Ibu Sambung Yang Tak Dianggap

Ibu Sambung Yang Tak Dianggap
Kunjungan Adisti


__ADS_3

Adisti menatap gedung pencakar langit setinggi puluhan meter yang berdiri menjulang di hadapannya saat ini, selama hidupnya dia belum pernah menginjakkan kakinya di sana ataupun di gedung lain.


Seharusnya dia tidak perlu susah payah berada di sana jika saja suaminya yang tampan itu tidak melupakan dokumen nya di rumah, memang benar, walaupun Yudha Tampan tapi umur pria itu tidak bisa membohongi sekarang Suaminya itu sering lupa hal-hal kecil seperti ini.


Adisti mendengus sekarang dia harus bersusah payah mengantarkan dokumen nya dengan kondisi hamil seperti ini.


Kehamilan Adisti hampir menginjak usia ke-tiga bulan, perutnya sudah mulai terlihat menonjol dari biasanya, masa-masa seperti ini seharusnya dia rasakan dengan duduk di rumah dan sesekali membantu Bi Ida memasak.


Tapi dia harus panas-panasan demi mengantar dokumen suaminya.


"Selamat Siang Nyonya, Ada yang bisa saya bantu?" Seorang wanita yang menjaga resepsionis langsung menyapa Adisti begitu wanita itu datang kemejanya.


Adisti membalas resepsionis tersebut dengan senyuman.


"Saya ingin bertemu Tuan Yudha" Jawab nya langsung ke inti.


"Maaf nyonya apakah anda sudah membuat janji?"


Apa perlu seorang istri membuat janji hanya untuk bertemu suaminya? mendengar pertanyaan Resepsionis itu membuat Mood Adisti hancur seketika.


Ternyata masih ada yang belum mengenal dirinya di kantor ini.


"Belum" ketus Adisti, efek kehamilan membuat dirinya menjadi lebih sensitif belakangan ini.


"Anda harus membuat janji terlebih dahulu Nyonya" Wanita resepsionis dengan nametag Dea tersebut tersenyum ramah pada tamunya.


Tapi tetap saja di mata Adisti senyum itu terlihat seperti mengejeknya.


"Kalau begitu antar dokumen ini sendiri" Ibu hamil itu langsung meletakkan berkas yang di minta Yudha ke atas meja.


Moodnya sudah hilang sekarang dan jika dia tetap berlama-lama di sana, ia takut membesarkan masalah janji itu.


Dari kejauhan Yudha yang baru saja keluar dari ruang rapat di divisi pemasaran bersama dengan sekretaris nya, melihat keberadaan Nyonya Kara, awalnya Yudha tersenyum lebar melihat keberadaan istrinya namun senyum itu langsung hilang begitu melihat sang istri berjalan menuju pintu keluar.


Tap


Tap


Jake dan para karyawan yang memang berada di sana melongo ketika bos nya tiba-tiba saja berlari melewati mereka.


Grep


"Eh?"


Tidak kalah terkejut Mereka semua kembali melongo ketika bos nya berlari seperti itu hanya untuk mengejar seorang wanita yang baru saja akan keluar.


grep!


Cuuupp!


"Lepas!"


Yudha terkekeh geli mendapatkan penolakan sang istri.

__ADS_1


Melihat Adisti akan meninggalkan kantor tanpa menemuinya membuat Yudha panik.


Resepsionis yang tadi menjamu Adisti menutup mulutnya terkejut, siapa wanita itu? kenapa pimpinan mereka memeluk dan menciumnya begitu mesra?


"Mau kemana?" Yudha bertanya pada Adisti.


Sedangkan istrinya itu masih berusaha melepaskan lilitan tangan kekar Yudha di pinggangnya.


"Pulang! lepaskan aku!" melihat suaminya semakin membuat emosi nya meninggi.


Yudha tidak tersinggung dengan penolakan Adisti, karena semenjak kehamilan nya yang menginjak ketiga bulan ini mood istrinya sering berubah-ubah, apalagi belakangan dia jarang menemani nya di rumah karena kesibukan pekerjaan nya.


"Ayo ke ruangan ku dulu"


Adisti pasrah saat Yudha menyeretnya menuju lift, padahal dia ingin pulang cepat kerumah.


Yudha dan Adisti hilang di balik lift meninggalkan orang-orang yang melihat adegan itu dengan pertanyaan di kepala mereka.


"Ekhm!"


Seluruh pandangan beralih pada sekretaris Yudha, Jake.


"Kembali ke pekerjaan kalian"


Para karyawan langsung menuruti perkataan Jake untuk kembali fokus ke pekerjaan mereka.


"Siapa wanita tadi?" Kebetulan Jake ada di dekatnya Resepsionis wanita tadi langsung bertanya pada Sekretaris Pimpinan nya.


"Kamu tidak tau?" Jake tidak berbohong, dia kira semua karyawan di kantor ini tau mengenai istri Tuan Yudha, ternyata tidak banyak yang tau?


"Dia Nyonya Kara yang baru, Adisti Yudhakara"


"APA!!!"


Jake mengelus dadanya sabar mendengar teriakkan beberapa orang di belakangnya, perasaan yang bertanya padanya tadi Dea, kenapa mereka yang terkejut?


Selagi orang-orang itu bertanya-tanya pada Jake, Dea resepsionis yang tadi menjamu Adisti berkeringat dingin.


'Apa yang akan terjadi padaku nanti?' batinnya menangis, Pasalnya dia membuat istri pimpinan nya tersinggung tadi.


.


.


Adisti akhirnya merasa lega karena bisa duduk dengan tenang dan nyaman, apalagi ada berbagai jenis makanan yang baru saja di pesan Yudha tersusun di atas meja.


"Ternyata kamu lapar?" Yudha memperhatikan bagaimana istrinya makan dengan lahap, bersyukur nya Adisti jarang mual di masa kehamilan nya ini sehingga dia tidak khawatir bagaimana menderita nya sang istri.


"Kamu tidak makan?" Adisti jadi tidak enak hanya makan seorang diri.


Yudha menggeleng "Melihat kamu makan saja aku sudah kenyang" jawab nya.


Adisti tidak peduli dengan suaminya dia hanya fokus makan-makanan nya.

__ADS_1


Kurang lebih lima belas menit lamanya Adisti mencicipi semua hidangan di atas meja, sebagian wanita hamil itu habiskan dan sebagian lagi hanya di cicipi sedikit.


"Kenyang?"


Yudha pindah tempat duduk mendekati sang istri, biasanya sehabis makan seperti ini Adisti sangat suka perutnya di Elus lembut.


"Apa yang Kamu lakukan di rumah tadi?" Tanya Yudha sembari menyentuh lembut perut buncit istrinya.


"Tidak ada, aku hanya membantu bi Ida memasak tadi"


"Mas?"


"Hm?" Gumam Yudha


"Perut ku akan semakin membesar nanti, bagaimana jika Acia tau?" memang Adisti dan keluarga belum ada yang membicarakan hal ini pada Acia.


Adisti Hanya takut jika gadis itu tidak akan menerima bayi yang ia kandung.


Yudha membawa kepala istrinya agar menyender di bahunya.


"Acia mungkin akan menolak, tapi semoga saja itu hanya sementara" ujar Yudha.


Tok! Tok!


"Permisi Tuan?"


Adisti menjauhkan kepalanya dari Yudha saat asisten suaminya itu masuk keruangan.


"Ada apa?"


"Lima menit lagi ada rapat bersama Divisi Humas" jelas Jake.


Yudha melirik istrinya sejenak kemudian kembali menatap sekretaris nya.


"Batalkan, undur rapat menjadi besok" jawab Yudha.


"Mas!" kenapa Yudha sampai membatalkan rapat seperti itu?


"Kenapa?"


Kenapa?, memangnya bos itu bisa seenaknya saja? para karyawan sudah menyiapkan bahan untuk rapat hari ini tapi dengan seenaknya Yudha malah membatalkan nya.


"Tidak perlu di batalkan, lagi pula sebentar lagi Acia pulang sekolah aku akan menjemput nya" jelas Adisti


Dalam hati Jake berterimakasih pada istri bos nya, karena jika Yudha membatalkan jadwal hari ini dia harus kerepotan menyusun jadwal baru.


"Kamu ingin menjemput Cia?" dalam kondisi seperti ini Adisti ingin bepergian jauh lagi?


"Langsung pulang saja ya?" Yudha tidak ingin jika Adisti kelelahan nanti.


Adisti merengut sebal, kantor Yudha dan sekolah Acia hanya berjarak Sepuluh menit menggunakan mobil lalu sekolah Cia ke rumah hanya memakan waktu lima menit.


Itu artinya Adisti hanya perlu Lima belas menit untuk sampai di rumah.

__ADS_1


Yudha menghela nafas, Adisti dan kehamilan memang tidak bisa di tolak.


TBC...


__ADS_2