Ibu Sambung Yang Tak Dianggap

Ibu Sambung Yang Tak Dianggap
Hamil?


__ADS_3

"Selamat nyonya! Menantu anda tengah mengandung"


Eyang tidak bisa menahan rasa harunya mendengar jika sang menantu tengah mengandung.


Begitupun dengan Yudha ternyata sikap Adisti beberapa hari ini menyebalkan itu karena kehamilan nya.


"Sekali lagi selamat Tuan" dokter keluarga yang tadi memeriksa Adisti memberikan selamat pada Yudha dan Eyang.


"Terimakasih banyak dokter" Yudha tersenyum tipis.


"Kalau begitu saya permisi dulu"


Eyang menyuruh cucu nya untuk mengantar dokter tersebut keluar, Pria yang sebentar lagi akan menjadi ayah dua orang anak itupun menuruti perintah Eyang.


Di kasur Adisti masih belum membuka kedua matanya wajah cantik nya sekarang terlihat pucat, sebelumnya dokter mengatakan jika Adisti dan bayinya sangat sehat. hanya saja mulai sekarang istri Yudha itu tidak di perkenankan untuk mengerjakan pekerjaan berat seperti sebelumnya.


Usia kehamilan Adisti menginjak dua Minggu itu termasuk kehamilan yang rentan apalagi ibu calon bayinya baru pertama kali mengandung.


"Nghh...sshh"


Suara lenguhan terdengar dari atas tempat tidur mendengar menantu nya akan segera bangun Eyang langsung mendekat ke arah ranjang yang Adisti tiduri.


Klek!


Bertepatan dengan kesadaran Adisti yang mulai pulih Yudha kembali ke kamar.


"Ada apa Eyang?" Tanya Yudha melihat Eyangnya duduk di ranjang nya dan Adisti.


Eyang Sari mengusap lembut wajah menantu nya.


"E-eyang?" Adisti bersiap untuk bangun dari posisi berbaring nya sebelum eyang terlebih dahulu mencegah nya untuk tetap berbaring.


"Istirahat saja nak" Eyang mengambil segelas air yang ada di sana Kemudian memberikan nya pada Adisti.


Air di gelas yang memang tidak terlalu besar itu tinggal setengah saat Adisti meminumnya.


"Terimakasih"


Tubuh Adisti kembali berbaring dengan nyaman dia melirik bergantian Eyang dan suaminya yang tengah menatapnya cemas.


"A-apa semuanya baik-baik saja?" Melihat raut wajah kedua orang di depan nya ini membuat nya tidak nyaman.


"Semuanya baik-baik saja, jangan khawatir" Eyang sari menjawab dengan penuh senyum di wajahnya.


Lagi-lagi Adisti terlihat bingung dengan perubahan ekspresi yang di tampilkan Eyang.


"Apa ada yang terasa sakit?" Yudha mendekati sang istri kemudian menggenggam tangan nya erat.


Istri Yudha itupun hanya menggeleng karena memang tidak ada yang terasa sakit.


"Kami ingin memberitahukan sesuatu kepada mu Adisti"


Perkataan eyang barusan semakin membuat nya panik, apalagi eyang langsung menyebut namanya itu berarti Eyang tengah serius dengan pembicaraan mereka.


"I-iya?" Gugup Adisti.

__ADS_1


Eyang melirik pada Cucu nya yang kebetulan juga melirik padanya.


Fokus wanita tua itu kembali pada sang menantu.


"Kamu Hamil"


Pikiran Adisti mendadak kosong setelah mendengar perkataan eyang barusan, Siapa yang hamil?


"Aku?" Tunjuk Adisti pada dirinya sendiri.


Yudha dan Eyang mengangguk bersamaan.


"B-bagaimana bisa?"


Dahi Yudha mengerut mendengar pertanyaan yang sudah pasti jawabannya.


"Kamu ingin saya jelaskan bagaimana caranya?" Ketua Yudha, Adisti seperti tidak senang dengan Kabar kehamilan nya.


"Yudha!" Tegur Eyang


Tiba-tiba saja suasana hening berubah menjadi kepanikan saat Adisti tiba-tiba saja menangis histeris.


"Huaa"


"Hey! ada apa?" Yudha dan Eyang panik melihat Adisti yang menangis seperti ini.


Grep


Dengan sigap Yudha membawa sang istri kedalam pelukannya, tangisan Adisti sedikit mereda tapi tetap saja isakannya masih terdengar.


Didalam pelukan suaminya Adisti tengah berfikir keras bagaimana kehidupan nya setelah memiliki anak nantinya.


Bagaimana jika Putri sambungnya itu tidak bisa menerima kehadiran bayi yang ada di perutnya? apakah Acia akan kembali menjauhinya seperti dulu?


Yudha melepaskan pelukannya pria itu menangkup wajah penuh air mata Adisti dengan kedua tangan nya, membuat Adisti tidak ada pilihan lain selain menghadap wajah suaminya.


"Sekarang katakan, apa yang mengganggu mu, hm?" Yudha bertanya dnegan lembut pada istrinya.


Adisti sesegukan ia bingung harus merasa bahagia atau sedih dengan kehamilannya.


"Mas"


"Hm?"


"Bagaimana dengan Acia? dia masih kecil, butuh banyak kasih sayang yang harus kita berikan untuk nya, bagaimana jika kehadiran bayi ini Acia menjadi kekurangan kasih sayang?" Tanya Adisti bertubi-tubi.


Yudha tertegun dengan pertanyaan Istrinya barusan, ia sama sekali tidak memikirkan hal itu tapi bagaimana bisa istrinya berfikir hal sejauh itu?


"Kita akan menjelaskan nya Nak, Acia cukup dewasa untuk memahami apa yang ibu dan ayahnya alami" Bukan Yudha yang menjawab melainkan Eyang sari.


Eyang hanya tidak ingin jika pemikiran Adisti akan membuat kandungan nya celaka.


"Tapi Eyang"


"Nak" Eyang menyentuh wajah menantu nya, kemudian dia Mengusap air mata yang masih saja mengalir di pipi Adisti.

__ADS_1


"Kita akan membicarakan nya pelan-pelan supaya Acia bisa mengerti"


"Yang di katakan Eyang benar, lagipula Acia sudah besar untuk memiliki adik" Sambung Yudha membenarkan perkataan Eyangnya.


Seketika tangisan Adisti sedikit mereda kekhawatiran yang dia rasakan kini mulai mereda.


"Tapi bagaimana jika dia tidak menerimanya?" Adisti masih saja merasa tidak tenang dengan kemungkinan buruk yang akan ia hadapi nanti nya.


"Jangan dipikirkan, Kita akan menghadapi nya bersama"


.


.


Dua hari setelah Adisti berbaring tanpa melakukan apapun akhirnya dia bisa kembali beraktivitas seperti biasa, walaupun pekerjaan yang dia lakukan tidak bisa sembarangan seperti dulu.


Saat ini dengan di bantu oleh Eyang dan Koki Adisti menyiapkan makan malam yang akan mereka santap malam ini.


"Kamu tenang saja nak, kita hanya perlu memancing Acia tanpa perlu memberitahu langsung kehamilan mu" Ucap Eyang Sari di sela-sela memasak nya.


Adisti terdiam dia tidak lupa jika Acia akan pulang malam ini hanya saja Hatinya masih belum siap mendengar jawaban yang akan keluar dari mulut putri sambungnya.


"Aku harap Semua nya akan baik-baik saja" Doanya dengan tulus.


Makan malam sudah siap semua hidangan sudah tersusun rapi di atas meja makan.


Bahkan yang mereka tunggu tunggu sudah datang beberapa jam yang lalu.


"Bagaimana Kabar mu sayang?" Eyang membuka suaranya sebelum acara makan malam di mulai.


Acia mendongak menatap Eyangnya


"Baik Eyang, bagaimana dengan Eyang?"


"Sangat baik nak"


Adisti, Eyang dan Yudha saling berpandangan, apakah sudah waktunya mereka mulai membahas kehamilan Adisti?


"Kalau begitu kita kita mulai saja makan malam Nya"


Lebih baik membicarakan hal yang sensitif saat mereka sudah selesai makan.


Hanya terdengar bunyi dentingan sendok tanpa ada nya suara lain, Adisti kesulitan menelan makanan nya perasaan nya belum tenang jika belum mendengar jawaban Acia.


Lima belas menit berlalu mereka semua sudah selesai menyelesaikan makan malam masing-masing, meja makan sudah bersih tanpa ada Piring-piring kotor.


"Acia, Apa kamu tidak ingin memiliki adik?" Tanya Eyang tiba-tiba.


Adisti hampir saja tersedak jika dia tidak berhasil menahan nya.


Putri Yudha itu mengalihkan perhatian nya pada Sang Eyang.


Raut wajah yang Acia tampilkan membuat Adisti sangat takut.


"Tidak mau, dan tidak akan pernah!"

__ADS_1


Jawaban yang sukses membuat semua orang terkejut terutama Adisti dan Yudha.


TBC.....


__ADS_2