
Beberapa hari ini Ayah nya jarang menemani nya makan malam bersama ibunya juga begitu, Dara sibuk di rumah sakit sampai beberapa hari ini tidak menemuinya.
Lalu ayahnya yang biasanya menemani nya kini juga ikut menghilang.
Acia melirik pada Adisti yang tengah menyapu lantai di sekitarnya, rasa tidak sukanya pada wanita itu kini tumbuh lagi.
Apalagi saat dia merasa jika Penyebab ayahnya jarang bersamanya itu karena keberadaan Adisti, seperti kemarin mendapat kabar dari Bi Ida jika Ayahnya tidak bisa ikut makan malam, Acia langsung pergi menemui ayahnya di kamar.
Pemandangan yang tidak sengaja ia lihat sungguh membuat nya marah.
Ayahnya tengah membantu Adisti memakai pakaian nya, padahal wanita itu terlihat sehat tapi kenapa harus di pakaikan baju oleh ayahnya?
Lihat sekarang? bahkan Adisti bisa membersihkan rumah ini seorang diri tanpa bantuan pelayan lain.
"Acia!!"
Sebuah suara yang sangat di kenal nya, Acia langsung menoleh dan benar saja Dara datang sambil menenteng sebuah kantung belanjaan.
"Mommy!"
Mantan istri Yudha tersebut duduk di sebelah putri nya, hanya melirik sekilas Adisti yang kebetulan ada di sana.
"Maaf belakangan ini Mommy sangat sibuk" Dara membelai rambut lebat putri nya.
Padahal putri nya baru saja sembuh tapi dia sudah harus di sibukkan dengan pasiennya.
"Aku kesepian Mom, beberapa hari ini aku makan malam seorang diri" Adunya pada sang ibu.
Adisti mendengarkan saja bagaimana Acia mengadu pada ibunya, dia jadi merasa bersalah pada gadis itu. beberapa hari yang di maksud Acia itu pasti saat Yudha tengah bersamanya.
Dara mengerutkan keningnya, memangnya Yudha kemana?
"Kenapa bisa?"
"Seperti nya Daddy mulai terpengaruh oleh seseorang" Acia melirik sinis Adisti.
Acia seperti tengah menyindir seseorang, Dara langsung menengok kearah pandang putri nya.
Sekarang Dara mengerti, dalam hati dia tersenyum senang Acia kembali terlihat tidak suka pada Adisti.
"Adisti!"
Wanita yang tengah menyapu lantai itupun langsung menghampiri Dara.
"Ya nyonya?"
"Bawa semua itu ke dapur"
__ADS_1
Adisti menatap tumpukan kardus yang entah sejak kapan ada di sana, kardus itu terlihat sangat berat, mungkin jika dia sedang sehat tidak akan masalah mengangkat nya sendiri.
Tapi saat ini tangan nya terluka....
Meski terlihat ragu Adisti tetap bergerak mendekati tumpukan kardus yang di bawa Dara, kebetulan sekali tidak ada orang di rumah jadi Adisti tidak bisa meminta tolong kepada siapapun.
Adisti mengangkat kardus pertama yang ukurannya lebih kecil dari yang lain.
"Ssshhh" tarikan pada tangan sebab beban yang di bawa menimbulkan ringisan tertahan Adisti.
Dara dan Cia hanya melihat sesekali mereka bercanda seolah tidak ada siapapun di sana.
Dua Kardus sudah Adisti antar ke dapur, tinggal satu kardus lagi yang masih tersisa.
Tapi masalahnya kardus itu yang paling besar dari yang lain, dan saat Adisti membaca tulisan di atasnya isinya adalah sepaket peralatan makan premium.
Kenapa Dara membawa peralatan makan ke Sini?
Adisti menarik nafasnya sebelum mengangkat kardus besar tersebut menggunakan kedua tangan nya.
nyess
Tidak di sangka sangka berat kardusnya hampir dua kali lipat dari yang sebelumnya, rasa sakit di tangan nya sudah tidak tertahankan lagi bahkan Adisti sampai menetaskan air matanya.
Acia melirik sekilas raut wajah Adisti yang seperti nya tengah menahan sakit, sebenarnya saat dia memergoki ayahnya memakaikan baju pada Adisti, Acia tidak sengaja melihat lilitan perban di lengan wanita itu.
Dara dan Cia yang tengah saling bertukar cerita mendadak di kejutkan oleh suara pecahan dari arah dapur.
"Ada apa?!" cepat-cepat mereka berlari kearah dapur.
"Astaga! barang-barang ku!!" Dara yang melihat piring-piring berharga nya pecah di atas lantai karena Adisti langsung mendorong wanita itu.
"Akh!" Karena tidak siap Adisti tidak sengaja menginjak pecahan piring.
Adisti menahan tangisnya belum sembuh kedua lengannya kini kakinya juga cedera, akibat kardus yang dia bawa sobek pada bagian bawah piring-piring langsung jatuh tepat di atas kakinya.
"Astaga! semua ini pemberian pasien ku! dan ini Barang berharga bagaimana kamu mengganti nya hahh?!" Dara menatap nyalang wanita yang sudah membuat barang nya pecah.
"Maafkan saya nyonya, kardus nya jebol karena itu..."
"Aku tidak peduli! kamu harus ganti rugi!" bentak Dara tidak terima.
Acia tidak bersuara bingung harus melakukan apa, melihat kondisi kaki Adisti yang berlumuran darah itu Acia jadi tidak tega memarahinya.
"Adisti?"
Melihat kedatangan Bi Ida, Adisti langsung memeluk wanita paruh baya itu, dia takut sekali sekarang.
__ADS_1
"Sstt tenang nak" Bi Ida mengelus punggung istri dari majikannya.
"Apa yang terjadi Nyonya?" Tanyanya pada Dara, Mantan istri Yudha itu terlihat masih emosi.
Melihat pecahan-pecahan piring yang begitu berserakan seperti nya Bi Ida tau permasalahan nya.
"Tanya saja pada pembantu itu!" Adisti semakin mengeratkan pelukannya saat Dara menunjuk kearah nya.
Sungguh Adisti tidak sengaja.
"Aku tidak mau tau! besok semua sudah harus di ganti!" finalnya tanpa menunggu Jawaban dari Bi Ida maupun Adisti, Dara mengajak Acia naik ke lantai atas.
BI Ida menenangkan Adisti yang masih menangis di pelukannya wanita ini pasti masih syok dengan kondisi saat ini, melihat jarang sekali Adisti melakukan kesalahan dalam pekerjaan nya.
"Aku tidak sengaja bi"
Tentu saja, mana mungkin Wanita sebaik Adisti dengan sengaja menjatuhkan piring berharga milik orang lain.
"Sudah-sudah, kita ke kamar Bibi ya?" bahkan Bi Ida meringis nyeri melihat kaki Adisti yang berdarah-darah itu.
.
Sampai di kamar pribadinya kepala pelayan keluarga Kara itu langsung membersihkan kaki wanita yang adalah majikan nya, Adisti sudah berhenti menangis hanya sesekali wanita itu sesegukan.
Sambil menahan rasa perih Adisti membiarkan bi Ida mengobati lukanya.
"Sebenarnya apa yang terjadi? kenap bisa piring-piring itu ada pada mu nak?" tanya bi Ida di sela-sela kegiatan nya mengobati luka Adisti.
Adisti menunduk diam "Semuanya salah ku Bi, jika saja aku lebih hati-hati" ucapnya sambil menghapus sisa-sisa air mata yang mengalir di pipinya.
"Kamu tidak mengangkat Piring itu kan?" Ida sebenarnya sudah tau jika Adisti pasti mengangkat sendiri piring-piring itu, tapi sengaja dirinya bertanya lagi pada Adisti.
Adisti menggeleng cepat
"Jangan berbohong"
"Maaf...aku tidak enak menolak perintah nyonya Bi" jawab Adisti sendu, jika bisa dia akan menolak.
Bi Ida menggeleng-gelengkan kepalanya, sebenarnya siap yang nyonya di rumah ini?
"Jika Tuan tau kamu mengangkat beban berat seperti tadi, dia pasti akan marah besar"
Adisti mengigit bibir nya cemas, bukan karena dia melanggar larangan pria itu untuk mengangkat beban berat, tapi dia lebih takut jika Yudha tau piring-piring milik Dara tidak sengaja ia pecahkan.
Piring milik Dara pasti bukan barang murah, bayangkan Adisti harus mengganti semua itu?
TBC....
__ADS_1