Ibu Sambung Yang Tak Dianggap

Ibu Sambung Yang Tak Dianggap
Anak-anak kita


__ADS_3

Yudha berbaring dengan nyaman di atas kasur nya sembari membaca buku yang sering ia baca jikalau sedang bosan, Istrinya berada di kamar mandi entah apa yang Adisti lakukan hingga menghabiskan waktu begitu lama di sana.


Tidak lama kemudian Adisti keluar dengan piyama tidurnya, wanita itu menghampiri Suaminya yang tengah berbaring nyaman di kasur.


"Mas kamu tidak tidur?" tanya Adisti melihat Yudha yang sepertinya betah membaca bukunya.


Yudha menggeleng kemudian dia menaruh bukunya begitu saja dan beralih menarik Adisti dalam pelukannya.


"Hey, bagaimana menurutmu mengenai perkataan nyonya Arga tadi?" Yudha bertanya sambil memeluk istrinya.


Di dalam pelukan Yudha Adisti terdiam sejenak, perkataan Serina tadi tidak dia terlalu pikirkan.


"Memangnya kenapa?" posisi Yudha yang tinggi dari posisi tidurnya membuat Adisti harus mendongak untuk melihat wajah suaminya itu.


"Hanya saja, Saya tidak masalah jika kamu ingin melanjutkan pendidikan"


Melanjutkan pendidikan? Adisti sama sekali tidak pernah memikirkan hal itu.


Adisti menggeleng


"Tidak perlu Mas, aku terlalu Tua untuk itu"Jawab Adisti


"Tidak ada batasan untuk menuntut ilmu Adisti" Yudha merasa Adisti tidak setua itu, dan jikapun istrinya itu ingin melanjutkan pendidikan nya ke jenjang yang lebih tinggi pun dia mampu membiayainya.


"Aku tau Mas, tapi aku sama sekali tidak tertarik, Dan lagi pula aku sudah menikah tanggung jawab ku bukan hanya untuk kepentingan sendiri, tetapi juga untuk Suami dan Anak-anak ku nanti" Jawab Adisti, Lagipula kita tidak tau kedepannya hubungan mereka ini bagaimana, Adisti ingin melanjutkan perkataannya seperti itu, tapi daripada hubungan mereka kembali merenggang dia diam saja.


"Anak-anak ku?" Yudha salah fokus dengan kata Anak-anak ku yg Adisti ucapkan.


"Iya, kenapa?" Heran Adisti


"Maksudnya anak-anak kita kan?" koreksi Yudha, memangnya siapa lagi yang bisa memberikan Adisti anak selain dirinya?


Pftt!


Adisti tertawa geli mendengar perkataan suaminya, hanya karena hal kecil seperti itu Yudha sampai sebegitu nya.


"Jangan tertawa"


Bukanya menghentikan tawanya Adisti malah semakin kencang tertawa, sampai-sampai Yudha harus menenggelamkan wajah Adisti di dadanya agar suara tawa istrinya tidak terlalu kencang.


"Berhenti tertawa, nanti kamu sakit perut Adisti" Tidak ada hal yang lucu dalam pembicaraan mereka, tapi wanita itu bisa tertawa kencang seperti ini.


"Maaf" Akhirnya Adisti bisa berhenti tertawa.


Keduanya saling berhadapan, kini hanya kesunyian yang melingkupi mereka berdua.


Entah siapa yang memulai yang pasti saat ini posisi mereka sudah berubah dengan Yudha berada di atas tubuh Adisti.


"Kamu sangat cantik" Gumam Yudha begitu lirih.


Mata Adisti terpejam bersamaan dengan wajah Suaminya yang semakin mendekati nya.


Bibir yang selalu menjadi favorit Yudha kini berada dalam kulumannya.


Cup


Cup


"Sepertinya sudah waktunya memberikan Eyang Cucu lagi"

__ADS_1


Blush


Adisti merasa wajah nya memanas mendengar ucapan Suaminya barusan.


Melihat wajah istrinya seperti itu membuat Yudha semakin gemas.


"Kami tidak mau?"


"B-bukan seperti itu"


"Berarti kamu mau?"


"Eh?"


"Kalau begitu cepat kita selesaikan!"


"Kyaaa! Mas!"


.


.


"Nyonya besar terlambat bangun?"


Adisti melirik sekilas pada Tari yang sejak pagi mengejeknya, apalagi wanita itu yang membangunkan nya tadi pagi parahnya Saat itu Adisti dalam kondisi yang..... ukh!


"Jangan mengejek seperti itu Tari! jika menikah nanti kamu akan merasakan nya sendiri" ucap Bi Ida menengahi.


Tari terdiam, apakah dia dan Angga akan menikah nanti? membayangkan pernikahan nya dengan Angga membuat Tari tersenyum tidak jelas.


Adisti dan Bi Ida yang melihat hal itu mengerenyitkan wajah mereka, apalagi melihat Wajah tari yang memerah tiba-tiba.


"Benarkah?" Kenapa eyang menelpon? biasanya eyang akan datang jika ingin mengatakan sesuatu pada nya ataupun Yudha.


"Kalau begitu aku akan telpon Eyang dulu"


Adisti berjalan menuju kamarnya untuk mengambil ponselnya, saat membuka benda persegi itu benar saja ada beberapa panggilan tak terjawab oleh eyang.


Nada dering tersambung saat Adisti mencoba menelfon eyang Sari, di dering ke tiga Eyang mengangkat telepon.


"Hallo Eyang?"


"......"


"Baik, bagaimana dengan Eyang?"


"...."


"Oh begitu,mm..kenapa Eyang menelfon tadi?" Tanya Adisti


"...."


"Adisti bisa eyang, tapi tidak tau dengan Mas Yudha"


"...."


"Baiklah, nanti Adisti sampaikan"


"...."

__ADS_1


"Iya"


Tut!


Adisti menatap ponselnya yang baru saja mati karena panggilan yang sudah berakhir, di telpon tadi ternyata Eyang menyuruh Dia dan Yudha untuk menginap di sana beberapa hari, karena kebetulan Acia juga sedang dalam masa liburan, Eyang merindukan Cucunya.


Dia bisa saja ke sana tapi Tidak mungkin kan pergi tanpa Yudha? pria itu sangat sibuk bahkan saat akhir pekan, jarak kantor dan Rumah Eyang juga lumayan jauh dan Adisti tidak Yakin Yudha mau pergi.


Tok! Tok!


Suara ketukan pintu membuat Adisti mengalihkan perhatian nya ke arah sumber suara.


Ternyata Acia yang mengetuk pintu kamar nya, sepertinya Gadis kecil itu suka sekali mengetuk pintu jika ingin berbicara dengan nya.


"Nona? ada apa?" Adisti bangun dari atas kasur lalu berjalan menghampiri Acia.


Gadis itu tidak ke sekolah karena libur tahunan.


"Apa eyang menelpon tadi?" tanya Acia


Adisti langsung mengangguk karena benar Eyang menelpon nya.


Acia merema tangan nya gugup, dan dia juga bingung kenapa sekarang dia sering gugup seperti ini jika ingin berbicara dengan Adisti, padahal dulu tidak sama sekali.


"Eyang juga menelpon ku, Bisa kamu katakan pada Eyang jika aku tidak bisa ikut?" pinta nya pada ibu Sambung nya.


Adisti terkejut saat Acia menolak pergi ke rumah Eyang.


"Memangnya ada apa? Apakah ada masalah?"


Acia menggeleng, "Aku ingin bertemu Mommy" Lirihnya


Kenapa Adisti bisa lupa jika Acia masih memiliki seorang ibu kandung? dan hanya kesempatan ini saja Acia bisa bertemu dengan Dara di tengah kesibukan ibunya itu.


"Nona Taukan jika itu bukan kehendak saya?" Adisti tidak bisa memutuskan apakah Acia boleh atau tidak, karena dia Hanyalah ibu sambung nya di rumah ini.


Acia menunduk tidak berani mengangkat wajahnya menatap Adisti, sama seperti Adisti, Acia juga takut berbicara dengan Eyang atau Ayahnya.


Mereka pasti tidak mengijinkan dirinya bertemu dengan ibu kandungnya.


Melihat wajah murung Acia membuat Adisti tidak tega, lalu dia berjongkok menyamakan tinggi badannya dengan Cia.


"Nona, katakan langsung pada Tuan, saya yakin jika Tuan Yudha pasti mengijinkan anda pergi" Lebih baik mengatakan langsung daripada melalui perantara seperti dirinya, karena yang Adisti tau Yudha sangat memperhatikan keselamatan putri nya.


Dan beberapa kali Acia terluka saat bersama dengan ibu kandungnya, itulah yang membuat pria itu enggan meninggalkan Putri nya seorang diri dengan Ibu kandungnya.


Acia mengerti memang seharusnya dia berbicara langsung dengan sang ayah.


"Aku akan bicara pada Daddy" Ucapnya.


Adisti tersenyum memberi semangat pada Gadis kecil itu.


"Tapi bisakah aku meminta sesuatu dari mu?"


Adisti terkejut tapi hanya sesaat, karena setelah nya dia langsung mengangguk setuju.


"Mulai sekarang panggil aku dengan Nama"


Acia merasa tidak nyaman saat Adisti terus memanggil nya Nona, karena panggilan itu ia merasa ada jarak antara dirinya dan Adisti.

__ADS_1


TBC....


__ADS_2