
Mood Adisti sudah kembali seperti semula makanya saat resepsionis bernama Dea yang tadi nya tidak mengenal istri bos nya menyapa dirinya Adisti membalas nya dengan ramah.
Sampai di luar kantor Adisti masuk kedalam mobil milik Yudha yang di siapkan pria itu untuk nya.
"Jalan Pak"
Bukan lagi Angga yang menjadi supir nya melainkan Yudha memperkerjakan supir baru untuk nya, padahal Adisti sudah nyaman dengan Angga tapi dengan kejamnya Yudha malah memperkerjakan seorang pria paruh baya untuk mengantar nya kemana-mana.
"Kita pulang nyonya?"
Adisti hampir saja lupa memberitahu tujuan nya.
"Kita ke Sekolah Acia dulu ya pak"
"Baik nyonya"
Mobil berjalan santai selama sepuluh menit lebih karena ada sedikit kemacetan tadi di jalan, dan akhirnya mereka sampai di sekolah elit milik putri tunggal Yudhakara.
Saat dia turun dari mobil sudah beberapa anak yang mulai keluar dan meninggalkan sekolah, tapi dia tidak melihat keberadaan Acia sejak tadi.
"Nyonya Yudha?" Tiba-tiba seorang wanita yang sepertinya salah-satu wali murid menyapa dirinya.
"Oh? iya?" Adisti bingung harus menjawab bagaimana, karena memang dia tidak pernah bertemu dengan wanita itu
"Wah anda menjemput Nona Cia ya?" tebak wanita tersebut, di belakangnya ada beberapa ibu-ibu lainnya.
"Iya" jawab Adisti ramah.
"Ngomong-ngomong apakah anda sedang Hamil?"
Adisti tersentak kaget mendengar celetukan salah satu seorang wali murid yang mengatakan dirinya hamil.
Kepala nya menoleh panik ke arah gerbang sekolah, taku takut jika Aci mendengar hal itu.
"I-itu..."
"Maaf atas kelancangan saya, hanya saja wajah anda terlihat berseri-seri jadi saya mengira jika anda hamil" ucap wanita yang sama.
"Benar sekali, saya juga mengira seperti itu" Timpal yang lainnya.
'Mas Tolong aku...' ringis Adisti dalam hati.
Tuk!
Adisti menoleh saat di rasa ada orang yang menyentuh lengannya, dan senyum nya terbit melihat Acia berdiri di belakangnya.
"Ayo pulang" ajak gadis itu menggenggam tangan Adisti yang sebelah mengajak ibu sambungnya segera berlalu dari sana.
"Ah? Nyonya kami permisi" Adisti sangat bahagia bisa pergi dari sana dengan cepat.
"Seharusnya jika tidak nyaman kamu pergi saja dari sana" Ucap Acia begitu mereka berada di dalam mobil.
__ADS_1
"Bagaimana lagi, tidak enak meninggalkan ibu-ibu yang tengah berbicara" jawab Adisti, entah sejak kapan tapi sekarang ini dia dan Acia tidak lagi berbicara dengan canggung satu sama lain.
"Memangnya apa yang kalian bicarakan?"
Adisti terdiam, Apa yang harus ia jawab? tidak mungkin dia akan menjawab mereka tengah membicarakan Dirinya yang tengah hamil kan?
"Hanya obrolan orang tua" Adisti Tertawa lirih agar Acia tidak curiga dengan nya.
"Begitu..." Gumam Acia.
Setelah nya tidak ada percakapan lagi antara keduanya, Acia sibuk dengan buku pelajaran di tangan nya sedangkan Adisti Sibuk dengan pikirannya.
.
Makan malam hari ini terasa begitu hangat karena selain Yudha, Adisti dan Acia ada eyang yang ikut makan malam bersama mereka.
"Senang rasanya bisa makan bersama seperti ini" ucap eyang membuka suara, mereka semua telah menyelesaikan makan malam hanya tinggal mencoba makanan penutup.
"Minggu lalu juga kita makan bersama Eyang" Sahut Acia, merasa berlebihan dengan ucapan eyang barusan.
"Eyang hanya basa-basi saja" Timpal Yudha yang semakin membuat Eyang melotot tajam.
Tidak ayah dan anak mereka sama saja.
"Sudah-sudah! kalian ini" decak Eyang kesal, untung saja Menantu nya tidak ikut-ikutan bersikap dingin pada nya.
"Besok Weekend kan?"
Ketiga orang yang ada di sana serempak mengangguk.
"Memangnya ada apa?" Tanya gadis itu heran.
"Kami ingin membicarakan sesuatu dengan mu, nak"
Yudha menggenggam tangan Adisti erat berusaha menguatkan sang istri.
"Mengenai apa?" tanya nya kembali
"Kamu akan tau besok! sudah sekarang kalian pergi ke kamar masing-masing!" setelah mengucapkan hal itu Eyang pergi terlebih dahulu menuju kamarnya.
Cup
Yudha memberikan ciuman selamat malam untuk putri nya sebelum tidur.
"Selamat Malam" ucap Yudha pada Acia.
"Selamat malam Daddy" Acia berjalan menuju kamar nya di lantai dua.
Sekarang tinggal Adisti dan Yudha yang berada di meja makan, sebenarnya Yudha mengantuk tapi melihat Adisti murung seperti ini membuat nya tidak tega.
"Jangan khawatir"
__ADS_1
Yudha menggenggam tangan Adisti yang ada di meja.
Wanita hamil itu mendongak menatap suaminya.
"Aku takut mas" Dia tidak ingin sikap Acia kembali seperti dulu lagi.
"Sekarang tidurlah dulu, besok bicarakan lagi" Yudha menuntun Adisti menaiki tangga menuju kamar mereka, jika terus membicarakan mengenai kekhawatiran Adisti, sudah pasti mereka tidak akan tidur malam ini.
Belum sempat Adisti dan Yudha masuk kedalam kamar, suara pintu terbuka dari kamar Cia terdengar.
"Cia?"
Bruk!
"Eh?" Hampir saja Adisti tersungkur jika saja Yudha tidak menahan tubuhnya dari belakang.
Tiba-tiba saja Acia menubruk nya cukup kencang dan gadis itu memeluk nya sekarang.
"Ada apa nak?" tidak biasanya Acia memeluk Adisti seperti ini, pasti terjadi sesuatu.
Pelukan terlepas saat Acia mundur kebelakang.
"Hanya ingin memeluk mu saja" Ucap Acia santai, kemudian tanpa berpamitan gadis itu kembali masuk kedalam kamar nya.
"Apa yang terjadi Mas? apa Cia baik-baik saja?"
"Sudahlah, kita tidur saja"
Yudha dan Adisti masuk kedalam kamar Mereka.
Sedangkan Acia menyandarkan tubuhnya di balik pintu kamar, dia tidak bodoh untuk menyadari jika Ibu sambungnya tengah hamil sekarang, kemungkinan apa yang ingin di bicarakan Eyang adalah mengenai kehamilan Adisti.
Mulanya dia curiga dari saat keluarganya membicarakan mengenai adik nya, kemudian rasa curiga nya semakin kuat saat melihat kebiasaan Adisti yang tidak biasanya.
Lalu saat tadi di sekolah dia mendengar dengan jelas Ibu-ibu mengatakan jika Adisti tengah hamil, dia juga tidak menyangkalnya karena belakangan ini dirinya senang berdekatan ibu sambungnya.
Ia pernah membaca di sebuah buka jika seorang ibu hamil memiliki energi yang positif sehingga menarik anak-anak untuk mendekat, dan Dia sudah merasakannya.
Lalu semua kecurigaan nya terjawab saat di memeluk Adisti barusan.
"Perutnya menonjol" gumam Acia
"Dia hamil"
Acia berkaca-kaca itu berarti dia tidak lagi menjadi kesayangan kedua orangtuanya ataupun Eyangnya, dia Tidak mau seperti itu.
"Hiks! Aku tidak mau punya adik" Acia menenggelamkan wajahnya di antara lutut, menyembunyikan tangisannya.
Padahal dia tidak pernah menangis seperti ini, tapi sekarang kenapa dia jadi cengeng?
Dia sudah biasa sendirian kenapa harus takut? jikapun semua orang lebih memperdulikan Adiknya nanti dia tidak perlu sedih.
__ADS_1
Tapi apakah dia benar-benar sanggup? malam itu Hanya Acia habiskan dengan menangisi kehidupan nya kedepannya.
TBC....