Ibu Sambung Yang Tak Dianggap

Ibu Sambung Yang Tak Dianggap
Destiny


__ADS_3

Semua orang berkumpul di depan ruangan UGD dimana eyang tengah berjuang di dalam sana, tidak ada yang menyangka jika eyang akan kembali drop setelah sebelumnya sempat sadar dan berbincang beberapa kata pada mereka.


Eyang mengalami gagal jantung dan di dalam sana dokter berusaha untuk menyetabilkan kondisi eyang kembali.


Doa mereka semua sematkan untuk kesembuhan eyang sari di dalam sana Bahkan Paman dan Bini Adisti turut hadir bersama dengan Andika.


Hingga akhirnya Dokter keluar dari ruangan dengan wajah penuh rasa bersalah.


"Bagaimana Dokter?" Yudha menghampiri dokter yang bertugas mengobati eyang.


Yudha menjatuhkan tubuhnya ke kursi saat dia tau apa yang ingin dokter sampai kan padanya.


"Mohon maaf Tuan, nyonya besar tidak bisa di selamat kan"


Deg


Semua orang yang ada di sana tidak bisa menahan rasa terkejut mereka, terutama Yudha yang terlihat paling syok di antara yang lain.


"Sabar Mas" Adisti mengusap punggung suaminya, berharap Yudha bisa lebih tabah lagi dengan apa yang baru saja ia alami.


"Saya akan mengurus proses kremasi nyonya besar"


"Mari dokter" Angga yang juga berada di sana berinisiatif untuk membantu mempercepat proses kremasi Eyang.


Sedangkan Yudha tidak melakukan apapun, pria itu terdiam dengan tatapan kosong.


Bi Ida mengajak nona mudanya pergi membiarkan Adisti dan Tuannya berdua saja.


"Bibi aku ingin bersama Daddy dan Mama" Rengek Cia tidak ingin pergi dari sana.


"Nona, biarkan Tuan sendirian dulu ya"


Dengan terpaksa gadis kecil itu menyetujui permintaan pengasuh nya, akhirnya mereka meninggalkan Yudha dan Adisti di sana berdua saja.


"Ayo kita lihat eyang di dalam" ajak Adisti pada suaminya.


Yudha tidak menjawab tapi dia juga tidak menolak saat istrinya menuntun nya menuju ruang UGD tempat eyang menghembuskan nafas terakhirnya.


Tubuh Tua eyang di tutupi dengan kain putih dari kaki hingga ujung kepala menegaskan bahwa eyang benar-benar hanya meninggalkan jasadnya saja.


Dengan tangan bergetar Yudha membuka kain penutup eyang.


Air matanya mengalir begitu saja ketika dia melihat wajah pucat eyang tidak lagi bernafas.


Adisti menutup mulutnya menahan Isak Tangis yang ingin keluar dari bibirnya, di tambah lagi Bagaimana suaminya yang tegas itu kini bergetar hebat karena tangisannya.

__ADS_1


"Eyang....."


Puas menangisi kepergian nenek nya Yudha kemudian menutup kembali kain yang sebelumnya ia buka.


"Melihat eyang terbaring seperti ini, membuat aku sadar jika eyang benar-benar sudah tua" Ucap Adisti


Eyang semasa hidupnya sama sekali tidak terlihat seperti wanita yang telah memiliki cicit, karena eyang yang Adisti kenal adalah wanita yang sangat kuat dan tegas, sehingga itu semua menutupi jika eyang adalah wanita yang berumur hampir delapan puluh tahun.


.


.


Isak Tangis mengiring kepergian Eyang menuju pemakaman, seluruh keluarga besar turut hadir menemani eyang ke peristirahatan terakhirnya, bahkan semua rekan bisnis mereka juga ikut mengiringi kepergian eyang.


"Kami turut berdukacita tuan Yudha" Rekan bisnis Yudha memberikan rasa berdukacita mereka pada sang tuan rumah.


Entah itu hanyalah basa-basi ataupun hanya sebuah formalitas saja Yudha tidak peduli dengan itu, setidaknya pemakaman eyang berjalan lancar itu sudah cukup untuk nya.


"Silahkan di minum"


Adisti dan para pelayan menyediakan minuman dan makanan ringan untuk para tamu yang hadir dalam pemakaman eyang beberapa saat lalu.


"Ah terimakasih nyonya Yudha?"


Sebuah ucapan terimakasih yang mengandung banyak pertanyaan di ucapkan oleh salah satu rekan bisnis Yudha.


"Haha, kami tidak yakin karena Hanya mendengar desas-desus saja mengenai istri tuan Yudha" ucap salah seorang dari mereka.


Wanita berpakaian glamor tadi tertawa kecil sembari menutup mulutnya anggun.


"Wajar saja kalian tidak tau, karena menantu kami ini hanyalah seorang pem-


"Bibi!"


Semua orang langsung terdiam mendengar nada tinggi Yudha yang sedari tadi diam.


"Adisti sebaiknya kamu temani Aksa di kamar"


Pilihan buruk membiarkan Adisti bersama dengan wanita ular seperti Bibi nya, akan gawat jika ada yang mendengar rumor buruk mengenai istrinya nanti.


Tidak masalah jika semua tau Adisti adalah seorang pembantu dulu, tapi akan lebih baik jika rahasia itu di simpan saja dari pada harus di pamerkan.


"Terimakasih atas belasungkawa kalian semua, tapi akan lebih baik lagi jika kalian pergi sekarang" Yudha berucap datar.


Para petinggi yang ada di sana merasa tersinggung dengan Yudha yang seolah-olah mengusir mereka dari sana.

__ADS_1


"Yudha!" Bibi dari Yudha menegur keponakan nya yang berperilaku tidak sopan.


"Anda mengusir kami?"


Yudha memijit pelipisnya yang tiba-tiba saja menjadi pusing saat berhadapan dengan orang-orang angkuh itu.


"Tuan-tuan sekalian, mohon maaf bukan maksud nya seperti itu, karena beberapa hari ini Yudha Sibuk mengurus kremasi eyang dia tidak sempat istirahat sama sekali, mohon pengertiannya setidaknya sebagai seorang yang tau rasanya di tinggal oleh satu-satunya keluarga yang dia miliki, biarkan dia istirahat sejenak" Andhika datang tiba-tiba saja lalu memotong pembicaraan mereka.


Dia tau betul bagaimana Yudha sangat terganggu dengan keberadaan orang-orang yang hanya ingin berbasa-basi itu.


Bibi dari Yudha terlihat tidak suka dengan kehadiran Andhika, perkataan pria itu mengenai satu-satunya keluarga yang Yudha punya, apa maksud pria itu dia dan suaminya bukan keluarga Yudha?


"Baiklah kami kira anda membutuhkan waktu untuk berdukacita Tuan, kalau begitu kami permisi"


Yudha menoleh pada Dika kemudian suami Adisti itu berterimakasih pada nya.


"Begitulah menjadi orang kaya, kamu harus hidup dengan rasa kasihan yang tidak tulus" ucap Andika kemudian berbalik pergi entah kemana.


.


Di kamar nya Adisti kerepotan dengan Aksa dan Acia yang menangis.


Untung saja bibi nya membantu mengurus kedua putra-putri nya itu, kalau tidak entah apa yang akan terjadi nanti.


"Kenapa eyang pergi ma?" Gadis kecil itu tidak berhenti-henti nya bertanya mengapa Eyang nya pergi.


Dia sudah kesibukan dengan Aksa yang berada di dalam gendongan nya di tambah lagi Acia yang tidak henti-hentinya bertanya.


Rasanya dia ingin menangis di sini.


"Nak, Eyang pergi karena sudah waktunya" Adisti mengelus lembut wajah penuh air mata putri nya.


Bi Rina tidak bisa melakukan apapun, melihat cara Adisti menangani kedua anaknya Sangat membuat nya bahagia.


Gadis yang dulu selalu menangis di pelukan nya kini bisa menenangkan anaknya sendiri.


Klek


"Mas?" Adisti melihat Yudha masuk kedalam kamar mereka.


"Kalau begitu biar bibi bantu orang di dapur ya?" Adisti mengangguk membiarkan bibinya pergi.


Karena wanita itu tau jika Yudha pasti juga membutuhkan dirinya sekarang.


"Ingin bergabung?" Adisti menawari Yudha untuk ikut bergabung bersama dengan Acia dan Aksa yang tengah memeluknya.

__ADS_1


Tanpa di duga pria tampan itu mengangguk dan menghambur kedalam pelukan istrinya.


TBC....


__ADS_2