ku pulang, Lagipula aku sudah lama tidak berkunjung" Ujarnya ketus menekan kan jika Acia adalah putri nya.


Sudut bibir Adisti berkedut, apa-apaan wanita ini? memangnya siapa pemilik rumah di sini? Kenapa seenaknya saja mau mampir!


Ingin sekali Adisti memaki ibu kandung Acia, tapi dia tahan saja, sejak kehamilan nya ini dia memang sering emosi apalagi jika berhadapan dengan wanita seperti Dara.


"Ayo Sayang" Ajak Dara menggandeng putri nya menjauhi Adisti.


Acia menoleh kebelakang dia melihat Adisti yang tersenyum sembari melambaikan tangannya.


"Aku ingin sekali mencakar wajah sombong nya" geram Adisti merasa sangat kesal, bagaimana bisa Dulu Yudha menikahi wanita ular seperti itu?


Tidak jauh di belakang, supir yang bertugas mengantar Adisti hanya geleng-geleng melihat kelakuan Nyonya mudanya.


.


.


"Kamu suka tempat nya?" Tanya Dara basa-basi, senyum nya semakin lebar melihat Acia yang sepertinya tertarik dengan Restoran yang mereka kunjungi.


Acia mengangguk tapi dalam hatinya dia tidak terlalu suka tempat yang ramai seperti ini, jika lebih memilih Acia lebih suka kedai milik bibi Serina.


"Silahkan di nikmati" Pelayan restoran menyajikan dua piring pasta dan dua gelas jus jeruk di atas meja.


Jika hanya makan seperti ini lebih baik makan saja di rumah.


Entah kenapa Acia sekarang merasa jika apa yang ibu kandungnya lakukan untuk nya itu terasa salah, apakah memang dari dulu seperti ini?


"Kenapa tidak di makan?" Dara bersuara ketika Acia tidak menyentuh makanan nya sama sekali.


"Aku hanya sedang berfikir saja Mom" Ucap Acia seadanya, lalu mulai menyantap makanan nya.


"Bagaimana kabar mu sayang?" Dara bertanya di tengah-tengah kegiatan makan siang mereka.


"Baik" Acia menjawab singkat


"Kamu tidak ingin tidur di rumah Mommy lagi?"

__ADS_1


"Sebentar lagi aku ujian, jadi perlu belajar"


"Belajar saja di rumah Mommy ya?"


Tuk!


Dara tersentak melihat Acia meletakkan sendok nya di atas piring tiba-tiba. padahal makanan nya belum habis.


"Bisakah kita makan dengan tenang? Daddy mengajari ku untuk diam saat makan" Acia menatap datar ibu kandungnya, selalu saja seperti ini.


Dara akan selalu mengajak Acia berbicara di tengah-tengah menikmati makanan, itu sebabnya Yudha sering kali memarahi Acia karena sikapnya yang tidak sopan saat di meja makan.


"Ah, daddy tidak ada di sini sayang" Kilah Dara, Biasanya Acia tidak pernah marah hanya karena hal seperti ini sebelumnya.


Acia memutar bola matanya malas tidak ada gunanya berbicara dengan Ibunya.


Makan siang yang mereka santap menghabiskan waktu cukup lama untuk habis, karena Dara terus mengajak Acia berbicara gadis itupun jadi kesulitan menelan makanan nya.


"Mommy tidak tau jika kamu sebentar lagi memiliki adik" Pancing Dara ingin melihat reaksi putri nya.


"Iya, aku tidak sempat bilang"


"Kamu.....senang?"


Acia mengangguk penuh semangat reaksi yang sangat tidak terduga.


Apakah Acia tidak mengerti dengan perkataan nya jauh-jauh hari yang lalu? kenapa putri nya itu senang memiliki adik? seharusnya Acia membenci Adik nya kan?


"Kamu tidak takut?"


Acia mengerutkan keningnya heran dengan perkataan ibu nya.


"Kenapa harus takut?"


"Daddy tidak akan menyayangi mu lagi nanti, kamu tidak khawatir dengan hal itu?"


Acia menatap sang ibu dengan pandangan beragam, sepertinya dia tau kenapa saat itu dia takut memiliki adik. Itu karena perkataan ibu kandungnya.


Atas dasar apa ibu nya berkata seperti itu? Acia paham dengan apa yang Dara katakan.


Ibu kandungnya itu mengatakan sesuatu sesuai apa yang akan ia lakukan jika berada di posisi itu.


Karena Acia sudah pernah merasakan bagaimana Ibu nya meninggalkan nya seorang diri saat dia butuh, bahkan wanita itu bisa melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan, termasuk mengorbankan putri kandungnya sendiri.


"Mommy, aku tidak menyangka kamu seperti ini"


TBC....

__ADS_1


__ADS_2