
"Cium Saya"
Mata yang semula sayu karena menahan rasa haus itu kini terbelalak dengan ucapan Suaminya.
Adisti langsung menoleh kearah belakang takut-takut ada orang yang mendengar ucapan Yudha barusan.
Dan benar saja orang yang kebetulan duduk di belakang mereka tersenyum-senyum geli saat Adisti menoleh kebelakang.
Plak!
"Mas!"
Yudha tidak bisa menahan tawa melihat wajah istrinya yang sudah memerah Kate menahan malu.
Pria tampan itu kemudian merangkul istri nya kedalam pelukan.
"Kenapa malu?" kekeh Yudha pada Adisti.
Adisti merapatkan tubuhnya pada sang suami saat suara tawa orang di belakang terdengar di telinga nya.
cup
"Minumlah" Yudha menyodorkan sebotol air yang tadi ia minum untuk istrinya.
"Anda terlihat sangat mencintai istri anda Tuan Yudhakara"
"uhuk!" belum sempat air yang Adisti telan melewati tenggorokan sebuah suara dengan ucapan yang mengagetkan Adisti terdengar.
"Pelan-pelan" Yudha membantu istrinya yang tengah tersedak.
"Maafkan Suami saya Tuan dan Nyonya"
Adisti seketika langsung mengangkat wajahnya saat mendengar suara yang terdengar tidak asing di telinga nya.
"Serina?"
Wanita yang ternyata adalah Serina itu tersenyum menyapa Istri dari rekan bisnis suaminya.
"Maafkan ke lancangan saya" Arga meminta maaf pada pasangan suami istri di depannya.
Yudha hanya mengangguk kemudian membiarkan pria yang pernah beberapakali terlibat skandal dengan mantan istri nya itu duduk di kursi sebelah nya.
"Sudah lebih baik?" Tanya Yudha memastikan lagi keadaan istrinya.
Adisti kemudian mengangguk merasa bersalah karena mempermalukan Suaminya dengan bersikap tidak elegan sama sekali.
Suara MC yang akan segera membuka acara terdengar dan mengalihkan semua perhatian orang-orang pada Pria yang ada di atas Panggung sana.
Acara dimulai dengan penampilan pentas seni anak-anak, dimulai dari seni Tari, Drama, dan paduan suara, Acia menampilkan pentas seni Puisi dengan Seorang gadis kecil yang sepertinya seumuran dengan Acia.
Lalu tanpa di sangka dari kursi sebelah Adisti mendengar seruan Serina yang memanggil gadis kecil di depan dengan Panggilan Arsy.
__ADS_1
'Apa gadis itu Putri dari Serina?' Batin Adisti bertanya-tanya.
"Baiklah itulah persembahan yang di tampilkan oleh Murid-murid terpilih di sekolah ini, saya harap orang tua murid sekalian mendapatkan hiburan dari anak-anak yang tampil tadi!" Suara MC kembali terdengar, Ternyata penampilan puisi dari Arina dan Acia adalah yang terkahir.
"Kalau begitu kita akan masuk ke inti Acara!"
Tiba-tiba saja saat setelah MC mulai membuka acara inti lampu-lampu yang tadinya terang benderang berubah menjadi redup dan remang-remang.
Seorang pria paruh baya yang mereka kenal sebagai Kepala sekolah naik ke atas podium.
"Baiklah! Terimakasih banyak atas waktu yang Tuan dan Nyonya sekalian berikan untuk acara ini, kalau begitu tanpa berlama-lama kami akan mulai membuka Inti Acara!"
Suara riuh tepuk tangan dari orang tua murid terdengar memenuhi ruangan.
"Lelang akan kita buka!"
Tuk!
Tuk!
Tuk!
Adisti terkejut dengan perkataan kepala sekolah barusan, apa katanya? Lelang?
"Mas apa maksudnya?" tanya Adisti pada Yudha.
"Jangan khawatir, ini sudah biasa pihak sekolah lakukan untuk mengumpulkan dana" Yudha menjelaskan pada istrinya.
Ternyata yang di katakan Yudha benar, pihak sekolah melelang benda-benda yang Anak-anak buat, seperti lukisan, kerajinan tangan, patung, dan beberapa benda buatan lainnya.
Tapi yang sangat tidak Adisti duga adalah orang-orang yang membelinya dengan harga yang fantastis.
"Kamu tidak ingin membelinya mas?"
Yudha menggeleng "Saya lebih suka memberi uang langsung dari pada membeli barang-barang yang pada akhirnya akan saya simpan di gudang" jawab Yudha
Adisti bingung harus merespon apa setelah mendengar jawaban suaminya itu, menurut nya lebih baik membeli dari pada memberikan nya cuma-cuma, karena tujuan lelang ini adalah untuk mendapatkan dana dari hasil kerja keras murid-murid bukan nya meminta sumbangan.
Yudha mencubit pipi Adisti yang membuat wanita itu mengerang kesakitan.
"Jangan cemberut begitu" ucap Yudha
"Aku tidak cemberut!" Kesal nya.
Suara MC kembali terdengar membuat Adisti dan Yudha kembali memperhatikan ke depan.
"Terimakasih atas Partisipasi Tuan dan Nyonya sekalian, Dan yang terkumpul akan kami gunakan demi kemajuan Sekolah menjadi lebih baik lagi"
"Sekian Acara hari ini, semua tamu undangan di persilahkan untuk menikmati hidangan yang sudah kami sediakan di sebelah kanan sana"
Adisti merasa sedikit lega akhirnya acara nya selesai juga, Yudha dan Adisti baru akan pergi dari sana tapi Serina dan Suaminya datang menghadang mereka berdua.
__ADS_1
"Jika berkenan, apakah kalian ingin bergabung dengan kami?" Serina mencoba peruntungan agar lebih dekat dengan Adisti.
Adisti dan Yudha saling berpandangan, kemudian mereka berdua mengangguk serempak.
"Tidak masalah" jawab Adisti ramah.
Mereka berempat berjalan beriringan menuju meja kosong yang sudah di siapkan oleh pihak sekolah, Arga dan Yudha duduk bersampingan di meja yang berbentuk bundar sedangkan Serina dan Adisti juga duduk bersebelahan.
"Yaampun aku tidak menyangka jika Putri kita berada di sekolah Yang sama" Serina memulai pembicaraan nya dengan Adisti.
"Oh? Aku juga baru tau" jawab Adisti seadanya.
"Bahkan mereka berdua membaca puisi bersama-sama" Serina tidak bisa menahan rasa gembiranya ketika mengingat momen tadi, bahkan dia juga sudah merekam nya.
Yudha dan Arga hanya diam sambil memperhatikan istri-istri mereka saling berbincang ria, sesekali kedua pria itu menanggapi ucapan Serina jika wanita itu bertanya.
"Ibu! Ayah!"
Semua yang ada di meja memutar kepala mereka mendengar suara melengking seorang gadis kecil.
Ternyata putri dari Arga dan Serina datang bersama dengan Acia di sebelahnya.
"Astaga! putri ibu! kamu sangat hebat sayang!" Serina memeluk putri nakalnya begitu bahagia, bahkan dia tidak malu memuji-muji putri nya berlebihan.
Acia berjalan menghampiri ayahnya yang duduk di sana.
"Nona Cia? apa kabar?" sapa Serina pada putri tunggal Yudha dan Dara.
"Baik" jawabnya singkat, melihat kecanggungan yang terjadi antara Adisti dan Acia sepertinya Serina jadi tau mengapa saat itu Adisti mengatakan jika di hanyalah pembantu.
"Kalian terlihat sangat hebat" puji Serina pada kedua gadis kecil itu.
Acia duduk di samping Adisti lalu menerima sepiring nasi yang baru saja di ambil kan oleh ayahnya.
"Makan dulu" Adisti tersenyum, lalu berterimakasih pada Suaminya.
Mereka berenam makan dalam diam sesekali Serina mengajak Adisti berbincang di tengah makan siang.
"Adisti kamu tidak ada niat untuk melanjutkan pendidikan?" tanya Serina tiba-tiba.
Pertanyaan yang Serina ucapkan membuat Arga menegur istrinya itu.
"Maaf kalau pertanyaan ku terlalu lancang" Serina tidak bermaksud buruk, tapi melihat bagaimana hubungan Adisti dan Yudha berjalan pasti wanita itu hidup dalam tekanan.
Karena sangat sulit bagi kalangan biasa bisa berdampingan dengan seorang konglomerat seperti Yudha ataupun suaminya.
Adisti tersenyum tidak merasa tersinggung sama sekali, karena dia tau betul dimana posisinya.
"Tidak papa"
TBC....
__ADS_1