Ibu Sambung Yang Tak Dianggap

Ibu Sambung Yang Tak Dianggap
Menyusul Istri


__ADS_3

Adisti meringis antara sakit dan malu menjadi satu, berusaha mengabaikan Dika yang tengah mengganti perban di kaki nya.


Seharusnya saat ini mereka sedang memegang cangkul dan mencabuti rumput di sawah, andaikan dia tidak ceroboh dan berakhir tersungkur di tengah jalan.


Malu sekali Adisti saat itu untung saja tidak ada orang yang memperhatikan. syukur nya Dika dengan baik hati mau menolongnya tadi.


"Kamu pulang kerumah tadi malam tanpa suamimu, lalu saat pulang kondisi kaki mu seperti ini, dan aku yakin kamu juga sempat merasakan sakit di bagian lengan kan?" Adisti yang semula membuang muka dari Dika, sontak langsung menatap pria itu.


Andika tidak bodoh untuk menyadari jika sesuatu telah terjadi pada sahabat masa kecil nya ini.


"Aku pulang karena merindukan paman dan bibi, itu saja" Wajah Adisti berubah sendu.


Jika sudah seperti ini Andika tidak bisa mengabaikan Adisti.


"Aku sahabat mu kan? katakan yang sejujurnya" Nada suaranya melembut tidak ingin Adisti semakin menyembunyikan masalahnya jika ia Terus berucap ketus.


"Mana ada sahabat yang tidak datang saat upacara pernikahan sahabat nya" cibir Adisti pada pria di depannya.


Dika tidak tersinggung mendengar cibiran Adisti, pria itu malah tersenyum lembut.


"Maafkan aku, kamu tau kan impian ku selama ini? karena itulah aku tidak datang ke acara pernikahan mu"


Adisti tertegun, mana mungkin dia melupakan impian yang selalu terucap dari bibir Dika.


Sahabat nya itu bermimpi menjadi seorang psikolog, jadi apa Pria itu pergi karena mengejar impiannya itu?


"Lalu bagaimana?" Adisti bertanya dengan antusias, binar-binar rasa senang terpancar dari mata wanita itu.


Andika tidak menjawab, kenapa jadi dia yang bercerita? seharusnya kan Adisti.


"Ceritakan dulu tentang keadaan mu, baru aku akan menceritakan semua tentang ku"


Adisti memajukan bibirnya kesal, padahal dia sudah sangat penasaran apakah Andika berhasil atau tidak.


"Sudah ku katakan tidak ada yang terjadi" sahut Adisti sekali lagi.


Dika yang masih berjongkok di hadapan Adisti hanya menatap datar wanita itu.


Sepertinya tidak ada yang bisa ia sembunyikan dari Andika, dengan segala pertimbangan akhirnya Adisti mau membuka suaranya.


Tidak mengatakan semuanya dia hanya bicara tentang kesalahpahaman yang terjadi kemarin.

__ADS_1


"Yudha tidak salah, kamu pantas di marahi" jawaban tidak terduga keluar dari mulut Andika.


"Iya aku tau, karena itulah aku pergi ke sini"


Bukan hanya karena ingin menghindar dari Yudha, Adisti cuma ingin mengistirahatkan tubuh dan pikirannya dari hal-hal yang mengganggunya di rumah itu.


Dika bangun dari duduknya lalu membereskan sisa-sisa obat yang ia gunakan untuk Adisti.


"Bukanya menyelesaikan masalahmu kamu malah kabur ke mari" Cibirnya pada sang sahabat.


Andika tidak suka dengan Adisti yang lari dari masalah, keputusan wanita itu menikahi Suaminya sekarang, dan itulah konsekuensi yang harus Adisti hadapi.


"Bukan seperti itu" gumam Adisti menundukkan kepalanya.


"Seharusnya kamu ikut saja aku keluar kota saat itu"


Adisti menatap Dika


Dulu memang pernah pria itu menyarankan agar mereka berdua mencari pekerjaan di luar kota bersama-sama, Adisti saat itu menolak karena tidak ingin jauh dari paman dan bibinya.


Tapi beberapa hari kemudian keluarga Yudha datang dan menawarkan pernikahan padanya yang tidak bisa ia tolak.


Dika semakin gencar mengajaknya pergi daripada harus menikah pria yang tidak ia kenal, tapi dia memilih menikah dengan Yudha dari pada harus ikut dengan Dika keluar kota.


Adisti menarik Dika saat pria itu hendak beranjak dari duduknya.


"Kamu mau pergi sendiri?" dia ingin ikut, lagipula kakinya baik-baik saja.


"Membantu nya besok saja, hari ini cukup duduk saja di rumah" usul Dika melihat kondisi Adisti saat ini tidak mungkin juga dia menginjakkan kakinya di sawah yang becek dan berlumpur, yang ada luka Adisti akan semakin parah nantinya.


Dengan pasrah akhirnya Adisti menyetujui Sahabatnya, dia akan duduk saja di rumah hari ini.


.


.


Sudah dua hari lamanya Adisti tinggal bersama dengan kedua orang tua Dika di kampung halamannya, kondisi nya jauh lebih baik sekarang bahkan sejak kemarin dia sudah membantu paman dan bibinya di kebun, bersama dengan Andika juga tentunya.


Hari ini Bi Rina tidak bergabung dengan suaminya di kebun selain karena ada Adisti dan putranya hari ini dia berencana membuat makanan spesial untuk kedua putra-putri nya itu.


Sejak kedatangan mereka memang dia belum sempat menyiapkan apapun karena kedatangan yang tiba-tiba, karena itulah Bi Rina berencana menyiapkan nya saat ini juga.

__ADS_1


Namun sayangnya saat tengah berkutat di dapur kecilnya pintu rumah di ketuk oleh seseorang.


"Siapa?" Sapanya setelah membuka pintu kayu itu.


"Nak Yudha?" Kedatangan dari suami putri nya hari itu membuat Bi Rina kalang-kabut, Belum ada persiapan sama sekali untuk menyambut Tuan muda kara itu.


"Maaf mengganggu Bibi" Yudha tersenyum tipis pada Mertuanya, tidak lupa dia menyerahkan bingkisan sedang namun tidak murah untuk BiBi dari istrinya.


Bi Rina sontak saja langsung menggeleng cepat, tidak merasa terganggu dengan kedatangan Yudha.


Dia juga tidak terkejut dengan kedatangan tiba-tiba pria itu, karena Adisti dan Dika sudah melakukan nya terlebih dahulu jadi dia tidak terkejut lagi.


"Ayo masuk dulu" Ajaknya pada Sang menantu.


Yudha mengikuti Bi Rina masuk kedalam rumah minimalis tersebut, suasana nya tidak asing karena dia sebelumnya pernah kemari.


"Kamu duduk dulu ya, biar bibi buatkan minuman"


"Tidak perlu Bi" tolak Yudha pada Bi Rina yang berniat membuatkan nya minum.


"Sebentar saja" Bi Rina tidak mendengarkan Yudha dan langsung pergi ke belakang untuk menyiapkan makanan dan minuman ringan untuk nya.


Sambil menunggu bibi dari istrinya ke dapur, Yudha tidak dak henti-hentinya menolehkan kepalanya ke sekeliling rumah mencari keberadaan istri nya yang kabur selama dua hari dari rumah.


Mengingat hal itu Yudha merasa geram Adisti bukanya memohon maaf padanya, wanita itu malah memilih pergi dari rumah tanpa mengatakan apapun.


"Silahkan diminum"


Lamunan Yudha berhenti tepat setelah bi Rina datang membawakan nya segelas jus segar.


Lalu wanita paruh baya itu duduk di kursi seberang nya.


"Bi dimana istri saya?" Yudha bertanya sambil menikmati segelas jus yang di berikan oleh BI Rina.


Sudah pasti kedatangan Yudha untuk mencari Adisti, tapi tetap saja ibu dari Dika itu tidak menyangka bisa berbesanan dengan keluarga besar seorang Yudhakara.


"Di jam segini biasanya Adisti berada di sawah nak, sebentar lagi mungkin akan pulang" jawab Bi Rina jujur, tidak mungkin kan dia berbohong pada Yudha?


Yudha tersenyum tipis namun pikirannya tidak jauh dari sang istri.


Berani sekali Adisti pulang kampung tanpa mengabarinya, lalu saat sudah sampai bukannya istirahat istrinya itu malah bekerja di bawah terik matahari.

__ADS_1


Jika wanita itu pulang Yudha tidak akan segan-segan untuk menghukum nya.


TBC....


__ADS_2