
Adisti mengerjapkan matanya menyesuaikan dengan cahaya matahari yang mulai masuk melalui celah jendela.
Perlahan mata indah itu terbuka secara perlahan, namun pemandangan di depan matanya terasa seperti mimpi.
Yudha berbaring di seberangnya memeluk Acia dan dirinya, bahkan Adisti baru sadar jika bantal yang ia gunakan untuk tidur adalah lengan Yudha.
Lalu Adisti beralih pada Acia yang tengah memeluk nya erat, sedikit khawatir jika gadis itu merasa sesak dengan adanya Yudha yang ikut bergabung dengan mereka.
Adisti menyingkirkan lengan Acia dari perutnya namun baru saja lepas sedikit gadis itu memeluk nya kembali.
"Biarkan saja"
Adisti mengangkat wajahnya saat suara Yudha memecah keheningan.
Dahinya mengerut, suaminya berbicara dengan mata terpejam.
"Tidur saja kembali Adisti" Bukan hanya bicara kini Yudha juga langsung menarik kembali istri nya agar berbaring.
Tatapan Yudha dan Adisti bertemu, karena posisi Acia memeluk perutnya kebawah tidak ada penghalang bagi Adisti untuk bertatapan dengan suaminya.
"Maafkan Aku" Ucap nya begitu tulus, sebelah tangannya yang bebas mengusap lembut wajah istrinya yang sembab.
Adisti tidak menjawab dia hanya mendengar saja apa yang ingin Yudha ucapkan.
"Kamu pasti bosan kan mendengar nya?" Yudha sadar jika dia selalu meminta Maaf namun mengulangi kesalahan yang sama lagi.
Adisti mengangguk membenarkan perkataan Yudha jika dia bosan dengan permintaan maaf suaminya itu.
"Jika Eyang tidak menghentikan ku tadi, mungkin aku sudah berada di rumah paman mu sekarang" Ucap Yudha terkekeh mengingat bagaimana bodoh nya dia mengira Adisti pergi.
Rumah paman? memangnya kenapa? ingin sekali Adisti bertanya seperti itu, namun dia menahannya karena rasa kesalnya pada Yudha masih membuncah.
"Kamu berniat pergi dari ku kan?" Lirih Yudha, entah kemana perginya sikap arogan nya selama ini, jika bersama istrinya dia tidak bisa bersikap seenaknya.
Bayangan Yudha kembali saat dia melihat Ransel yang ada di samping kasur milik Acia, Adisti memang berniat meninggalkan nya tadi malam.
Kecurigaan nya juga di benarkan oleh Eyang, Eyang menceritakan bagaimana Acia ingin mencelakai bayi yang Adisti kandung hingga akhirnya berakhir dengan Adisti yang menampar gadis itu.
Lalu bagaimana Acia mencegah Adisti pergi dari rumah, eyang berkata jika saja Acia tidak terbangun tadi malam mungkin Adisti sudah pergi entah kemana.
"Aku mohon, jangan pernah berniat meninggalkan ku lagi seperti ini"
Adisti terkejut melihat air mata Yudha yang mengalir, suaminya menangis?
"M-mas?"
"Jangan tinggalkan aku" Yudha benar-benar takut jika Adisti meninggalkan dirinya.
"Jangan menangis"
Adisti mengusap air mata yang mengalir di pipi suaminya, bahkan air matanya juga ikut mengalir melihat suaminya menangis.
"Aku mencintaimu"
__ADS_1
Eh?
Adisti mengerjapkan matanya mendengar pernyataan Yudha barusan.
"Aku sangat-sangat mencintaimu Adisti"
Entah bagaimana Adisti harus menanggapi pernyataan Yudha barusan, karena pria itu menyatakan cinta sambil menangis.
Grep
"Aku juga mencintaimu!"
Apalagi ini??
Tiba-tiba Acia terbangun dan langsung memeluk nya erat, gadis itu juga menyatakan cinta pada nya sambil menangis sama seperti ayahnya.
"Hiks! Aku mencintaimu lebih dari Daddy" ungkap Acia semakin menangis.
"Hey, Kenapa kalian menangis seperti ini?" Adisti kebingungan, jika seperti ini kan dia juga ikut menangis.
Di dalam kamar itu terisi dengan suara tangisan yang bercampur, mereka bertiga sama-sama mencurahkan isi hati dan Air mata nya di atas kasur.
"A-aku juga mencintai Kalian" ucap Adisti berderai air mata.
.
.
Dan Apa-apaan pemandangan langka yang tersaji di hadapannya ini, untung saja semua pelayan ia beri libur khusus hari ini kecuali Bi Ida karena wanita paruh baya itu sangat penting di sini.
Eyang memberikan kode pada Bi Ida untuk mengambil gambar Yudha dan Acia yang duduk mengapit Adisti.
Cekrek
"Kamu boleh pergi" ucap eyang tersenyum senang melihat tangkapan gambar yang cukup bagus untuk di lihat.
"Kalian tidak berniat melepaskan Adisti?" Tanya Eyang, melihat wajah menantu nya itu dia bisa merasakan betapa sesak nya di antara Yudha dan Acia.
"Eyang tidak boleh mengganggu!"
Lihat bocah itu? bagaimana bisa dia berbicara seperti itu pada eyangnya?
"Biarkan Adisti makan dulu, jika kalian terus menahannya seperti itu bisa-bisa Adisti mati kelaparan!" Sahut Eyang yang langsung mendapat seruan tidak terima dari Yudha dan Acia.
"M-mas, Cia, kita sarapan dulu ya?"
Sebenarnya Adisti sudah merasa lapar sejak tadi tapi karena suami dan putri nya tidak membiarkan nya bergerak sedikitpun, dia hanya bisa pasrah.
Bahkan Yudha dan Acia sampai tidak pergi ke kantor dan sekolah hanya karena takut Adisti akan pergi.
"Apa kamu lapar?" Yudha menangkup wajah istrinya agar menghadap nya.
Adisti meringis malu kemudian dia mengangguk.
__ADS_1
Acia melepaskan pelukannya dari Adisti kemudian gadis itu berucap yang membuat rasa malu Adisti bertambah.
"Pantas aku mendengar suara dari perut Mama"
Blushh
"I-itu..."
"Hahaha!" Tawa eyang menggelegar mendengar perkataan Acia, dia kira hanya ia yang mendengar ternyata cicit nya juga mendengar nya?
"Eyang! jangan membuat istri ku malu" Sahut Yudha tidak terima eyang nya tertawa di atas penderitaan Adisti yang tengah menahan malu.
"Maaf-maaf, sekarang pergilah ke dapur, BI Ida sudah menyiapkan makanan untuk kalian bertiga"
Yudha menuntun Adisti menuju meja makan bersama dengan Acia yang juga menggenggam tangan Adisti yang sebelah kiri.
"Duduklah"
Adisti duduk di atas kursi yang sudah di siapkan oleh suaminya, bahkan pria itu jugalah yang menyiapkan makanan di piringnya.
Sedangkan Acia duduk sambil memanyunkan bibirnya karena tidak bisa membantu Ibu sambungnya, tangan nya terlalu pendek untuk mengambil lauk pauk bahkan untuk dirinya sendiri.
"Nah makanlah sekarang"
"Terimakasih"
Tidak jauh dari mereka bertiga Eyang sari dan BI Ida memperhatikan bagaimana harmonis nya hubungan Mereka, harapan nya adalah tidak akan ada lagi kesalahpahaman yang menyelimuti mereka.
"Sebisa mungkin aku berharap Adisti bisa membuat Acia menjauh dari wanita ular itu" Gumam Eyang yang masih di dengar oleh BI Ida.
.
"Mama, Dia sudah sebesar apa?" Tanya Acia penasaran dengan calon adiknya.
Adisti menatap Yudha yang juga tengah menatapnya.
"Mungkin sebesar kepalan tangan?" Adisti menjawab tidak yakin, karena dia juga belum memeriksa kehamilan nya.
"Benarkah?" Acia semakin penasaran, bahkan gadis itu menempel kan tangan mungilnya di perut sang ibu.
Tonjolan yang dia rasa sedikit lebih besar dari terakhir kali dia merasakannya.
"Dia laki-laki atau perempuan ya?" Gumam Acia.
Rasanya tidak sabar ingin bertemu Adik nya, dia ingin memamerkan pada teman-teman jika dia akan memiliki adik.
"Kamu ingin dia laki-laki atau perempuan?" Tanya Adisti penasaran dengan Pilihan Acia.
"Keduanya tidak apa-apa, aku akan menjaga nya nanti" Acia tersenyum begitu senang.
Yudha yang melihat senyum Acia begitu tulus bisa merasa lega, akhirnya gadis itu menerima Adik nya.
TBC.....
__ADS_1