
Yudha memejamkan kedua matanya dengan nyaman menikmati usapan lembut istrinya di rambutnya yang basah.
Mereka baru saja selesai mandi bersama-sama di tengah malam.
Adisti berkali-kali menguap lebar saat mengeringkan rambut Yudha, walaupun habis mandi air dingin di tengah malam tidak membuat kantuk nya menghilang begitu saja.
"Sudah" Ucap Adisti setelah selesai dengan kegiatannya.
Baru saja akan meninggalkan Yudha dan kembali tidur di sofa kesayangan nya, pria itu terlebih dahulu menarik sang istri untuk duduk di kasur bersamanya.
"Tidur di sini"
Adisti menatap Yudha dengan mata sayu nya.
"Hm"
Tanpa basa-basi Adisti langsung menidurkan tubuhnya di kasur empuk itu.
"Adisti?"
Suara dengkuran halus terdengar teratur keluar dari bibir Istrinya.
"Selamat Malam"
Cup
Yudha memberikan kecupan di sudut bibir Adisti.
.
.
Rumah besar milik Yudha sekarang terasa sangat kosong setelah Tuan dan Nona besar pergi sejak pagi tadi, Tari sedang membantu Adisti menjemur pakaian di belakang rumah.
Sedangkan pelayan lain mengerjakan pekerjaan rumah bagian dalam.
Angga juga tidak ada karena pria itu pergi mengantar Yudha ke kantornya.
"Menurut Mbak bagaimana?"
Adisti berfikir sembari menggantung pakaian basah milik Suami dan Putri angkat nya.
"Kalau kamu merasa tidak cocok lagi sebaiknya berhenti" usul Adisti.
Saat ini Tari sedang membicarakan mengenai kekasih nya yang sudah di pacarinya selama setahun lebih lamanya, Nama pria itu Doni.
Belakangan ini Tari mengatakan jika Doni bersikap acuh padanya, bahkan mereka sering bertengkar belakangan ini.
"Tapi aku sangat mencintai nya mbak" Tari tidak mungkin melepaskan pria seperti Doni begitu saja.
"Begini saja, mm....apa penyebab renggang nya hubungan kalian?"
Sebuah permasalahan pasti memiliki akarnya maka dari itu Adisti mencari tau terlebih dahulu permasalahan apa yang kedua pasangan itu alami.
Tari terlihat berfikir sebentar sebelum sebuah ingatan terlintas di benak nya.
"Sepertinya saat aku dan Angga pergi belanja bulanan bersama, Mbak"
Karena Tidak ingin merasa canggung dengan Angga, Adisti menyuruh Tari menggantikan nya untuk berbelanja.
Jadi sepertinya dia juga termasuk orang yang membuat hubungan Tari dan Doni renggang.
"Doni cemburu" tebak Adisti
__ADS_1
Tari menghela nafas, "Sepertinya begitu"
Adisti tersenyum tipis hubungan seperti yang Tari jalani tidak se sakral hubungan nya dengan Yudha, mungkin mereka bisa putus nyambung menghadapi nya.
Berbeda dengan hubungan pernikahan yang tidak akan pernah terputus kecuali perceraian.
Dan Adisti bukan Wanita yang ingin pernikahan hancur begitu saja Hanya karena masalah sepele.
Adisti mengambil Baskom kosong dari tangan Tari membawanya kedalam genggaman nya.
"Sudah sana, hari ini kamu boleh berkencan dengan Doni"
Tari mengerjapkan matanya
"Maksudnya?"
"Pergilah dan perbaiki hubungan kalian berdua" Sambungannya lagi, tersenyum lebar pada Tari.
"Aaa! Mbak terimakasih"
Grep
Tari memeluk tubuh Adisti dengan perasaan riang gembira.
"Tapi Mbak bukan boss yang bisa mengijinkan Pembantu nya cuti kan?" Tati berucap setelah melepaskan pelukannya dari Adisti.
Ah! seandainya Tari tau jika dia adalah nyonya rumah ini sekarang.
"Aku yang akan menanggung nya"
Gadis muda itu menatap Adisti haru kemudian dia memeluk Mbak nya sekali lagi sebelum berlalu menuju gerbang untuk pulang ke rumah.
Adisti menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Tari.
"Tari kemana?"
Adisti sedikit terlonjak kaget mendengar suara Angga di belakangnya.
Semenjak insiden pria itu ingin melecehkan nya, Adisti selalu merasa was-was saat Angga muncul dengan tiba-tiba di belakangnya seperti ini.
"Di-dia baru saja pulang tadi" jawab Adisti seadanya.
Angga menegak air putih yang baru saja ia ambil dari teko, sebenarnya dia tidak peduli kemana Tari pergi dia hanya ingin berbicara dengan Adisti saja.
"Begitu?" Angga mengangguk kan kepalanya mengerti.
"Berarti tidak ada yang membantu menyiapkan makan siang?" Tanya Angga tiba-tiba saja terdengar antusias.
"Mm, aku dan bibi saja sudah cukup" Ucapan Adisti langsung membuat Angga merasa tertolak seketika.
"Padahal aku ingin membantu" Ucap Angga kecewa.
Adisti tidak tega melihat wajah pria di depannya memelas seperti itu, tapi apa boleh buat jika ingin masak dengan damai Angga harus menjauh dari nya.
.
.
Tok! tok!
"Permisi Tuan"
Yudha yang tengah duduk di kursi kebesaran di depan layar komputer langsung mendongak ke arah asisten nya.
__ADS_1
"Ya?"
"Nyonya Besar datang berkunjung" Ucap Asisten Yudha
Eyang?
Yudha mengerenyitkan dahinya heran tidak biasanya neneknya berkunjung ke kantor seperti ini, Ada apa?
"Ijinkan Eyang masuk"
Asisten tersebut Keluar dari ruangan nya setelah itu muncullah seorang wanita Tua yang masih terlihat bugar masuk kedalam ruangan nya.
Eyang Sari datang berkunjung....
Yudha berjalan menghampiri Eyang Nya lalu menuntun wanita tua itu untuk duduk di Sofa yang tersedia di ruangan nya.
"Semuanya baik-baik saja kan?"Yudha bersuara menanyakan kedatangan Eyang nya tiba-tiba.
Eyang Sari mendengus mendengar pertanyaan Cucunya.
"Apakah harus ada hal buruk dulu baru bisa mengunjungi cucu sendiri?" Sahutnya
Yudha memijit pelipisnya, Selalu seperti ini jika neneknya datang dan berbicara dengan nya.
"Eyang tau maksud ku"
"Malam ini ada undangan pesta dari salah-satu rekan bisnis kita" Eyang mulai menjelaskan maksud kedatangannya.
Ah ia ingat tentang undangan tersebut bagaimana bisa eyangnya mengetahui undangan tersebut?
"Kamu pasti hadirkan?" Karena rekan bisnis tersebut kebetulan adalah salah satu pemilik saham di perusahaan mereka.
"Aku Masih memikirkan nya Eyang" Jawab Yudha seadanya, karena memang banyak pekerjaan yang tertunda sehingga dia sangat repot belakang ini.
"Apa lagi yang kamu pikirkan?"
"Maksud Eyang?"
"Ini kesempatan kamu untuk memperkenalkan Adisti pada Orang-orang" Ucap Eyang tak terduga.
Rencana Wanita tua itu adalah membuat Agar Cucu dan menantunya bisa tampil bersama di depan publik sebagai sepasang suami-istri yang sah.
Selama ini Dia sudah bersabar menghadapi Yudha yang masih tidak ingin memperkenalkan istrinya sendiri pada semua orang, sudah saatnya Adisti muncul sebagai istri dari seorang Yudhakara.
"Tidak bisa Eyang" Yudha tanpa sadar meninggikan suaranya.
"Aku akan memperkenalkan Adisti nanti, Bukan sekarang" Lanjutnya lagi.
Eyang Sari menatap cucunya kecewa sebegitu memalukan nya kah memiliki Adisti sebagai seorang istri?
"Kamu keterlaluan Yudha! Adisti itu istri mu! tapi kamu malu mengakui nya?, Eyang tidak mengerti dengan apa yang ada dalam pikiran mu itu" Eyang menghempaskan tubuhnya ke sandaran sofa, hanya berbicara dengan Yudha seperti ini saja dia sudah lelah.
"Bukan seperti itu Eyang, Aku hanya menunggu sampai waktu yang tepat untuk memperkenalkan Adisti"
Yudha bukannya tidak mau mengenalkan Adisti sebagai istrinya, tapi karena dia adalah pengusaha ternama akan berakibat buruk jika wanita yang ia nikahi hanyalah seorang babysitter biasa, apa yang akan orang-orang katakan nanti nya?
"Kamu tidak bisa mengelak lagi Yudha kamu pikir Eyang tidak tau kalau kamu memperkenalkan Adisti hanya sebagai seorang pembantu!"
Yudha terkejut darimana eyangnya mengetahui hal itu?
"Bahkan hanya di dalam rumah kamu tidak mengakui wanita itu sebagai istri mu, Nak"
Eyang Sari merasa kecewa dengan kebenaran yang baru-baru saja ia ketahui.
__ADS_1
TBC....