Ibu Sambung Yang Tak Dianggap

Ibu Sambung Yang Tak Dianggap
Kerumah Eyang


__ADS_3

Setelah semacam perdebatan antara Yudha dan Acia akhirnya suaminya mengijinkan Putri tunggal nya menemui ibu kandungnya.


Banyak pertimbangan yang harus Yudha pikirkan matang-matang, apalagi dia tau betul bagaimana sikap Dara selama menjadi istrinya dulu, jangan sampai hubungan Cia dan Adisti kembali renggang karena Acia tinggal bersama Dara.


"Tenang saja Mas, Acia akan baik-baik saja" Adisti menyentuh lengan suaminya lembut.


Yudha melirik sang istri sejenak sebelum kembali fokus dengan Jalanan di depan sana.


"Saya hanya khawatir"


Saat ini mereka berdua dalam perjalanan menuju rumah Eyang Sari, tanpa diduga-duga Yudha tidak menolak saat dia mengatakan keinginan eyang untuk tinggal di sana.


Adisti tersenyum paham dengan kekhawatiran yang Yudha rasa, karena bagaimanapun Acia adalah putri satu-satunya yang pria itu miliki.


"Ngomong-ngomong kenapa kamu setuju menginap di tempat Eyang?" Tanya Adisti mengalihkan perhatian Yudha dari Acia.


"Tidak ada salahnya kita menginap, lagi pula Sudah lama tidak pulang kerumah utama" Jawab Yudha santai.


Jika diingat-ingat dulu saat Adisti melamar pekerjaan menjadi Babysitter nya Acia, Eyang sari lah yang menerima nya di rumah utama setelah berbagai macam tes dan Wawancara akhirnya Adisti terpilih untuk menjadi Babysitter, dan langsung di pindahkan ke rumah pribadi Yudha.


Lalu saat dia menikah dengan Yudha secara Tertutup juga Pesta nya di adakan di rumah utama.


Adisti menatap pemandangan alam yang begitu asri ketika mobil yang mereka kendarai sudah mulai memasuki Area rumah Eyang.


Inilah yang dia suka dari tempat ini, selain tatanan bangunan yang sederhana Rumah Eyang juga sangat nyaman untuk anak-anak main di pekarangan, karena taman yang Ada di sana sangatlah luas dan indah.


Eyang sari menunggu di teras depan rumah bersama dengan beberapa pelayan.


Yudha memberhentikan mobilnya lalu turun bersama dengan Adisti, dia menyerahkan kunci mobil nya tersebut pada satpam yang menjaga gerbang.


"Eyang" Sapa Adisti saat dia berada di depan wanita Tua yang masih terlihat sehat itu.


Eyang tersenyum menyambut kedatangan Cucu dan menantunya, apalagi beberapa hari ini dia mendengar kabar mengenai hubungan pasutri itu yang semakin harmonis saja.


"Kemari nak" Eyang membawa Cucu Menantu nya dalam dekapan.


"Bagaimana kabar kalian?" Tanya Nya pada Adisti dan Yudha.


"Baik Eyang" jawab keduanya bersamaan.


"Nyonya besar, hidangan sudah siap" sahut seorang pelayan wanita yang baru saja datang.


Pelayan itu Adistia mengingat nya, pelayan yang beberapa hari lalu Yudha pindahkan ke kediaman utama.


"Ayo masuk, kita sarapan dulu"


Eyang menggandeng Adisti masuk kedalam meninggalkan Yudha yang berjalan di belakang keduanya.


"Duduklah"


Suasana seperti ini sangat ia rindukan apalagi mengingat Cucu nya sudah lama sekali tidak mengunjungi nya kemari, melihat bagaimana Yudha memperlakukan istrinya dengan lembut membuat Eyang merasa lega.


Mereka bertiga kemudian memakan hidangan yang tersedia di meja dalam hening, seperti kebiasaan yang sudah di terapkan oleh keluarga Kara tidak ada yang boleh berbicara saat sedang makan.

__ADS_1


Sepuluh menit kemudian mereka menyelesaikan sarapan, satu-persatu piring kotor di bawa pelayan ke dapur.


Adisti baru saja ingin membantu para pelayan, Eyang terlebih dahulu mencegah Menantu nya.


"Duduk saja nak, biarkan pelayan yang bekerja" Ucap Eyang.


"T-tapi" Adisti merasa tidak enak membiarkan pelayan membersihkan bekas piringnya.


"Apa di rumah kamu masih bekerja seperti pelayan?"Tebak Eyang, wanita Tua itu menatap tajam pada Cucunya.


Jangan bilang Yudha masih membiarkan Adisti bekerja?


"Jangan menatap ku seperti itu Eyang, sebaiknya Eyang katakan langsung pada Adisti"


Adisti menatap suaminya terkejut, kenapa jadi dia yang menjadi sasaran?


"Apa? bukanya saya sudah bilang jangan bekerja? tapi apa kamu menurut?" Yudha menatap balik sang istri.


Perkataan Yudha barusan langsung membungkam Adisti.


"Apa benar nak?"


Glek


Bagaimana cara menjelaskan nya pada Eyang?


"Eyang, Aku hanya kasihan melihat BI Ida bekerja sendiri" Ucapnya lirih.


Sebenarnya hanya alasan, walaupun tanpa BI Ida pun Adisti akan tetap mengurus rumah seorang diri, hanya saja jika dia tidak membuat alasan Eyang pasti akan melarang nya bekerja.


Eyang menggelengkan kepalanya, Tidak bisa menyalahkan Adisti karena istri Cucunya itu hidup dengan mandiri selama ini, dan sudah dipastikan akan sulit menghilangkan kebiasaan nya itu.


"Tapi Eyang harap kamu bisa berhenti mengerjakan pekerjaan yang berat saat Hamil Nanti"


"Uhuk!Uhuk!"


"Hati-hati" Yudha menepuk pelan punggung istrinya.


Adisti tidak menyangka Eyang akan mengatakan hal seperti itu di saat seperti ini.


"Kamu baik-baik saja nak?" Eyang juga ikut panik melihat Menantunya tersedak.


Mata Adisti berair saat jus yang di minum tidak sengaja masuk kedalam hidungnya, rasanya sangat sakit.


Ibu Sambung Acia itu masih saja terbatuk-batuk.


"Maafkan aku Eyang" ucap nya merasa bersalah karena bersikap ceroboh.


"Tidak nak, Eyang saja yang terlalu terburu-buru"


Lalu eyang menyuruh Yudha membawa istrinya keatas untuk beristirahat sebentar.


"Tapi ini masih pagi, apa yang akan kita lakukan di kamar?" Adisti menahan Yudha yang ingin membawanya keatas.

__ADS_1


Tidak mungkin kan mereka tidur lagi? padahal mereka baru saja bangun.


"Istirahat Adisti"


"Aku tidak merasa lelah Mas, biarkan aku di sini saja" Adisti memaksa, mana mungkin dia tidur lagi.


"Hanya hari ini, Setelah istirahat nanti kamu bisa melakukan apapun nak" Eyang tidak menyangka Menantu nya ternyata keras kepala, sepertinya akan sangat sulit membuat Adisti diam saja di rumah.


"Tapi Eyang"


"Kyaaa! Mas!"


Lihat kelakuan pengantin muda itu, bisa-bisa nya bermesraan saat masih ada orang tua di sana.


"Bawa istri mu keatas" Usir Eyang.


Tanpa membuang waktu Yudha benar-benar menggendong Adisti keatas menuju kamar mereka, meninggalkan Eyang seorang diri dengan perasaan bahagia melihat keduanya.


Kedatangan kedua Cucunya sudah membuat nya merasa begitu bahagia apalagi jika Cicit nya ikut, tapi sayangnya Acia lebih memilih Ibu nya.


.


"Mas! mana bisa kamu melakukan hal seperti ini di hadapan Eyang!"


Bugh!


Bugh!


Adisti yang baru saja Yudha turun kan di atas kasur langsung memukul suaminya dengan bantal, bukan nya marah Yudha malah tertawa terpingkal-pingkal karena melihat wajah istrinya yang menahan malu.


"Sudah berhenti tertawa!"


Kenapa akhir-akhir ini suaminya itu sering sekali tertawa?


"Memangnya kenapa? kamu tidak suka Saya tertawa?" Tiba-tiba saja raut yang semula ceria itu kini berubah menjadi keruh.


Apa wajah nya yang tertawa itu buruk?


Sepertinya Adisti melakukan kesalahan dalam berucap, lihat saja ekspresi yang suaminya itu tampil kan.


"Mas kamu marah?" Tanya Adisti saat Yudha memunggungi nya.


Bahkan colekan Adisti di tubuh Yudha di biarkan begitu saja oleh pria itu.


Plak!


"Kenapa jadi kamu yang marah?! kan seharusnya aku!"


Yudha meringis merasakan betapa panasnya bekas telapak tangan Adisti yang memukul punggungnya.


Adisti mengabaikan Yudha dan memilih menenggelamkan tubuhnya di bawah selimut.


"Hey? Adisti?"

__ADS_1


Untuk pertama kalinya istrinya merajuk seperti ini.


TBC.....


__ADS_2