
"Mau minum?"
Angga menyodorkan sebotol air yang selalu ia bawa di mobil pada Adisti.
"Tidak terimakasih" Tolak istri Yudha itu kemudian kembali menoleh pada jendela, memperhatikan murid-murid yang keluar dari dalam sekolah.
Sikap Adisti yang menjadi seperti ini sangat tidak mengenakkan untuk nya, Angga lebih suka Adisti bersikap ketus dari pada diam seperti sekarang.
"Kamu marah karena aku menyebabkan Tuan Marah padamu ya?" Angga menundukkan kepalanya merasa bersalah pada wanita di sebelahnya.
Adisti mengalihkan pandangannya kembali pada Angga.
"Tidak Angga, aku hanya merasa lelah saja" dusta nya, padahal jawaban yang sebenarnya adalah Adisti merasa malu pada Angga yang melihat sikap kasar Yudha padanya.
Sepertinya Adisti tidak ingin berbicara dengan nya sekarang, mengerti dengan hal itu Angga pun langsung Keluar dari dalam mobil meninggalkan Adisti sendiri dengan pikirannya.
"Maaf" Gumam Adisti melihat Angga keluar dari mobil.
Di luar Angga mencari keberadaan Nona mudanya yang masih belum terlihat sejak tadi, sesekali dia melihat jam tangan yang melingkar di lengan kirinya memastikan kembali dia tidak terlalu cepat menjemput Acia.
Sepuluh menit kemudian akhirnya Yang mereka tunggu menampakkan dirinya di antara kerumunan yang baru saja keluar bersama.
Dari dalam mobil Adisti juga melihat keberadaan Acia, dahinya mengerut saat tidak melihat Satupun teman yang berada di sisi putri sambungnya itu.
"Nona!" Angga melambaikan tangannya saat melihat Cia celingak-celinguk mencari keberadaan mereka.
"Selamat Siang Nona" sapa Angga sembari membukakan pintu belakang untuk Acia.
"Siang" Jawab Cia lirih, agak canggung rasanya menyapa seperti ini.
Angga menutup pintu mobil lalu berjalan menuju kursi kemudi.
"Anda menghabiskan bekal nya Nona?" Tanya Adisti basa-basi, tidak ada salahnya kan lebih mengakrabkan diri dengan Cia seperti sekarang.
Acia sedikit terkejut saat baru menyadari jika Ibu sambung nya ikut menjemput nya.
Adisti merasa heran saat Acia membuka Tasnya dan mengeluarkan kotak makanan berwarna biru yang isinya sudah kosong.
"Sudah Habis" Ucap Cia menunjukkan kotak tersebut yang memang sudah tidak berisi makanan.
Imutnya
"Terimakasih sudah menghabiskan nya" Adisti tersenyum manis pada sang putri.
Di sebelahnya Angga merasa senang melihat interaksi ibu dan Anak itu di sisi lain dia juga merasa lega saat Adisti sedikit melupakan kesedihannya.
"Baiklah Mari kita pulang"
Mobil kemudian berjalan perlahan meninggalkan area sekolah, tidak seperti tadi saat ini suasana di mobil sedikit lebih ramai karena Angga tidak berhenti berbicara sejak tadi, sedangkan Acia dan Adisti hanya sesekali menanggapi perkataan pria itu.
Tiba-tiba saja mobil yang mereka kendarai berhenti secara tiba-tiba di pinggir jalan tidak jauh dari area perumahan Mereka tinggal.
"Ada apa Angga?" Tanya Adisti heran saat mereka berhenti tiba-tiba.
__ADS_1
"Entahlah, sepertinya Mesin nya mati" jawab Angga kemudian keluar untuk mengecek kondisi mobil.
Benar saja, saat Angga membuka kap mobil bagian depan keluar asap putih yang mengepul dari dalam.
Adisti ikut keluar dari mobil melihat hal itu.
"Sepertinya aku harus memanggil orang untuk memperbaiki ini"
Adisti berfikir sejenak jika menunggu di sini akan memakan waktu yang lebih lama, lagipula rumah mereka tidak jauh dari tempat mereka berhenti saat ini.
"Apa sebaiknya aku dan Nona jalan kaki saja ya?" Ucapannya meminta pendapat Angga.
"Tidak perlu, aku akan menelpon orang untuk mengantar kalian"
Belum sempat Angga mengeluarkan ponselnya Adisti lebih dahulu menahan pria itu.
"J-jangan,Mm sebenarnya ini kesempatan bagus untuk ku lebih dekat dengan Acia" Ucap Adisti pada Angga.
Mendengar ucapan Adisti, Angga langsung tersenyum lembut lihat betapa berjuang nya Adisti untuk mendapatkan hati putri nya.
"Baiklah, tapi hati-hati ya?"
Adisti mengangguk kemudian tersenyum lebar pada Angga.
"Aku akan menjaga Nona dengan seluruh hidup ku!"
.
.
Dia merasa Seperti seorang ibu sesungguhnya sekarang, Seorang ibu yang menggandeng tangan anaknya saat pulang sekolah.
Ah! dia jadi merindukan paman dan bibinya di kampung.
Kruyuk kruyuk
Acia menghentikan langkahnya ketika perutnya berbunyi nyaring memecah keheningan yang Ia dan Adisti buat.
"Nona lapar?" Tanya Adisti pada Acia, gadis itu terlihat syok memegangi perutnya yang baru saja berbunyi.
Sepertinya gadis itu baru pertama kalinya mengalami kejadian memalukan seperti ini.
Acia mengangguk tanpa mengangkat wajahnya.
Lalu Adisti mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru jalan yang mereka lewati, tidak banyak toko-toko yang berjualan karena mereka sudah memasuki kawasan perumahan elit.
Pandangannya tertuju pada sebuah kedai tidak jauh dari keberadaan mereka saat ini.
"Nona, di sana ada kedai makanan, mau ke sana?" Tanya Adisti meminta pendapat dari Acia.
Gadis kecil itu ikut mendongak dan melihat kedai yang di sebut ibu sambungnya.
Kedai itu terlihat bersih dan mewah pasti makanan nya memiliki rasa yang lumayan.
__ADS_1
"Mau"
Kedua wanita berbeda usia itupun berjalan menuju kedai yang di maksud.
Cling!
Pintu berbunyi saat Adisti membuka kedai tersebut.
Seorang wanita yang sepertinya seumuran dengan Adisti itu langsung mendekat saat pelanggan datang ke kedai miliknya.
"Selamat datang! apa ada yang bisa kami bantu?" Tanya wanita itu ramah melihat wajah Adisti dan Acia yang asing di pengelihatannya, sepertinya kedua orang itu pelanggan baru.
"Kami ingin memesan makanan ringan" jawab Adisti tak kalah ramah.
"kalau begitu silahkan melihat-lihat menu kami"
Acia langsung menerima daftar menu yang wanita pemilik kedai itu sodorkan padanya.
"Aku ingin waffle Cokelat Cheese" Sebut Acia.
"Dengan ice Cream?"
"Iya" angguk gadis kecil itu.
"Baiklah pesanan akan segera datang nona manis"
Wanita tersebut kemudian pergi kebelakang untuk membuatkan pesanan milik Cia.
"Nona, anda tunggu di sini dulu ya? biar saya yang mengambil pesanan anda"
Acia menurut saat Adisti memintanya duduk di salah satu kursi yang ada di sana, melihat Putri sambungnya duduk dengan tenang Adisti langsung menuju kasir untuk mengambil sekalian membayar pesanan Acia.
"Dia putri mu?" Tanya wanita yang menyambut mereka tadi.
Adisti tersenyum kaku, bagaimana ya menjawab pertanyaan wanita di depannya ini? jika dia menjawab iya akan terasa lancang.
"Dia seumuran putri kedua ku" Wanita itu tertawa kecil ketika mengingat putri nya di rumah.
"Benarkah? berarti anda memiliki dua orang anak?" Adisti tidak menyangka jika wanita di depannya ini sudah menikah, dia kira wanita itu masih lajang.
"Tiga, tapi karena kecelakaan Aku harus kehilangan putri ku" Jawab nya tersenyum sendu.
Adisti jadi merasa tidak enak membahas kembali ingatan yang menyakiti wanita di depannya ini.
"Maafkan Aku"
"Haha, tidak apa lagipula itu sudah lama sekali, dan sekarang aku sudah memiliki pengganti nya"
Adisti ikut tersenyum saat wanita itu tersenyum.
"Oh ya? kita belum berkenalan kan?"
Wanita itu tersenyum kemudian menyodorkan tangan kanannya pada Adisti.
__ADS_1
"Aku Serina Wahyutama, senang berkenalan dengan mu"
TBC.....