Ibu Sambung Yang Tak Dianggap

Ibu Sambung Yang Tak Dianggap
Kebahagiaan


__ADS_3

Adisti menghabiskan waktunya hanya berdua saja dengan putra nya yang baru lahir kemarin, bayi laki-laki yang di beri nama Aksa itu dengan lahap meminum asi dari ibunya.


"Sayang cepat besar ya" Setelah mengucapkan kalimat tersebut Adisti tertawa sendiri.


Bayi nya baru lahir kemarin bagaimana bisa dia menyuruhnya cepat besar.


Aksa melepaskan ASI nya dan memilih tidur di pelukan Adisti.


"Hey kamu tidur? sekarang mama jadi sendirian" Adisti Mengusap lembut wajah serupa dengan Suaminya itu.


Ya! wajah Aksa sangat mirip dengan Yudha padahal yang mengandung Aksa adalah dirinya, tapi kenapa semua gen Yudha ada pada putranya?


Ruangan yang memang sepi bertambah sepi karena Aksa memilih tidur dari pada menemani ibunya, Untung saja ada suara TV yang menyala di ruangan nya, jika tidak mungkin Adisti akan gila sendiri di sana.


Sudah lewat tengah hari seharusnya Putri nya Sudah pulang sekarang, tapi Acia tidak terlihat di manapun.


Bunyi ketukan pintu membuat Adisti merasa antusias, dia mengira yang mengetuk adalah Acia atau eyang.


Tapi semua harapan nya pupus saat melihat suster masuk ke dalam ruangan nya.


"Selamat siang nyonya" suster tersebut tersenyum pada Adisti.


Raut yang tadinya muram berganti menjadi senyuman, tidak enak rasanya jika dia berwajah masam pada suster yang merawatnya hanya karena dia kecewa.


"Terimakasih Sus" Ucap Adisti setelah suster mengganti infus nya.


Suster itupun pergi setelah berpamitan dengan Adisti, lagi-lagi ruangan nya terasa sepi.


.


Sedangkan di tempat lain Yudha menggerutu pada dokumen-dokumen yang menggunung di meja nya, jika melihat semua surat-surat yang harus ia tandatangani itu entah kapan semua itu akan selesai.


Haaah....


Ayah dua orang anak itu menghela nafas berat, dia ingin sekali pergi ke rumah sakit untuk menemui istri dan putranya yang baru lahir Tapi pekerjaan nya tidak bisa di tinggal.


Tiba-tiba saja dia teringat mengenai keinginan istrinya untuk bertemu paman dan bibinya, Apa dia hubungi saja sekarang?


Yudha mencari kontak milik paman Adisti kemudian dia menekan nomor tersebut.


Dalam beberapa kali deringan akhirnya telepon nya di angkat.


"Halo paman?" Yudha menyapa paman Adisti, "Apakah kal-


"Tidak perlu!"


Yudha langsung menjauhkan ponselnya dari telinga saat suara dari seberang telepon begitu kencang.


Tidak mungkin kan paman Adisti meneriaki nya?

__ADS_1


"Paman?" Yudha ragu-ragu, takut jika dia salah menghubungi nomor.


"Ini Eyang!"


Set


Yudha lagi-lagi mengecek nomor yang ia telepon, benar dia tidak salah menekan nomor.


"Kenapa ponsel paman Yus ada pada Eyang?" tanya Yudha heran pada eyangnya yang satu itu.


Sedangkan eyang yang memang berada di kediaman paman dan bibi Adisti menghela nafas.


Acia yang juga ikut eyangnya tertawa mendengar suara ayahnya yang terkejut.


"Melakukan yang seharusnya kamu lakukan" sahut eyang ketus.


Paman Yus dan bibi Rina tidak tau harus berbuat apa, di satu sisi ingin menegur besannya itu tapi mana berani mereka melakukannya.


"Eyang tidak perlu sampai ke sana sendiri, aku bisa menyuruh Angga menjemput mereka nanti" Bukannya apa-apa, kesannya seperti dirinya adalah menantu yang tidak ramah sampai membiarkan Eyang pergi menjemput paman dan bibi Adisti.


Eyang lagi-lagi menghela nafas kemudian tanpa pamit langsung memutuskan sambungan telepon.


"Nyonya sebenarnya anda tidak perlu sampai repot-repot datang kemari" Paman yus buka suara, melihat eyang yang sudah berumur di tambah lagi ada Acia yang masih kecil, mereka datang kemari tanpa pengawalan apapun.


Itu sangat berbahaya, apalagi keduanya berasal dari keluarga terpandang yang tentu saja banyak musuh.


Mertua dan menantu sama saja, batin eyang mendengar ucapan paman Adisti yang sama persis seperti ucapan cucunya.


"Kami sangat berterimakasih kepada nyonya dan Tuan Yudha, karena menjemput kami langsung" BI Rina bersuara.


"Adisti ingin kalian datang jadi kami harus menuruti kemauan menantu kami kan?"


Mendengar nama ibu Sambung nya di sebut Acia bereaksi, Dengan cepat di menoleh pada eyang.


"Eyang ayo cepat kita pulang! Mama pasti menunggu ku! belum lagi aku merindukan Baby Aksa" Acia memburu sang nenek buyut agar cepat kembali ke rumah sakit.


"Mama?" Paman dan Bibi Adisti saling berpandangan, apakah Acia sudah menerima ibu Sambung nya?


Melihat bagaimana Acia memanggil Adisti dengan sebutan Mama membuat mereka merasa lega, di tambah lagi seperti nya Adisti dan Acia mulai akrab sekarang.


"Kalau begitu biarkan kami bersiap-siap dulu nyonya!"


Beberapa saat kemudian akhirnya Paman Yus dan BI Rina sudah siapa tanpa membuang waktu mereka langsung bergegas menuju kota hari itu juga.


.


"Jake!"


"Ya Tuan?!" Asisten Yudha itu langsung bangun dari meja nya ketika sang Tuan memanggil.

__ADS_1


"Bantu aku selesaikan berkas ini!" Yudha tidak ingin jika kedatangan paman dan bibi Adisti tidak di sambut oleh kehadiran nya.


Tapi dia juga tidak mau berkas-berkas menggunung ini terbengkalai juga, mau tak mau Jake harus turun tangan membantu nya menyelesaikan semua ini.


.


.


Aksa terbangun dari tidurnya karena merasa lapar, karena tidak ada siapa-siapa di ruangan nya maka Adisti harus mengambil bayinya dari dalam box seorang diri.


Rasanya tidak enak jika harus memanggil perawat hanya untuk mengambil putra nya dari sana.


"Sayang kamu lapar?"


Bayi laki-laki itu sudah berada dalam gendongan sang ibu, sembari menimang-nimang Aksa, Adisti juga memberikan asi untuk putra nya itu.


Rasa khawatir menjalar di hatinya saat melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 3 Sore, sebenarnya kemana Acia pergi?


Adisti ingin menelepon suaminya atau Eyang tapi dia tidak membawa ponsel.


Klek!


"Mama!"


Adisti tersenyum lebar saat Acia masuk kedalam ruangan nya sambil berteriak.


"Acia jangan berteriak!" Di ikuti oleh eyang di belakangnya.


Awalnya Adisti mengira hanya mereka berdua yang mengunjungi nya, tapi wajah terkejut tidak bisa dia hindari begitu Paman dan Bibi nya masuk kedalam setelah Eyang sari.


"Paman! Bibi!" Adisti ingin berlari pada kedua orang yang sudah merawat nya sejak kecil itu, tapi sayangnya kondisi nya tidak memungkinkan untuk itu.


"Apa kabar nak" BI Rina maju dan langsung membawa putrinya ke dalam pelukannya.


"Maaf tidak bisa bersamamu saat bersalin" Paman Yus mengusap lembut rambut panjang Adisti.


Tidak menyangka gadis yang dulunya sering membantu dirinya di kebun sekarang telah menjadi wanita sempurna.


"Aku sangat merindukan kalian" Adisti berkaca-kaca melihat kedua orang tuanya bisa ada di sini.


"Kami juga nak"


Eyang bersyukur cepat menjemput Paman dan bibi Adisti karena nya dia bisa melihat kebahagiaan begitu terlihat di wajah sang menantu.


"Mama! peluk aku juga"


Acia naik ke atas ranjang Adisti lalu memeluk ibu sambungnya dari belakang.


"Jangan menghancurkan suasana Cia" keluh Eyang merasa malu.

__ADS_1


TBC.....


__ADS_2