Ibu Sambung Yang Tak Dianggap

Ibu Sambung Yang Tak Dianggap
Pulang Kampung


__ADS_3

Adisti menatap miris kearah tumpukan uang yang sudah susah payah dia dapatkan dengan hasil menjual tanah peninggalan orangtuanya, kini berserakan di atas lantai setelah Yudha dengan kasar menghempaskan nya kelantai.


"Dara tinggalkan kami berdua"


Dara hendak menolak permintaan Yudha, tapi melihat ekspresi mantan suaminya saat ini lebih baik Dara menghindar saja.


Adisti meremas jari-jarinya gugup dan juga takut, sepertinya Yudha sangat marah saat ini.


"Darimana kamu mendapatkan uang itu?" Sentak Yudha tajam.


Wanita yang masih terkejut dengan tindakan suaminya itu perlahan mengangkat pandangan nya.


"P-paman" gumamnya yang masih dapat di dengar jelas oleh Yudha.


Ayah dari Acia itu Mengusap wajahnya kasar, bisa-bisanya istri dari seorang Yudhakara meminta uang dari orang lain?


"Kamu tau apa yang telah kamu lakukan?"


Gelengan pelan di berikan Adisti karena dia tidak merasa bersalah mengenai apapun.


grep


"Kamu mempermalukan saya Adisti" Yudha meremas kencang kedua lengan istrinya tanpa sadar.


Mendapatkan remasan kuat dari Yudha membuat Adisti meringis ngilu.


"Haaah...." Yudha menghela nafas panjang.


Berusaha mengontrol emosi nya yang kembali memuncak karena ulah dari istrinya, Bayangkan saja mereka baru saja berbaikan tidak lama ini tapi Adisti kembali membuat masalah hingga dirinya kembali diliputi emosi.


"Kenapa tidak langsung meminta pada saya?! suami mu ada di sini, kenapa kamu malah meminta pada orang lain!" Adisti memejamkan matanya erat-erat, untuk pertama kalinya Yudha berteriak semarah ini.


Bahkan di dapur Bi Ida terus merapal kan doa agar Adisti baik-baik saja.


"Terserah! lakukan apapun seperti yang kamu inginkan!" berbicara dengan wanita dari kalangan rendahan seperti Adisti hanya akan membuat amarah nya semakin besar.


Wanita itu tidak akan mengerti apa akibatnya jika nama suaminya tercemar karena perbuatannya.


Adisti menatap nanar punggung Yudha yang berjalan menjauh dari tempatnya saat ini, memangnya apa yang salah? jikapun Adisti meminta bantuan Yudha apakah pria itu akan membantu nya?


Bi Ida langsung berlari menghampiri Nyonya mudanya.


"Kamu baik-baik saja kan nak?" Raut cemas terlihat begitu nampak di wajah keriput Bi Ida.


Adisti tersenyum lembut "Aku baik-baik saja Bi" mendengar nya Bi Ida turut merasa lega, lalu membalas senyuman dari Wanita di hadapannya.


Senyum itu hanya bertahan sementara sebelum kalimat terucap dari bibir Adisti.


"Sepertinya lebih baik aku pulang saja Bi" Adisti serius dengan perkataan nya dia rasa hubungannya dan suami tidak berjalan baik.

__ADS_1


"Jangan bicara seperti itu" Bi Ida menolak keras perkataan Adisti, hanya karena masalah kecil jangan sampai hubungan keduanya putus begitu saja.


Grep


Pelukan di berikan wanita paruh baya tersebut pada Nyonya mudanya, tidak akan ia biarkan Adisti meninggalkan rumah ini sejengkal pun.


Dalam pelukan Bi Ida, Adisti jadi merasa sangat ingin kembali pulang kerumahnya di kampung, pelukan wanita paruh baya ini mengingatkan nya pada orang tua Angkatnya di kampung.


Adisti melepaskan pelukannya


"Aku rindu paman dan Bibi di kampung" Ucapnya pada Bi Ida.


Raut sendu terpancar jelas di mata Adisti membuat nya tidak tega.


"Mas Yudha seperti nya sangat marah sekarang, dan aku tidak cukup kuat untuk meredam amarah itu" Adisti sudah lelah dengan segala kekacauan yang ada dalam rumah tangganya.


Entah bisa di sebut rumah tangga atau tidak, karena Yudha tidak pernah menganggap nya sebagai seorang istri di hadapan semua orang kecuali keluarga dekat nya.


"Mungkin setelah kembali ke kampung aku bisa memulihkan energi ku"


Dia hanyalah seorang pembantu di rumah ini, bukan haknya untuk melarang keinginan nyonya muda nya.


Mungkin dengan membiarkan Adisti pergi menjauh dari Yudha akan membuat wanita itu kembali pulih seperti dulu.


.


.


Paman supir dengan senang hati mengantarkan dirinya menuju kampung halaman nya, pria paruh baya itu merelakan dirinya menyetir selama kurang lebih lima jam lamanya hanya untuk mengantar Adisti.


Sebenarnya Adisti tidak enak pergi seperti ini, kesannya dia seperti lari dari masalah yang ia hadapi. tapi apa boleh buat, jika Terus di sana Adisti ragu dirinya akan pulih kembali.


Berterimakasih pada Bi Ida yang sudah mengijinkan nya pergi tanpa Kendala apapun.


Ciit


Mobil yang dia tumpangi berhenti di sebuah rumah berdekorasi sederhana yang tampak asri dengan pepohonan di sekitar nya.


Adisti keluar dari mobil dengan bantuan supir pengganti Angga.


Rasa lelah karena perjalanan panjang langsung sirna begitu mereka sampai di kampung halamannya, sebuah pohon berukuran besar tidak berada jauh dari rumah paman nya.


Dan Adisti mengingat bagaimana masa kecil nya dulu ia lewati di sana.


"Nona seperti nya saya harus cepat kembali"


Adisti langsung menoleh kearah paman supir tersebut ketika pria paruh baya itu berkata akan pulang, bahkan belum ada sepuluh menit mereka sampai tapi pria paruh baya itu sudah ingin kembali.


"Istirahat saja dulu Paman" pintanya memohon, dia yang hanya duduk saja sangat lelah apalagi paman supir itu yang menyetir selama perjalanan penuh.

__ADS_1


Pria paruh baya tersebut tersenyum kikuk


"Sudah larut malam, saya tidak bisa meninggalkan anak dan istri saya sendirian" lagipula ia sudah terbiasa menyupir mobil tanpa tidur sama sekali, hanya seperti ini saja sudah biasa baginya.


Adisti tidak bisa menghalangi supir suaminya itu, pria paruh baya tersebut memiliki keluarga yang menunggu nya di rumah.


"Tapi paman hati-hati ya" Paman supir mengangguk, kemudian berjalan memutar memasuki mobil pribadi milik Yudha.


Mobil tersebut jalan perlahan meninggalkan Adisti seorang diri di depan rumah paman dan bibinya.


"Huuuh"


Sekarang dia harus bersiap menjelaskan tentang keberadaan nya di sini pada kedua orang tua angkatnya, syukur-syukur jika mereka percaya dengan perkataan nya.


Apalagi kemarin Adisti sudah menghubungi pamannya tentang penjualan tanah peninggalan orangtuanya, pasti mereka akan tambah terkejut saat melihat nya di sini malam-malam begini.


Adisti mendongak pada pintu kayu yang terbuat dari kayu kemudian mengetuknya hingga beberapa kali sampai akhirnya pintu pun terbuka.


"Adisti?"


Orang pertama yang membukakan pintu untuk nya adalah Bibinya istri dari paman Yus berdiri sambil menajamkan kedua matanya.


Ternyata benar Teman putra nya yang sudah ia anggap seperti anak sendiri itu yang mengetuk pintu rumah nya malam-malam begini.


"Bibi!"


Grep!


Adisti menerjang Bibinya langsung tepat setelah wanita paruh baya itu membuka pintu.


"Astaga! putri ku! kamu sehat-sehat saja nak?" Wanita yang di panggil Bibi oleh Adisti itu membalas pelukan putri angkatnya tidak kalah eratnya.


Tangis Adisti pecah saat akhirnya bisa merasakan kembali pelukan hangat orang yang sangat ia sayangi.


"Siapa yang datang?"


Kedua wanita yang saling berpelukan tersebut menengok pada pria paruh baya yang baru saja keluar dari dalam rumah.


Paman Yus menyipitkan matanya memastikan pengelihatan nya tidak salah.


"Adisti?"


"Paman!" sekarang giliran paman kesayangan nya yang ia peluk dengan erat.


Bi Ria istri dari paman Yus mengusap lembut punggung Adisti yang tenang memeluk suaminya.


"Aku merindukan kalian" Gumamnya di sela-sela pelukannya, seperti nya meninggalkan rumah besar suaminya adalah keputusan yang benar.


Adisti merasa rasa sakit yang ia alami perlahan menghilang hanya dengan pelukan dari kedua orang tua angkatnya.

__ADS_1


TBC...


__ADS_2