Ibu Sambung Yang Tak Dianggap

Ibu Sambung Yang Tak Dianggap
Bertemu dengan teman lama


__ADS_3

Pagi ini setelah menyiapkan sarapan untuk semua orang Adisti berencana membantu orang tua angkatnya berkebun di sawah yang mereka punya.


Semenjak kedatangan nya malam tadi tidak ada yang membahas dan bertanya apapun, mereka hanya bertanya kabar nya dan kondisinya saja selebihnya keduanya hanya diam saja.


"Istirahat saja dulu, Nak" Bi Rina beberapakali menyuruh Adisti untuk istirahat di rumah dengan tenang, apa lagi melihat Kami Adisti yang masih di perban dan jalannya saja masih susah.


Istri Yudha itu menggeleng pada Bibinya.


"Aku sudah lebih baik Bi" jawabnya tersenyum lebar.


Putri nya yang satu ini memang sangat keras kepala, dan yang bisa mengatasi keras kepala Adisti hanyalah putra kandungnya.


Tapi sayang nya putra nya tidak berada di kota ini semenjak Adisti menikah dengan Yudha, bahkan pria itu tidak datang ke acara pernikahan sahabat baiknya itu.


Adisti mengerenyitkan dahinya melihat Bi Rina yang tiba-tiba saja melamun.


"Bibi?" tepukan ringan pada pundak wanita paruh baya itu membuat nya sadar.


BI Rina mengerjapkan matanya tidak sadar dia melamun saat seperti ini.


"Ayo, Paman pasti sudah menunggu" ajaknya kemudian.


Mereka berdua berjalan bersama menuju pintu, sesekali Bi Rina meringis ketika melihat cara berjalan Adisti yang seperti kesakitan begitu, tapi wanita muda itu tetap keras kepala Hendak membantu nya di sawah.


klek


Pintu Adisti buka.


"Eh?"


Kedua wanita berbeda usia itu terlihat terkejut melihat keberadaan seorang Pria tampan yang sangat mereka kenali, begitupun dengan pria muda yang terkejut karena pintu yang baru saja akan ia ketuk tiba-tiba saja terbuka.


"Dika!"


Bukan Adisti yang bersuara melainkan Bi Rina yang langsung menerjang tubuh tinggi sedikit berisi milik pria yang tadi berdiri di depan rumah.


"Ibu, S-sebentar" Pria bernama Dika itu merasa sesak dengan pelukan sang ibu.


Adisti terdiam di tempat tapi kedua matanya terus mengarah pada Pria yang ternyata adalah putra semata wayang Bi Rina dan Paman Yus, alias juga teman masa kecil nya.


Andhika Yustafa


Plak!


"Kenapa pulang tanpa memberikan kabar!" BI Rina memberikan pukulan kasih sayang di punggung sang putra.


Andhika atau yang sering di panggil Dika itu hanya bisa meringis saat ibunya mengomel seperti ini, bukannya di sambut dengan baik ibunya malah memukul nya begini.


"Ibu tidak senang aku pulang?" dengusnya kesal, dia tentunya merasa malu di perlakukan seperti ini di hadapan Adisti.

__ADS_1


"Bodoh! tentu saja Ibu senang" Wanita paruh baya itu kembali membawa tubuh tegap sang putra ke dalam pelukannya.


Senyum terbit di bibir Adisti melihat keharmonisan antar ibu dan anak itu.


"Apa kabar?"


Andhika melepaskan pelukannya dari sang ibu lalu menoleh kearah sahabat masa kecil nya.


"Sangat baik setelah bertemu dengan keluarga ku lagi" Jawab nya sembari merangkul ibunya yang tinggi nya hanya sebatas dadanya.


"Beruntung nya Adisti pulang tadi malam ke mari, jadi dia bisa bertemu dengan mu pagi ini" sahut Bu Rina


Dika yang semula melihat ibunya yang berbicara langsung menatap penuh tanda tanya pada Adisti.


Tadi malam?


Adisti memang tidak bisa menyembunyikan apapun dari Dika, pria itu pasti sudah mencium permasalahan yang sekarang ia hadapi dalam rumah tangganya.


"Ayo masuk masuk dulu, nanti saja kita ke sawah" Tatapan Adisti dan Dika terputus begitu Bi Rina bersuara mengajak mereka masuk kembali kedalam rumah.


"Ayah ada di sawah?" Dika bertanya sambil berjalan kedalam.


"Aku ingin menyusul ayah saja Bu" Lanjutnya, mana bisa dia melihat ayahnya bekerja keras dan dia hanya duduk diam di rumah.


"Istirahat dulu! kamu baru sampai Dika!"


"Istirahat nanti saja" Sahutnya tidak mau kalah.


"Tidak bisa! kamu di rumah saja, setelah istirahat baru kamu bisa ke sawah menyusul ayah!" Ucap nya tidak terbantahkan.


Dika duduk di atas kursi yang terbuat dari bambu anyaman, sedangkan ibunya berdiri menjulang di hadapannya.


"Bibi temani Andhika saja ya? biar Adisti yang menyusul paman ke sawah" Wanita yang sedari diam itu akhirnya memberikan usulan.


Namun sayangnya bukan mendengarkan usulan dari Adisti, Bi Rina malah ikut menyuruh Adisti duduk diam di rumah.


"Kalian baru saja sampai, istirahat dulu ya? Ibu mohon"


Adisti dan Dika saling berpandangan jika sudah begini tidak ada lagi yang bisa mengubah keputusan Ibu mereka.


"Baiklah" jawab mereka bersamaan.


BI Rina yang mendengar pun merasa sangat senang, apalagi dia berhasil menghentikan Dua orang yang sama-sama keras kepala.


"Tapi hanya sebentar saja" Lanjut Adisti.


Wanita paruh baya tersebut mengangguk, setidaknya putra putrinya sudah istirahat.


"Lalu kami akan menyusul" Andika menimpali.

__ADS_1


"Ya! ya! terserah kalian, tapi pastikan kalian istirahat dengan cukup! terutama Adisti"


Merasa namanya di sebut Adisti terlihat bingung.


"Aku?" tunjuknya pada dirinya sendiri


Bahkan Dika juga ikut memperhatikan Adisti, wanita di sebelahnya itu terlihat sangat sehat, lalu apa yang harus di khawatir kan?


"Kalau begitu Ibu pergi menyusul ayah dulu"


Bi Rina kemudian meninggalkan Adisti dan Dika berdua saja di dalam rumah. walaupun mereka sangat akrab, tapikan sekarang sudah berbeda.


.


Sudah lewat tengah hari Adisti beristirahat dengan cukup di rumah paman dan bibinya, walaupun tidak benar-benar istirahat karena dia melakukan beberapa pekerjaan rumah yang ringan.


Keberadaan putra dari paman dan bibinya juga Adisti tidak tau, yang sekarang dia khawatir kan adalah orang tua angkatnya.


Mereka berada di kebun dari pagi sampai tengah hari, tapi tidak ada tanda-tanda akan pulang kerumah.


Mendengar suara grasak-grusuk di sebelahnya Adisti menoleh.


"Kamu mau ke mana?" Tanya Adisti melihat Andhika sudah berganti pakaian, pria itu menggunakan baju yang sering pamannya gunakan untuk ke sawah.


Dika memperbaiki letak topi jerami nya saat di rasa topi itu terlalu besar untuk kepalanya.


"Menyusul ayah dan ibu" jawab Dika seadanya.


Adisti mendengus kesal


"Kamu mau pergi sendiri?!" Sahut nya sedikit tidak terima.


Dika mengerenyitkan dahinya ada apa dengan wanita ini?


"Kalau mau ikut ya ikut saja" kenapa Adisti jadi sewot begitu?


Benar juga, kenapa dia harus menunggu Dika untuk pergi menyusul paman dan bibinya? padahal kan dia bisa menyusul sejak tadi!


Mengabaikan Adisti yang seperti nya tengah merutuki kebodohan nya Dika melangkahkan kakinya keluar dari rumah.


Lalu Adisti juga ikut menyusul dengan pakaian seadanya.


Di dalam hati dia ingin sekali mengumpat pada Dika yang sama sekali tidak ada niat menolong nya.


Adisti mengunci rumah terlebih dahulu sebelum meninggalkan nya dalam keadaan kosong.


Lagi-lagi dia harus di buat mengelus dada melihat ketidakpekaan Dika pada kondisinya saat ini, pria itu dengan santai nya berjalan mendahului nya.


"Sepertinya hubungan kami sudah merenggang sekarang" gumam Adisti melihat sikap Andhika yang seperti ini.

__ADS_1


Yah tidak apa-apa, mungkin dengan seiring berjalannya waktu semua akan baik-baik saja dan kembali seperti semula.


TBC...


__ADS_2