
Kedua mata Adisti terbelalak ketika melihat nominal sejumlah uang yang begitu besar untuk harga sebuah Peralatan makan yang ia hancurkan kemarin.
Gajinya selama menjadi pelayan di rumah Yudha tidak begitu banyak, jangan salah walaupun dia adalah istri dari pemilik rumah ia tetap mendapatkan gajinya.
Baru bekerja beberapa bulan uang yang terkumpul juga tidak seberapa banyak.
Adisti mengigit bibirnya bingung, dia punya warisan tanah dari kedua orangtuanya sebelum kedua orangtuanya itu meninggal dunia.
"Apa aku jual saja ya?" Lagipula tanah itu tidak terurus di sana, dan saat pulang kampung biasanya Adisti akan tinggal bersama dengan paman dan bibinya di rumah mereka.
Keputusan nya sudah bulat dengan menjual tanah itu Adisti bisa melunasi kerugian yang sudah ia perbuat.
Adisti berjalan pelan menuju Ponselnya yang berada di sudut ruangan, entah mengapa benda persegi itu ada di sana.
Karena kondisinya yang sedang tidak sehat Bi Ida melarangnya untuk mengerjakan pekerjaan rumah untuk beberapa hari, karena itulah dalam kondisi seperti ini Adisti memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk memikirkan bagaimana cara mengganti rugi pada Dara.
Adisti mengambil ponsel nya kemudian mencari kontak nama seseorang yang bisa membantu nya menjual tanah peninggalan orangtuanya itu.
"Hallo?"
Senyum nya mengembang mendengar sebuah suara yang sangat ia rindukan.
"Paman! apa kabar?" sahut Adisti ramah pada orang di seberang telepon.
"Baik nak, bagaimana dengan mu?" orang yang di panggil Adisti paman itu bertanya kabar Adisti yang sudah ia anggap sebagai putri nya sendiri.
"Adisti sehat paman, sebenarnya aku ingin membicarakan sesuatu pada paman" Adisti jadi merasa tidak enak karena hanya menelpon saat ia butuh saja.
"Semuanya baik-baik saja kan?" Tidak seperti biasanya Adisti meminta bantuannya seperti ini.
Adisti bingung harus bagaimana mengatakan nya, orang yang tengah bertelepon dengannya ini adalah ayah dari teman masa kecil nya di kampung, walaupun mereka sudah akrab Adisti masih saja bersikap canggung.
"Paman yus, Adisti ingin menjual tanah peninggalan ayah dan ibu" Ucapnya tidak ada sahutan di seberang selama beberapa detik.
"Kenapa tiba-tiba?" seorang yang di panggil Adisti paman yus itu tidak bermaksud apapun, tapi masalahnya Adisti adalah seorang istri dari keluarga kaya, lalu? kenapa sampai menjual tanah peninggalan orangtuanya?.
Sebagai seorang yang menjadi wali pernikahan wanita itu Paman yus merasa khawatir.
"Semua baik-baik saja! paman jangan salah paham! sebenarnya aku membuat sebuah kesalahan pada seseorang, karena itulah aku harus mengganti rugi padanya, paman tau kan aku tidak suka merepotkan orang lain? apalagi itu suamiku sendiri, karena itulah aku ingin menjual saja tanah itu" jelas Adisti tidak ingin pamannya semakin salah paham dengannya apalagi dengan suaminya.
Paman Yus di seberang mengangguk-angguk kan kepalanya paham.
"Besok paman akan Carikan orang yang mau membeli nya, tapi itu mungkin akan lama, jika kita beruntung mungkin besok uangnya sudah paman kirim pada mu"
Adisti tersenyum bahagia tidak salah dia meminta bantuan pada Paman yus.
"Terimakasih banyak paman"
.
__ADS_1
BI Ida mengantarkan makan siang untuk Adisti kedalam kamar, tapi wanita itu tidak terlihat dimana-mana suara air keran di kamar mandi yang menyala sudah membuktikan jika Adisti ada di sana.
klek
Adisti keluar dari kamar mandi, wanita itu tersenyum saat melihat Bi Ida ada di sana.
"Makan Dulu nak"
"Bibi tidak perlu mengantar seperti ini, aku bisa mengambil nya bibi" Adisti tidak enak, apalagi pasti bi Ida sibuk seharian ini, lagipula hanya berjalan dari sini ke dapur tidak terlalu jauh.
"Sudah-sudah, cepat habiskan ya? Bibi Ingin melanjutkan pekerjaan bibi" Tanpa mendengar ucapan bersalah Adisti lagi, bi Ida keluar dari kamar.
Saat ingin menyantap makanan nya tiba-tiba saja ponselnya berdering dan nama Paman nya tertera di sana.
"Paman?" Adisti mengerenyitkan dahinya, masa secepat ini?
"Hallo?"
"Nak, paman sudah mendapatkan orang yang ingin membeli tanah mu" Paman Yus membuka suaranya.
Adisti tentu saja senang mendengar ucapan pamannya
"Benarkah? cepat sekali?" serunya senang.
"Tanah orang tuamu itu sangat bagus jika di tanami sayuran, karena itu banyak yang berminat" jelas paman yus.
"Terimakasih banyak paman"
Adisti mengangguk walaupun paman nya tidak mungkin melihat anggukan nya itu.
Selalu saja apapun yang Adisti butuh kan paman yus akan mengabulkan dengan cepat, dia jadi rindu kampung halaman nya sekarang, mungkin setelah semua permasalahan nya selesai dia akan pulang ke kampung untuk bertemu dengan keluarga nya.
.
.
Larut malam Adisti tiba-tiba saja merasa sangat haus, karena terbiasa di kamar ber AC milik Yudha ia jadi merasa kegerahan saat tidur bersama bi Ida.
Adisti menuangkan air kedalam gelas yang sudah ia siapkan, tangan nya masih terasa ngilu jika di gerakan, untuk kakinya karena belum sembuh total Adisti jadi kesulitan jika ingin berjalan.
klik
Suasana yang semula gelap dan sedikit diterangi cahaya tiba-tiba saja menjadi terang benderang begitu saklar lampu di tekan oleh seseorang.
Adisti mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya terang yang masuk ke retina mata nya.
"Kenapa belum tidur?" Suara serak basah Yudha membuat bulu kuduk Adisti berdiri.
Wanita itu menoleh sekilas kearah suaminya sebelum melanjutkan minum nya.
__ADS_1
Tidak mendapatkan respon dari sang istri tidak membuat Yudha tersinggung pria itu malah berjalan mendekat pada Adisti yang tengah meneguk air minum.
"Ambilkan saya" titahnya pada Adisti
Baru saja Adisti ingin mengambil gelas baru, Yudha malah merebut gelas bekasnya yang ia genggam.
"Eh? itu bekas ku..." Cicit Adisti tidak jadi protes saat tatapan tajam Yudha menusuk nya.
Tak
Gelas berisi air itu tandas tanpa tersisa sedikitpun.
Adisti menghela nafasnya kemudian menyingkir dari Kungkungan Yudha yang menghalangi gerak nya.
grep
"Mau kemana?"
Di tatap seperti itu oleh Yudha membuat nyalinya menciut.
"Ke-k-kamar"
Yudha menaikkan alisnya heran dengan jawaban dari Adisti.
"Kamar mu dimana?"
Adisti jengah dengan segala pertanyaan yang keluar dari bibir Yudha, kenapa pria ini tidak mendiaminya saja seperti kemarin?
"T-tuan biarkan saya lewat"
Yudha mengeratkan cekalannya di tangan Adisti saat panggilan laknat itu keluar lagi dari bibir Istrinya.
Dia akui jika kemarin sudah keterlaluan pada Adisti yang sebenarnya tidak bersalah, tapi apakah harus wanita ini menghindari nya seperti ini?
"Pergi ke kamar mu sebenarnya Adisti" desis Yudha marah.
"Iya" Lirihnya
Yudha merasa lega mendengar Jawaban dari istrinya, melepaskan cekalannya dia membiarkan Adisti jalan sendiri menuju kamar mereka.
Geraman Yudha keluar begitu Adisti tidak berjalan menuju kamar mereka melainkan menuju kamar pembantu.
Merasa tidak bisa berbicara baik-baik dengan wanita itu Yudha langsung menarik dan Menggendong istrinya.
"Kyaa! Turunkan aku!" Adisti memukul pundak Yudha kencang.
"Diam! jika Tidak ingin membangun kan seluruh penghuni rumah!"
Adisti langsung terdiam memasrahkan dirinya di bawa oleh Yudha menuju lantai atas kamar mereka.
__ADS_1
memangnya apa yang salah? kamar Adisti yang sebenarnya kan memang di tempat Bi Ida, karena mereka sama-sama pembantu.
TBC....