
Yudha yang tengah duduk di kursi taman dengan segelas kopi di tangan memperhatikan dari jauh saat istrinya itu tengah sibuk dengan Selang air nya, setelah mereka istirahat di kamar tadi istrinya itu langsung pergi ke kebun untuk menyirami tanaman.
Dan sampai sekarang tidak ada tanda-tanda istri nya akan menghampiri nya di sini.
Adisti bebas mengabaikan Yudha karena tidak ada Eyang di rumah, seperti biasa Eyang selalu mengunjungi panti miliknya jika di hari-hari seperti ini.
"Kamu tidak ingin duduk?" Yudha sedikit berteriak agar istrinya mendengar apa yang ia ucapkan.
Adisti menggeleng tanpa menoleh kebelakang.
Yudha merasa heran dengan tingkah wanita itu akhir-akhir ini, jika biasanya Adisti sangat penurut sekarang wanita itu selalu melakukan sesuatu yang berlawanan dengan perintah nya.
"Istirahat Adisti" Akan menjadi masalah jika Eyang melihat Adisti berdiri di tengah-tengah terik matahari seperti itu.
"Sebentar!" Lihat bahkan jawaban wanita itu sangat kasar tidak seperti Adisti yang biasanya.
Yudha bangun dari duduknya lalu berjalan menghampiri istrinya, sejak tadi mereka belum makan siang dan jika menunggu lebih lama lagi Yudha tidak bisa.
"Ayo Makan" ajaknya pada sang istri
"Tidak Mas, nanti saja" Tolak nya saat Yudha berusaha mengambil selang air di tangan nya.
Tatapan Yudha menggelap dia sangat tidak menyukai orang yang melawan nya seperti ini, terutama jika itu Adisti.
"Adisti!"
Yudha berteriak pada istrinya karena wanita itu tidak mau mendengarkan dirinya.
Mata Adisti berkaca-kaca mendengar bentakan suaminya barusan, kenapa Yudha sampai berteriak seperti itu padanya?
"Hiks!"
Selang di tangan Adisti jatuh begitu saja ketika pemilik nya menggunakan kedua tangan untuk menutup wajahnya yang berderai air mata.
"Huhuhu, hiks" sakit rasanya saat suaminya membentak nya seperti tadi.
Yudha kelimpungan ketika Adisti menangis tersedu-sedu karena bentakan nya barusan, di sekitar sana bukan hanya ada mereka saja tapi pelayan lain juga ada, bagaimana jika mereka mengadu pada Eyang?
"Hey? Maaf ok?"
Grep
Yudha menenangkan istrinya dengan cara menepuk lembut punggung sang istri lembut, bahkan Adisti masih bergetar hebat walaupun sudah ia tenangkan.
"Yudha? ada apa?"
Sial!
Eyang datang dan memergoki Menantu nya menangis sesegukan karena dirinya.
__ADS_1
Wanita Tua itu berjalan mendekati Adisti yang sedang menangis dalam pelukan Yudha.
"Apa yang kamu lakukan?!"
Apa yang harus dia katakan? biasanya Adisti tidak sampai menangis seperti ini saat dia membentak ataupun berucap pedas padanya, lalu kenapa sekarang istrinya itu jadi lembek seperti ini?
"Aku hanya menyuruhnya makan siang Eyang, tapi dia menolak" Yudha semakin mengeratkan pelukannya saat sang istri berusaha melepaskan pelukan mereka.
Jangan sampai Adisti mengadu pada Eyang.
"Tidak mungkin hanya seperti itu!" Adisti adalah wanita yang sangat kuat tidak mungkin dia bisa menangis sampai seperti ini jika Yudha tidak membuat masalah.
"Terserah jika eyang tidak mau percaya"
"Hmph! Le-lepas!"
"Yudha lepaskan Adisti, dia kesulitan bernafas"
Tangisannya sudah berhenti dari tadi tapi suaminya itu sama sekali tidak mau melepaskan pelukannya.
"Tidak! jika aku lepaskan dia akan berkata macam-macam" kekeuh Yudha masih mempertahankan Adisti di pelukan nya.
Air mata yang semula sudah berhenti kembali menetes karena rasa sesak akibat pelukan Yudha, badan nya sudah terasa tidak enak sejak bangun tidur tadi di tambah lagi dia belum mengisi perutnya, tapi Yudha malah menambah beban nya dengan pelukan erat.
"Adisti!"
Samar-samar Adisti bisa mendengar suara Eyang dan Yudha berteriak memanggil nya, tapi karena rasa pusing yang begitu kuat Adisti tidak bisa menahan kegelapan yang semakin merenggut kesadarannya.
.
.
Di sebuah apartemen Mewah yang terletak di tengah-tengah kota Acia tengah menghabiskan waktunya bersama sang ibu yang akhirnya memiliki waktu bersama dengan nya.
Kedatangan Acia ke apartemen Dara sangat di sambut baik oleh wanita itu apalagi mereka tidak bertemu dalam waktu yang lama.
"Sudah?"
Acia mengangguk kemudian menyerahkan PR nya untuk di periksa oleh ibunya.
Dara mengecek dari atas sampai bawah pekerjaan rumah milik putri nya, dia tersenyum puas saat melihat semua jawaban putri nya itu tidak meleset sama sekali.
"Seperti biasa, Putri cantik Mommy sangat cerdas" Puji Dara pada Acia.
"Terimakasih Mommy"
Memang tidak bisa di ragukan lagi gen Yudha dan Dara menghasilkan Bibit cerdas seperti Acia,
Acia tersenyum pada sang ibu lalu dia kembali melanjutkan pelajaran nya yang tertunda.
__ADS_1
Janda satu anak itu memperhatikan sang putri.
Tidak ada kekurangan sama sekali dari yang terakhir kali ia lihat, sepertinya Ibu sambung Cia sangat memperhatikan Kesehatan Acia terbukti melihat tubuh yang dulunya sedikit lebih kurus sekarang mulai berisi kembali.
"Acia"
"Yes Mom?" Sahut Cia walaupun matanya masih fokus pada Alat tulis nya.
Dara mengigit bibirnya gugup, apakah dia harus bertanya? tapi jika bertanya ia takut dengan jawaban yang keluar dari bibir mungil itu.
"Bagaimana dengan Ibu baru mu?" Tanyanya pada akhirnya.
"Dia baik" Jawab Acia seadanya, karena memang itulah yang terjadi.
"Begitu?" Gumam Dara, ada rasa tidak rela jika putri nya mulai bisa menerima ibu Sambung nya.
"Oiya, Mommy kenal Delina kan?" Acia meletakkan alat tulis nya kemudian mulai fokus bicara pada sang ibu.
Dara terlihat berfikir siapa itu Delina, kemudian wajah seorang anak perempuan dengan rambut Bob terlintas di kepalanya.
"Yes, mommy ingat memangnya ada apa?" Tanya Dara penasaran tidak biasanya putri nya membicarakan teman sekolah nya.
"Delina bilang sebentar lagi dia akan punya Adik" Ucap nya sedikit bersemangat.
Melihat gelagat anaknya yang sepertinya sangat tertarik dengan Adik membuat Dara sedikit khawatir.
"Really?"
Anggukan penuh antusias di berikan Acia.
"Aku juga ingin punya Adik Mommy" Ucapnya spontan, tidak menyadari jika Sang ibu tidak mengharapkan ucapan yang barusan terucap dari bibir putri nya.
Dara masih tidak rela jika Adisti memberikan seorang anak untuk Yudha, pikiran-pikiran buruk hinggap di kepalanya agar kesempatan itu tidak terjadi.
"Sayang, kamu tau kan itu akan sulit?"
Acia mengernyit tidak mengerti.
"Mommy dan Daddy sudah tidak bersama sayang, satu-satunya cara adalah meminta nya langsung pada....Mom Adisti" Sedikit ada rasa tidak rela jika Acia pada akhirnya akan memanggil Adisti dengan sebutan ibu.
"Aku rasa tidak masalah" lagi-lagi Jawaban tidak terduga keluar dari bibir mungil Cia.
"Tapi sayang, kamu tidak takut memiliki adik dari Adisti?"
Tatapan penuh hasutan di berikan Dara pada putrinya, sepertinya gadis itu mulai tertarik dengan alasan mengapa dia harus takut memiliki adik dari Adisti.
"Kenapa harus takut?"
"Bayangkan saja jika nanti kamu pun adik, apakah Daddy masih akan peduli pada kamu? di tambah lagi adik mu akan lahir dari Mom Adisti" Dara tersenyum tipis melihat keraguan yang semakin besar terlihat di wajah Acia.
__ADS_1
Acia tidak pernah berfikir sampai sana, karena yang dia pikirkan hanyalah keinginan nya punya adik.
TBC.....