Ibu Sambung Yang Tak Dianggap

Ibu Sambung Yang Tak Dianggap
Come Back Home


__ADS_3

Adisti meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku, dia bangun terlambat dari biasanya.


Lalu pandangan nya melihat pada Acia yang sedang duduk memakan kue kering bersama Bibinya.


Ah, Adisti ingat tadi pagi di sebenarnya sudah bangun tapi karena Acia masih memeluk dirinya erat, tanpa sadar dia kembali tertidur.


"Adisti? tidak biasanya kamu bangun terlambat" Adisti tersadar dari lamunannya setelah bibinya memanggil namanya.


Adisti tertawa kecil kemudian menggeleng sambil berjalan mendekati sang bibi.


"Maaf Bibi" ucapnya merasa bersalah tidak membantu bibinya menyiapkan makanan.


"Santai saja, kamu pasti lelah kan"


grep


Adisti langsung memeluk tubuh bibinya erat, dia masih ingin berlama-lama lagi di sini tapi itu tidak mungkin karena ada anak dan suaminya.


Yudha tidak mungkin bekerja dari sini karena jaringan sangat jarang ada. dan sekolah Acia juga tidak bisa di lewatkan begitu saja.


Puk puk


"Ada apa hm?" BI Rina menepuk-nepuk punggung putri nya ringan.


"Hanya ingin memeluk bibi saja" Sahut Adisti tanpa melepaskan pelukannya.


Lalu tidak sengaja matanya menangkap Acia yang juga tengah menatapnya, namun gadis kecil itu langsung memutuskan kontak mata mereka begitu saja.


"Bibi, dimana suamiku?"


"Oh Yudha? pagi-pagi sekali dia sudah keluar untuk berolahraga" jawab Bi Rina.


Adisti memutar bola matanya jengah mendengar ucapan bibinya, Yudha dan Olahraga memang tidak bisa di pisahkan.


.


.


"Sering-seringlah mampir ya" Bi Rina mengusap sudut matanya yang berair merasa tidak rela jika Adisti dan keluarga nya pergi begitu cepat.


Di sebelah wanita paruh baya itu ada Paman Yus dan Dika yang hanya diam melihat Bi Rina berderai air mata.


"Ibu jika mereka jarang kemari, kita saja yang menyusul ke sana" ucap Dika jengah dengan drama sang ibu.


Adisti tersenyum lembut namun saat melirik sekilas pada suaminya senyum itu langsung hilang begitu saja.


Jika Paman dan Bibinya berkunjung ke rumah mewah Yudha, apakah mereka akan di perlakukan sama seperti nya?


"Paman, Bibi kami pamit" Yudha menyalami kedua orang tua angkat Adisti, juga Andika yang menampilkan wajah tidak bersahabat nya.


Setelah itu dia langsung membawa koper sang istri kedalam bagasi, di ikuti Cia yang langsung masuk kedalam mobil.


Kini hanya tinggal Adisti berhadapan dengan keluarga yang sangat ia sayangi.


"Jaga kesehatan kalian ya, aku akan lebih sering menghubungi kalian setelah sampai di kota Nanti"


Kemudian Wanita itu memeluk paman dan Bibinya dengan sangat erat.


"Jika ada masalah jangan di pendam sendiri nak" Paman Yus bersuara, ia tahu betul bagaimana putri nya ini tidak ingin membuat mereka khawatir, sehingga lebih sering menyembunyikan masalahnya sendiri.


Adisti mengangguk di pelukan sang paman, Melepaskan pelukannya kemudian Adisti menatap pada Dika.

__ADS_1


Lihat pria itu, di saat saudarinya ingin pergi jauh dia terlihat tidak sedih sama sekali.


Grep


"Jaga ibu dan ayah baik-baik ya" Adisti memeluk Dika, awalnya pria itu enggan membalas tapi saat matanya melihat pada Yudha yang tengah memperhatikan mereka Dika langsung membalas pelukan Adisti.


"Mereka ibu dan ayahku, tentu saja aku akan menjaga mereka" jawabnya.


Bug!


"Ukh!"


Adisti memukul punggung Sahabat kecilnya lumayan keras.


"Semua orang juga tau!" dengus Adisti kesal.


Andika terkekeh geli ia semakin mengeratkan pelukannya pada Adisti.


"Yang harus di khawatirkan itu adalah kamu, aku tidak ada di sana jika kamu terluka" Dika berucap dengan lembut paman dan Bibi yang mendengar saja ikut tersentuh.


Mereka berdua sudah bersama Sejak kecil dan takdir memisahkan mereka saat dewasa.


Adisti menahan tangisnya, benar..... Andika tidak ada di sana untuk menghapus air matanya.


Tin!


Pelukan mereka terlepas begitu suara klakson mobil milik Yudha berbunyi.


Dika Mengusap air mata di wajah Adisti menggunakan kedua tangan nya.


"Jangan menangis"


"Pergilah"


Istri dari Yudha itu perlahan melepaskan pelukannya menatap terakhir kalinya wajah paman dan Bibinya, lalu berjalan kearah mobil milik sang Suami.


Ada rasa tidak rela jika harus pergi dari kedua orangtuanya yang sangat menyayangi nya, tapi sekarang Adisti memiliki keluarga yang harus ia urus.


"Siap?" Adisti menoleh pada Yudha yang duduk di kursi kemudi.


Kemudian mengalihkan pandangannya kembali pada Keluarga nya, senyum nya terbit saat Paman dan Bibi melepaskan nya dengan senyuman lebar.


Adisti menoleh kembali pada Yudha


"Siap"


Lalu perlahan Yudha menjalankan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah sederhana milik keluarga Adisti.


.


Yudha melirik sekilas pada istrinya yang sedari tadi menundukkan wajahnya, lalu dia melirik kebelakang memastikan keberadaan putri nya.


Acia tertidur pulas di Kursi penumpang.


"Kamu menyesal?"


Adisti mengangkat wajahnya menatap Yudha, apakah dia menyesal?


Jawaban Iya! Adisti menyesali keputusannya menikah dengan pria kaya seperti Yudha dan masuk kedalam lingkaran konglomerat yang hanya fokus pada reputasi mereka.


Tapi tidak ada gunanya dia menjawab seperti itu pada Yudha.

__ADS_1


Adisti menggeleng


"Kamu pasti merasa tidak nyaman dengan keberadaan Dara kan?"


Adisti semakin tidak mengerti arah pembicaraan ini, kenapa tiba-tiba membahas Dara?


"Saya Sudah mengusir nya"


Lagi, perkataan Yudha sangat tidak terduga kenapa pula pria ini mengusir ibu kandung dari putri nya sendiri?


"Sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan Mas?"


Entahlah Yudha tidak mengerti kenapa dia tiba-tiba saja membahas ini.


Yang pasti Yudha hanya ingin mengatakan jika Adisti bebas sekarang tanpa bayang-bayang Dara lagi.


Dalam perjalanan pulang itu hanya di selimuti oleh keheningan Yudha dan Adisti tidak lagi bersuara.


.


.


Acia mengusap matanya begitu dia bangun dari tidur singkat nya, yang pertama kali dia lihat adalah mobil yang masih melaju dengan santai dan juga Ayah dan Adisti yang tidak bersuara.


Ciiit


Mobil yang di Kendarai Yudha berhenti di parkiran rumah mereka, setelah hampir Lima jam mengendarai kendaraan roda empat itu akhirnya mereka sampai juga di rumah.


"Kamu mau Daddy gendong?" Tanya Yudha pada Acia yang masih mengantuk.


Gadis kecil itu langsung menggelengkan kepalanya.


Adisti mengambil barang nya di bagasi tanpa menunggu Yudha, bahaya jika pelayan yang lain melihat mereka bersama.


"Biar saya yang membawanya"


Deg!


Genggaman nya pada Tas terlepas begitu saja setelah suara yang begitu ia kenal berada tepat di belakangnya.


Sret


Saat Adisti berbalik tubuh tegap Angga yang tidak terlihat selama ini kembali muncul di hadapannya.


"A-angga?" Adisti tidak bisa menahan rasa terkejutnya melihat keberadaan pria yang pernah berniat menodainya.


Angga langsung membungkuk kan tubuh nya saat melihat gelagat Adisti seperti tidak nyaman melihat dirinya.


"Mohon maaf nyonya! sekali lagi maafkan ke lancangan saya!" Angga Sudah mengetahui jika Adisti adalah istri sah dari Yudha.


Dan alasan wanita itu menolak nya adalah karena memang dia sudah menikah, seandainya Angga tau lebih awal jika Adisti sudah menikah mungkin kejadian seperti beberapa bulan lalu tidak akan terjadi.


Adisti baru saja akan menghampiri Angga yang sudah bersumpah di hadapannya, jika saja Yudha tidak datang dan Menarik pinggulnya.


"M-mas?"


"Ingat perjanjian nya, kamu akan tetap bekerja di sini dengan syarat tidak ada yang boleh mengetahui jika Adisti adalah istri saya"


Angga mengangguk dengan patuh, mulai sekarang Angga berjanji tidak akan menyakiti Adisti lagi bahkan jika bisa dia akan melindungi istri dari Bos nya itu.


TBC....

__ADS_1


__ADS_2