Ibu Sambung Yang Tak Dianggap

Ibu Sambung Yang Tak Dianggap
Dekapan Hangat


__ADS_3

Adisti menundukkan wajahnya tidak berani menatap Dika dan Keluarganya.


"Karena itu saya ingin anda mengelola tanah itu"


Kesalahan Adisti yang menjual tanah peninggalan orangtuanya hanya untuk membayar ganti rugi pada Dara berusaha Yudha bereskan, dia tidak mau jika keluarga istri nya itu mengaggap nya pelit atau tidak peduli dengan Adisti.


"Tapi Tuan, Tanah itu sudah terjual dan akan sangat sulit untuk mendapatkan nya kembali" Paman Yus berucap.


Yudha mengangguk paham, tapi hal seperti itu bukanlah masalah besar untuk nya.


"Paman jangan khawatir, tanah itu akan kembali menjadi milik Adisti, dan setelah itu semua terjadi saya ingin paman lah yang mengelolanya"


Paman Yus melirik sekilas pada sang istri, bagaimanpun tanah itu milik putri angkat mereka tidak ada salahnya kan merawat tanah itu.


"Jika memang berniat membantu, kenapa tidak dari awal kamu melakukannya?" Andika yang sedari tadi diam mendengarkan pembicaraan ayahnya dengan suami dari Adisti akhirnya buka suara.


Jika Yudha memang berniat membantu tidak mungkin Wanita itu sampai harus menjual tanah miliknya seperti ini.


"Dika, cukup" Bi Rina mencegah putra nya agar tidak ikut campur dalam permasalahan ini.


Dika memutar bola matanya kesal Suami dari sahabat nya itu seperti hanya mencari muka saja di sini.


"Itu semua karena kesalahan ku, jika saja aku tidak terburu-buru mungkin Paman dan Mas Yudha tidak akan kesulitan seperti ini"


Adisti semakin menundukkan wajahnya merasa bersalah.


Yudha melirik pada istrinya yang duduk tepat di sebelah nya, dia tidak menyangkal jika semua ini karena Adisti, tapi mungkin saja jika dia lebih memperhatikan wanita itu semua ini tidak akan terjadi.


Grep


Adisti menoleh saat Yudha menggenggam tangan nya lembut.


"Semuanya sudah selesai, kamu tenang saja" Ucapannya menenangkan sang istri.


Di seberang sana ada Paman dan Bibi yang ikut tersenyum bahagia melihat kebahagiaan putri mereka, sedangkan Dika berdecih tidak suka melihat nya.


Mata Adisti berkaca-kaca tidak di sangka pria seperti Yudha mampu bersikap lembut seperti ini.


"Kalau begitu bersiaplah, kita akan pulang"


"Pulang?!"


Bukan Adisti yang bersuara itu, melainkan Bibinya.


"Kalian baru saja kemari, bahkan Nak Yudha belum sempat menginap di sini Bibi mohon menginap lah beberapa hari lagi" Bi Rina merindukan Adisti yang sudah lama tidak dia temui.


Tidak akan dia biarkan Adisti pergi begitu saja tanpa mendapatkan apa-apa dari nya.


"Bibi Saya sibuk, mungkin lain kali" tolak Yudha halus


Adisti pun tidak dapat berbuat apa-apa, jika Yudha sudah berkehendak dia hanya bisa menuruti nya.

__ADS_1


"Sudahlah biarkan mereka pergi, tidak baik meninggalkan Putri mereka terlalu lama sendirian" Sahut paman Yus


Ah! Dia melupakan Acia, Adisti kan menikah dengan seorang duda dan memiliki satu orang putri bagaimana bisa dia lupa?


"Ya sudahlah" Lesu BI Rina masih tidak rela Adisti pergi secepat ini.


Tok! tok!


"Eh ? ada tamu?"


Siapa yang datang malam-malam begini?


"Biar Bibi saja nak" Bi Rina mencegah Adisti yang baru saja akan pergi membukakan pintu.


Adisti mengangguk kemudian membiarkan bibinya membuka pintu.


Sepertinya belakangan ini Keluarga mereka sering kedatangan tamu tidak terduga.


Tap!


Suara langkah kaki terdengar membuat semua yang berada di sana menolehkan kepalanya ke arah suara langkah itu.


Dan benar saja, Satu lagi tamu tidak terduga datang memenuhi rumah mereka.


"Acia?"


.


.


Untuk pertama kalinya mereka bertiga tidur di ranjang yang sama seperti ini, kedatangan Acia di sambut baik oleh keluarganya tanpa tau jika Putri sambungnya itu tidak pernah bersikap baik terhadap nya.


Entah apa sebabnya gadis kecil itu bisa sampai ke sini seorang diri karena kedatangan Acia, Yudha dan Adisti tidak jadi pulang malam ini yang tentu saja mendapat senyum kebahagiaan untuk paman dan Bibi Adisti.


"Tidur Adisti"


Suara serak Yudha membuat Adisti menoleh kan kepalanya pada pria yang tidur di seberang sebelah kirinya.


Pria itu memejamkan kedua matanya seolah-olah telah terlelap, tapi ternyata dia masih bangun.


Adisti melirik pada Acia yang tidur di tengah-tengah antara dirinya dan Yudha.


Tidak di sangka Gadis yang biasa tidur di ranjang empuk dan lebar itu bisa tertidur dengan lelap seperti ini.


"Mas, kamu belum tidur?"tanya Adisti setelah kembali memusatkan pandangan nya pada sang suami.


Yudha membuka kedua matanya kemudian menoleh pada sang istri yang masih menatapnya.


"Saya baru saja akan tidur, tapi seseorang membangun kan saya" Ucap Yudha menatap dalam Adisti.


Adisti memutar bola matanya jengah bilang saja pria itu tidak bisa tidur.

__ADS_1


"Kamu merasa tidak nyaman ya?" tebak Adisti seadanya.


Yudha menggeleng kecil, lalu dengan gerakan perlahan dia menyampingkan tubuhnya ke sebelah kanan, yang berarti langsung menghadap Acia dan Adisti.


"Kenapa kamu berfikir seperti itu?" Tanya Yudha sembari menopang kepalanya agar bisa menatap Adisti dengan jelas.


"Aku akan pindah jika kamu merasa tidak nyaman" Jawab yang tidak di duga-duga oleh Yudha.


Padahal dia merasa sangat senang bisa tidur seranjang dengan istri dan putrinya, tapi sepertinya yang tidak nyaman adalah Adisti.


Merasa moodnya sudah hancur Yudha langsung kembali ke posisinya semula dan langsung memejamkan matanya Erat.


"Mas?"


Kenapa lagi dengan suaminya?


"Tidur Adisti"


Seperti sebuah peringatan akhirnya Adisti tidak lagi mengganggu Yudha dan memilih memejamkan matanya.


.


Tak terasa Malam sudah berganti menjadi pagi, Sinar matahari yang masuk melewati celah-celah jendela tidak mengusik tidur kedua orang yang masih betah berbaring saling berpelukan.


Sang wanita dewasa lebih dahulu membuka kedua matanya saat dirasakannya ada yang melingkar perutnya.


Adisti terkejut melihat Acia memeluk tubuhnya tanpa sadar, bahkan gadis kecil itu semakin mengeratkan pelukannya saat Adisti berusaha melepaskan pelukan mereka.


Mungkin jika Acia sadar sekarang dia akan langsung mencak-mencak dan mengumpat pada nya.


Wajah cantik yang sangat menyerupai ayahnya itu terpejam dengan damai, Adisti jadi tidak tega membangunkannya.


Tiba-tiba saja Acia mengerjapkan matanya seperti akan bangun dari tidurnya, tidak ingin berdebat di pagi hari akhir nya Adisti memejamkan matanya.


"Enghh..."Lenguhan Acia terdengar


Kedua mata itupun akhirnya terbuka lebar dan hal pertama yang di rasakan adalah rasa hangat di tubuhnya, Acia mendongakkan kepalanya dan betapa terkejutnya dia ternyata yang di pelukannya adalah Ibu sambung nya, Adisti.


Untuk sesaat Acia tidak bergerak hanya ingin merasakan rasa hangat yang tidak pernah dia rasakan.


'Apa dia masih tidur?' Acia bertanya-tanya dalam hati.


Tapi mendengar dengkuran halus dari Adisti, tidak mungkin wanita itu sudah bangun.


Grep


Adisti tersentak kaget merasakan bagaimana Acia memeluk dirinya begitu erat. bahkan gadis itu menenggelamkan wajahnya di dada Adisti seperti mencari perlindungan dari ibu sambungnya itu.


Senyum terbit di bibir nya merasakan bagaimana putri sambungnya kini memeluk dirinya.


'Aku berharap bisa terus seperti ini bersama putri ku. Tuhan'

__ADS_1


TBC....


__ADS_2