Ibu Sambung Yang Tak Dianggap

Ibu Sambung Yang Tak Dianggap
Pesta dan permohonan


__ADS_3

Niat hati ingin mengambil air di dapur siapa yang menyangka jika pemandangan romantis antara Yudha dan Adisti menjadi tontonan gratis untuk Sandara, hatinya terasa panas melihat bagaimana keduanya saling memeluk erat di atas sofa yang sempit.


Yudha tidur sambil memeluk erat tubuh Adisti di atas sofa membuat siapa saja yang melihatnya iri termasuk Dara, jika mengingat saat-saat masih menjadi istri Yudha dulu mereka berdua bahkan hampir tidak pernah berpelukan seperti itu.


Decihan samar terdengar keluar dari bibir Dara, ingin sekali rasanya ia menyiram keduanya dengan gelas berisi air yang ia bawa, Berlalu dengan perasaan kesal dari sana Dara berjalan menuju kamar Acia, gadis itu! bukannya dia sudah mengatakan rencana mereka tadi? lalu kenapa sekarang Yudha dan Adisti masih tidur bersama?.


Dibukanya pintu kamar Acia menengok ke dalam apakah gadis itu ada di dalam atau tidak, tapi ternyata kamarnya kosong lalu Dara beralih pada kamar milik Yudha.


Klek


Benar saja! Acia tidur di dalam kamar seorang diri pasti gadis itu tidak sadar jika rencana mereka gagal, Seharusnya Yudha tidur bersama dengan Acia di kamar dengan nyaman sedangkan wanita pembantu itu tidur sendiri di sofa sempit. Tapi ternyata semua nya kacau saat melihat Yudha dan Adisti tidur berpelukan dengan mesra di ruang tamu.


"Sial!" Dara mengumpat kesal, Merebut kembali posisinya sebagai menantu di rumah ini sepertinya akan berjalan sulit.


.


Wajah bersemu Adisti tidak menghilang sejak tadi saking merahnya wajah wanita itu sampai membuat yang lain mengira jika Adisti sedang demam padahal tidak. Tadi pagi Bi Ida membangunkannya saat tidur, dia belum sadar jika Yudha tidur bersamanya sampai Bi Ida datang dan memergoki mereka yang sedang tertidur pulas.


Bayangkan betapa malunya Adisti saat itu? lagi pula kenapa Yudha ikut tidur bersamanya sih? bahkan rasa malunya melebihi rasa takutnya terpergok oleh pelayan lain yang mungkin saja datang tiba-tiba.


"Kamu benar-benar tidak demam kan Adisti?" Angga yang sedang membantu Adisti menyusun makanan di atas piring merasa khawatir dengan wanita di sampingnya itu.


Adisti tersenyum tipis


"Tidak" jawabnya jujur


Angga masih tidak percaya kalau begitu apa yang membuat wajah Adisti memerah seperti ini?


Adisti berjalan menjauh meninggalkan Angga seorang diri, padahal pria itu masih penasaran mengapa wajah Adisti bersemu merah. Pesta akan dimulai beberapa jam lagi karena itulah Adisti tidak ingin terlalu banyak mengobrol saat semua orang tengah sibuk dengan pesat yang akan di mulai beberapa jam lagi.


Membawa makanan ringan di atas nampan, Adisti menghampiri Eyang sari yang tengah duduk di ruang tengah di belakangnya ada Bi Ida tengah memijit punggung wanita tua itu, tadi Eyang mengatakan jika punggungnya sakit jadi dia meminta bantuan Bi Ida untuk memijitnya.


"Silahkan Eyang" Adisti menaruh makanan yang ia bawa ke atas meja kaca


Eyang yang melihat kedatangan Adisti kemudian langsung menyuruh Bi Ida pergi meninggalkan mereka berdua saja, "Di mana Yudha?" tanya eyang pada menantunya.


Ibu sambung Acia itu duduk di lantai kemudian memijit kaki-kaki renta Eyang sari, sengaja dia lakukan agar orang-orang tidak curiga dengan hubungannya dengan Eyang jika dia berani duduk di samping majikan mereka.


"Tadi malam Mas Yudha lembur, mungkin saja masih beristirahat di kamar" jelas Adisti, memang setelah tidur bersama di atas sofa yang sempit Yudha bangun dan langsung pindah ke kamar mereka, mengesalkan memang melihat reaksi Yudha yang biasa saja padahal dirinya merasa malu sepanjang hari ini.


Eyang mengangguk paham, Adisti merasa lega saat Eyang mengakhiri pembicaraan tentang Yudha, namun  sayangnya orang yang mereka bicarakan sedang berjalan kemari.


"Selamat Pagi, Eyang" Yudha mencium dahi Eyang lembut Kemudian langsung duduk di sofa tepat di samping neneknya.

__ADS_1


Adisti terlihat sangat gugup saat ini apalagi jika mengingat bagaimana mereka terpergok tidur berdua oleh BI Ida, dan Juga Adisti sedikit was-was jika ada yang melihat atau mendengar Eyang bersuara mengenai hubungan antara dirinya dan Yudha.


Eyang terlihat tidak puas melihat cara Yudha yang hanya menyapanya saja jelas-jelas ada istrinya di sini, padahal mendengar cerita Ida dia begitu bahagia dengan hubungan romantis tipis-tipis cucu nya dan juga menantunya.


"Mana salam untuk istri mu?" Eyang memicingkan matanya menatap Yudha tajam.


"I-itu eyang di sini b-banyak orang tidak enak nanti" Adisti mencoba memberikan pengertian agar eyang tidak lagi menyudutkan Yudha.


Jangankan mendengar Adisti Eyang malah semakin menatap mereka berdua bergantian dengan tatapan curiga. Yudha menghela nafas panjang kemudian menatap kearah Adisti yang sedari tadi seperti enggan melihat ke arahnya.


Tanpa aba-aba Yudha langsung menarik wajah Adisti dan mencium bibirnya di depan Eyang, Adisti terbelalak mendapatkan serangan tiba-tiba dari suaminya itu, dorongan-dorongan kecil Adisti lakukan tapi bukannya menyingkir Yudha malah semakin memperdalam ciuman mereka.


Plak!


Ciuman Yudha terlepas saat punggungnya terasa panas akibat pukulan Eyang yang begitu menyakitkan, tidak keras tapi rasanya lumayan panas.


"Lakukan itu di kamar kalian!"


Yudha tidak menjawab ia kemudian kembali duduk di tempat semula mengabaikan Adisti yang tengah menahan malu.


"Kami bahkan sudah melakukannya lebih dari ini, jadi berhentilah curiga eyang" Ungkap Yudha, tanganya mencomot makanan ringan yang Adisti bawa tadi.


Adisti menundukkan kepalanya menahan malu dan takut sekaligus, Tak jauh dari mereka ada seseorang yang melihat adegan itu dari awal sampai akhir.


Dara....


.


.


Adisti berdiri di samping bi Ida saat Acia bersiap meniup lilin dari kue ulang tahun nya, sebenarnya eyang memaksanya untuk berdiri di samping Yudha, tapi dengan segala penjelasan akhirnya eyang tidak lagi memaksa Adisti. karena itulah dia berada di sini di tempat para pelayan lain berkumpul.


"Sekarang tiup lilinnya"


Acia menutup kedua matanya kemudian gadis yang sekarang genap berusia 9 tahun itu mengucapkan permohonan nya di dalam hati.


Wuhhh


Tepuk tangan dari tamu undangan terdengar meriah tepat setelah Acia meniup lilin di kue ulang tahunya.


"Katakan apa permohonan Cia?" Dara menatap putrinya penuh harap.


Seperti rencana awal dia sudah merangkai sebuah siasat agar Dirinya dan Yudha bisa kembali dekat, memang terdengar licik karena memanfaatkan anak yang tidak tau apa-apa seperti Cia, tapi Dara yakin Cia pasti akan mengerti.

__ADS_1


Acia menatap Ibunya meminta persetujuan.


"Katakan sayang"


"Daddy, Acia ingin pergi berlibur dengan Daddy dan Mommy seperti dulu" Semua orang menatap prihatin pada Bocah kecil itu, pasti dia kecewa dengan perpisahan kedua orang tuanya, padahal di usianya saat ini seharusnya gadis itu merasakan kasih sayang utuh kedua orang tuanya.


Yudha tidak menjawab dia malah mengalihkan pandangannya pada Adisti, wanita itu sama sekali tidak menampilkan ekspresi kecewa sedikitpun saat Acia mengungkap kan keinginannya. malahan Adisti menatap Acia dengan pandangan kasihan.


"Kita akan pergi" Jawabnya langsung mendapat respon positif dari Acia.


"Benarkah? Daddy bersungguh-sungguh?"


Yudha mengangguk kemudian mengusap kepala putrinya penuh kasih sayang, tanpa semua orang sadari jika pria itu terus melirik Adisti di bekalang sana.


"Mommy kita akan berlibur bersama lagi"


Dara menahan senyum nya saat rencana nya berjalan dengan lancar wanita itupun langsung memeluk Acia dengan erat.


"Tapi sayang Daddy pasti sangat sibuk kan?" Dara melirik kearah mantan suaminya.


"Kita berdua saja ya?" sandiwara terus berlanjut, kini Dara bersikap seolah tidak pernah mengharapkan liburan itu.


Acia menatap ayahnya berkaca-kaca


"Turuti saja Yudha" Kali ini eyang sari yang bersuara, tidak ada salahnya kan membiarkan cucu satu-satunya merasa bahagia di hari ulang tahunnya?


"Baiklah"


"Aku sayang Daddy!" pekik Acia senang sambil memeluk erat  sang ayah.


.


Adisti meletakkan piring-piring yang sudah ia cuci ke tempatnya semula, pesta ulang tahun Acia sudah selesai beberapa saat lalu dan sekarang tinggal merapikan sisa-sisa pesta tadi, sangat merepotkan memang pesta yang hanya berjalan beberapa jam perlu memakan waktu tiga hari lebih untuk menyiapkannya bahkan membersihkan sampah-sampah nya perlu beberapa hari baru bisa selesai.


Grep!


"Hmphh"


Adisti memekik tertahan saat tubuhnya di peluk dari belakang dengan tiba-tiba, hampir saja ia berteriak di tengah malam jika orang yang memeluk nya tidak membekap mulutnya.


"Sstt!"


"Tenanglah"

__ADS_1


Adisti kaget setengah mati siapa yang berani memeluk nya seperti ini?


TBC....


__ADS_2