
Semua orang terkejut dengan pengakuan yang barusan Yudha Katakan dengan tiba-tiba, bagaimana mereka tidak terkejut jika Yudha langsung mengatakan jika Adisti adalah istrinya.
Yang mereka kira selama ini Yudha adalah seorang dudu tanpa istri, tapi ternyata?
Tari dan kedua pelayan yang semula meragukan Adisti langsung terdiam seketika, terutama pelayan yang berani mendorong Adisti hingga terluka.
"Saya kira menyembunyikan hubungan saya dan Adisti dari kalian akan berdampak baik bagi Adisti sendiri, tapi ternyata saya salah" Yudha melipat tangannya di atas dada lalu menatap para pelayan yang berdiri di depannya dengan tatapan tajam.
Adisti yang duduk di sebelah suaminya jadi merasa tegang sendiri, tidak pernah dia sangka jika Yudha akhirnya membeberkan status nya pada para pelayan.
"Entah hanya perasaan saya atau memang pelayan di rumah ini terlalu banyak?" Yudha memandang satu-persatu pelayan nya.
Sudah ada 7 orang yang bekerja di rumah nya termasuk Adisti, dan sepertinya ada lebihan pelayan yang tidak di perlukan. Menurutnya BI Ida dan Adisti saja sudah cukup mengurus rumah ini.
Lalu Angga dan tukang kebun juga dia perlukan, dan sisanya tidak berguna.
"Kalau begitu Saya hanya akan memperkerjakan beberapa dari kalian dan sisanya.....Maaf sekali tapi kalian harus pergi" Ucap Yudha.
Para pelayan tidak bisa berkata-kata saat Yudha mengeluarkan ucapan nya, jika mereka di pecat dimana lagi harus mencari pekerjaan?
Adisti menatap suaminya dengan tatapan Beragam.
Bruk!
"Tuan, tolong jangan pecat kami" Pelayan yang sebelumnya sudah menyebarkan rumor mengenai Adisti langsung jatuh berlutut memohon pada Yudha.
"Benar Tuan, kami tidak tau harus bekerja dimana lagi" Ucap satunya menimpali.
Yudha sama sekali tidak terlihat peduli pada kedua pelayan itu, sebenarnya dia tidak masalah memperkejakan banyak tenaga kerja di rumahnya.
Tapi melihat perlakuan kedua wanita itu terhadap istrinya sungguh tidak bisa ia maafkan.
"Mas, apa itu tidak berlebihan?" Bagaimana pun Adisti sangat tau betapa Sulitnya mencari pekerjaan di kota besar ini.
Yudha menoleh pada Adisti
"Apanya yang berlebihan? bukanya itu bagus untuk menghemat pengeluaran?" Yudha tersenyum miring melihat ekspresi Adisti yang seperti menjadi salah satu yang akan ia pecat.
Adisti mengalihkan perhatian nya pada Tari dan satu orang wanita paruh baya, memang selain Kedua pelayan yang tengah berlutut itu Tari dan Wanita paruh baya tersebut juga tidak banyak mengerjakan pekerjaan rumah.
Tapi tetap saja keberadaan mereka sangat membantu di rumah ini.
"Bagaimana jika mereka di pindahkan ke rumah Eyang?" celetuk Adisti yang langsung mendapatkan perhatian dari semua orang.
"Kamu mau Eyang yang mengurus pelayan nya?" Bisa-bisa jika mereka di pindahkan ke rumah utama, bukannya Bekerja mereka malah menyuruh nyuruh eyang nanti.
"Mas, Eyang pasti tidak akan membiarkan itu terjadi, lagipula aku masih membutuhkan Tari untuk memasak di dapur" Adisti menatap Tari yang sedari tadi menunduk.
Wanita itu mendongak kan wajahnya saat namanya di sebut oleh Adisti, apakah Adisti membantu nya? di saat dia sudah berfikiran buruk padanya Adisti tetap membantu dirinya.
"Kamu dan Bi Ida saja sudah cukup untuk mengurus dapur " Sahut Yudha.
"Mas!" rengek Adisti tanpa sadar, langsung mendapatkan sorotan penuh ke irian dari para pelayan.
Betapa beruntungnya Adisti mendapatkan Suami seperti Yudha.
__ADS_1
Yudha terkekeh mendengar rengekan Adisti, sepertinya sudah lama sekali di tidak mendengar rengekan itu.
"Baik-baik, Kecuali Bi Ida, Angga, Tari dan paman Gusti, Kalian akan saya pindahkan ke rumah utama " Final Yudha.
Mereka yang di pindahkan sedikit merasa lega karena tidak jadi di pecat.
"Pergilah"
Kedua pelayan yang sempat cekcok dengan Adisti tidak meninggalkan tempat, mereka terlebih dahulu menghampiri Adisti untuk meminta maaf dan Mengucapkan terimakasih pada Wanita itu.
"Hilangkan sifat buruk kalian itu ya?" Nasehat Adisti pada kedua pelayan yang memang lebih muda dari nya.
"Baik sekali lagi terimakasih banyak Nyonya"
Adisti menatap para pelayan yang baru saja menemui nya.
Grep
"Mas?"
Yudha memeluk tubuh Adisti dari belakang, sekarang mereka tidak perlu sembunyi-sembunyi hanya untuk bermesraan seperti ini, dan Yudha baru merasakan kebebasan seperti ini.
"Kamu sengaja?" tanya Yudha, dagu pria itu bertengger nyaman di bahu sang istri.
"Sengaja?" Adisti pura-pura tidak mengerti.
"Bukankah kamu tau, lebih baik bekerja di tempat lain dari pada di Rumah Eyang?" Tebak Yudha.
Adisti tersenyum mendengar tebakan Yudha yang sama sekali tidak meleset.
"Itu pantas untuk mereka" Jawab Adisti menikmati pelukan hangat Yudha.
Adisti mengerutkan dahinya heran saat dia merasa jika ini bukan waktu nya Yudha pulang.
"Mas kamu tidak bekerja?" Tanya Adisti heran.
"Bekerja" Yudha menjawab dengan malas, menghirup aroma Adisti yang sudah lama tidak ia rasakan sangat lah menyenangkan.
"Tumben jam segini sudah pulang?"
"Kamu tidak Suka saya pulang?" Yudha agak tersinggung dengan pertanyaan Adisti yang seolah-olah tidak menyukai kepulangan nya.
"Bukan seperti itu! rasanya aneh saja melihat kamu di rumah jam segini" jawab Adisti.
"Sudahlah, saya mau menjemput Acia dulu"
Yudha melepaskan pelukannya dari sang istri.
"Jangan lupa mampir ke kedai di seberang jalan Mas" Adisti mengingat kan yudha.
"Memangnya ada apa?" Tanya nya heran.
"Acia sangat menyukai Waffle di sana"
.
__ADS_1
.
Seperti perkataan Adisti tadi sebelum dia menjemput Acia, Yudha benar-benar memberhentikan mobilnya di kedai yang di maksud oleh Adisti.
"Daddy tau tempat ini?" Tanya Acia heran, dia kira hanya Adisti dan dirinya lah yang tau kedai ini.
"Hm, kamu menyukai Waffle di sini kan?"
Sepertinya Yudha tau kenapa Adisti memintanya mengajak Acia kemari, istrinya itu tau dengan mengajak Acia kemari hubungan mereka akan sedikit membaik.
Terbukti ketika melihat ekspresi senang yang begitu kentara dari Putri nya.
"Ayo masuk" ajak Yudha.
Kling!
Pintu yang Yudha buka menimbulkan bunyi kemericing.
"Selamat Datang! eh? Tuan Yudha?"
Yudha yang baru saja memasuki toko langsung merasa heran ketika Wanita pemilik kedai mengenali dirinya.
Dia menerima uluran tangan yang Serina ajukan.
"Tidak menyangka bisa bertemu dengan anda di sini"
"Oh? Nona kita bertemu lagi?" sapa nya dengan Acia.
"Maaf anda mengenali saya dan Putri saya?" tanya Yudha bingung, sepertinya dia tidak pernah melihat wanita di depannya ini.
Serina tertawa canggung apakah dia terlalu sok kenal?
"Saya mengenal anda dari suami saya Tuan" jawab Serina.
Yudha mengerutkan keningnya, siapa suami wanita ini?
"Arga Wahyutama, anda mengenal nya?"
Ah Yudha mengingat rekan bisnisnya itu, karena mereka jarang bertemu apalagi membahas masalah rumah tangga jadi Yudha tidak tau jika Arga adalah suami dari wanita di depannya ini.
"Dan untuk nona Cia, kami bertemu saat Nona Cia datang bersama pelayan nya"
"Pelayan?" kerut Yudha.
Dia seperti orang bodoh di pembicaraan ini.
"Adisti, di mengatakan hanya pelayan di rumah anda, benarkah?"
Serina menelan ludahnya melihat perubahan ekspresi Yudhakara seorang pria yang sangat di kenal arogan 11-12 dengan suaminya, apakah perkataan nya salah?
"Adisti bukan pelayan, dia istri saya"
Dong!!
TBC.....
__ADS_1