Ibu Sambung Yang Tak Dianggap

Ibu Sambung Yang Tak Dianggap
Pulang dan rasa khawatir


__ADS_3

Selama kurang lebih dari dua Minggu lamanya Adisti di rawat di rumah sakit, akhirnya Hari ini istri dari Yudhakara itu menginjakkan kakinya kembali di rumahnya.


Walaupun awalnya menghabiskan waktu lama di rumah sakit sangat membosankan, tapi semenjak kedatangan paman dan bibinya Adisti tidak lagi merasakannya.


Kedua orang tua angkatnya rela menemani selama dua Minggu di rumah sakit.


Mereka berada di dalam mobil dalam perjalanan menuju kediaman Yudha.


"Paman apakah Andhika benar-benar sesibuk itu?" Adisti bertanya pada pamannya yang menyetir mobil.


Adisti dan orang tua angkatnya berada di satu mobil yang sama, sedangkan Yudha dan Keluarganya juga satu mobil tapi berbeda dengan mereka.


Bi Rina hanya mendengarkan keluh kesah Adisti pada suaminya, karena tidak ingin baby Aksa terganggu Istri dari paman Yus itu memilih menimang cucunya.


"Nak, kamu tau sendiri bagaimana Dika, dia saja jarang pulang ke rumah" Jelas paman yus entah yang keberapa kalinya.


Adisti mendengus bagaimana bisa Andhika sangat sibuk? Bahkan Yudha yang seorang direktur saja masih bisa menemani nya di rumah sakit.


"Saat dia senggang pasti anak itu akan menemui mu Adisti" Bi Rina bersuara.


Sebagai seorang ibu dari kedua orang anak-anak nya yang sudah dewasa, dia tau bagaimana Dika dan Adisti hidup sejak kecil keduanya sangat akrab mungkin karena itulah Adisti sangat menginginkan kehadiran Dika di sampingnya.


Aksa yang berada Dalam gendongan bibi Rina merengek, bayi itu seolah tau jika Ibunya tengah kesal saat ini.


"Kamu juga kesal dengan Paman Dika ya?" Adisti bercanda dengan Aksa yang sudah berada di dekapannya.


Bagaimana bisa bayi yang belum ada satu bulan itu bisa mengerti perkataan ibunya?


Mobil yang di Kendarai paman yus sudah sampai di pekarangan rumah mewah Yudha, sebenarnya eyang menyuruh Adisti dan Yudha menginap di kediaman utama tapi Yudha menolak dengan alasan jika jarak kantor dan rumah utama terlalu jauh.


Jadinya mereka tetap pergi ke rumah pribadi Yudha.


"Hati-hati" Paman Yus membantu agar Adisti tidak terluka saat menggendong Aksa.


"Terimakasih paman" ucap Adisti atas bantuan Pamannya.


Mobil Yudha sampai terlebih dahulu jadilah mereka sudah menunggu kedatangan keluarga menantu.


"Astaga Cicit Eyang, kemari nak biar Eyang yang menggendong Aksa" Pinta eyang, Adisti masih belum pulih, dari pada cucu menantu nya kelelahan biarkan dia saja yang membawa cicitnya.


"Tidak papa Eyang biar aku saja" Tolak Adisti.


Bukan apa-apa belakangan ini Adisti sering melihat wajah pucat Eyang, bahkan kadang-kadang saat malam hari eyang batuk-batuk di dalam kamar mandi saat merawatnya di rumah sakit.


Kondisi eyang lebih menghawatirkan daripada kondisinya.


"Biarkan Aksa bersama saya saja nyonya" Sahut bi Rina mengerti dengan jelas ke khawatiran Adisti.

__ADS_1


Karena beberapa hari ini dia juga cukup mengkhawatirkan keadaan eyang.


"Ya sudahlah ayo kita masuk" Ajak eyang berjalan terlebih dahulu.


Yudha menuntun istrinya perlahan agar luka yang masih basah itu tidak terbuka nanti nya.


"Yudha bawa istrimu istirahat ke kamar tamu" ucap Eyang.


Tidak mungkin kan Adisti menaiki tangga dengan kondisi seperti itu?


Pasangan suami-isteri itu berjalan menuju kamar yang sudah di persiapkan, meninggalkan para tetua di ruang tamu berbincang bersama dengan Aksa juga.


Adisti lega akhirnya dia bisa duduk dengan nyaman di atas kasur empuk beberapa menit di dalam mobil membuat tubuhnya sakit.


"Kamu tunggu di sini, aku akan ambil Aksa"


Adisti menarik lengan suaminya ketika pria itu beranjak pergi.


"Ada apa?" tanya Yudha ketika Adisti menahan tangan nya.


Ibu Aksa itu terlihat ragu ingin mengungkapkan apa yang ingin ia sampaikan.


Yudha berjongkok di hadapan sang istri.


"Ada apa sayang? katakan saja"


Adisti meremas bahu Yudha yang berada lebih rendah dari posisinya.


"Mas, ini mengenai Eyang" ucap Adisti akhirnya.


Kerutan samar terlihat di dahi Yudha pria itu sedikit terkejut karena selama ini Adisti tidak pernah membahas apapun tentang eyang.


"Ada apa dengan Eyang?" tanyanya penasaran.


"Aku Rasa.....Eyang sakit"


Yudha menatap wajah istrinya yang menampilkan raut tidak biasa.


"Sakit?" Gumam Yudha


Selama ini dia hanya sibuk bekerja dan bekerja, hanya sedikit waktu luangnya untuk menghabiskan waktu bersama istri dan putrinya apalagi dengan Eyang.


Dulu sebelum Adisti hamil mereka hanya beberapa kali saja mengunjungi eyang, atau kadang-kadang eyang yang berkunjung.


Yudha tidak pernah memperhatikan Eyang dengan benar selama ini, karena wanita tua itu lebih memilih menghabiskan masa tuanya di panti bersama anak-anak yatim.


"Aku takut jika terjadi sesuatu pada Eyang Mas, kita harus melakukan sesuatu" Adisti terlihat begitu khawatir.

__ADS_1


Yudha menggenggam kedua tangan istrinya, lalu mengangkat wajahnya agar lebih leluasa menatap wajah cantik Adisti.


"Kamu tenang saja, aku akan berbicara pada Eyang" Yudha tersenyum lembut kemudian membantu Adisti berbaring di kasur.


"Eyang akan baik-baik saja, percayakan padaku"


.


.


Setelah kepulangan Adisti kerumah suaminya, paman dan bibi Adisti langsung pulang ke kampung tepat setelah mengantar anak angkatnya.


Adisti ingin paman dan bibinya lebih lama lagi bersamanya, tapi kedua orang itu mengatakan jika kebun mereka sudah waktunya panen dan jika tidak segera di ambil maka akan banyak sayuran yang busuk nantinya.


Mendengar penjelasan pamannya Adisti tidak bisa melakukan apapun dan membiarkan mereka pergi ke kampung saat itu juga.


Saat ini Adisti berada di rumah bersama dengan Aksa, bayi laki-laki itu sedang menyusu pada nya, sedangkan Acia tidak ada di rumah.


Gadis yang mulai beranjak remaja itu bilang ia ingin membeli Waffle di kedai milik Serina.


Adisti melamun sendirian ke khawatiran nya masih ada mengenai kesehatan Eyang.


Dua hari yang lalu Yudha sudah meminta eyang memeriksa kesehatan rutin, tapi Eyang menolak dia beralasan jika kesehatan nya tidak ada yang salah.


Mungkin Eyang merasa baik-baik saja, tapi Adisti tidak begitu.


Melihat bagaimana penolakan eyang pada pemeriksaan kesehatan membuat dugaannya semakin kuat.


"Semoga Eyang baik-baik saja" Doa Adisti.


"Shhh"


Adisti meringis ngilu, lagi-lagi Aksa menyedot *********** dengan kencang.


"Pelan-pelan nak"


Bayi laki-laki itu tidak merespon yang dia lakukan hanyalah mengisap ASI yang keluar dari ibunya.


Rasa khawatir yang menjalar di hati Adisti mereda ketika melihat wajah putra nya.


"Kenapa kamu mirip sekali dengan ayah mu" Tidak ada yang mirip dengannya di wajah sang putra, hanya ada wajah Yudha di sana.


"Jika begini mungkin Mama akan bosan melihat wajah Daddy" Adisti Tertawa kecil ketika mengucapkan kalimat itu.


Bagaimana bisa dia bosan melihat wajah tampan suaminya?


TBC....

__ADS_1


__ADS_2