
Peluh keringat tak hentinya keluar dari tubuhnya, pakaian yang di gunakan sudah basah karena keringat yang terus mengucur keluar.
Nafasnya pun sudah mulai tidak beraturan merasa sudah sangat kelelahan.
Bruk!
Adisti merebahkan tubuhnya di atas lantai begitu saja setelah kurang dari tiga puluh menit berlari di treadmill yang ada di ruang olahraga suaminya.
Nafasnya terengah-engah padahal dia hanya berlari dalam mode normal saja.
Sedangkan di sebelah Adisti Yudha menggeleng menatap bagaimana lemahnya tubuh sang istri, padahal baru beberapa menit saja.
Yudha mematikan treadmill miliknya lalu berjalan menghampiri Adisti yang masih terbaring lemah di atas lantai tanpa alas.
"Bangun!" Yudha berkacak pinggang
Adisti menggeleng lemah tubuhnya terlalu lelah untuk di gerakkan.
Dengan perasaan dongkol Yudha mengangkat istrinya ala bridal style dan membawa Adisti berbaring di atas sofa panjang.
"Saya heran, padahal tenaga mu banyak sekali ketika melakukan pekerjaan rumah, tapi kenapa saat olahraga begitu lemah?" Tanpa sungkan Yudha mengelap keringat yang mengalir dari leher sampai dada Adisti.
Tenaga Adisti sudah habis hanya untuk mengangkat tangan nya saja terasa sulit.
Berlebihan memang...
"Agenda kita selanjutnya adalah berenang" Titah Yudha tidak bisa di bantah.
Adisti sedikit tidak terima jika menggunakan kolam renang di rumah pasti para pelayan akan melihat mereka, lalu apa yang harus Adisti jelaskan saat mereka bertanya?
"Tapi Mas?"
"Tidak ada penolakan"
Nafasnya sudah kembali teratur Adisti pun mendudukkan dirinya di atas sofa.
Memperhatikan Yudha yang kembali melakukan olahraga nya, besi seberat hampir dua puluh kilo Yudha angkat seorang diri.
Otot-otot lengannya menonjol keluar saat Yudha mengangkat besi itu menggunakan kedua tangan kosong.
"Sekarang kamu coba" Yudha meletakkan Besi tersebut ketempat semula.
Kamu gila? Sayang nya Adisti hanya bisa berucap dalam hatinya.
Dengan terpaksa akhirnya Adisti mengikuti perkataan dari suaminya.
Pertama-tama dia berbaring di atas sebuah tempat khusus yang Yudha gunakan tadi, lalu Yudha langsung meletakkan Barbel yang beratnya lebih kecil dari yang sebelumnya Yudha angkat.
Adisti menaruh kedua tangannya memegang besi panjang di kiri-kanan tubuhnya, bersiap menunggu aba-aba dari Yudha.
"Siap?"
Wanita itu mengangguk
"Mulai!"
Adisti menarik nafasnya sebelum benar-benar mengangkat barbel seberat 10kg itu.
"Humph!"
Yudha tersenyum melihat Adisti berhasil mengangkat beban seberat 10kg itu.
Eh?
"Mas! tolong!" Adisti tidak berani menurunkan besi yang ia angkat ke atas tadi turun.
__ADS_1
"Turunkan perlahan" Yudha memberikan instruksi nya.
"Tidak bisa!" Adisti rasanya ingin menangis, kedua lengannya terasa ingin patah karena terus menahan besi berat itu.
Yudha menggelengkan kepalanya, baru saja benda itu terangkat tapi ternyata Adisti tidak bisa menurunkan nya lagi.
Mengambil alih barbel dari kedua tangan Adisti, akhirnya wanita itu bisa bernafas lega sambil memijit tangan nya yang terasa sangat sakit.
Kenapa benda itu terasa sangat berat untuk nya? lihat saja Yudha! bahkan pria itu hanya mengangkat barbel seberat 10kg itu dengan sebelah tangannya saja.
"Dasar lemah"
Adisti hanya bisa mengelus dada ketika tanpa perasaan suaminya menghina lemah dirinya.
.
.
"Istirahat saja nak"
BI Ida kasihan melihat istri Majikannya yang dari tadi sibuk memijit kedua tangannya bergantian, lagipula hanya memasak untuk makan malam saja Bi Ida mampu.
Adisti tersenyum lembut kemudian menggeleng pada Bibinya.
"Aku baik-baik saja bi" Jawabnya tidak ingin membuat Bi Ida khawatir.
"Apa yang di lakukan Tuan padamu?" BI Ida berbisik lirih di samping telinga Adisti.
Jika Tuan nya mengganggu wanita kesayangan nya Bi Ida pastikan Eyang akan tau kelakuan cucu lelakinya.
Adisti menggaruk kepalanya bingung harus menjawab apa.
"Mas Yudha beberapa hari ini menerapkan olahraga seminggu sekali Bi, dan mungkin karena aku belum terbiasa, lengan ku terasa sedikit sakit" Adisti berbicara jujur akhirnya.
BI Ida berdecak dari cara Adisti memijit tangan nya saja, dia tau betul jika itu bukan terasa sedikit sakit.
"Tidak perlu bi!" terlambat wanita paruh baya itu sudah menghilang dari pandangan nya.
Memang terasa sakit tapi ini masih bisa di tahan.
.
Ida keluar dari kamarnya sambil membawa sebuah kotak obat-obatan pribadi miliknya, isiannya memang tidak seberapa karena Bi Ida lebih suka menggunakan minyak atau balsem daripada obat-obatan.
Yudha yang kebetulan turun dari kamarnya di lantai atas tidak sengaja melihat kepala pelayan nya keluar dari kamar pelayan.
Dahinya mengerut melihat kotak yang di bawanya.
Untuk siapa?
"Tunggu sebentar Bi!"
BI Ida menghentikan langkahnya saat Yudha memanggil dari arah belakang.
"Oh Tuan? selamat malam!" Karena terlalu fokus Bi Ida sampai tidak melihat keberadaan Yudha.
"Untuk siapa kotak obat itu?"
BI Ida melirik kotak obat yang di bawanya.
"Ini untuk Adisti tuan" jawabnya
Yudha menaikkan sebelah alisnya memangnya wanita itu sakit apa?
"Apa yang terjadi?"
__ADS_1
"Saya melihat lengan Adisti seperti nya mengalami kejang otot, karena itu saya bermaksud mengobati nya"
Kejang Otot?
Apa karena olahraga tadi pagi? memangnya bisa sampai separah itu?
"Panggil dia naik ke atas" Bi Ida terlihat tida setuju, Adisti belum diobati bagaimana jika keseleo nya semakin parah?
"Tapi Tuan"
"Saya yang obati"
Dalam hati bi Ida tersenyum sangat bahagia, hitung-hitung sebagai tahap pendekatan untuk keduanya.
"Baik saya akan panggilkan"
Yudha kemudian teringat satu hal
"Bilang pada Cia, saya tidak akan turun untuk makan malam"
.
Seperti perintah Yudha tadi sekarang Adisti berada di kamar nya dengan Yudha.
Ia hanya diam melihat Yudha yang tengah menyiapkan air dingin dan sebuah handuk di atas meja.
"Buka baju mu"
Apa-apaan itu? tanpa basa-basi Yudha langsung menyuruhnya membuka baju begitu saja?
"Mas aku bisa sendiri" Adisti tersentak kaget karena Yudha bersiap melepaskan baju dari tubuhnya.
"Kalau begitu cepat!" kesalnya melihat Adisti hanya diam saat dia menyuruh wanita itu membuka bajunya.
Memangnya harus malu? mereka saja sudah pernah saling menatap tanpa sehelai benangpun.
Adisti meringis lagi-lagi tangan nya terasa begitu sakit saat dia mengangkat tangan nya ke atas, Adisti merutuki dirinya yang memilih baju langsungan saat tau tangan nya cidera.
Di tambah tatapan Yudha yang Terus menatap kearahnya, Adisti jadi malu.
Menyerah!
Dia tidak bisa melepaskan bajunya sendiri!
"Kenapa diam?"
Adisti mengerucutkan bibirnya, Bisa-bisa nya di saat seperti ini Yudha malah menggodanya.
Yudha tersenyum miring wajah Adisti yang mengerucut seperti itu terlihat sangat imut di matanya.
Saat suaminya mendekat untuk membantu nya melepaskan baju Adisti hanya diam, bukan karena marah ataupun kesal melainkan tengah menahan rasa malunya.
"Sshh" Ringisan Adisti terdengar begitu lengannya harus terpaksa diangkat agar bisa melepaskan kain di tubuhnya.
Matanya mulai berkaca-kaca menahan rasa sakit.
"Sakit sekali?" Yudha jadi tidak tega melihat ekspresi kesakitan istri nya itu.
Adisti mengangguk tidak menyangka olahraga yang dia lakukan bersama Yudha bisa berdampak seperti ini.
Yudha berdiri menghampiri lemari yang berada di dekat ranjang, membuka lacinya kemudian mengambil sebuah gunting yang ada di sana.
"G-gunting?" Adisti terkejut bagaimana bisa ada gunting di sana?
"Bajunya tidak bisa di buka, kita gunting saja"
__ADS_1
TBC....