
Terik matahari semakin menyengat saat waktu sudah mulai beranjak siang, namun beberapa petani masih sibuk dengan ladang-ladang mereka, termasuk dengan Paman Yus.
Adisti mengusap peluh keringat yang mulai bercucuran dari wajahnya, dia baru saja berteduh dari panas matahari karena suruhan Dika dan ayahnya, padahal dia masih ingin membantu tapi mereka tidak mengijinkannya dan malah menyuruhnya duduk di pondok sendirian sambil melihat kedua orang itu bekerja.
Yang membuat Adisti kesal adalah Dika dengan alasannya yang sulit di mengerti, pria itu bilang 'Suami mu tidak akan mengenali mu lagi, jika kamu masih berjemur di bawah teriknya matahari' ucap pria itu saat Adisti masih keukeuh ingin membantu.
Paman Yus hanya tertawa mendengar kalimat tidak bermutu Dika, dan Adisti hanya bisa menahan malu saat tetangga yang lain juga ikut mendengar ucapan Andika itu.
"Panas?"
Adisti mendongak saat suara Dika berada di dekatnya, dan benar saja ternyata pria itu ada di hadapannya sekarang.
Istri dari Yudha itupun mengangguk
Lalu Andika mengambil handuk kecil entah darimana dia dapatkan, kemudian membantu mengusap keringat di wajah Adisti.
Adisti tersenyum senang, perlakuan lembut Dika dulu dan sekarang tidak ada bedanya pria itu masih sama dengan Andika yang dulu.
"Dari mana kamu dapatkan itu?" Adisti bertanya pada Dika sambil menunjuk handuk yang pria itu gunakan untuk mengeringkan keringatnya tadi.
Pasalnya Adisti tidak ingat jika Dika membawa handuk dari rumah tadi.
Adisti mengerutkan dahinya saat Dika hanya diam tanpa mau menjawab, dia merasa curiga dengan gerak gerik sahabat kecilnya itu.
"Dari sana"
Adisti mengikuti arah tunjuk Dika, sontak Adisti langsung melotot tajam Dika menunjukan sebuah tempat pembuangan, seharusnya dia tidak melupakan kejahilan Pria itu.
Bayangkan saja Dika mengusap wajahnya dengan handuk yang di temukan nya di dekat pembuangan.
Buk!
Buk!
"Aw!" Dika menjerit kencang saat Adisti tiba-tiba saja memukul nya cukup kencang.
"Dasar! kenapa kamu mengusap wajahku dengan handuk bekas!" Adisti meringis sebal, dia mencoba membersihkan wajahnya kembali dengan tangannya.
"Memangnya kenapa?"
Lihat wajah tidak berdosa itu! Adisti mengumpat pada Sahabat nya, Handuk itu kotor dan mereka tidak tau kenapa orang membuang nya ke tempat sampah, dan seenaknya Andika mengambil itu lalu menggunakannya untuk wajahnya.
Andika jadi merasa bersalah melihat ekspresi berkaca-kaca Adisti, padahalkan dia hanya bercanda tapi wanita itu menganggapnya serius.
"Ada apa?"
Andika terkejut karena tiba-tiba saja ayahnya datang ke pondok menghampiri mereka.
"Paman, Dika mengusap wajahku dengan handuk kotor" Adunya pada sang paman.
Mendengar hal itu Dika sontak langsung menggelengkan kepalanya sambil melambaikan tangan seolah berkata dia tidak melakukannya.
"Dika!"
"Tidak ayah! aku hanya bercanda, handuk ini kan memang aku bawa dari rumah" Elaknya sebelumĀ ayahnya semakin marah padanya.
"Lalu kenapa kamu bilang begitu tadi!"
Andika tidak bisa mengelak memang kesalahannya bercanda seperti itu pada Adisti.
__ADS_1
"M-Maaf"
Paman Yus menggelengkan kepalanya melihat kelakuan putra-putrinya, "Sudahlah, ayo kita pulang" Ajaknya pada Adisti dan Dika.
.
Mereka telah sampai di depan rumah selagi paman dan Dika membersihkan peralatan mereka Adisti ikut mencuci wajahnya di air mengalir.
"Mobil siapa itu?"
Adisti yang tengah membasuh wajahnya seketika menoleh pada Dika.
"Di mana?" Tanya Adisti penasaran
Lalu Dika menunjuk sebuah mobil mewah berwarna Hitam tidak jauh dari rumah mereka sedang terparkir begitu mencolok di antara rumah-rumah sederhana.
Adisti menajamkan pengelihatannya, Mobi itu terlihat tidak asing di matanya.
Atau jangan-jangan?!
"Ada apa nak?" Paman yus merasa heran melihat Adisti seperti terkejut.
"Tidak apa Paman, sebaiknya kita masuk saja dulu" Ajaknya pada pria paruh baya itu.
Mereka bertiga berjalan menuju Rumah kayu minimalis yang sudah bertahun-tahun menjadi tempat mereka tinggal, dalam hati Adisti mewanti-wanti semoga saja mobil itu bukan milik Suaminya.
Tapi siapa lagi yang punya mobil seperti itu di desa ini?
Tok!
Tok!
Kreet
Deg!
Adisti terbelalak begitu terkejut saat melihat siapa yang membukakan pintu rumah.
"M-mas?" Gumamnya
Yudha tidak bereaksi apapun pria rupawan tersebut mengalihkan pandangannya pada seorang pria Yang tidak di kenali nya, mengapa pria itu berdiri di samping Istrinya?
Sama seperti Yudha, ada pancaran tidak suka di Mata Dika melihat keberadaan suami dari sahabat nya.
"Oh? Tuan Yudha?" Suara Paman Yus memutus tatapan permusuhan di antar Dika dan Yudha.
Senyum tipis Yudha berikan untuk pria paruh baya yang selama ini menjaga istrinya.
"Apa kabar paman?" sapa nya balik.
.
.
Suasana makan malam tidak hangat seperti biasanya, mungkin karena kedatangan suami dari Adisti yang memang berasal dari keluarga terpandang, dan tidak mungkin mereka berbicara sambil makan seperti malam-malam sebelumnya.
Bahkan Adisti yang biasanya bersenda gurau dengan Dika pun tidak mengeluarkan suaranya.
"Di tambah lagi Nak" Ujar Bi Rina melihat isi piring Yudha tersisa sedikit.
__ADS_1
"Sudah cukup Bibi" Jawab nya
Dari tempatnya duduk Dika semakin menaruh rasa curiga terhadap kedua pasangan di hadapannya ini, kedua orang itu terlihat tidak akur sama sekali.
"Untuk apa anda kemari Tuan?" Dika bersuara setelah mereka semua selesai dengan makan Malam nya.
Di sebelah nya Paman Yus memberikan peringatan agar tidak macam-macam pada Yudha.
Yudha mengusap bibirnya menggunakan tisu sebelum menjawab pertanyaan dari pria asing itu
"Tidak ada alasan untuk saya tidak kemari" Jawab nya tenang sembari menatap wajah sang istri.
Karena rasa tegang yang dia rasakan sampai Adisti tidak mengerti apa yang di maksud oleh Yudha.
Dika berdecih dalam hati saat Yudha menatap Adisti dalam seperti itu.
"Seharusnya anda datang lebih awal jika memang berniat menemui Adisti" Sahutnya tanpa rasa takut.
Entahlah, Dika tidak suka pada Pria seperti Yudha yang seenaknya saja, dari cerita Adisti, Dika bisa menebak jika Yudha adalah pria yang sangat arogan dan tidak mau kalah.
Yudha melirik pada Andika, tidak ada emosi yang terpancar namun Adisti tau jika Yudha tengah menahannya.
"Saya tidak akan kesusahan seperti ini jika Adisti mengatakan kepergian nya"
Paman Yus dan Bi Rina Bingung mengahadapi perselisihan antara putra dan menantu mereka.
Tapi jika tidak cepat di atasi maka tidak menutup kemungkinan Yudha dan Dika akan berakhir baku hantam nantinya.
"Sebagai seorang suami, anda tidak seharusnya menyalahkan istri anda seperti ini, itu adalah kesalahan anda sampai istri anda memilih melarikan diri seperti sekarang" Dika tidak suka saat Yudha seolah-olah menyalahkan Adisti di sini.
Yang harus di salahkan adalah Yudha yang bahkan tidak bisa menjaga istrinya dengan baik.
"Begitu kah? siapa kamu bisa berucap seperti itu?"
Adisti menyentuh lengan kekar Yudha saat pria itu mulai kehilangan kontrol nya.
"M-mas, sudah cukup" pintanya memohon.
Adisti juga menatap Andika agar menghentikan perdebatan ini.
"Tuan Maafkan putra kami, atas ke lancangan nya" Paman Yus membuka suara mencoba membantu Adisti menghentikan perdebatan Dika dan Yudha.
Yudha tidak menyangka jika pria itu adalah putra dari paman Yustafa, karena seingat nya dulu mereka hanya memiliki seorang putri angkat, yaitu Adisti.
"Kalau begitu biar aku membawa Mas Yudha istirahat kedalam"
Adisti berpamitan pada keluarga nya dan membawa suaminya kedalam kamar nya.
Sreet!
"Akh! Hmph!"
Yudha mendorong Adisti ke pojok dinding saat mereka sampai kedalam kamar.
Saat ini Adisti tidak bisa bergerak ataupun bersuara karena Yudha membekap mulutnya dengan telapak tangan nya.
"Sudah puas bermain-main nya?"
Yudha berbisik lirih di samping telinga Adisti.
__ADS_1
TBC...