Ibu Sambung Yang Tak Dianggap

Ibu Sambung Yang Tak Dianggap
Bujuk Rayu


__ADS_3

"Aku mohon Mas" pinta Adisti untuk yang ke sekian kalinya.


"Tidak"


Mulai dari tiga hari yang lalu Adisti meminta Yudha agar mengijinkan Dara tinggal lagi bersama mereka, tapi jawaban Suaminya itu selalu saja sama, Tidak!


Adisti bingung Dengan cara apalagi supaya Suaminya itu mengijinkan Dara tinggal bersama mereka.


"Demi Acia, Mas" Adisti memohon sekali lagi pada Yudha yang tengah santai di ruang keluarga, hari ini hari libur makanya suaminya itu bisa bersantai di rumah.


Yudha tidak menghiraukan Adisti dan masih sibuk dengan koran yang ia baca.


"Mas, Acia selalu kesepian saat makan malam di rumah, belakangan ini kamu sering lembur dan akibatnya Acia harus makan malam sendirian" Jelas nya tidak peduli Yudha mau dengar atau tidak.


Adisti kemudian duduk bersimpuh di bawah kaki Yudha yang posisinya di atas sofa, karena hari libur sebagian pelayan juga ikut meliburkan diri mereka.


"Jika Ada ibunya Acia tidak akan kesepian lagi, lalu..-


Srak!


"Lalu kamu akan bermasalah lagi dengan wanita itu dan melarikan diri ke rumah paman dan bibi mu! begitu, hm?" Yudha meletakkan koran yang ia baca begitu saja keatas meja, selera membacanya sudah hilang.


Gerakan tiba-tiba Yudha mengagetkan Adisti, tidak menyangka jika suaminya akan bereaksi seperti ini.


"Tidak Mas! aku tidak melarikan diri" Sangkal nya.


Kepulangan nya ke rumah paman dan bibinya kan karena ingin memulihkan diri bukan melarikan diri.


Adisti merengut sebal susah sekali bicara'dengan suaminya ini.


"Setidaknya jika kamu tidak ingin Dara datang lagi ke sini, kamu harus pulang tepat waktu" Usulnya.


"Acia pasti sangat membutuhkan salah satu dari kalian"


Acia yang baru saja turun dari kamarnya langsung berhenti di tempat saat namanya di sebut.


Dia beralih sembunyi pada tembok yang menghalang antara ruang tengah dan ruang keluarga.


Samar-samar dia bisa mendengar suara Adisti yang meminta ayahnya pulang lebih cepat.


"Dia putri mu kan? luangkan waktumu untuk nya"


Yudha mendesah lelah mungkin enak saja Adisti berkata seperti itu, karena dia tidak berada di posisi nya saat ini.


"Kamu tau kan saya sibuk sekali belakangan ini?"


Adisti mengangguk


"Bisa istirahat di hari libur saja sudah Untung" sambungnya lagi


Acia tidak menyangka jika Adisti mau repot-repot membujuk ayahnya untuk meluangkan waktu, bahkan wanita itu meminta Dara untuk tinggal lagi bersama mereka.


Padahal dia tau jika hubungan Ayah dan ibu Sambung nya itu merenggang karena ulah ibu kandungnya.


Tidak ingin kembali mendengar perdebatan orang dewasa di sana, Acia memilih pergi kembali ke kamarnya.


.


.

__ADS_1


"Mbak? kenapa belakangan ini kamu seperti banyak pikiran sih?" Tari tidak bicara asal, beberapa hari ini dia sudah memperhatikan wajah murung wanita itu.


"Oiya? aku tidak merasa seperti itu" elak Adisti tertawa garing, apakah sangat terlihat?


Tari mengangguk


"Kamu juga jarang makan bersama kami di dapur, dan malah memilih menemani nona Cia makan"


Memang Adisti akan makan saat Acia menyelesaikan makanannya, melihat gadis itu makan seorang diri membuat Adisti tidak tega.


"Jangan bilang karena Angga?"


Adisti melotot tajam tidak habis pikir dengan Ucapan Tari yang blak-blakan.


"Jangan bicara sembarangan!" sahut Adisti kemudian pergi kebelakang untuk menjemur pakaian nya.


Plak!


"Aw! kenapa?!" Tari meringis saat dengan tiba-tiba Angga memukul bahunya keras.


Angga menaikkan bahunya acuh, dia mendengar semua pembicaraan Adisti dan Tari dari belakang salahkan mulut Tari yang tidak bisa diam itu.


Bahkan dari tempat Mereka sekarang sampai gerbang depan suara Tari akan terdengar saking nyaring nya suara wanita itu.


Angga menatap arah kepergian Adisti walaupun sudah menikah dengan pria kaya Wanita pujaannya itu tidak pernah bahagia.


Apakah masih ada kesempatan untuk nya?


puk


"Hentikan pikiran kotor mu itu" Tari menepuk pundak Angga pelan, menyadarkan pikiran pria itu dari hal-hal kotor.


"Siapa yang berfikiran kotor?" sahut Angga merasa tak terima dengan tuduhan Tari.


Tidak peduli bagaimana cinta Angga pada Adisti, jika pria itu bersikap berlebihan maka dia tidak akan membiarkannya.


.


Ting


Suara dentingan sendok dan piring milik Acia terdengar begitu lembut dan penuh ke hati-hatian, walaupun masih muda Yudha Sudah memberikan pengetahuan tentang Table Manner untuk putri nya.


Di belakang ada Adisti yang menunggu gadis itu menghabiskan makanannya.


"Pergilah"


Adisti mengangkat kepalanya mengarah pada putri angkatnya.


"Ya nona?"


"Kamu tidak perlu menemani ku seperti ini, pergi makan makanan mu sana" Acia mengusir Adisti, tidak peduli jika wanita itu akan tersinggung dengan perkataan nya barusan.


"Saya belum lapar nona"


Trang!


Acia menaruh sendok nya dengan keras sehingga menimbulkan bunyi yang begitu nyaring.


Moodnya sangat buruk sekarang di tambah dengan keberadaan Adisti yang sama sekali tidak ia inginkan, wanita itu sepertinya tidak mau mendengar ucapan nya.

__ADS_1


"Pergi atau aku yang pergi?" Acia menatap sinis ibu tirinya.


Adisti terkejut, dia mengira keberadaan nya beberapa hari ini cukup untuk menemani rada sepi gadis itu, tapi ternyata dia salah besar.


"Tidak nona, biar saya saja yang pergi"


Adisti langsung memundurkan langkahnya masuk kedalam dapur, meninggalkan Acia sendiri dengan keheningannya.


"Mbak? Tumben sekali?" Tari berceletuk begitu melihat keberadaan Adisti baru saja memasuki dapur.


"Kemari Nak" Bi Ida melambaikan tangannya menyuruh Adisti duduk di antara dirinya dan Angga.


Dengan patuh Dia berjalan lesu mendekati bibi Ida.


"Nona sudah selesai makan malam?"


Adisti menggeleng kemudian menatap Bi Ida lesu.


Wanita paruh baya itu mengerti dengan apa yang terjadi pada Nyonya nya.


"Tidak apa, sedikit demi sedikit dia akan terbiasa nanti" Bi Ida menasehati Adisti.


Istri Yudha itu mengangguk paham lalu menerima sepiring nasi yang baru saja di berikan oleh Tari.


Angga melirik sekilas pada Adisti yang sedang menyantap makanan di sebelahnya, wajah yang biasanya selalu terlihat ceria itu kini sangat tidak bersemangat.


Jika saja dia bertemu lebih awal dnegan Adisti, apakah keadaan nya akan berbeda?


.


Lagi-lagi Yudha harus menahan amarahnya melihat Adisti tertidur di atas sofa kamar mereka.


Berkali-kali dia sudah bilang jika Adisti harus tidur di ranjang bersamanya mulai sekarang, tapi sepertinya Wanita itu tidak mengerti apa yang sudah ia katakan.


"Sepertinya aku harus membuang Sofa itu" Gumam Yudha menatap tubuh terbaring sang istri.


Sepertinya tidur di sofa lebih nyaman daripada tidur di dalam pelukannya.


"Adisti, bangun"


Yudha menggoyangkan tubuh istrinya agar terbangun sebentar, walaupun bisa saja dia menggendong Adisti tapi biarkan saja tidur istrinya itu terganggu.


"Enghh"


"Saya menyuruh kamu bangun, bukan mendesah"


Terkutuk untuk Yudha dan mulut tidak terpelajar nya.


"Mas?"


Adisti membuka matanya dan di depan nya sudah ada Yudha yang masih menggunakan seragam kantor lengkap.


"Bangun"


"Memangnya kenapa!" Adisti kesal saat tidurnya di ganggu.


"Ayo Mandi"


Adisti menghela nafas kasar mendengar ucapan suaminya.

__ADS_1


Dasar Gila!


TBC....


__ADS_2