
Beberapa hari telah berlalu keadaan sudah kembali seperti semula bahkan hubungan Adisti dan Angga sudah kembali membaik, walaupun masih ada saja orang-orang yang menghina dirinya wanita tidak baik tapi Adisti hanya mendiaminya.
Seperti perkataan Yudha saat mereka dalam perjalanan kembali ke rumah, Dara sudah tidak tinggal lagi di kediaman mereka, wanita itu hanya sekali-kali datang jika Acia meminta.
Dan paman dan Bibinya juga baik-baik saja di kampung, bahkan Adisti hampir tiga sampai empat kali menghubungi kedua orang tua angkatnya itu.
Dari kabar yang ia dengar Dika sudah kembali ke kota untuk bekerja di luar kota, pria itu setelah gagal menggapai cita-cita nya sebagai psikolog akhirnya dia banting stir menjadi seorang Manager di perusahaan swasta cukup jauh dari tempat Adisti tinggal.
"Ayo Makan dulu"
Adisti yang baru saja membereskan alat-alat masaknya langsung berhenti begitu Bi Ida memintanya untuk makan malam bersama.
"Baik Bibi"
Setelah mencuci tangan nya dengan air bersih Adisti langsung menghampiri yang lainya.
"Oh ya ampun sudah lama sekali rasanya kita tidak berkumpul seperti ini" Tari membuka perbincangan mereka di tengah-tengah makan malam.
Adisti hanya tersenyum
"Benar sekali, aku merindukan masakan Adisti dan Bibi" Balas Angga sembari menyuap makanan nya, Bagaimana lagi makan-makan rumah sakit terasa sangat hambar di lidah nya.
"Kamu pantas mendapatkan nya!" Tari menyahut dengan lugas.
Dan setelah itu perdebatan kembali terjadi antara Angga dan Tari, sesekali bibi dan Adisti hanya memperingati jika kedua orang itu semakin tidak terkendali.
Lalu tidak sengaja Adisti melihat Acia yang seperti nya baru saja dari dapur tapi Gadis itu langsung pergi begitu saja.
Adisti mengerutkan dahinya heran tidak biasanya Acia ke dapur.
"Permisi sebentar ya"
Angga dan Tari yang tadinya ribut langsung berhenti saat Adisti pergi entah kemana, padahal makanan nya di piring masih banyak.
.
Meja makan yang sangat luas itu terlihat kosong dan sepi saat Adisti pergi untuk melihat Acia, Kursi yang biasanya terisi oleh Yudha dan Dara sekarang tidak ada penghuninya.
Dan Adisti hanya bisa melihat Acia yang sepertinya tidak nafsu memakan makan malamnya.
"Apa anda menginginkan sesuatu nona?"
Acia seperti nya terkejut dengan kedatangan nya, terbukti bagaimana Gadis itu menjatuhkan sendok nya.
"Maafkan saya nona"
Gadis itu tidak menanggapi seperti biasanya, membuat Adisti semakin khawatir dengan keadaan Acia.
Drek
Bunyi kursi bergeser saat Acia meninggalkan meja makan dalam diam.
Adisti menghela nafas berat bahkan gadis itu tidak menghabiskan setengah dari makan malam Nya.
"Sepertinya dia kesepian" gumam Adisti, lalu kembali ke dapur untuk me makan makanannya.
.
Sudah lewat tengah malam dan Yudha baru sampai di rumah, karena pekerjaan yang sangat padat beberapa hari ini dia harus begadang untuk menyelesaikan semua pekerjaan nya.
__ADS_1
Lampu rumah sudah di matikan semua sehingga Kondisi rumah terlihat sangat gelap, namun yang membuat nya heran adalah lampu Dapur yang masih menyala.
Apa ada orang di dapur?
Ayah satu anak itu menaruh tas kantor nya di atas meja makan begitu saja lalu dia berjalan menuju dapur.
"Adisti?"
"Oh astaga!!" Hampir saja gelas yang berada di tangan nya terlepas saat tiba-tiba saja suara Yudha mengagetkan nya.
"Mas!" tanpa sadar Adisti terpekik nyaring akibat terkejut dengan keberadaan suaminya.
"Kenapa belum tidur?" Yudha mengabaikan pekikan istrinya.
Adisti menuangkan air putih kedalam cangkir yang hampir saja jatuh tadi kemudian meminum air tersebut hingga setengah nya.
"Aku haus" jawab Adisti setelah menegak air minum.
Yudha mengambil gelas di tangan sang istri kemudian meminum sisa air di dalamnya, tidak peduli jika gelas tersebut bekas bibir Istrinya.
Toh mereka sudah sering bertukar Saliva satu sama lain, minum di satu gelas yang sama bukanlah hal yang besar.
Selagi suaminya menelan semua cairan bening kedalam tenggorokan nya, Adisti sedang berfikir bagaimana memulai pembicaraan terkait Cia dengan Yudha.
Tak
Yudha meletakkan gelas kosong tersebut ke atas meja menimbulkan bunyi peraduan antara gelas kaca dan meja yang terbuat dari kayu.
Lagi-lagi istrinya melamun, kadang-kadang Yudha bertanya-tanya apa yang sebenarnya istrinya itu pikirkan.
"Ayo tidur"
Adisti hanya mengikuti Yudha yang berjalan menuju kamar mereka berdua.
Di dalam kamar Yudha melepaskan seluruh setelan kerjanya lalu memasukkan baju kotor itu kedalam keranjang, setelah itu dia masuk kedalam kamar mandi.
Sembari menunggu suaminya membersihkan diri Adisti menyiapkan piyama untuk suaminya.
Klek
Beberapa menit kemudian pintu kamar mandi terbuka menampakkan Yudha dengan handuk yang melingkari pinggang nya hingga kebawah.
Adisti masih diam memikirkan cara nya agar Yudha mau mendengarkan perkataan nya.
Yudha mengambil piyama tidurnya di atas kasur lalu masuk kembali kedalam kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.
Dan Adisti masih sibuk dengan pikirannya sendiri.
Klek
Yudha keluar dan sudah mengganti pakaian dengan Piyama untuk tidur.
"Kenapa masih belum tidur?" Yudha jadi gemas karena Adisti belum juga tidur dan masih asik dengan lamunan nya.
"Aku tidak mengantuk" Alhasil hanya kalimat itulah yang keluar dari bibir Adisti.
Yudha membaringkan tubuhnya bersiap akan tidur sebelum suara Adisti mengganggu nya.
"Mas aku ingin meminta sesuatu"
__ADS_1
Mata yang semula terpejam itupun langsung terbuka, lalu Yudha memandang sang istri lekat.
"Kamu mau apa?" Tanya Yudha menahan rasa kantuknya, tidak biasanya Adisti meminta sesuatu darinya.
CK!
Yudha berdecak kesal bukannya mengatakan keinginan nya Adisti malah diam membisu.
"Kamu ingin melakukan 'itu' ?" tebak nya asal, walaupun tubuhnya lelah dia masih sanggup jika melakukan hal itu.
Adisti mengernyit heran, apa maksudnya 'itu'
Kemudian dia tersadar 'itu' yang di maksud oleh Yudha saat pria itu tiba-tiba saja membuka kancing Piyama nya satu persatu, ***? Yudha berfikir dirinya meminta melakukan hubungan seksual?.
"Hentikan!" pekik Adisti takut, bukan itu yang ia maksud.
"Kenapa? kamu ingin berkeringat kan malam ini?"
Adisti menggeleng cepat menyanggah pernyataan Yudha barusan.
"Bukan Mas! dengarkan aku dulu"
Seperti perkataan sang istri Yudha diam menatap wanita di hadapannya menunggu permintaan apa yang Adisti maksud.
"A-aku"
"i-itu..."
Bagaimana ya mengucapkan nya dia takut suaminya itu malah marah padanya.
Sret
"kyaa!"
"Sstt! diam!"
Adisti terdiam mendengar bentakan Yudha, siapa yang tidak terkejut saat di tarik begitu saja.
Yudha membaringkan tubuhnya menarik serta Adisti kedalam pelukannya, daripada dia semakin kesal karena Adisti yang tidak langsung mengatakan keinginan nya lebih baik seperti ini kan.
"Sekarang katakan" Yudha memeluk erat tubuh istrinya, wangi alami milik Adisti membuat rasa kantuknya kembali datang.
"M-mas"
"Hm?" Yudha memejamkan matanya sesekali memberikan kecupan di kepala Adisti.
"Bisa tidak, Nyonya Dara kembali tinggal di sini?"
Wushhh
Mata yang tadinya terasa sangat berat kini terbuka dengan lebar.
"Mas?"
Adisti mendongak saat tidak mendengar suara Yudha.
glek
Tanpa membuang waktu Adisti langsung menurunkan pandangannya pada dada bidang sang suami.
__ADS_1
gawat sepertinya Permintaan nya tidak bisa diterima.
TBC....