Ibu Sambung Yang Tak Dianggap

Ibu Sambung Yang Tak Dianggap
Why?


__ADS_3

Tidak ada rasa terkejut di dalam hati Acia ketika Eyang memberitahukan kepada nya bahwa ibu sambung nya tengah mengandung, dan tidak lama lagi dia akan segera memiliki adik.


Semua orang berusaha meyakinkan putri sulung Yudha bahwa memiliki adik tidaklah buruk.


Memang awalnya Acia juga sangat ingin memiliki seorang adik untuk teman nya bermain, tapi rasa ketertarikan itu menghilang saat ibu nya mengatakan jika posisinya bisa saja terancam dengan adanya bayi itu.


Wajar bagi seorang anak kecil yang tidak mendapatkan kasih sayang yang cukup seperti Cia berfikir seperti itu, saat dia merasa kasih sayang dari kedua orangtuanya kembali padanya tiba-tiba saja kasih sayang itu harus terbagi dengan sang adik nantinya.


Dan besar kemungkinan jika Acia harus terus mengalah pada sang adik.


"Nak, Cobalah untuk menerima nya" Eyang menatap penuh kelembutan pada cicitnya.


Gadis itu memang tidak bereaksi apapun, tapi semua orang bisa tau jika di dalam pikirannya terbesit hal-hal yang membingungkan.


"Daddy berjanji, tidak akan pernah mengabaikan mu lagi"


Acia menatap pada ayahnya, perkataan yang terucap dari sang ayah semakin menambah luka di hatinya.


Hanya agar dirinya menerima adik nya sang ayah sampai rela berjanji seperti itu padanya, apakah ayahnya tidak bisa menyayangi nya tanpa embel-embel.


Adisti merasa jika ucapan suaminya barusan itu salah, seperti nya Yudha ingin mengatakan nya dalam artian lain tapi karena itu Yudha, kata-kata yang terucap seolah-olah tidak tulus.


Melihat bagaimana Reaksi Cia barusan Adisti bisa menebak jika gadis itu tersinggung dengan kata-kata sang ayah.


"Hanya karena bayi yang belum lahir itu kalian semua menjadi seperti ini?" Acia tersenyum pedih, dia hanya ingin kasih sayang keluarga nya tanpa ada anak lain di keluarganya.


"Acia, bukan seperti itu maksud kami" Adisti begitu merasa bersalah pada putri sambungnya.


Jika saja dia lebih hati-hati mungkin kejadian seperti ini tidak akan terjadi, seadanya saja kehamilan nya bisa di tunda Adisti berharap Acia bisa menerima dia sepenuhnya dulu baru memikirkan seorang anak lagi


Inilah yang ia takutkan jika dia sampai hamil, Acia terlalu kecil untuk memahami bahwa ayah dan ibunya sangat menyayangi nya.


"Aku akan kembali ke kamar"


Yudha baru ingin menghentikan putri nya pergi, tapi Eyang dan Adisti melarang nya.


Karena Acia perlu waktu sendiri untuk berfikir.


"Biarkan Dia sendiri dulu" Ujar Eyang pada kedua pasang suami istri di sana.


"Aku takut jika Acia tidak akan pernah menerima bayi ini" Sendu Adisti.


"Jangan dipikirkan, kita tunggu saja dulu" Eyang menasehati.


.


.


Lima hari berlalu tapi tidak ada tanda-tanda Acia akan kembali seperti dulu padanya, bukannya semakin membaik Gadis itu perlahan semakin menjauh dari nya.

__ADS_1


Bahkan beberapa hari ini Acia tidak tidur di rumah melainkan di tempat ibu kandungnya.


Akibat terlalu tertekan dengan pikiran-pikiran negatif yang hinggap di kepalanya Adisti sampai harus mendapatkan perawatan dokter, dokter mengatakan Adisti terlalu stress di kehamilan nya yang rawan ini.


"Nyonya, demi kesehatan bayi Anda tolong jangan memikirkan hal-hal yang buruk" Dokter yang memeriksa Adisti memberi nasehat, berat badan Adisti juga turun drastis dari terakhir kali ia memeriksa nya.


"Kamu dengar? jangan memendamnya sendiri nak, Eyang dan suami mu ada di sini"


Adisti tersenyum sedih karena dirinya Eyang sampai harus menjaganya setiap saat.


"Kalau begitu saya permisi Nyonya"


BI Ida mengantarkan dokter keluar meninggalkan Adisti dan Eyang berdua saja.


"Apa yang kamu khawatirkan?" Eyang bertanya pada Menantunya, dia hanya bisa menghela nafas berat melihat kondisi Adisti yang seperti ini.


Berat badan nya turun drastis hingga menonjolkan beberapa tulang yang seharusnya tertutup daging, Menantu nya juga terlihat pucat.


"Acia, Eyang... kapan dia kembali?" Kedua mata Adisti berkaca-kaca, kepergian gadis itu membawa seluruh keceriaan di rumah ini.


Bahkan Yudha tidak bisa terus bersama nya karena pekerjaan kantor yang menumpuk.


Eyang mengelus wajah tirus Adisti lembut.


"Ini rumah nya nak, dia pasti akan pulang" Eyang menjawab.


Kenapa semua ini bisa terjadi pada Menantu nya yang baik hati? belum lama mereka sangat senang dengan berita kehamilan Adisti, kini mereka harus di hadapkan dengan kondisi Adisti yang semakin buruk hari ke hari.


Bahkan suaminya itu jarang pulang kerumah.


"Iya, beberapa jam yang lalu"


Adisti mengerenyitkan dahinya bingung, kenapa Yudha tidak menghubungi nya? apakah pria itu marah karena dirinya lah Acia pergi dari rumah.


"Jangan berfikiran buruk mengenai Suami mu! Yudha hanya tidak ingin kamu khawatir jika dia menelpon langsung ke ponsel mu" Merawat Adisti selama 24 jam Eyang bisa tau jika Menantu nya sedih, senang, ataupun sedang berfikir.


Benarkah? apakah dia bisa percaya?


.


Untuk mengisi kekosongan nya Adisti menyirami tanaman di pekarangan rumah, pekerjaan yang sudah lama tidak ia lakoni dan rasanya Adisti merindukan nya.


Sebenarnya eyang menyuruh nya istirahat sebelum dia pergi ke panti tadi, tapi karena memang Adisti sangat bosan hanya berdiam diri saja itulah sebabnya dia berada di sini.


Saat sedang menyiram tanaman Adisti di kejutkan oleh Mobil suaminya yang mulai memasuki Teras.


Bukan Keberadaan mobil itu yang mengejutkan nya, melainkan keberadaan orang di dalamnya lah yang membuat nya terkejut.


"Acia?" Gumam Adisti begitu bahagia melihat putri sambungnya kembali kerumah ini.

__ADS_1


Yudha menggandeng Acia menuju Adisti yang berdiri tidak jauh dari mereka, jika Yudha berjalan dengan wajah penuh senyuman maka Avia sebaliknya.


Wajah manis itu tidak menampilkan ekspresi apapun, seketika membuat dada Adisti begitu nyeri.


Apakah Acia belum bisa menerima dia dan Bayinya?


Cup


Yudha memberikan kecupan hangat di dahi sang istri.


"Selamat siang, lihat siapa yang aku bawa" Yudha begitu bahagia melihat Adisti yang juga turut senang melihat kehadiran Acia.


Dengan perlahan Adisti meletakkan selang nya di bawah, lalu kedua tangannya menarik Acia kedalam pelukannya.


Adisti begitu bahagia melihat Acia sudah kembali.


Acia bisa merasakan tonjolan di antara perut Adisti, gadis itu menerka-nerka apakah itu calon adiknya?


"Kita masuk terlebih dahulu" Ajak Yudha merangkul Adisti yang tengah menggandeng Acia.


Saat mereka sampai di dalam tiba-tiba saja ponsel Yudha berdering sehingga pria itu harus pergi sebentar untuk mengangkat telepon nya.


"Ayo kita duluan saja" Adisti tersenyum bahagia, gantian dirinya yang mengajak Acia menuju kamar gadis itu.


Adisti berjalan terlebih dahulu Ingin menaiki anak tangga tapi tiba-tiba saja dia merasakan tubuhnya terdorong begitu kuat dari Belakang.


Sret!


Tap!


"Ukh!" Adisti terkejut bukan main Untung saja dia berpegang dengan pegangan tangga, jika tidak Entah apa yang akan terjadi dengan bayi nya nanti.


Wanita hamil itu menoleh kan kepalanya kebelakang, Adisti melayangkan tatapan tajamnya pada Acia.


"Apa yang kamu lakukan?!" Amarah nya naik seketika, apakah Acia ingin membunuhnya?


Wajah Acia sama sekali tidak merasa bersalah.


"Adisti, kamu menyayangi ku kan?" tanya Cia


Adisti tidak mengerti, tentu saja dia sangat menyayangi Acia.


"Apa selama ini sikap ku tidak menunjukkan kasih sayang ku?" Amarah nya belum mereda, bayangkan apa yang akan terjadi jika dia jatuh tadi.


"Kalau begitu, bisakah kamu gugurkan bayi itu?" Kalimat sadis yang keluar dari mulut seorang gadis kecil, sangat tidak di percaya, namun kalimat itu terbungkam karena Adisti langsung melayangkan tamparan yang begitu keras.


PLAK!


"ADISTI!!"

__ADS_1


TBC...


__ADS_2