
Setelah menghabiskan waktu kurang dari setengah jam di kedai milik Serina, Adisti membayar tagihan ke kasir selepas membayar dia dan Acia kemudian keluar dari sana.
Belum sempat Adisti menelpon supir untuk menjemput mereka tiba-tiba saja ponselnya bergetar.
Tuan Yudha
Ah, sepertinya ini pertama kalinya Yudha menelepon dirinya seperti ini, ada apa?
"Hal-
"Kamu dimana?!"
Adisti menjauhkan ponselnya dari telinga saat suara melengking Yudha terdengar.
"Kedai, Mas" jawab Adisti sembari melirik Acia yang juga tengah meliriknya.
Di seberang sana Yudha tidak henti-hentinya menggerutu pada Istrinya, dia baru saja pulang dari kantor dan sangat merindukan istrinya tapi bukannya bertemu sang istri, dirinya malah bertemu dengan BI Ida.
"Tunggu di sana" Ucap Yudha, pria itu mengambil kunci mobil nya di atas meja.
"Kamu mau apa?" Tanya Adisti, untuk apa dia dan Acia menunggu?
"Saya Yang akan jemput kalian"
Tut.....
Adisti menghela nafas, setelah Yudha mengatakan kemauan nya pria itu langsung mematikan panggilan begitu saja.
"Ada apa?" Tanya Acia pada Adisti.
"Tuan Yudha bilang ingin menjemput kita"
Gadis kecil itu mengangguk paham.
Sembari menunggu kedatangan suaminya Adisti mengajak Acia untuk duduk di kursi yang ada di sana.
Lima menit dalam keheningan akhirnya mobil yang di Kendarai Yudha sampai, pria itu turun dengan elegan menghampiri Istri dan putri nya.
"Lama ya?" Yudha mengusap lembut rambut putri nya.
Kedua wanita berbeda usia itu kompak saling menggeleng.
"Tumben Daddy sudah pulang?" Heran Cia saat Ayahnya repot-repot menjemput nya seperti ini.
"Hm, Daddy merindukan kamu" Ucapnya sembari menatap wajah Istrinya.
Adisti tersenyum mendengar perkataan Yudha, ternyata suami nya itu bisa bersikap lembut seperti ini pada Putrinya.
"Sebaiknya kita pulang sekarang" Yudha melirik jam di tangannya.
Mereka berjalan menuju mobil, Adisti duduk di kursi depan samping Yudha, sedangkan Acia memilih duduk di kursi tengah seorang diri.
.
.
Pukul sembilan malam semua orang sudah terlelap di kamar mereka masing-masing, kecuali sepasang suami-istri yang masih betah membuka mata.
Adisti menatap dengan bosan Yudha yang tengah membaca berkas-berkasnya, setelah makan malam suaminya itu mengajak nya pergi keruang kerja.
Dan karena itulah Adisti terjebak di ruang kerja suaminya.
"Mas! Aku mengantuk" keluh Adisti sudah tidak tahan dengan rasa kantuknya.
Tapi Yudha tetap saja fokus dengan berkas-berkasnya.
Adisti bangkit dari duduknya berniat pergi keluar menuju kamar nya.
__ADS_1
"Tunggu dulu" Yudha meletakkan kembali berkas-berkasnya ke atas meja saat istrinya itu berniat meninggalkan nya.
"Apalagi?" Tanya Adisti malas
"Ada yang ingin saya bicarakan" Jelas Yudha, pria itu berjalan menghampiri Sang istri.
Grep
Lengan kekar Yudha sudah melingkar sempurna di pinggang Adisti, menahan Istrinya agar tidak pergi jauh dari nya.
Adisti menahan dada bidang Yudha agar tidak terlalu dekat dengan nya.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?"
Yudha gemas sendiri melihat wajah istrinya yang tengah menahan kantuknya.
Adisti menaikkan alisnya saat Yudha terkekeh tiba-tiba.
"Ada apa?" tanya Adisti, apakah di wajahnya ada sesuatu?
Cup!
"Mas!" Pekik Adisti kaget ketika bibir lembab suaminya menempel di pipinya.
"Kapan terkahir kali Saya mencium kamu?"
Ibu Sambung Acis itu mendengus mendengar pertanyaan tidak berbobot Suaminya.
Cup cup
"Jawab!"
Yudha mengecup bibir Adisti bertubi-tubi ketika tidak mendengar jawaban dari istrinya.
"Mana ku tau! lepas Mas!" Adisti semakin berontak dari delapan Yudha.
Yudha menjatuhkan kepalanya di pundak Istrinya, dia menghirup aroma yang menguar di leher sang istri.
"Saya rindu kamu" Bisik nya lirih
Adisti terdiam membiarkan Suaminya bersantai di bahunya, seperti perkataan Yudha barusan memang karena kesalahpahaman kemarin mereka jarang menghabiskan waktu bersama seperti ini.
Lengan kecil nya melingkari tubuh besar Sang suami.
Adisti memang belum mencintai suaminya ini tapi tidak menutup kemungkinan Cepat atau lambat dia akan mencintai Yudha, tergantung pada perilaku pria itu padanya.
Dan dalam hatinya juga Adisti bertanya-tanya apakah Yudha mencintai nya?
"Adisti?" Yudha menjauhkan kepalanya dari pundak istrinya, Tubuh yang semula Tegap itu perlahan lunglai jika saja ia tidak menahannya.
Benar saja, Adisti tertidur......
Yudha tersenyum lembut melihat wajah damai istrinya, padahal dia belum mengatakan apa yang ingin dia bicarakan tapi Istrinya itu sudah tertidur seperti ini.
Sreet
Tubuh ringan Adisti sudah berada dalam gendongan Yudha, walaupun ada pergerakan pun Adisti tidak terbangun sama sekali.
Dengan kedua lengan mengangkat tubuh Adisti, Yudha membuka pintu ruangan dengan susah payah namun akhirnya pintu bisa terbuka.
Klek
Yudha membawa istrinya menuju kamar mereka, ia bisa bernafas lega saat Akhirnya tubuh Adisti bisa berbaring di atas kasur.
Bukan karena merasa berat mengangkat Adisti, tapi karena Yudha takut jika istri nya itu terbangun karena gendongannya.
Yudha membaringkan tubuhnya di samping Adisti yang tengah tertidur pulas.
__ADS_1
Dalam diam dia memandang wajah menawan istrinya, saat tidur seperti ini saja Adisti sangat cantik apalagi ketika wanita itu bangun?
Yudha tidak menyangkal jika dia beruntung memiliki Adisti di sisinya hanya saja dia masih belum siap memperkenalkan Adisti pada semua orang.
"Tapi itu dulu" Yudha bersuara pada Adisti yang tengah tidur.
Tangan nya dengan senantiasa mengusap lembut wajah sang istri.
"Padahal Saya ingin berbicara mengenai pakaian apa yang cocok untuk kita nanti, tapi kamu malah tertidur" Yudha terkekeh sendiri, bisa-bisanya Adisti tertidur dalam posisi berdiri.
Cup
"Selamat Malam"
.
Adisti menentang tas kantor milik Yudha yang akan pria itu bawa seperti biasanya.
Hati nya berdebar-debar, akhirnya dia bisa mengantarkan suami dan putri nya seperti sekarang.
Tidak seperti dulu sekarang Adisti bisa mengantar Yudha dan Acia sampai ke mobil, sambil menenteng Tas kantor Suaminya dia juga sudah menyiapkan bekal milik Acia.
"Aku berangkat"
Adisti kemudian memberikan kotak bekal milik Cia pada Gadis itu.
"jangan lupa di habiskan Nona" Ujar Adisti tersenyum lembut.
Acia mengangguk kemudian menaiki mobil terlebih dahulu.
Sekarang tinggal Yudha yang akan berpamitan dengan istrinya.
"Ini Tas mu" Adisti menyerahkan Tas Yudha.
"Apalagi?" tanya Adisti heran saat suaminya itu tidak beranjak dari hadapannya.
Yudha menghela nafas panjang walaupun baru beberapa kali melakukan nya, seharusnya Adisti mengerti apa yang ia maksud.
Tuk! tuk
Yudha menunjukan bibir nya dengan jari nya.
"Cium saya"
Kedua mata Adisti terbelalak mendengar ucapan Yudha, cium? di tempat terbuka seperti ini?
"M-mas"
"Ayo Adisti"
Tidak ingin semakin memperlambat waktu Acia berangkat ke sekolah Adisti pun langsung melancarkan aksinya.
Cup!
"Sudah"
Yudha menahan senyumnya ketika merasakan kecupan istrinya di pagi hari seperti ini.
Lalu Yudha membalas Adisti dengan kecupan di dahinya.
"Jangan lupa pilih yang kamu suka"
Ucap Yudha sebelum meninggalkan Adisti berjalan menuju mobil menyusul Acia.
Adisti mengerutkan keningnya tidak mengerti, apa maksudnya?
TBC.....
__ADS_1