
Adisti keluar dari dalam kamar mandi dengan kedua matanya yang sembab setelah pertengkaran yang terjadi di depan rumah tadi Yudha langsung menyeretnya kedalam rumah begitu saja.
Pria arogan itu bahkan tidak meminta maaf pada Angga setelah apa yang di lakukan nya.
klek
Yudha masuk kedalam kamarnya dengan kondisi lebih segar.
"Tidurlah" ucap Yudha saat melihat istrinya masih betah dengan wajah Datarnya.
Tanpa menunggu Yudha, Adisti pun langsung merebahkan tubuhnya membelakangi pria itu.
Yudha menghela nafas berat tidak bisa kah istrinya itu bersikap dewasa?
"Terserah apa yang kamu pikirkan tentang saya, semua ini adalah yang terbaik untuk kita"
Adisti tidak menjawab dia hanya memejamkan matanya tanpa mau menatap suaminya.
"Adisti" panggil Yudha
"Saya tau kamu belum tidur" jengkelnya.
Sret!
Yudha menarik pinggul istrinya dengan kuat sampai tubuh Adisti langsung berbalik menindih tubuh nya.
"Mas!" Adisti mendelik pada Yudha.
"Tatap saya saat berbicara"
Adisti ingin menjauhkan tubuhnya dari Atas tubuh suaminya tapi Yudha menahan pinggulnya sehingga dia tidak bisa bergerak sedikitpun.
"Lepas! aku mau tidur!" Geram Adisti
Masih kekeh dengan tangan nya yang melingkari pinggang istrinya Yudha tersenyum tipis melihat wajah Adisti yang menggemaskan menurut nya.
Gyut
"Akh! sshh, apa yang kamu lakukan?"
Adisti tersenyum puas saat Yudha berteriak kesakitan akibat cubitan nya.
Akhirnya lengan pria itu terlepas dari tubuhnya.
Yudha yang masih sibuk mengusap bekas cubitan istrinya di pinggangnya tidak menyadari jika Adisti pindah menuju sofa kesayangan nya.
Saat Yudha menoleh ke samping dia tidak menemukan keberadaan Adisti ternyata istrinya sudah berbaring di atas sofa.
"Kemari Adisti!" Yudha memanggil Adisti cukup kencang, untung saja kamar mereka kedap suara sehingga suara teriakan nya tidak akan terdengar sampai Keluar.
Adisti tidak peduli dengan panggilan Yudha, wanita itu malah berbaring dengan nyaman di atas sofa kesayangan nya.
Sebelum gangguan dari suaminya mengenyahkan segala kenyamanan yang di rasakan nya.
Yudha ikut berbaring di belakangnya sehingga sofa yang tidak lebar itu terasa semakin sempit karena tubuh besar Yudha ikut berbaring di sana.
__ADS_1
"Menjauh Mas! Sempit sekali!" Adisti menggerakkan tubuhnya agar Yudha merasa terganggu dan pergi.
Grep
Namun bukannya pergi pria itu malah semakin erat memeluk tubuh nya.
"Diam sayang"
Mendengar panggilan sayang dari pria di belakangnya membuat Adisti Ingin muntah jika mengingat apa yang pria itu lakukan padanya beberapa jam yang lalu.
"Mas aku harus bangun pagi besok, kalau kamu di sini hanya mengganggu lebih baik pergi saja" kesal Adisti
"Hm"
Dasar menyebalkan!
.
Ada yang berubah dari istrinya setelah kejadian beberapa hari yang lalu, mulai dari sikap nya yang tidak selembut saat pertama kali menjadi istrinya, lalu sekarang Adisti lebih sering mengabaikan keberadaan nya
Bahkan wanita itu tidak banyak berbicara padanya.
Seperti saat ini Yudha menyuruh Adisti memakaikan nya dasi, tanpa protes wanita itu melakukan nya.
Tidak ada senyum malu-malu dari snag istri, bahkan tidak ada suara gugup Adisti saat berhadapan dengan nya.
"Kamu masih marah?" tanya Yudha saat Adisti mengikatkan dasi di lehernya.
"Hm?"
Lihat? bahkan wanita itu hanya bergumam.
Adisti menepuk dada suaminya setelah ia selesai mengikat dasi.
"Sarapan sudah siap" Ucapnya tanpa mau repot-repot menjawab pertanyaan yang sama berulang kali.
Yudha mengikuti istrinya yang berjalan terlebih dahulu menuju ruang makan, bahkan wanita itu tidak mau menengok padanya sedikitpun.
"Selamat Pagi Dad" sapa Acia seadanya saat sang ayah duduk di kursi tempat di sebelahnya.
"Selamat pagi sayang"
Cup
Yudha memberikan kecupan hangat pada dahi sang putri, jika diingat-ingat sudah lama sekali dia tidak melakukan hal ini pada gadis kesayangan.
Apakah dia terlalu sibuk dengan pekerjaan belakangan ini? melihat dari sikap Cia yang terlihat canggung di dekatnya sudah membuktikan jika dirinya tidak memiliki waktu untuk sang putri.
Tatapan Yudha berganti pada istrinya saat wanita itu datang membawa kan segelas Kopi dan juga susu cokelat hangat.
Lihat senyum itu yang hanya di berikan pada Cia, saat menaruh minuman di meja nya Adisti bahkan tidak meliriknya sedikit pun.
"Nona panggil saya jika anda membutuhkan sesuatu"
"Iya"
__ADS_1
Dan lagi-lagi respon putri nya sangat tidak terduga, jika biasanya Acia akan bersikap acuh pada Adisti kini gadis kecil itu merespon nya walaupun hanya perkataan singkat.
.
Apa ini?
Yudha memijit pelipisnya yang terasa pening karena berita yang baru saja mencuat di sebuah forum berita online.
Adimas Yudhakara dan Sandara Lee kembali bersama?
Itulah judul yang tertera di berita yang baru saja dia dapatkan, padahal tidak ada yang terjadi hingga menimbulkan berita seperti ini muncul.
Mereka hanya berbicara itupun dengan sesama rekan bisnis yang turut hadir di sana, lalu darimananya yang menimbulkan kesalahpahaman?
"Tarik berita itu sebelum Eyang tau" Titah Yudha pada asisten nya.
"Baik Tuan" Asisten pribadi Yudha itupun membungkuk kan tubuh nya lalu pamit undur diri.
Yudha menghela nafas panjang untung saja Eyang tidak berada di rumah utama, Entah apa yang terjadi saat eyang mengetahui hal ini nanti.
Untuk pertama kalinya Yudha berharap eyang lebih lama tinggal di panti asuhan milik nya, karena jika sudah tinggal di panti Eyang tidak akan memegang ponsel ataupun media elektronik lainnya.
"Bagaimana Reaksi Adisti ya?" Gumamnya.
.
.
"Aku tidak peduli Angga"
Angga mengerutkan keningnya heran pada wanita di depannya ini, bagaimana bisa seorang istri yang melihat berita suaminya bersama dengan wanita lain bersikap tidak peduli seperti ini?
"Kamu tidak cemburu?" lagi-lagi Angga memastikan.
"Tidak!" tegas Adisti, buat apa cemburu? toh tidak ada untungnya untuk dirinya dan masa depannya.
Angga mengelus dadanya sabar menghadapi wanita seperti Adisti, jika pria seperti Yudha saja tidak bisa memikat Adisti bagaimana dengan pria biasa seperti dirinya?
"Daripada kamu sibuk dengan hubungan ku bersama Mas Yudha, lebih baik kamu hibur Tari sana" Adisti baru mendengar kabar jika Tari dan Doni putus baru-baru ini.
Kebetulan Angga dan wanita itu dekat mungkin dengan kehadiran Angga bisa mengobati rasa sakit hati Tari.
"Kenapa aku? bukanya kamu yang sama-sama seorang Wanita yang harus menghiburnya?" Cebik Angga kesal.
"Anggap saja ucapan terimakasih karena telah merawat kamu saat dirumah sakit" Sambung Adisti.
Perkataan Wanita yang tengah menyirami bunga-bunga itu terbayang di pikiran nya.
Adisti benar yang selalu merawat nya hampir 24 jam lamanya adalah Tari, wanita itu bilang dia merawat dirinya karena merasa bersalah atas apa yang ia perbuat.
Tapi tetap saja Tari sudah merawat nya dengan baik.
"Baiklah sepertinya Tari membutuhkan pria baik-baik seperti ku" Angga kemudian menaruh selang air di tempat nya semula, lalu membawa ember yang ia gunakan untuk mencuci mobil ke belakang.
Adisti yang melihat hal itu menggelengkan kepalanya, semoga saja Angga bisa menjadi pengobat Hati untuk Tari.
__ADS_1
"Jauhkan Tari dari pria seperti Yudha" Geram Adisti entah pada siapa.
TBC....