Ibu Sambung Yang Tak Dianggap

Ibu Sambung Yang Tak Dianggap
Kesabaran dan pengakuan


__ADS_3

Adisti masih tidak habis pikir dengan Yudha dan keegoisan nya, setidaknya jika tidak ingin putri nya bergabung dengan mereka pria itu bisa menghabiskan waktunya bersama Acia bukanya malah memarahi nya seperti tadi.


Sudah lewat pukul 9 malam dan semua orang sudah kembali ke rumah mereka masing-masing.


Klek


Pintu berwarna cokelat yang semula tertutup begitu rapat akhirnya dia buka, di sana Acia berbaring dengan tubuh di tutupi selimut.


Adisti merasa sedikit lega dengan Acia yang bisa tertidur dengan lelap, ia sempat mengira jika Acia akan terluka akibat bentakan Yudha tadi.


Pintu kembali Adisti tutup, sudah waktunya dia beristirahat.


"Darimana?"


Lihat pria angkuh itu, bahkan belum dia menutup pintu kamar Yudha sudah lebih dahulu Bertanya dari mana dia.


"Dapur"


Jawab Adisti singkat lalu merebahkan dirinya ke atas kasur di sebelah Yudha.


Yudha menutup buku yang sebelumnya dia baca, kemudian ikut merebahkan tubuhnya menghadap Adisti yang membelakangi nya.


"Saya tidak bermaksud Marah pada Acia, karena saya membesarkan nya seorang diri, saya tidak ingin Didikan yang selama ini saya berikan hilang begitu saja" Kalimat terpanjang yang pernah Yudha ucapkan pada nya.


"Seharusnya kamu mengatakan itu pada Nya" Jawab Adisti tanpa membalik tubuhnya menghadap sang Suami.


Yudha menghela nafas, bukannya membaik hubungan nya dengan Adisti menjadi semakin parah dari sebelumnya.


Dia tau perlakuan nya selama ini sangatlah tidak di benarkan, tapi karena rasa gengsi nya yang tinggi dia masih belum mengungkapkan bahwa Adisti adalah istrinya pada semua orang.


Karena permasalahan yang terjadi belakangan ini membuat Dia dan Adisti tidak memiliki banyak waktu hanya untuk berbicara satu sama lain.


"Maaf" Gumam Yudha pada Punggung Adisti.


.


.


"Apa yang kamu katakan?" Angga menatap tajam pada Tari.


Perkataan yang baru saja terlontar dari mulut yang biasanya menyebarkan hal-hal positif itu sangat tidak terduga.


"Aku tidak berbohong! Salah satu pelayan menunjukkan bukti nya pada ku!" Dengan tergesa-gesa Tari mengeluarkan ponselnya dari dalam saku kemudian langsung menunjukkan pada Angga, gambar yang beberapa hari lalu di tunjukkan pelayan untuk nya.


Angga menepis ponsel itu dari wajahnya.


"Apa yang terjadi padamu huh?! bukanya kamu sendiri yang bilang jika Adisti tidak mungkin melakukan hal itu?!" Angga meninggikan suaranya mendengar hal-hal buruk yang terus saja Tari keluarkan.


"Dia wanita simpanan Angga! bahkan wanita itu mengincar Tuan Yudha dan kamu!"


"Berhenti aku bilang!!"


Tari memejamkan matanya erat-erat saat hampir saja Angga melayangkan tangan pada nya.


Tidak bisa seperti ini, dia harus memberitahu kebenarannya pada Tari.


"Adisti itu-


Angga tidak melanjutkan perkataannya melihat keberadaan Adisti yang berada tak jauh dari mereka saat ini, Wanita itu menggelengkan kepalanya memberi tanda agar Dirinya tidak memberitahukan statusnya pada Tari.


"Agh! sial!"


Tanpa membuang waktunya Angga meninggalkan Tari begitu saja di sana.


Di sisi lain Adisti hanya mendesah pasrah, lagi-lagi rumor nya beredar di rumah ini. Bahkan yang Tidak terduga adalah Tari bisa terpengaruh dengan rumor itu.

__ADS_1


Sret


Bruk!


"Aduh"


Adisti terjatuh dengan posisi duduk saat salah satu pelayan di rumah ini menabrak nya tiba-tiba.


"Maaf Adisti, Aku tidak sengaja" Ucapannya terlihat sangat tidak tulus.


Tatapan Adisti jatuh pada wajah yang sama sekali tidak merasa bersalah itu.


Apalagi sekarang?


"Hm..."


Pelayan tersebut terlihat menahan amarahnya ketika Adisti tidak membalas perkataannya dan hanya menjawab dengan Gumaman saja.


"Bagaimana rasanya?"


Adisti mendongak tidak mengerti.


"Menjadi Wanita simpanan?" lanjutnya lagi dengan senyum mengejek.


Sret


"Apa maksudmu? siapa yang kamu maksud?" Adisti sudah mencoba menahan diri sejak awal dia tinggal di sini, tapi melihat pelayan yang semakin tidak tau diri seperti ini membuat darahnya mendidih.


"Tentu saja kamu" Pelayan itu bahkan menatap Adisti seperti tengah jijik pada wanita itu.


"Kamu sedang membicarakan dirimu sendiri?"


"Jangan asal bicara jika kamu tidak tau apapun!"


Adisti tidak bisa terus-terusan mengalah di hadapan orang yang bahkan status nya lebih rendah dari nya, jika memang dia adalah seorang istri dari Yudha maka dia harus menunjukkan kekuasaan nya.


Mengincar apanya? tanpa dia incar pun Yudha sudah menjadi miliknya lalu apa yang pelayan itu maksud?


Adisti mulai kehilangan kendali


Grep


"Apa yang kamu lakukan!"


Kerah baju pelayan di hadapannya itu menjadi sasaran cengkeraman Adisti.


"Kamu! jadi semua rumor itu bermula dari kamu?!"


Pelayan tersebut terlihat sulit bernafas saat kedua tangan Adisti mencengkeram erat kerah lehernya hingga terangkat.


Namun tiba-tiba saja dari dalam datang seorang Pelayan lagi yang langsung mendorong tubuh Adisti hingga terhempas kelantai.


Bruk!


"Adisti!" Bi Ida yang melihat kejadian itu langsung berlari kearah Adisti yang tengah bersimpuh di tanah.


"Yaampun"


BI Ida membersihkan luka lecet di siku dan telapak tangan Adisti.


"Apa yang kalian lakukan?! kenapa Adisti bisa seperti ini?"


Kedua pelayan itu tidak menjawab bahkan si pelaku hanya melihat tanpa merasa bersalah pada Adisti.


"Tidak apa bibi, aku baik-baik saja" Adisti tersenyum lembut agar Bi Ida tidak merasa khawatir dengannya.

__ADS_1


Apanya yang baik-baik saja? luka-luka yang di alami Adisti pasti akan membiru jika tidak segera di tangani.


"Ayo kita masuk kedalam dulu" BI Ida membantu Adisti bangun dan membawa nya masuk kedalam meninggalkan kedua pelayan yang menjadi tersangka utama.


.


"Sial! Jake! siapkan mobil saya sekarang!"


Asisten Yudha yang bernama Jake tersebut langsung menuruti perintah atasannya.


"Tapi Tuan, sebentar lagi ada rapat" Yudha sudah bekerja keras demi kelancaran proyek mereka ini, akan sayang jika Bos nya itu pergi begitu saja seperti ini.


Yudha berhenti melangkah kemudian dia langsung menoleh pada asisten nya.


"Apa gunanya kamu di sini Jake? selesaikan tugas mu disini, dan saya akan menyelesaikan tugas saya sebagai Seorang Suami"


Jake terdiam apakah penyebab kepergian Bos-nya ini karena ada masalah di rumahnya?


"K-kalau begitu salam untuk nyonya Tuan"


Yudha menatap galak pada Asisten nya, apa maksudnya itu? jadi Jake ingin sok perhatian pada Istrinya?


"Simpan omong kosong mu itu!"


Brak!


Jake menahan nafasnya saat Yudha menutup pintu kantor begitu kencang, sepertinya emosi bos-nya itu tidak stabil sekarang.


Yudha melajukan mobilnya pada kecepatan Tinggi agar segera sampai di rumah, emosinya memuncak saat Rekaman CCTV yang terhubung di handphone nya menampilkan video dua orang pelayan berani mendorong istrinya.


Lihat saja! setelah sampai rumah Dia tidak akan membiarkan satu orang pelayan pun menginjakkan kakinya di rumah lagi.


Ciiit


Suara decitan ban mobil begitu nyaring saat Yudha memarkirkan mobilnya di halaman depan.


Tujuan nya saat ini adalah mencari keberadaan Istrinya.


Brak!


"Astaga! Mas?" Adisti mengelus dadanya yang terkejut dengan kedatangan Yudha tiba-tiba.


"Kamu baik-baik saja?" Yudha mendekat pada istrinya lalu meneliti bagaimana tangan Adisti yang sudah di bungkus perban.


Sepertinya tidak akan ada hal baik yang terjadi jika dia terus menyembunyikan Status Adisti.


"Ikut aku!"


"Mau kemana! Mas!"


Yudha menyerat Adisti dari kamar mereka menuju dapur, seharusnya dia sudah melakukan hal ini sejak lama tapi karena keegoisannya Adisti lah yang harus menderita.


'Aku tidak akan membiarkan Adisti semakin menjauhi ku' batin Yudha berbicara.


"Tuan!"


Semua pelayan yang kebetulan berkumpul di dapur langsung memberi salam pada Yudha yang datang ke dapur sambil menggandeng Adisti.


"M-mas?" Gumam Adisti tanpa sadar.


Tari dan kedua pelayan di sana langsung terkejut dengan panggilan Adisti.


"Wanita ini" Yudha menarik Adisti agar berdiri di hadapannya.


"Dia adalah istri saya"

__ADS_1


Prang!


TBC......


__ADS_2