
Angga menatap kasihan pada wanita yang tengah memakan makanan nya dengan lahap itu.
Tadi saat dia jalan di pinggir komplek perumahan nya ia tidak sengaja melihat seorang wanita menangis tersedu-sedu, awalnya dia tidak berniat menghampiri wanita itu tapi saat mendengar tangisan nya semakin kencang akhirnya dia hampir.
Betapa terkejutnya saat dia Wanita itu mendongak ternyata dia adalah Adisti.
Wajah wanita itu berantakan karena air matanya, Eyeliner yang di pakai wanita itulah yang membuat sebagian wajah Adisti menghitam.
"Pelan-pelan saja" Angga tidak mengerti mengapa istri dari Bos nya ada di pinggir jalan malam-malam begini?
Adisti masih sesegukan tapi setidaknya tangisannya sudah berhenti.
"Terimakasih banyak Angga, entah apa yang terjadi pada ku jika kamu tidak ada" ucap Adisti tulus, perutnya tidak lagi terasa lapar bahkan Angga juga membantu nya membersihkan makeup di wajahnya yang berantakan.
"Ngomong-ngomong kenapa kamu bisa ada di pinggir jalan?"
Adisti menghentikan Kunyahan nya pada roti di mulutnya, ingatan nya berputar pada saat Yudha menurunkan dirinya di jalan tanpa perasaan.
"Bukan Hal penting" jawab Adisti seadanya, tidak mungkin kan dia mengatakan pada Angga bahwa suaminya meninggalkan nya sendirian di jalan hanya karena pria itu malu membawanya?
Angga mengerti jika Adisti tidak ingin bercerita padanya.
Tapi melihat pakaian dan dandanan Adisti yang sangat mewah sudah di pastikan jika wanita itu berniat pergi ke acara besar malam ini.
"Lalu sekarang bagaimana? mau pulang saja?" Tanya Angga pada wanita di depannya.
Adisti bingung jika dia pulang seorang diri pasti Eyang akan curiga, tapi jika dia tidak pulang apa yang harus ia lakukan?
Melihat wajah kebingungan Adisti membuat Angga menyadari jika wanita itu tengah bimbang, jika memang benar dugaannya berarti Adisti tidak bisa pulang sampai Yudha menjemputnya.
"Mau jalan-jalan?"
Adisti mendongak pada Angga, sepertinya bukan ide yang buruk.
.
Sedangkan di tempat lain Yudha tengah menghampiri pemilik acara pesta yang ia hadiri.
"Selamat atas cabang baru anda Tuan Pras" Yudha tersenyum tipis pada rekan bisnisnya.
Tuan Pras menyambut uluran tangan Yudha "Terimakasih telah hadir Tuan Yudha"
"Ngomong-ngomong dimana istri anda?" Bukan bermaksud lancang, hanya saja Nyonya Besar keluarga Kara mengatakan jika cucu nya akan mewakili nya untuk hadir, wanita itu juga bilang Yudha akan datang bersama istrinya.
"Ada Kendala kecil karena itulah istri saya tidak bisa ikut" Jawab Yudha dingin.
__ADS_1
Melihat ekspresi Yudha saat ini membuat Tuan Pras tidak ingin membahas istri dari pria tampan itu lagi.
"Kalau begitu saya permisi" Yudha kemudian berbalik menuju pintu keluar, sudah cukup basa-basi nya istri nya itu pasti sedang menunggu.
"Mas? kamu datang?"
Langkah Yudha terhenti saat suara yang sangat tidak asing terdengar di telinga nya.
Saat ia menoleh kesamping ternyata Dara berdiri di sana.
"Hm" jawab Yudha singkat
"Kamu mau ke mana?" Tanya Dara heran pasalnya pria itu baru saja datang tapi sudah ingin pergi lagi.
"Saya buru-buru" Baru saja Yudha ingin pergi meninggalkan Dara, seorang pria dan wanita paruh baya datang menghampiri mereka berdua.
"Tuan Yudha dan Nyonya Dara? bagaimana kabar kalian?"
Yudha memutar bola matanya jengah apalagi sekarang?
.
Adisti tidak bisa berhenti tertawa saat Dia berjalan menyisir pasar malam yang tidak jauh dari tempat nya di tinggalkan Yudha.
Untung saja Angga membawa sepeda ontel nya sehingga mereka tidak perlu bersusah payah jalan kaki.
Walaupun orang-orang memandang mereka berdua aneh tapi Angga dan Adisti nyaman dengan diri mereka sendiri.
Bagaimana tidak aneh, Saat ini Angga dan Adisti tidak mengenakan sendal alias nyeker, dress hitam yang di pakai Adisti tertutup dengan Jaket milik Angga.
Angga menyuruh Adisti melepaskan High heels nya agar memudahkan wanita itu berjalan, karena dia tidak ingin Adisti malu Angga juga ikut melepaskan Sendalnya.
"Terimakasih banyak" Ucap Adisti saat ini mereka tengah duduk berdua di kursi panjang yang berada tidak jauh dari pasar.
"Anggap saja permintaan maaf ku" jawan Angga.
Adisti tersenyum canggung perkataan Angga membuat nya mengingat kembali apa yang pernah dia lakukan Angga padanya.
"Besok aku ganti uangnya"
Angga tertawa mendengar perkataan Adisti.
"Tentu saja! kamu bahkan hampir menghabiskan uang di dompet ku" Angga menjawab dengan nada gurauan.
Mana mungkin uang nya habis hanya karena membeli makanan murah seperti itu.
__ADS_1
Adisti ikut tertawa mendengar jawaban Angga, setidaknya dengan kehadiran pria ini dia bisa melupakan apa yang telah Yudha lakukan padanya.
"Sudah larut malam, aku harus pulang" Adisti ingat jika Yudha menyuruh nya menunggu di pinggir jalan tadi, tapi biarkan saja pria itu kelimpungan mencari nya.
Angga hampir lupa jika wanita yang tengah menghabiskan waktu bersamanya nya ini sudah bersuami.
"Aku antar"
Mereka berdua menghampiri sepeda Angga yang terparkir di tempat khusus parkiran, dengan sedikit susah payah akhirnya Adisti bisa menaiki sepeda tersebut dengan bantuan Angga.
Sepeda yang di pakai Angga adalah sepeda gunung yang boncengan nya di depan, Mungkin jika orang lain melihat mereka berdua saat ini, orang itu akan mengira jika keduanya adalah sepasang kekasih.
Tidak seperti bersama Yudha di perjalanan pulang Adisti banyak bercerita dengan Angga, bahkan pria itu juga bercerita tentang apa yang di alaminya saat masih di rawat di rumah sakit.
Tawa mereka terhenti saat tidak jauh dari keberadaan mereka sekarang Yudha tengah menyenderkan tubuhnya pada mobil miliknya.
Dengan was-was Adisti turun dari boncengan Angga.
"Darimana kalian?" Tanya Yudha dingin apa istrinya itu tidak berfikir betapa paniknya ia saat tidak menemukan wanita itu di mana-mana?
"Maaf Tuan, saya bertemu nyonya di pinggir jalan Tadi, karena tidak tega melihat nyonya menangis saya mengajak nya ke pasar malam" Jelas Angga sebelum pria di hadapannya ini semakin marah besar.
"Saya sudah menyuruh kamu menunggu kan?" Yudha tidak memperdulikan Perkataan Angga, yang menjadi fokusnya saat ini adalah Adisti.
Rahangnya mengeras saat dia melihat jaket murahan yang pastinya milik Supir nya bertengger di bahu sang istri.
Sret
Bruk
Adisti terkejut saat dengan tanpa perasaan Suaminya itu membuang jaket milik Angga yang ia kenakan.
"Mas!" Adisti menaikkan volume suaranya, untuk pertama kalinya Adisti membentak nya seperti ini hanya karena orang lain.
grep
"Kamu sudah berani hm?" Yudha mencengkeram dagu Adisti dengan jarinya.
Bahkan pria itu tidak peduli saat istrinya meringis kesakitan.
"Tuan jangan menyakiti Adisti seperti itu"
Angga baru saja akan menghampiri Adisti saat sebelum kata-kata yang keluar dari mulut bos nya menghentikan langkahnya.
"Kamu ingin di pecat sekarang juga?"
__ADS_1
Adisti menahan tangisnya mendapatkan perlakuan kasar dari Yudha, entahlah sepertinya rasa hormatnya pada pria ini menghilang di mulai sejak Yudha meninggalkan nya di jalan.
TBC......