Ibu Sambung Yang Tak Dianggap

Ibu Sambung Yang Tak Dianggap
Tuduhan


__ADS_3

Yudha menyerahkan Jas yang ia kenakan pada Pelayan, malam ini dia pulang lebih awal dari malam-malam biasanya.


Klek


Saat membuka pintu kamar pribadinya Yudha tak melihat keberadaan wanita yang sudah beberapa bulan ini menjadi istrinya, biasanya Adisti akan datang menyambut nya saat ia pulang.


Bahkan dia ke kamar mandi pun Yudha tidak menemukan keberadaan Adisti.


klek


Tidak menemukan sang istri di dalam kamar nya Yudha memutuskan untuk mencari wanita itu di luar.


Sayangnya saat dia keluar dari kamar Dara juga baru keluar dari kamar Acia


"Mas? kamu sudah pulang" Dara menyapa Yudha, tetap tersenyum walaupun pria di depannya sama sekali tidak menanggapi nya.


Yudha melirik sekilas lalu melanjutkan langkahnya menuju ruang makan, mungkin saja istrinya ada di sana.


Di belakang Dara masih mengikuti, melihat gelas yang dia bawa sepertinya wanita itu ingin mengambil air minum.


Yudha duduk di atas counter Bar menuangkan air kedalam gelas kemudian meneguknya.


"Siapkan makan Malam Saya" Yudha memerintahkan Bi Ida yang kebetulan masih di sana.


"Baik Tuan"


Sambil menunggu Pelayan menyiapkan makan malam Nya sesekali Yudha melirik kearah dapur mencari keberadaan Adisti yang tidak terlihat dimana-mana.


Tiba-tiba saja di sebelahnya Dara duduk tanpa permisi.


"Aku tidak akan menggangu, tenang saja" Sahutnya melihat Yudha menatap nya tidak suka.


"Kamu tau Mas? tadi di rumah sakit aku berhasil melakukan operasi usus buntu seorang anak kecil" Dara membuka suaranya.


Yudha tidak menanggapi tapi Dara yakin pria itu mendengarkan dirinya.


"Gadis kecil itu seusia putri kita, dan dia baru saja pulang dari study nya di Singapura" Dara melanjutkan cerita nya.


"Saat pulang nasib buruk menimpanya dia terpaksa menjalani operasi usus buntu di usianya yang masih kecil, dan kamu tau? sebelum melakukan operasi dia menjanjikan sebuah hadiah untuk ku jika aku berhasil melakukan operasi nya" Dara tidak pernah mengharapkan sebuah hadiah atas keberhasilan yang selama ini ia Buat.


Tapi melihat gadis kecil seusia putri nya Dara jadi tidak tega dan menerima saja hadiah tersebut.


"Dia memberikan ku sepaket peralatan makan yang sangat indah, gadis itu bilang sebagai oleh-oleh dari Singapura"


Yudha menyantap makan malam Nya sambil mendengarkan cerita Dara, bukan sesuatu yang mengejutkan mendengar cerita dari Dara, tapi Yudha menghargai wanita itu.


"Tapi apa yang harus aku katakan pada nya nanti? hadiah yang dia berikan.... hancur karena seseorang" Dara melirihkan suaranya.


Dalam hati Yudha bertanya-tanya penyebab hancur nya hadiah milik Dara.


"Kamu tidak mau tau siapa yang menghancurkan barang ku?" Dara menolehkan kepalanya pada Yudha.


Wanita itu mendengus mana mungkin Yudha mau repot-repot bertanya padanya.


"Adisti..."

__ADS_1


Tek


Bunyi sendok yang Yudha letakkan terdengar nyaring karena berbenturan dengan piring.


"Dia yang memecahkan hadiah pemberian pasien ku"


.


.


Kemarahan Yudha memuncak saat tidak menemukan keberadaan Adisti dimana pun, mendengar perkataan Dara yang mengatakan jika Adisti merusak barang berharga miliknya membuat Yudha sangat marah.


Memangnya apa yang wanita itu lakukan hingga merusak barang orang lain?


"Bi Ida!" panggil Yudha pada kepala pelayan rumah nya.


"Ya Tuan?" wanita paruh baya itu terkejut mendengar suara Yudha yang terdengar keras.


"Dimana Adisti?" desis nya tajam


Tuan nya sedang marah besar, Bi Ida terlihat ragu ingin mengatakan keberadaan Adisti pada Tuannya itu


"Jawab!"


Tidak ingin pria itu marah lagi Ida memberi tau keberadaan Adisti pada suaminya.


Derap langkah Yudha membawa pria tegas itu menuju kamar pribadi pelayan nya, jadi ternyata wanita itu bersembunyi di sana?


Brak!


"M-mas?"


"Kemari !" Yudha menarik pergelangan tangan istrinya kencang, mengabaikan ringisan yang keluar dari bibir Istrinya.


Karena kemarahan nya Yudha sampai tidak ingat dengan kondisi Adisti yang mengalami cedera tangan, bahkan pria itu tidak tau jika kaki istrinya di balut oleh perban.


Bruk!


Tanpa perasaan Yudha menarik dan mendorong Adisti pada Dara yang terlihat sama terkejutnya.


"Mas? apa yang kamu lakukan?" tidak menyangka jika perkataan nya tadi membuat Yudha begitu emosi.


Adisti meringis ngilu Yudha tanpa perasaan mendorongnya begitu saja sebelum mendengar penjelasannya.


"Minta maaf padanya!"


Adisti memejamkan matanya erat, Yudha membentak nya sangat kerasa hanya karena membela mantan istrinya.


"Sudahlah Mas, aku tidak papa" Jawaban dari Dara malah semakin membuat Yudha merasa malu.


Setelah melakukan kesalahan besar Adisti malah bersembunyi di kamar seperti itu?


Adisti bangun dengan sedikit pincang tulang belakangnya terbentur lantai cukup keras tadi, belum rasa sakit di tangan dan kakinya, oh! Adisti merasa seperti wanita jompo.


"Sekali lagi saya minta maaf Nyonya" Adisti membungkukkan badannya di hadapan Yudha dan Dara.

__ADS_1


BI Ida yang melihat itu tidak bisa berbuat banyak, hubungan Yudha dan Adisti baru saja berjalan dengan mulus tapi sudah harus di hadapi dengan masalah baru lagi.


"Saya berjanji akan mengganti rugi secepatnya"


"Dan untuk Tuan, saya tidak bermaksud bersembunyi" Adisti berdiri menghadap Yudha memandang sendu pria yang sudah menjadi suaminya itu.


Sambil menahan air mata Dia berjalan menuju kamar Bi Ida meninggalkan Yudha dan Dara di sana.


Dia tidak ingin mendengar kalimat pedas Yudha lagi di telinga nya


Apa maksudnya dia bersembunyi? Yudha tidak tau saja jika Adisti kesulitan berjalan karena kakinya yang terluka, apalagi harus melewati anak tangga?


Yudha memijit pelipisnya, karena terlalu lelah dia jadi bersikap emosional seperti ini, bahkan dia belum mendengar penjelasan dari istrinya.


Apalagi melihat Adisti yang seperti kesulitan berjalan itu, membuat rasa bersalah Yudha semakin besar.


"Jangan terlalu kasar pada Adisti Mas, dia istri mu sekarang, lagi pula aku tidak apa-apa" sebenarnya Dara senang dengan pertengkaran yang sedang terjadi sekarang, tapi tetap saja dia harus menahan rasa senangnya itu.


Yudha berbalik meninggalkan Dara seorang diri, dia perlu menenangkan diri sekarang.


.


"Hiks! Bibi sakit sekali" Adisti mengadu pada Bi Ida.


Sebagai seorang ibu yang menjaga Adisti di rumah ini tentu saja Bi Ida merasa sakit hati ketika putri nya di berlakukan seperti tadi, memar di pergelangan tangan Adisti bertambah dengan bekas cengkeraman Yudha.


"Istirahat nak, besok kita ke rumah sakit ya?"


BI Ida membantu Adisti merebahkan tubuhnya di kasur, darah di kaki nya kembali keluar karena Yudha menyeret Adisti tadi.


Dengan Wajah masih berlinang air mata Adisti mencoba menahan rasa sakit di tubuhnya.


"Tidurlah nak"


Sikap Yudha yang seperti tadi membuat Adisti merasa takut, Dara adalah masa lalu Yudha tapi sampai kapan pun mereka tidak akan pernah terpisahkan, karena ada Acia di tengah-tengah mereka.


Adisti tidak cemburu, hanya saja perlakuan kasar Yudha kadang-kadang membuat nya takut.


Istri Yudha itu memejamkan kedua matanya berdoa dalam hati semoga saja uang tabungan nya cukup untuk mengganti kerugian yang di alami Dara.


.


.


Side story


Yudha mengeraskan rahangnya kuat melihat CCTV yang menampilkan Adisti tengah mengangkat kardus-kardus seorang diri.


Dari yang dia lihat istri nya itu sesekali meringis kesakitan karena memang kardus itu terlihat lumayan berat.


Sampai matanya menatap bagaimana kardus yang di bawa Adisti jebol dan piring-piring jatuh menimpa kaki Adisti, belum sampai di situ.


Bahkan Yudha harus menahan diri saat melihat Dara mendorong Adisti dan membuat kaki istrinya yang sudah terluka terkena pecahan-pecahan piring.


"Dara.....dasar sialan!" geram Yudha

__ADS_1


TBC...


__ADS_2