
"Aku sudah senang saat dia pergi waktu itu, tapi sayangnya dia kembali dengan cepat"
"Kenapa wanita itu tidak pergi juga sih! aku tidak suka dengannya"
Lagi-lagi Tari harus mendengarkan gosip murahan dari teman-teman seprofesinya mengenai Adisti.
Memangnya ada apa dengan Wanita itu? Adisti adalah wanita baik-baik menurut nya.
"Eh? Tari kamu di sini?" Kedua pelayanan yang asik bergosip tadi tidak terlihat takut sama sekali saat bertemu dengan Tari.
Dia mengangguk
"Sebenarnya kenapa kalian begitu membenci Adisti?" akhirnya pertanyaan yang mengganjal di hatinya bisa ia keluarkan.
Kedua pelayanan tersebut saling berpandangan.
"Kamu masih belum menyadari nya?" Tanya salah satu dari mereka.
Tari mengerenyitkan dahinya bingung, Menyadari tentang apa?
"Adisti itu wanita murahan"
Kata yang sama tidak terdengar asing di telinga nya, sepertinya dia pernah mendengar kata itu terucap dari seseorang.
"Jangan asal bicara! kenapa kamu bisa menuduh orang seperti itu!" bentak Tari tidal terima saat Adisti di cap sebagai wanita murahan.
Pelayan tersebut berdecak kesal kemudian mengeluarkan ponselnya dari dalam saku lalu menunjukkan sebuah foto pada Tari.
"Kamu lihat sendiri!"
Tari mengambil ponsel tersebut di dalam nya hanya ada foto seorang wanita bergaun Hitam panjang baru saja turun dari sebuah mobil mewah.
"Apa yang salah dengan ini?"
"Kamu masih belum mengerti juga?"
Tari menggeleng
Pelayan itu menghela nafas lelah kemudian dia mengambil kembali ponselnya lalu memperbesar gambar tersebut.
"Ini adalah Adisti, dan apa yang kamu pikirkan saat melihat wanita baru saja turun di pinggir jalan malam-malam? menggunakan pakaian seperti itu lagi" jelas pelayan itu.
Tari tidak sadar jika wanita di gambar adalah Adisti, tapi tidak ada yang aneh dari foto yang di tunjukkan oleh pelayan itu.
"Memangnya kenapa jika dia baru saja turun dari mobil mewah?" mungkin saja kan itu adalah mobil milik kekasih Adisti?
"Mana ada wanita baik-baik keluar malam dengan pakaian terbuka seperti itu" sungutnya kesal pada Tari.
"Masih ada satu lagi"
Kemudian pelayanan tersebut menunjukkan gambar kedua dimana ada Adisti dan Angga sedang berada di depan sebuah supermarket 24 jam.
__ADS_1
"Setelah pergi bersama pria lain, dia malah mengincar Angga"
Tari menggeser foto-foto dimana Angga dan Adisti berbicara dengan serius, bahkan ada foto yang memperlihatkan Adisti tengah memeluk Angga saat keduanya menaiki sepeda.
Tanpa sadar genggaman nya pada ponsel milik tema seprofesi nya semakin mengerat, dadanya terasa sesak saat melihat kebersamaan kedua orang di gambar itu.
'Ada apa dengan ku?' batin Tari
"Sebagai sesama teman aku hanya mengingatkan, jika kamu menyayangi Angga pastikan pria itu jauh dari wanita seperti Adisti"
Saat setelah pelayan tersebut meninggalkan sebuah peringatan untuk nya, mereka berdua pergi meninggalkan Tari seorang diri dengan lamunannya.
Ingatan Tari berputar kembali sebelum kejadian Angga melecehkan Adisti.
Saat itu Angga pernah bilang padanya jika Adisti adalah wanita murahan dan karena kesal dengan perkataan Angga bahkan dia sampai menampar pria itu.
"Apa perkataan Angga saat itu benar?" Tari meremas rambut nya kencang, kepalanya sakit memikirkan kemungkinan-kemungkinan jika Adisti benar-benar wanita seperti itu.
Angga adalah orang yang sangat berarti bagi nya, begitupun dengan Adisti.
Tapi dibandingkan dengan Wanita itu Tari lebih menyayangi Angga yang selalu ada saat dirinya merasa sulit dan putus asa.
"Apa Mbak Adisti benar seperti yang di katakan wanita tadi?" gumamnya
Tari tidak berbohong jika dia memang memiliki perasaan lebih pada seorang Angga, apalagi saat pria itu terus menghibur nya setelah ia putus dari pacarnya yang lama.
Tapi Angga sangat mencintai Adisti apakah ada kesempatan mendapatkan Pria itu?
Puk!
"Eh? Bibi?"
Tari membalikkan badannya saat pundaknya di tepuk oleh seseorang
Ternyata Bi Ida berada di belakangnya.
"Sedang apa berdiri di sini?" Tanya Bi Ida heran pada wanita di hadapannya.
"Tadinya ingin mengambil sapu, tapi tadi sudah di ambil oleh pelayan lain" ucapnya seadanya, jangan sampai Bi Ida tau jika dia habis menggosipkan Adisti.
Bi Ida menggelengkan kepalanya, kemudian melewati Tari begitu saja dengan membawa belanjaan nya di atas meja dapur.
"Bibi habis belanja?" Tanya Tari mengikuti Bi Ida masuk ke dapur.
Sebenarnya ada pertanyaan yang ingin dia tanyakan mengenai Adisti pada Wanita paruh baya tersebut.
"Iya, tapi sayangnya Bibi melupakan bumbu dapur di pasar tadi" Jawab Bi Ida sembari menyusun barang-barang belanjaan ke wadah nya masing-masing.
Tari turut membantu menyusun belanjaan Bi Ida.
"Mm.. ngomong-ngomong Mbak Adisti kemana ya Bi?" Herannya saat tidak biasanya Bi Ida pergi berbelanja seorang diri.
__ADS_1
"Bibi menyuruh nya mengambil barang yang ketinggalan tadi"
Ah! apakah ini kesempatan yang bagus untuk nya bertanya?
Tari mengigit bibir nya gugup, boleh kah dia bertanya?
"Bibi"
"Hm?"
"Bagaimana menurut bibi mengenai Mbak Adisti?" Tanya Tari pada akhirnya.
BI Ida menghentikan kegiatannya menyusun sayuran kedalam kulkas, ia membalikkan tubuhnya menghadap pada Tari.
"Dalam hal apa?"
Apakah Tari meragukan Adisti seperti pelayan yang lainya? jangan mengira jika Wanita tua ini tidak tau gosip gosip buruk mengenai nyonya Yudha nya.
BI Ida jelas tau gosip tersebut menyebar begitu saja ke sesama pelayan di rumah ini.
"Selama ini kan Bibi tinggal di sini bersama dengan Mbak Adisti, pasti bibi Taukan apa saja kegiatan Mbak Adisti saat malam hari?"
Mana dia tau apa yang di lakukan oleh Tuan dan Nyonya nya di malam hari.
Ingin sekali Bi Ida menjawab seperti itu. tapi dia hanya menahannya.
"Tidur itu saja" Jawab Bi Ida seadanya dan kembali melanjutkan kegiatannya yang tertunda.
Tari mengerucutkan bibirnya kesal, bukan jawaban seperti itu maksudnya.
"Lalu tentang Mbak Adisti dan Angga? apakah menurut bibi mereka cocok?"
BI Ida menghela nafas lelah sampai kapan dia harus mengatakan kebohongan untuk menutupi status Adisti?
"Bibi tidak tau nak, sebaiknya kamu bantu bibi menyiapkan makan malam" elak Bi Ida tidak ingin menambah beban pikirannya.
"Memangnya Mbak Adisti masih lama ya bi?" ketusnya, Entah mengapa dia menjadi kesal dengan Adisti yang seenaknya meninggalkan pekerjaan nya seperti ini.
"Sepertinya, karena Sekalian menjemput Nona Cia di sekolah"
Tak!
BI Ida mendengus saat Tari menaruh pisau dengan kencang hingga berbunyi.
"Mbak Adisti pergi dengan Angga?" Tanya nya tidak Terima.
"Sebenarnya ada apa dengan mu hari ini? apa ada sesuatu yang mengganggu mu?" Tari bersikap aneh sekarang, tidak biasanya wanita itu ikut campur mengenai kepergian Adisti dan Angga bersama.
Tari tidak menjawab pertanyaan Bi Ida sekarang yang dia khawatirkan adalah bagaimana jika Angga semakin tenggelam dalam jeratan Adisti?
TBC.....
__ADS_1