
Yudha meletakkan Adisti di atas kasur secara perlahan, dia tau diri karena penyebab Adisti menjadi seperti ini adalah karena nya juga.
"Berhenti bersikap seperti anak kecil, kamu sudah dewasa, bahkan bisa membuat anak kecil kenapa masih kekanak-kanakan?" Yudha melipat kedua tangannya di dada, menatap Adisti yang juga tengah menatapnya.
Ucapan Yudha barusan sedikit membuat Adisti tersipu malu, hanya 'sedikit'.
"Mau sampai kapan kamu akan merepotkan Bi Ida?"
Adisti menggeleng dia tidak bermaksud membuat bibinya itu repot.
"Aku hanya menumpang tidur saja" jawab Adisti.
"Memangnya kamu tidak punya kamar sendiri? apa yang akan eyang katakan jika kamu tidak tidur dengan saya? dan malah bersama Bi Ida?!" emosi Yudha terpancing tanpa sadar lagi-lagi dia membentak istrinya.
"Haah..." helaan nafas lelah keluar dari mulut Yudha, apalagi saat wajah Adisti kini bertambah murung.
Adisti masih terdiam ketika Yudha bersimpuh di hadapan nya, pria itu membawa tangan sang istri untuk ia genggam.
"Maafkan Saya" Yudha mendongak pada Adisti yang posisinya memang berada di atas kasur, sedangkan dirinya berjongkok di hadapannya.
"Seharusnya aku yang meminta maaf Mas" Semuanya memang kesalahan nya, coba saja dia lebih hati-hati semuanya tidak akan menjadi seperti ini.
"Kaki ku sakit jika harus naik tangga makanya aku tidur dengan Bi Ida" Jawab jujur Adisti.
"Dan untuk masalah piring milik nyonya Dara, aku benar-benar merasa bersalah"Adisti menundukkan wajahnya, setelah uang yang dikirim Paman nya sampai Adisti baru bisa merasa lega.
"Sudah cukup, sekarang tidurlah" Yudha membaringkan tubuh Adisti di atas kasur lalu menutup nya dengan selimut.
Tanpa suara pria itu kemudian ikut membaringkan tubuhnya di kasur sebelah Adisti berbaring.
Keduanya tidur dengan posisi menghadap langit-langit kamar berperang dengan pikirannya masing-masing.
.
.
Pagi-pagi sekali Adisti bangun dari tidurnya saat menoleh ke ranjang tempat Yudha tidur ternyata kosong.
Kemana Pria itu?
Adisti membawa tubuh nya perlahan menuruni ranjang sesekali meringis ketika kakinya yang terluka tidak sengaja tersenggol, Untung saja lengannya sudah lebih baik jika tidak entah apa yang akan Adisti lakukan.
Klek
Tepat setelah kedua kakinya menyentuh lantai pintu kamar di buka oleh Yudha.
"Mas?" Dia kira Yudha sudah berangkat kerja.
Di ke-dua tangan nya terdapat Nampan berisi makanan yang sudah pasti itu milik Adisti.
"Kamu diam saja di kamar, Saya akan menyuruh Bi Ida untuk membawakan makanan untuk kamu" ucap Yudha sambil meletakkan nampan yang ia bawa.
"Tidak perlu mas, aku sudah baik-baik saja" Bagaimana caranya mengembalikan Ganti rugi Dara jika dia hanya berdiam diri saja di kamar?
"Menurut saja" Yudha terdengar tidak bisa di bantah.
Adisti menggigit bibir bawahnya cemas, jika dia melanggar perkataan Yudha sudah di pastikan pria itu akan marah.
__ADS_1
Melihat raut tidak terbaca istri nya itu Yudha hanya tersenyum tipis, hanya ini kesempatan agar wanita itu mau beristirahat.
Cup!
Adisti terbelalak merasakan kecupan yang di berikan oleh suaminya.
Yudha mencium dahi Adisti cukup lama.
"Jadilah Istri yang baik"
Kecupan yang di berikan Yudha masih terasa di dahinya bahkan setelah pria itu keluar dari kamar pun ciuman nya masih terasa.
Tringg!
Ponsel Adisti berbunyi menampilkan nama Paman Yus di kontak nya.
"Iya paman?"
Senyum nya terbit dengan sempurna uang hasil penjualan tanah ternyata sudah Pamannya kirim.
"Terimakasih banyak paman"
Tut!
Dia mematikan ponselnya, setelah ini Adisti harus bersiap untuk mengambil uang cash di bank, jika melalui Transfer rasanya tidak sopan, apalagi Adisti tidak tau nomor rekening Dara.
.
Dengan bantuan Bi Ida Adisti berhasil menuruni tangga yang sangat panjang itu, setelah beberapa kali bujukan akhirnya wanita paruh baya yang sudah seperti keluarga nya sendiri itu mau mengijinkan dirinya pergi keluar sebentar.
"Ingat pulang sebelum Tuan, Adisti" Bi Ida kembali mengingatkan Istri dari tuannya.
"Bibi tenang saja ya?"
Lagipula dia di antar oleh supir jadi tidak akan ada masalah nanti nya, Yudha juga terkadang lambat pulang jadi Adisti bebas.
Nyatanya semua perkiraan Adisti salah besar bukanya pulang terlambat Yudha malah pulang lebih awal dari biasanya.
Saat ini pria itu tengah duduk di atas kursi sofa sambil bertopang dagu, guratan amarah terlihat sangat jelas dari wajah Yudha sekarang.
"Jadi dia pergi sendiri?"
Bi Ida tersentak kaget kemudian mengangguk.
"T-tapi nyonya di temani supir, Tuan"
"Intinya dia pergi sendiri kan?"
Tidak ada yang bisa menang melawan Yudha, perkataan pria itu juga benar jika Adisti pergi sendiri tanpa di temani siapapun.
"Hm... pergilah"
Bi Ida menunduk sebelum pergi meninggalkan tempat Tuannya berada.
sedangkan di tempat yang berbeda Adisti tersenyum lega karena uang yang ia cairkan cukup untuk mengganti rugi pada Dara.
Keluar dari mesin ATM Adisti langsung menghampiri supir sementara yang menggantikan Angga.
__ADS_1
"Paman ayo kita pulang" ucap Adisti setelah menutup pintu mobil.
"Baik"
Di perjalanan pulang tidak lupa Adisti mengirimkan pesan pada pamannya berbagai ucapan terimakasih.
Mobil terparkir rapi di pekarangan rumah Yudha beberapa menit kemudian, Adisti merasa was-was ketika melihat sebuah mobil Mewah yang sangat di kenal nya terparkir di sana.
"Nona!" Paman supir menyadarkan Adisti yang terlihat melamun.
"I-iya?" Tanya bingung
"Mari turun"
Dengan hati-hati paman supir membantu Adisti keluar dari mobil, lalu menuntun nya masuk kedalam rumah.
Benar saja dugaan nya Yudha sudah duduk tenang di sofa sambil memangku laptop miliknya, tapi yang membuat Adisti mengerutkan keningnya adalah adanya Dara di samping Pria itu.
Tidak biasanya mereka hanya berduaan saja tanpa Acia.
"Sore Tuan" Paman supir yang membantu Adisti langsung undurkan diri dari sana, meninggalkan Adisti seorang diri di bawah tatapan menusuk Yudha.
glek
Bi Ida yang berdiri tidak jauh dari mereka menatap kasihan pada Nyonya mudanya itu.
"Apa ucapan saya hanya angin lalu bagi kamu?" Tidak ada bentakan ataupun emosi saat Yudha bersuara.
Tapi Adisti bisa mendengar nada ancaman yang keluar dari sana.
"S-saya ada sedikit urusan" Jawab Adisti gugup.
Dara tersenyum sinis melihat Yudha akan memarahi Adisti.
"Kamu cukup sehat untuk keluar selama ini"
Tak
Yudha meletakkan laptop nya di atas meja, pria itu terlihat tidak tertarik lagi dengan apa yang dia kerjakan.
"Kemari Adisti" wanita itu terlihat ragu mendekati suaminya yang sedang dalam kondisi tidak baik.
Melihat tatapan yang semakin tajam itu mau tak mau Adisti berjalan tertatih-tatih mendekati Yudha.
"Darimana kamu?" Tanyanya saat Adisti sudah berada di hadapannya.
Ibu Sambung Acia itu menunduk sesekali meremas telapak tangan nya gugup.
"Apa sakit yang kamu alami ini cuma pura-pura?" Bukan Yudha yang bersuara, melainkan Dara.
Adisti langsung menggeleng cepat pada Dara, bisa-bisanya wanita itu berkata jika Adisti hanya pura-pura.
"Ini" Kening Dara dan Yudha sama-sama mengerut saat Adisti menyodorkan sebuah amplop cokelat tebal pada Dara.
"Saya mengambil ini untuk mengganti Rugi pada Anda" Tidak ingin kedua orang tua Cia semakin menyalahkan nya, Adisti langsung mengeluarkan segepok uang yang ia ambil tadi.
Yudha menatap datar tumpukan uang yang berada di dalam amplop cokelat milik Adisti.
__ADS_1
Wanita itu meremehkan dirinya?
TBC...