
Seharusnya Adisti mengatakan lebih awal jika makanan yang wanita itu siapkan bukan Hanya untuk nya saja, melainkan untuk Acia juga.
Atas permintaan istrinya Yudha meminta Angga untuk menjemput Acia langsung ke sekolah nya dan mengantar nya kemari.
Selama itu pula Yudha harus menunda rasa laparnya demi menunggu kedatangan putri nya.
"Nah sekarang makan lah"
Yudha menghela nafas panjang setelah kedatangan Acia, Adisti sama sekali tidak memerhatikan dirinya bahkan wanita hamil itu hanya menyiapkan makanan untuk Acia saja.
"Adisti siapkan untuk ku juga" kesal nya saat istrinya sama sekali tidak memperhatikan dirinya.
Adisti melirik suaminya sejenak di hampir lupa jika suaminya ada di sana juga.
"Oh Maafkan aku" Ucap Adisti merasa bersalah.
Adisti menyiapkan juga makanan untuk suaminya baru setelah nya untuk dirinya sendiri, mereka bertiga makan dalam hening hanya suara dentingan sendok saja yang terdengar.
Sesekali Yudha meminta Adisti untuk mengambilkan nya air atau tambahan lauk, sikap yang tidak mencerminkan Yudha sama sekali sampai-sampai Adisti di buat kesal.
Beberapa menit berlalu mereka sudah selesai menghabiskan makan siang yang Adisti bawa dari rumah.
"Acia pulang lah lebih dulu ya?" Yudha menatap putri nya sendu.
Hari ini dia hanya ingin menghabiskan waktu bersama istrinya saja semoga saja putri nya itu mengerti.
Namun Yudha harus di buat mengelus dada ketika Acia malah menggelengkan kepalanya.
"No Daddy! aku ingin bersama Mama" Sahut Cia langsung memeluk Adisti yang duduk di sebelah nya.
"Acia!"
Bentakan dari Yudha membuat gadis kecil itu menyembunyikan wajahnya di pelukan ibu Sambung nya, bahkan Adisti ikut merasa terkejut mendengar bentakan suaminya barusan.
"Mas! Jangan meninggikan suara seperti itu" Adisti menegur Yudha.
Dia hanya tidak ingin jika Acia merasa tidak di sayangi lagi karena bentakan Yudha barusan.
Yudha menatap datar istrinya, dari tadi malam dia di buat kesal oleh istri dan putrinya, Rencana yang sudah ia susun dengan rapi hancur berantakan.
Suasana hati nya memburuk bahkan rasanya dia ingin menangis sekarang, keinginan kecil nya untuk menghabiskan waktu bersama istrinya harus gagal, dan ia harus mengalah terhadap putri nya sendiri.
"Pulang lah!"
Adisti tertegun mendengar suara dingin Yudha yang sudah lama tidak ia dengar.
"Kamu marah?" Adisti bertanya
Yudha menggeleng kemudian bangun dari duduknya kembali ke meja kerjanya.
__ADS_1
Acia menatap Adisti
"Tidak apa-apa sayang, kamu bisa keluar dulu?" Adisti meremas lembut pundak Acia menenangkan gadis itu.
"Aku ingin pulang bersama Mama" Lirihnya semakin mengeratkan pelukannya.
Adisti tersenyum lembut kemudian ia mengangguk
"Kita akan pulang bersama, tapi biarkan Mama bicara deng Daddy ya?" mohon nya pada sang putri.
Dengan pasrah Acia mengangguk setuju kemudian dia pergi keluar dari ruangan ayahnya.
Setelah kepergian Acia, Adisti berjalan menghampiri suaminya yang masih setia dengan Wajah datarnya.
Melewati meja yang berisi dokumen-dokumen penting milik Yudha, Adisti berjalan memutar agar bisa lebih dekat dengan suaminya.
"Mas?" Adisti mengusap lembut pundak tegap Yudha, walaupun masih berwajah datar Adisti bisa melihat kilatan bening yang berada di ujung mata Yudha.
Yudha tidak menyahut pria itu pura-pura fokus pada layar komputer nya.
"Lihat aku!" Adisti menangkup wajah suaminya agar menghadap ke arah nya.
Deg
Betapa terkejutnya Adisti melihat wajah yang semula datar itu kini Basah oleh air mata.
Yudhakara menangis?
"Kenapa menangis?" Apakah Yudha sangat marah hingga menangis seperti ini?
"Kamu jahat sekali" Ucap nya sesegukan.
Bagaimana tidak? Yudha sebenarnya kesal pada dirinya yang sekarang berubah melow seperti ini, semenjak Adisti mengandung yang harus mengalami segala macam mood swing adalah dirinya, bahkan masalah mengidam saja dia yang harus mengalami.
Untung saja dia tidak mengalami Morning sickness juga.
Tapi bukannya memperhatikan dirinya Adisti lebih sering mengabaikan nya sekarang, dan itu membuat nya kesal.
"Mas, kamu tau kan Acia baru saja menerima ku dan bayi kita? jika aku mengabaikan nya bagaimana jika gadis itu kembali membenci ku?" Adisti kasihan melihat Yudha yang sampai seperti ini.
Tapi dia juga kasihan jika Acia harus terabaikan hanya karena masalah sepele ini, bagaimana jika Acia malah kembali membenci nya? Adisti tidak sanggup membayangkan hal itu lagi.
"Tapi kamu selalu mengabaikan ku" Yudha merengek seperti anak kecil yang meminta perhatian pada ibunya.
Adisti tertawa mendengar rengekan itu syukur nya suaminya tidak lagi menangis.
"Bersabarlah sedikit lagi, nanti ada saat nya aku hanya untuk mu" Ucap Adisti tersenyum lembut.
"Malam ini kamu harus tidur bersamaku" Pesan Yudha serius.
__ADS_1
"Bukannya kita selalu tidur bersama?" Adisti merasa heran dengan ucapan Yudha yang seolah-olah mereka tidak pernah tidur bersama.
"Tapi tadi malam kamu tidur dengan Acia" sungutnya sebal mengingat jik Adisti tidur tanpa menunggu nya.
Adisti merasa gemas sendiri bisa-bisanya Yudha iri pada putrinya?
"Malam ini aku tidur bersama mu" ucap Adisti.
Yudha tersenyum senang kemudian pria itu memeluk perut Adisti yang membesar.
Kemudian pria itu berbisik pada perut istrinya.
"Kamu dengar? malam ini Daddy akan mengunjungi mu" Bisik nya yang masih bisa di dengar Adisti.
Istri Yudha itu Hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar bisikan Yudha.
"Sekarang lepaskan aku, Acia sudah menunggu di luar Mas"
Yudha mengangkat wajahnya menghadap sang istri, wajah sembab itu kemudian menampilkan senyum lebarnya.
"Cium aku dulu"
Tanpa membuang waktu lagi Adisti langsung mendekatkan wajahnya pada Yudha, bibir keduanya bertemu saling menempel dan ******* sebelum Adisti menjauhkan wajahnya.
"Nanti di lanjutkan lagi" ucap nya sebelum Yudha protes dengan nya.
.
.
Seperti perkataan Adisti saat di kantor Yudha tadi mereka akhirnya kembali tidur bersama tanpa Acia, karena gadis itu harus menemani Eyang tidur di kamar.
Hanya urusan seperti itu saja mereka harus meminta bantuan eyang untuk turun tangan.
Adisti menyenderkan kepalanya di bahu telanjang suaminya, kedua orang dewasa itu baru saja menghabiskan malam panas mereka di atas kasur itu.
Sesekali Yudha memberikan usapan lembut di perut Adisti yang tidak tertutup apapun, Yudha bisa merasakan pergerakan halus dari putra nya.
"Kalian baik-baik saja kan?" Yudha panik karena tadi dia cukup bermain kasar.
Hasrat yang dia tunda sangat lama akhirnya bisa terlampiaskan juga, karena itulah dia bermain cukup kasar tadi.
"Tidak apa-apa mas, hanya sedikit nyeri saja" ucap Adisti lembut, tidak ingin membuat Yudha merasa sedih.
Yudha menenggelamkan wajahnya di dada sang istri yang tidak tertutup apapun, sebenarnya dia belum puas tapi karena kasihan dengan istri dan Calon anaknya dia terpaksa berhenti.
Di usapnya rambut lembut suaminya itu, Sesekali Adisti harus menahan geli karena Yudha seperti nya belum puas dengan apa yang baru saja mereka lakukan.
"Aw! Jangan di gigit!" Keluh Adisti saat Yudha mengigit dadanya.
__ADS_1
"Sayang......sekali lagi ya?"
TBC.....