
Adisti membuka kedua matanya perlahan ketika merasa tidak ada pergerakan lagi di belakang nya, menengok kearah samping tempat tidur di sana Adisti bisa melihat Yudha yang tengah memejamkan kedua matanya.
Merasa sudah aman Adisti bergegas menuju lemari pakaian nya, ibu Sambung Acia itu mulai memasukkan beberapa pakaian milik nya ke dalam ransel yang sudah di siapkan sejak siang tadi.
Tidak ada Isak Tangis yang keluar dari bibirnya, hanya derai air mata lah yang terus turun melewati pipi.
Adisti mengancingkan ransel nya yang sudah terisi pakaian miliknya yang tidak seberapa, karena memang pakaian nya sedikit sisanya adalah pemberian Yudha dan Adisti tidak berniat membawa nya.
Terlebih dahulu dia mengganti Piyama tidur yang ia pakai menjadi baju biasa.
Adisti mengangkat ranselnya kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu kamar.
Istri Yudha itu tidak langsung menutup pintu kamar, dia terlebih dahulu melihat suaminya yang tertidur lelap di atas kasur sana.
"Selamat Tinggal Mas" ucap Adisti untuk yang terakhir kalinya.
Wanita itu menutup pintu begitu lirih dengan tarikan nafas dia perlahan menjauhi kamar yang sudah ia tempati cukup lama itu.
Namun langkah nya terhenti begitu pandangan nya terarah pada kamar Yang ada di seberang pintu kamar Yudha.
Kamar Acia
Adisti melangkah mendekati pintu bercat putih tersebut kemudian membuka nya perlahan, Tidak terkunci memudahkan Adisti melihat lebih jauh kedalam.
Di tempat tidur ada Acia yang tengah berbaring nyaman di kasur nya, Adisti merasa begitu bersalah telah menampar gadis kecil itu.
Adisti kembali menutup pintu kamar Acia hati-hati, takut kesalahan sedikit saja akan membangunkannya.
Berjalan menjauhi kamar Acia dan Yudha, Adisti sampai di tangga menuju lantai satu dari atas sana di bisa melihat seluruh penjuru ruangan begitu jelas, walaupun lampu di matikan tidak membuat seluruh ruangan menjadi gelap gulita.
Langkah demi langkah Adisti menuruni tangga dia menuruni tangga dengan sangat pelan, setiap langkah yang ia ambil adalah langkah nya meninggalkan rumah ini untuk selamanya.
Mungkin dengan begitu suasana tentram antara keluarga Kara akan menjadi seperti dulu.
Adisti tidak bisa menghentikan air mata yang mengalir di wajahnya, keputusan nya meninggalkan rumah ini sangatlah berat apalagi harus meninggalkan ayah dari calon bayinya.
Grep!
Genggaman tangan tiba-tiba dari arah belakang membuat Adisti terkejut dan langsung membalikkan tubuhnya.
Ternyata Acia lah yang menahan nya turun semakin jauh ke bawah, akibat nya mereka berdua berdiri di tengah-tengah tangga.
"Kamu mau kemana?" Acia menggenggam erat tangan Adisti yang tidak memegang Ransel.
"K-kamu belum tidur?" apa yang harus dia lakukan?
Acia tidak menjawab sebenarnya dia sudah tidur tapi karena bunyi pintu kamarnya yang terbuka dia kembali terbangun.
Tatapannya beralih pada Tas ransel yang ada di tangan Adisti, apa ibu sambungnya akan pergi?
"Ayo kembali" Acia menarik Adisti naik kembali keatas.
"Acia" lirih Adisti begitu lelah, sebenarnya apa mau gadis itu? bukanya seharusnya Acia senang dengan kepergian nya?
"Kamu tidak boleh pergi!" Acia sedikit meninggi kan suaranya.
Adisti yang mendengar nya melihat keadaan sekitar, takut-takut jika ada Yang melihat mereka di sana.
__ADS_1
"Pelan kan Suara mu" Adisti tidak ingin membangunkan semua orang hanya karena perdebatan mereka berdua.
"Memangnya kenapa? ada apa dengan tas ransel mu itu" Acia bertanya menggebu-gebu, tiba-tiba ada rasa marah yang menguar melihat Adisti berniat pergi meninggalkan dirinya.
"Nak, tenanglah" Adisti meletakkan tas nya di bawah kemudian kedua tangannya naik untuk meremas bahu Acia lembut.
Acia menangis kepergian Adisti pasti karena dirinya, bayangkan bagaimana jika dia tidak terbangun tadi? apakah Adisti sudah tidak ada lagi di sini?
"Jangan menangis" Ucapnya menenangkan, tangan nya menghapus air mata yang mengalir di pipi putri sambungnya.
"Jangan tinggalkan aku"
Adisti mengigit bibir bawahnya erat-erat menahan diri untuk tidak menangis di hadapan Acia.
"Ini yang terbaik untuk kita, kamu tidak ingin adik kan? kalau begitu biarkan aku pergi ya?" bujuk Adisti, toh rasa kehilangan itu hanya sementara saja karena dia yakin Acia akan segera melupakan nya, begitu pun dengan Yudha.
Acia menggeleng begitu kuat bahkan kedua tangannya menggenggam tangan Adisti erat supaya wanita itu tidak meninggalkan nya.
"Lepaskan nak, kumohon"
Adisti berhasil melepaskan tangannya Acia, dia kembali mengangkat tas ranselnya yang semula jatuh di bawah kemudian mengambil langkah menuju lantai bawah.
Tangisan Acia terdengar menusuk di telinga nya, jika saja Adisti tidak cepat pergi mungkin dia akan kembali dan memeluk gadis itu.
Klek
Di buka nya gagang pintu yang terkunci dengan kunci cadangan yang ia punya, lalu Adisti melangkahkan kakinya keluar dari rumah.
Bruk
Grep
"Mama"
Deg!
Seketika tas yang berada di genggaman nya terjatuh ke lantai saat Acia memanggilnya Mama.
"Jangan pergi"
Untuk pertama kalinya dalam hidup sebagai istri Yudha, Adisti di panggil Mama oleh Acia.
Tidak pernah terbayangkan sebelumnya gadis itu akhirnya menganggap nya ibu.
Adisti berbalik badan kemudian balas memeluk Acia dengan sangat erat.
Keduanya menangis sambil berpelukan.
"Panggil sekali lagi" Pinta Adisti
"Mama!"
"Mama!"
"Aku akan terus memanggil mu seperti itu, jika kamu berjanji tidak akan pergi dari sini"
Adisti menangis begitu bahagia, di satu sisi dia sangat senang dengan Acia yang sudah menerimanya sebagai ibu, namun di sisi lain Adisti berfikir keras apakah dia harus pergi atau tidak?
__ADS_1
.
.
Kilau cahaya matahari yang masuk melalui jendela kamar yang tidak tertutup sempurna, mengganggu tidur Yudha.
Sedikit heran saat matahari mengenai wajahnya biasanya Adisti yang menutup gorden agar dirinya bisa tidur dengan tenang.
"Adisti tutup jendelanya" Yudha masih tidak sadar jika Adisti tidak berada di sampingnya.
"Adisti?"
Yudha menoleh ke samping dia tidak melihat keberadaan seorang pun di sebelahnya, bahkan kasurnya terasa dingin seolah-olah tidak pernah ada yang menempati kasur itu sebelum nya.
Lalu ingatan nya berputar pada kejadian sebelumnya yang membuat mereka bertengkar.
"Apa dia pindah ketempat lain?" Gumam Yudha.
Tapi tidak mungkin, karena saat dia masuk ke kamar dan tidur di kasur Adisti masih ada, bahkan wanita itu tertidur lebih dulu dari dirinya.
Tidak mungkin kan?
Yudha bergegas menyingkirkan selimut dari tubuhnya dia bangkit dari kasur menuju lemari pakaian yang biasa ia dan Adisti gunakan bersama.
Klek!
Tidak ada!
Baju-baju lama Adisti tidak ada di tempat nya!
Bahkan Yudha mengecek tempat koleksi Tas nya, dan benar saja salah satu ransel menghilang dari dalam lemari.
"Sialan! Adisti pergi dari rumah?"
Yudha mengambil kunci mobil di atas nakas, kemudian berlari keluar kamar.
Saat melewati ruang tengah suara eyang menghentikan langkahnya.
"Kemana kamu pergi pagi-pagi sekali?" tanya eyang santai sembari meminum teh nya.
"Adisti pergi dari rumah! dan aku harus segera mencari nya!" Yudha berniat pergi lagi tapi perkataan Eyang membuat nya bingung.
"Pergilah tengok Acia di kamarnya " Titah eyang.
Saat ini dia sangat menghawatirkan Adisti, bagaimana bisa eyang santai seperti itu?
"Tidak bisa eyang, aku harus mencari Adisti!" kekeh nya
"Lihat dulu jika tidak ingin menyesal!"
Menahan ke khawatiran nya kemudian Yudha mengikuti perkataan eyang, dia berjalan tergesa-gesa menuju kamar putri nya.
klek!
Yudha tidak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang, rasa cemas dan takut yang semula dia rasakan langsung sirna begitu matanya Melihat pemandangan Acia dan istrinya tidur sambil berpelukan.
"Syukurlah" ucapnya merasa lega.
__ADS_1
TBC.....