
Sudah semalam berlalu saat Adisti mendengar jawaban Acia mengenai ke tidak inginan gadis kecil itu memiliki Adik, tapi Adisti masih kepikiran dengan hal itu.
Jika Acia tidak menginginkan adik lalu bagaimana nasib bayi yang ia kandung nanti? apakah Acia akan membencinya dan Bayinya?
"Tenanglah Adisti" Yudha baru saja keluar dari kamar mandi dan lagi-lagi dia harus melihat istrinya yang tengah mengandung itu melamun.
Meletakkan handuk basah pada tempat nya kemudian Yudha duduk tepat di depan sang istri.
Adisti menatap suaminya sendu, banyak kekhawatiran yang hinggap di kepalanya saat ini, dan satu-satunya yang bisa membantunya adalah Yudha suaminya.
Yudha mengangkat tangan nya untuk Mengusap lembut sisi wajah sang istri.
"Kita akan melewati nya bersama-sama, aku yakin Acia akan menerima nya cepat atau lambat" Adisti tertegun, bukan sebab perkataan suaminya yang menenangkan, melainkan kata 'aku' yang terucap dari bibir suaminya.
"Mas?"
"Iya?"
"Kami barusan tidak menggunakan kata 'Saya' lagi?" Tanya Adisti
Yudha yang tadinya sudah berusaha bersikap lembut berbicara pada istrinya kini mendadak terdiam ketika pertanyaan yang menurutnya tidak penting Adisti lontarkan.
"Fokus dengan perkataan saya Adisti, kenapa kamu malah mempermasalahkan hal itu?" Dengus Yudha kesal.
Adisti cemberut, wajah yang semula muram itu kini kembali berekspresi, dalam hati Yudha bersyukur istrinya bisa kembali seperti semula.
"Kamu mengatakan Saya lagi" Sebal wanita yang tengah mengandung itu.
"Aduh!" Adisti mengaduh kesakitan saat suaminya mencubit pipinya.
Yudha tersenyum "Saya akan pakai Aku jika kamu berjanji tidak akan bersedih lagi" Tuturnya begitu lembut.
Ada rasa bahagia mendengar perkataan suaminya barusan, ada begitu banyak orang yang akan menemani nya melewati masa-masa ini, tapi kenapa dia harus bersedih?
"Aku janji"
Pftt!
Adisti mengerutkan dahinya heran melihat suaminya tertawa.
"Harus seperti ini?" Yudha merasa lucu saja, ternyata orang dewasa seperti istrinya masih menggunakan jari Kelingking untuk berjanji.
Adisti mendengus "Ini dilakukan agar kamu tidak mengingkarinya"
Senyum Yudha semakin lebar, setidaknya tautan kelingking ini bisa membuat istrinya senang.
"Baiklah, aku janji" Ujar Yudha sembari melingkari kelingking Adisti dengan miliknya.
Adisti tersenyum puas, berbicara dengan Yudha Sudah cukup membuat nya tenang.
.
Kediaman Utama Eyang Sari terlihat begitu sepi setelah para penghuninya meninggalkan rumah, Saat ini hanya ada Acia dan Adisti dan para pelayan yang berada di rumah.
__ADS_1
Adisti menemani Putri sambungnya di ruang tamu, Gadis itu bilang dia ingin menonton kartun di Tv.
Sesekali Adisti melirik putri nya, tidak di sangka Acia menyukai kartun seperti ini.
"Acia" Sekarang Adisti tidak memanggil Acia dengan sebutan Nona, karena permintaan gadis itu sendiri.
"hm?" gumam nya sambil mengunyah Snack di tangan nya.
"Kenapa kamu tidak mau punya adik?" Sebenarnya Adisti tidak ingin terburu-buru membicarakan hal ini, Tapi mumpung mereka hanya berdua.
Kunyahan di mulut Acia terhenti mendengar pertanyaan ibu Sambung nya, gadis itu mengalihkan perhatian nya pada Adisti yang juga tengah menatapnya.
"Aku....hanya ingin sendiri saja, punya adik itu merepotkan" Jawabnya ragu-ragu, sebenarnya dia juga ingin punya Adik.
Tapi perkataan Ibu nya kemarin sangat mengganggu pikirannya.
"Hanya itu?" Jawaban Acia terasa janggal di telinga nya, jikapun itu benar Acia tidak mungkin sampai mengatakan tidak mau punya adik.
Acia menaruh snack nya di atas meja lalu tubuhnya bergerak menghadap ibu sambungnya.
"Kamu menyayangi ku?" Tanya nya.
Adisti tertegun dengan pertanyaan yang sudah pasti jawabannya.
"Tentu saja, kenapa bertanya seperti itu?" Yang menjaga Acia saat bayi adalah dirinya, dan sekarang dia menjadi ibu Sambung gadis itu lalu apalagi yang harus di pertanyakan? jawaban nya Tentu saja dia sangat menyayangi Acia.
"Daddy dan Eyang juga menyayangi ku"
Adisti mengangguk menunggu ucapan apa yang akan Acia katakan.
Bagiamana Adisti harus menjawab nya? karena pertanyaan Acia hampir sama seperti apa yang ia takutkan, Acia terlalu kecil untuk memiliki adik dan Adisti khawatir jika Dia dan Yudha akan mengabaikan Acia karena terlalu fokus dengan bayi.
Ternyata Acia juga mengkhawatirkan hal yang sama, tapi bedanya gadis itu takut kehilangan kasih sayang keluarga nya, sedangkan Adisti takut jika dia tidak bisa memberikan kasih sayang yang cukup untuk Acia.
"Nak, dengan ada tidaknya adik mu nanti, kami semua akan tetap menyayangi mu"
Adisti tersenyum lembut sedikit demi sedikit dia ingin agar Acia tidak berfikiran buruk mengenai adiknya nanti.
"Apa kamu hamil?"
Deg
"K-kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?" apakah kehamilan nya terlihat Jelas? padahal usianya baru dua Minggu.
"Dari kemarin kalian selalu membicarakan mengenai adik, dan sekarang kamu juga membahas nya" jawab Acia menebak-nebak.
Hampir saja Adisti tidak bisa menjaga rahasia kehamilan nya, memang berhadapan dengan gadis jenius dari keluarga Kara itu sangat sulit untuk berbohong.
"Hanya penasaran, karena tidak menutup kemungkinan kamu akan punya adik nanti" Adisti tersenyum lembut, namun di dalam hati nya masih tersirat rasa khawatir yang begitu besar.
Pembicaraan Adisti dan Acia terhenti ketika ponsel di atas meja berdering.
Di ponselnya tertera nama Yudha yang menelepon dirinya, Adisti mengangkat panggilan tersebut namun dia juga melirik pada Acia yang ternyata mulai fokus dengan tontonan nya kembali.
__ADS_1
"Halo Mas?"
Yudha akhirnya merasa lega mendengar suara istrinya, seharian ini dia sangat sibuk di kantor dan dirinya membutuhkan energi tambahan, yaitu Adisti istrinya.
"Kamu sudah makan siang?"
"Sudah, bersama Cia juga" jawab Adisti sambil melirik Acia.
Mendengar nama putrinya di sebut Yudha sedikit tidak terbiasa dengan Kedekatan Adisti dan Putri nya sekarang.
"Begitu ya, dimana dia sekarang?"
"Ada bersama ku"
Lagi-lagi jawaban yang tidak terduga keluar dari mulut istrinya, sebuah momen langka Adisti dan Acia berada di lokasi yang sama.
"Kamu ingin berbicara padanya?"
"Tidak perlu, aku hanya ingin bertanya mengenai kabar istri dan Calon bayiku" Yudha bukanlah orang yang suka menghabiskan waktu hanya dengan berteleponan seperti ini, tapi entah mengapa saat ini dia sangat ingin mendengar suara sang istri.
"Kamu bisa berbicara saat pulang Mas" sebenarnya Adisti sangat senang mendapat telepon dari Yudha, tapi karena gengsinya yang lumayan tinggi Adisti tidak ingin terlihat bersemangat ketika mendapat panggilan dari Yudha.
"Apa yang kamu berikan jika aku pulang?" saat mengatakan perkataan itu Yudha tersenyum begitu lebar.
"Makan malam" Jawab Adisti seadanya.
"Hanya itu saja?"
Adisti menoleh ke kanan saat lengannya terasa di colek oleh seseorang dan ternyata Acia.
'Kartun nya habis, aku ingin kembali ke kamar'
Itulah yang Adisti tangkap saat Acia menggerakkan bibirnya ketika berbicara tanpa suara.
"Ok"
Adisti membalas dengan simbol Ok menggunakan jarinya.
"Halo Adisti?"
Hampir saja dia lupa
"Ya?"
"Katakan apa yang kamu berikan saat aku pulang nanti?"
Adisti menoleh kebelakang dan ternyata Acia sudah tidak terlihat di manapun, jadi dia tidak perlu malu-malu lagi.
"Ciuman" Jawab nya begitu cepat
Yudha yang mendengar perkataan istri nya begitu cepat tidak mendengar begitu jelas.
"Apa?"
__ADS_1
"Aku akan berikan kamu Ciuman"
TBC....