
Adisti menyandarkan tubuhnya pada sandaran ranjang, semakin hari badannya bertambah besar saja bahkan sekarang ia kesulitan hanya untuk duduk atau berbaring seperti ini.
Padahal ini baru bulan ke lima dia tidak bisa membayangkan bagaimana ketika kandungnya memasuki usia tua nanti.
Klek
Mata yang sebelumnya hampir terpejam kembali terbuka saat seseorang membuka pintu kamarnya.
"Mama?" Acia berjalan perlahan mendekati Ibu sambungnya.
Gadis itu tersenyum lebar ketika melihat Ibunya menyambut nya dengan senyuman.
"Sudah selesai? bagaimana dengan Mommy Dara?" Adisti merentangkan kedua tangannya menyambut tubuh Acia kedalam pelukannya.
Acia tidak langsung menjawab bocah itu lebih memilih menyembunyikan wajahnya di dada ibu Sambung nya.
"Apa semua baik-baik saja?" Tanya nya khawatir melihat putri nya murung seperti ini.
"Mommy berbicara dengan Eyang tadi, aku tidak tau apa yang mereka bicarakan, lalu tiba-tiba saja Mommy pergi tanpa berpamitan pada ku" jelasnya pada Adisti.
Acia merasa sedih karena ibunya pergi begitu saja setelah sekian lama tidak bertemu dengan nya.
Kira-kira apa yang Eyang dan Dara bicarakan ya? tidak biasanya mantan istri Suaminya itu pergi secepat ini tanpa menginap. Biasanya Dara lebih memilih menahan malunya dari pada harus pergi dari rumah ini.
"Kamu sedih ya?"
Acia menggeleng di pelukan Adisti
"Hanya sedikit, karena ada Mama aku sudah merasa senang" Ungkap nya dengan tulus.
Adisti berkaca-kaca mendengar ucapan putri sambungnya, tidak pernah ia duga akan ada hari dia bisa sangat dekat dengan Acia.
"Terimakasih Sayang, Mama juga beruntung punya kamu di sini" Adisti membawa Acia semakin dalam ke pelukannya.
"Bagaimana kabar Baby boy hari ini?" Tanya Cia dengan tangan yang sudah bertengger nyaman di atas perut Adisti.
Baby Boy adalah panggilan yang di buat oleh Acia saat mereka mengetahui jenis kelamin bayi yang ada di dalam kandungan Adisti.
"Kamu bisa merasakan nya? dia merespon suara kakaknya"
Ada pergerakan dari dalam perut Adisti saat Acia menyentuhnya, bayi yang ada di dalam perut nya merasakan keberadaan kakak perempuan nya.
Seperti biasanya Acia bebas memonopoli ibu nya jika Ayah nya sibuk bekerja, Acia selalu suka menceritakan banyak hal yang dia lalui dengan Adisti.
Jika Ayahnya datang maka pria itu akan langsung mengunci Ibu nya di kamar selepas makan malam dan tidak ada waktu bagi nya untuk bercengkeraman seperti ini dengan ibunya.
Karena kelelahan Acia sampai tertidur pulas di delapan Adisti.
__ADS_1
Adisti yang ikut tertidur bersama Acia itu langsung terbangun begitu merasakan getaran pada ponsel yang berada di bawah bantalnya.
Ternyata Yudha menelpon nya....
Melirik Jam dinding ternyata pukul 9 malam dan Acia dan Adisti melewatkan makan malam.
"Halo Mas?"
"Kamu sudah tidur?" Yudha mengerenyitkan dahinya heran tidak biasanya Adisti tertidur secepat ini.
"Ya aku ketiduran" Ucapnya, sesekali tangannya mengusap lembut kepala Acia yang berada di pelukannya.
"Kamu tidak lupa janji mu kan?"
Adisti lagi-lagi harus di hadapkan dengan janji-janji, sebenarnya kenapa semua orang suka sekali membuat janji dengan nya sih?
"Janji apa?" Efek baru terbangun dari tidur Adisti belum terlalu sadar hingga akhirnya lupa dengan janji yang suami nya maksud.
"Itu"
Hah?
Lalu Adisti teringat dengan permintaan Yudha beberapa hari sebelumnya, saat itu mereka pergi ke rumah sakit untuk memeriksa kan janin yang ia kandung, dan ketika itu Yudha bertanya mengenai hubungan ***.
Dokter mengatakan hubungan suami istri bisa di lakukan karena janin yang Adisti kandung sudah cukup kuat.
"Aku lupa" ungkapnya merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, asalkan kamu siap saat aku sampai di rumah" Ungkap Yudha pada akhirnya, sebenarnya dia sudah dalam perjalanan menuju rumah.
Jadi mau tak mau Adisti harus bersedia melayani nya.
"Tapi Mas...."
.
.
Apa ini?
Seharusnya tidak ada hal seperti ini di kamar nya?
Yudha sudah menunggu berbulan-bulan hanya agar bisa kembali menyentuh istrinya, tapi saat hari yang dia tunggu-tunggu akhirnya tiba ada saja hal yang menggagalkan rencana nya.
Seperti saat ini, Yudha sampai di rumah hanya dalam waktu beberapa menit saja karena dia buru-buru menjalankan mobilnya, tapi ketika sampai di rumah dan masuk ke kamar bukan hanya istrinya yang ia temui melainkan putri nya juga.
Acia tertidur dengan lelap di pelukan Adisti, yang seharusnya dia lah yanga da di posisi itu.
__ADS_1
"Lain kali saja ya? Acia sangat ingin tidur bersama kita" Ucap Adisti merasa bersalah.
Namun tidak ada yang bisa mereka lakukan, sebab Acia adalah putri mereka dan bukan kesalahan jika gadis itu ingin kembali tidur bersama orangtuanya.
"Aku juga ingin tidur dengan mu"
Adisti memutar bola matanya jengah, sudah pasti kata tidur yang Yudha ucapkan berbeda makna dengan tidur yang ia ucapkan.
"Mas! kamu bisa bertahan selama ini, jadi bertahan sedikit lagi ya?" Mohon Adisti.
Yudha mengangguk, melihat suaminya yang setuju dengan permintaan nya membuat Adisti tersenyum lega.
Namun hanya sesaat karena tiba-tiba saja Yudha mendekati Acia dan bersiap menggendong putri nya.
"Apa yang Kamu lakukan?" Adisti menahan lengan Yudha yang ingin mengangkat Acia.
"Memindahkan Acia, memang nya apalagi?" Sahut Yudha dengan santai.
Tidak tau saja Adisti yang mendengar jawaban itu langsung merasa kesal, bahkan tanpa belas kasih Adisti memukul bahu suaminya.
"Kamu memukul ku?" tanya Yudha tidak terima, sampai seperti ini Adisti menolak nya?
"Jangan lakukan hal konyol! biarkan Acia tidur di sini" final Adisti.
Yudha menegakkan tubuhnya ketika mendengar ucapan final Adisti.
"Baiklah, terserah saja! aku akan tidur di Sofa!" Yudha berbalik pergi menjauhi kasur mendekati Sofa yang dulu menjadi tempat favorit Adisti tidur.
Adisti hanya membiarkan saja apa yang ingin Suaminya lakukan, padahal kasur di samping nya kosong tapi Yudha malah memilih tidur di sana.
Bermenit-menit berlalu jika Yudha sudah lelap dengan damai di atas sofa maka berbanding terbalik dengan Adisti, Dia yang biasanya tidur di pelukan suaminya kini harus tidur tanpa nya.
Berkali-kali Adisti mencari posisi yang nyaman agar ia bisa tidur namun semuanya gagal, dia tidak bisa tidur.
Adisti menaikkan selimut ke tubuh Acia agar putri nya itu tidak merasa kedinginan, lalu perlahan dia menuruni kasur dengan hati-hati.
Tujuan nya sekarang adalah suaminya seharusnya Yudha yang tidak bisa tidur, tapi ternyata malah dirinya sepertinya Bayi nya nanti akan sangat dekat dengan ayahnya.
"Mas!" Adisti menggoyangkan tubuh Yudha agar pria itu terbangun, tapi Yudha hanya menggeliat saja.
Karena merasa kesal Yudha tidak terbangun dengan paksaan Adisti menaiki sofa lalu menidurkan tubuhnya di sana.
Sofa sudah cukup lebar untuk mereka berdua tapi tetap saja tetap sempit jika di tiduri oleh orang dewasa.
Adisti berbaring dengan lengan suaminya sebagai bantal, wajah mereka sejajar sehingga Adisti bisa dengan leluasa menatap wajah tampan suaminya.
Entah karena berada dalam pelukan Yudha atau memang mengantuk, kini kedua mata Adisti terpejam wanita hamil itu bergerak semakin masuk kedalam pelukan suaminya, walaupun ada perut nya yang menghalangi tapi Adisti sudah merasa nyaman.
__ADS_1
Dalam tidurnya Yudha tersenyum tipis sadar karena Adisti datang kedalam pelukannya.
TBC.....