
Suara Isak Tangis memenuhi ruangan kamar yang di tempati Adisti seorang diri, setelah tindakan nya tanpa sengaja menampar Acia, Yudha mengusir nya menjauh dari gadis kecil itu.
"Hiks"
Rasanya sangat sakit ketika Yudha menyalahkan dirinya tanpa bertanya dulu kronologi nya, Adisti merasa kenangan di masa lalu terulang lagi saat insiden dirinya bersama dengan Dara dulu, namun yang membedakan saat ini Yudha tidak menamparnya seperti dulu.
Adisti duduk dilantai bersandar pada ranjang menyembunyikan wajahnya di antara lutut.
Dia tidak bermaksud menampar Acia tapi karena mendengar perkataan gadis itu yang memintanya untuk menggugurkan kandungan, Adisti gelap mata dan tanpa sadar menampar Acia.
Klek!
Pintu kamar di buka oleh Yudha, Adisti yang masih terisak itu tidak bergerak ataupun menatap pada suaminya.
"Bangun!" Titah Yudha begitu tegas tanpa memperdulikan Adisti yang tengah mengandung anaknya itu menangis karenanya.
Rahangnya mengeras melihat tidak ada pergerakan dari sang istri.
Sret!
Adisti tersentak kaget saat Yudha menarik tangan nya kencang hingga dia langsung berdiri dari duduknya.
"S-sakit!" Desis Adisti
Apakah Yudha tidak sadar dengan apa yang ia lakukan terhadap istrinya yang tengah hamil anaknya?
Yudha terlihat tidak peduli tatapan mata pria itu begitu tajam menghunus wanita di depannya.
"Apa yang kamu pikirkan saat menampar Acia?!" Bentak Yudha begitu kasar, sampai-sampai Adisti tidak berani membuka mulutnya di hadapan pria yang tengah mengeluarkan emosinya.
Geraman Yudha semakin menjadi-jadi melihat Adisti yang hanya menunduk.
"Apa yang membuat mu sampai berani menampar Putri ku?!"
Amarah Yudha begitu besar bahkan jika Adisti bukan istrinya mungkin dia akan membalas tamparan Cia tadi pada Adisti juga.
"Seharusnya kamu bisa mengontrol emosi mu yang tidak stabil itu! bukan malah melampiaskan nya pada Acia!"
Dalam hati Adisti Tertawa mendengar ucapan Yudha, sebenarnya siapa yang harus nya mengontrol emosi di sini?
"Jawab!" Bentak nya lagi menunggu jawaban dari istrinya.
Adisti menghapus air mata di pipinya kemudian wanita hamil itu mengangkat wajahnya menatap pada suaminya.
"Seharusnya kamu mendengar penjelasan ku terlebih dahulu, sebelum melampiaskan emosi mu seperti ini" Adisti tersenyum sendu, walaupun bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman namun air mata tetap mengalir di pipinya.
Kedua tangan Adisti terangkat, dia menyapukan kedua tangannya itu di dada sang suami.
__ADS_1
"Putri mu itu akan membunuh anak mu yang lain Mas, jika itu terjadi pada mu apakah kamu akan menerimanya?"
Yudha mendengarkan dengan seksama, namun perkataan Adisti yang mengatakan jika Acia ingin membunuh bayi di kandungan Adisti membuat emosi nya kembali menyala.
Plak
Tepisan begitu kasar Yudha berikan pada tangan istrinya yang berada di dadanya.
Membuat luka di dalam hati Adisti yang sebelumnya sudah ada kini semakin melebar.
"Apa yang kamu katakan tentang anak berumur Sembilan tahun?" Yudha mengaggap perkataan Adisti hanyalah bualan semata.
Sebenci nya Acia pada calon adik nya tidak mungkin gadis itu akan berniat mencelakai adiknya sendiri.
"Terserah apa yang ingin kamu pikirkan, Yang pasti aku sudah lelah" Ucap Adisti lirih, tanpa Yudha dan Keluarganya Adisti bisa hidup bahagia kan?
Dia mengira sikap Yudha yang selalu menuduh tanpa melihat bukti itu sudah hilang, tapi ternyata Adisti salah besar Yudha masihlah sama dengan pria yang dulu membuatnya harus meninggalkan rumah ini.
Apakah Yudha ingin Adisti kembali melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya?
Adisti berjalan menjauh dari Yudha meninggalkan pria itu begitu saja menuju kamar mandi.
Saat Adisti menghilang di balik pintu kamar mandi, Yudha menghela nafas berat pria itu memilih duduk di pinggir kasur untuk menenangkan diri nya sendiri.
.
Tujuan nya saat ini adalah kamar Cucunya yang berada di sebelah kamar orangtuanya.
Menurutnya yang lebih penting adalah Acia, karena tidak mungkin Adisti sampai tega menampar Putri nya sendiri jika gadis itu tidak membuat kesalahan.
Klek!
Acia yang berada di kamar langsung mendongak ketika pintu kamarnya terbuka.
Eyang berjalan mendekati cicit pertamanya, gadis itu terlihat sangat murung dan terlihat begitu gusar.
"Ada apa nak?" Eyang mencoba bertanya perlahan pada Acia, karena jika dia langsung menanyakan kejadian tamparan itu terlalu tergesa-gesa.
Acia menggelengkan kepalanya enggan membuka suaranya.
"Apa kamu sangat tidak ingin memiliki adik?" tebak Eyang, sepertinya Adisti bisa naik pitam seperti itu karena Acia mengatakan semua yang buruk mengenai bayi yang di kandung nya.
Acia diam
"Apa kamu membenci Adisti?"
Wajah yang semula berpaling itu langsung menatap Eyangnya terkejut, kemudian Acia menggeleng cepat tanda jika apa yang Eyang nya ucap kan tidak benar.
__ADS_1
"Lalu? kenapa Adisti bisa melayang kan tangan nya pada mu seperti itu, jika kamu tidak membenci nya?"
Kedua mata Acia berkaca-kaca kemudian gadis kecil itu memeluk erat tubuh eyangnya, menumpahkan segala rasa yang bergelut di hatinya di pelukan Eyangnya.
"Sst, tenang lah, semua akan baik-baik saja"
Beberapa saat eyang menunggu Acia meredakan tangisannya.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
Tangisan Acia mereda dia kembali fokus pada Eyang, dengan takut-takut dia menceritakan kejadian yang sebenarnya pada eyang.
Wanita tua itu sampai menutup mulutnya menggunakan tangan ketika mendengar Cicitnya bercerita.
"Kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan?" Ada rasa marah di hatinya mendengar kejujuran Acia, Putri yang sangat di sayangi seluruh keluarga Kara bisa melakukan hal seperti itu?
Acia mengangguk penuh sesal.
"Maafkan aku" Sendu Acia
"Setelah semua yang kamu lakukan, apa kamu pikir Adisti akan memaafkan mu?" Sudah pasti Adisti akan memaafkan Acia, Eyang hanya berusaha membuka pikiran cucunya itu.
"Aku hanya tidak ingin memiliki adik Eyang"
"Kenapa?"
Pasti ada alasan mengapa Acia begitu tidak menginginkan adik.
"Bagaimana jika Adisti tidak menyayangi ku setelah memiliki anak sendiri?" Begitu banyak kekhawatiran yang tersimpan di dalam hatinya.
"Apa Adisti orang yang seperti itu?"
Acia menggeleng, Adisti bukanlah wanita yang bisa membenci orang lain itulah yang Acia ketahui dari Adisti.
Eyang tersenyum lembut dia mengusap rambut Acia dengan tenang.
"Kamu menyayangi Adisti kan?" tanya Eyang yang langsung di angguki oleh Cia.
"Kalau begitu Minta maaf padanya, dan belajarlah menerima calon adik mu" ucap eyang memberikan pengertian pada Acia.
"Tapi...."
"Tidak ada tapi tapi an nak, Eyang yakin hidup mu akan lebih sempurna dengan adanya adik di rumah ini" Jelas eyang sekali lagi.
Acia terdiam gadis itu sedang berfikir mengenai perkataan Eyang nya.
Banyak teman-teman yang lain memiliki adik di rumah mereka, tapi mereka semua bahagia saja dengan kehadiran adik-adik mereka, lalu kenapa dia harus takut?
__ADS_1
TBC....