Ice Coffee Americano

Ice Coffee Americano
BAB 41 MENGUNGKAPKAN PERASAAN


__ADS_3

Seperti rutinitas  Gavin akhir-akhir ini setiap malam ia punya tugas menjemput Kelana tiap jam pulang kerja untuk menjauhkan Kelana dari si penguntit itu, tapi kali ini ada yang berbeda. Gavin akan menjemput Kelana lalu ingin mengajaknya berjalan-jalan di taman hiburan.


"Apakah hari ini Kak Gavin mau menjemput Kelana?" tanya Jamal yang memperhatikan Gavin dari tadi.


"Iya aku akan menjemput  Kelana dari tempat kerja lalu mengajaknya jalan-jalan." jawab Gavin tanpa memalingkan pandangannya yang sedari tadi fokus pada buku lagunya.


"Waaah...." sejak kapan Kak Gavin jadi romantis..." celetuk Jimmy yang tiba-tiba nongol di belakang Jamal sehingga membuat Jamal terkejut.


"Yang pastinya sejak kenal dengan Kelana haha." jawab Jamal sambil tertawa.


"Apakah kalian tidak ada kerjaan selain kepoin urusan orang..?" jawab Gavin dengan mimik wajah tanpa ekspresi.


"Sebelum Kak Gavin memakan kita lebih baik kita pergi saja Jim."  Jamal menarik Jimmy lalu kabur dari hadapan Gavin.


Gavin pun mengambil kunci mobilnya dan pergi menjemput Kelana. di perjalanan Gavin menyusun kata-kata untuk mengungkapkan isi hatinya yang selama ini ia pendam, perasaan deg degan bercampur aduk di hati Gavin.


"Apakah Kelana akan menerima ku jadi kekasihnya atau malah Kelana akan menolakku mentah-mentah saat aku mengunkapkan perasaan ku nanti?" Selama Gavin putus dari kekasihnya yang dulu baru kali ini Gavin membuka hati lagi buat wanita lain," selama ini Gavin tidak begitu peduli dengan wanita ada beberapa wanita yang telah mendekatinya namun Gavin meresponnya dengan dingin  bahkan tidak segan-segan ia menolaknya. tapi kali ini entah kenapa justru hatinya bergetar saat dekat dengan Kelana bahkan ia merasa cemburu jika ada seorang laki-laki yang mendekati Kelana.


Setelah menempuh kemacetan dan fikiran yang bercampur aduk akhirnya Gavin sampai di depan Caffe tempat Kelana bekerja.


Tuuut..tuuut..tuuut...."


Suara telfon Gavin untuk Kelana.


📱 Hallo.." suara Kelana dari balik telfon


📱Aku menunggumu di luar." jawab Gavin


📱Baiklah aku segera keluar." sambil menutup telfon Kelana pun keluar menghampiri Gavin.


"Apakah kamu sibuk hari ini...?" tanya Kelana pada Gavin.


"Tidak juga..." semua kerjaanku sudah aku selesaikan semua untuk hari ini." jawab Gavin dengan santai.


Sudah tidak ada lagi kecanggungan di antara mereka," mereka sudah sangat santai dan bebas berbicara hal apapun.


"Bagaimana kalau kita ketaman hiburan untuk bermain dan makan ice cream." ajak Gavin tanpa basa basi.


"Serius kamu mau mengajakku ke taman hiburan...?" tanya Kelana dengan wajah yang sangat senang.


"Ya aku serius," aku akan mentraktirmu Ice Cream dan bermain semuan wahana yang kamu mau pokoknya kita bersenang-senang di sana." jawab Gavin dengan penuh antusias setelah melihat wajah Kelana yang begitu bahagia.


"Oke kita bersenang-senang di sana..." sambil mengangkat kedua tangannya Kelana dengan semangat menerima ajakan Gavin


tidak lama kemudian merekapun sampai di taman hiburan Gavin membeli tiket masuk dan semua tiket wahana yang mereka akan mainkan.


"Kamu mau main wahana apa dulu..?" tanya Gavin pada Kelana.


"Bagaimana kalau main bombomcar dulu.." jawab Kelana dengan penuh semangat.


"Oke kita main bombomcar..." Gavin pun memberikan tiket kepada petugas loket.


Mereka bermain sangat bahagia layaknya anak kecil, mereka bertabrakkan satu sama lain sehingga membuat mereka tertawa lepas. setelah mencoba wahana bombomcar mereka pun mencoba wahana lainnya tak satu pun wahana yang mereka lewatkan dan akhirnya mereka bermain wahana yang terakhir bianglala mereka berdua duduk berdampingan karena Kelana sangat takut dengan ketinggian namun ia ingin mencobanya.


"Apakamu yakin ingin menaiki bianglala ini?" tanya Gavin.


"Ya aku ingin melihat kota pada malam hari dari tempat ketinggian." jawab Kelana dengan yakin.

__ADS_1


"Baiklah kita naik bianglala.." jawab Gavin


Bianglala pun mulai berputar dengan reflek tangan Kelana mencengkram lengan Gavin sambil menutup matanya di pundak Gavin. Gavin pun memegang tangan Kelana agar tidak takut.


"Apa kamu takut ketinggian?" tanya Gavin sambil melirik Kelana yang sedang ketakutan.


"Iya aku sedikit takut ketinggian..." jawab Kelana.


"Coba kamu buka matamu pemandangannya sangat indah lampu-lampu kota berwarna-wani." Gavin meminta Kelana untuk membuka mata agar bisa mewujudkan keinginan melihat kota dari ketinggian.


Pelan-pelan Kelana membuka matanya dan betapa takjubnya ia dengan apa yang ia lihat sekarang, Kelana menutup mulutnya dengan tangannya dan kedua bola matanya terbuka lebar.


"Waaah..." indah sekali..." selama ini aku hanya bisa membayangkannya saja dan tidak pernah yakin bisa melihat pemandangan seperti ini karena ketakutanku akan ketinggian," tapi berkat kamu aku memberanikan diri dan melawan rasa takutku pada ketinggian."


"Apakah berikut-berikutnya kamu mau mencoba tempat ketinggian yang lainnya?" tanya Gavin.


"Ya aku mau asal bersamamu.." Upss..." maaf abaikan saja ucapanku barusan." sambil menutup mulutnya Kelana meralat ucapannya yang keluar begitu saja dari mulutnya. wajah Kelana menjadi memerah karena malu. "Aduuuh kelana kenapa kamu begitu ceroboh." sambil memarahi dirinya sendiri dalam hati.


"Tidak apa-apa anggap saja aku tidak mendengarnya."Gavin mencoba membuat Kelana agar tidak merasa malu namun dalam hati Gavin sangat senang dengan perkataan Kelana barusan.


Kelana pun tersadara kalau sedari tadi tangannya masi berada di lengan Gavin. "Oh maaf..."  Kelana buru-buru menarik tangannya dari lengan Gavin.


"Tidak apa-apa kamu pegang saja lenganku jika kamu takut." Gavin mengizinkan Kelana untuk berpegangan pada lengannya.


"Bagaimana kalau kita make a wish di sini..." siapa tau saja harapan kita bisa terkabul." Gavin memberi ide pada Kelana.


"Boleh juga ide kamu," ayo tutup mata dan make a wish.." kelana menutup kedua matanya.


Mereka pun berdua membuat harapan di atas bianglala yang di kelilingi lampu-lampu kota.


"Selesai..." Kelana telah selesai dengan semua harapan-harapannya.


"Hei.." bukannya harapan itu cukup di simpan dalam hati saja," kenapa kamu malah ingin tau..." protes Kelana pada pertanyaan Gavin.


"Siapa bilang harapan itu hanya untuk di simpan dalam hati," siapa yang membuat peraturan seperti itu...?"tanya Gavin.


"Aku yang buat peraturan barusan." sambil tertawa Kelana menjawab pertanyaan Gavin.


Seketika suasana pun menjadi hening dan Kelana memberitahukan Gavin harapan apa yang ia buat.


"Aku membuat harapan semoga kedepannya aku bisa membahagiakan ibuku di kampung dan adikku," menyekolahkan adikku sampai selesai,membuat ibuku bangga dan boyband semakin sukses kedepannya." jawab Kelana


"Kenapa kamu tidak membuat harapan buat diri kamu sendiri?" tanya Gavin.


"Karena buat aku kebahagiaan ibu dan adikku adalah kebahagiaanku yang nomor satu dan kesuksesan boyband juga kebahagiaanku." jawab Kelana.


Gavin semakin jatuh cinta pada Kelana, ternyata Kelana tidak memikirkan kebahagiaannya sendiri tapi ia menomor satukan kebahagiaan ibu dan adiknya dan juga boyband. Gavin sangat salut pada ketulusan hati Kelana.


"Terus kamu membuat harapan apa tadi?" tanya Kelana yang membuat lamunan Gavin buyar.


"Aku hanya buat satu harapan." jawab Gavin.


"Apa itu...?" tanya Kelana dengan wajah serius ingin mengetahui harapan seorang Gavin.


Sambil mengambil kedua tangan Kelana ke genggamannya.


"Aku ingin menjalin hubungan denganmu lebih dari teman." jawab Gavin.

__ADS_1


Dengan sontak mata Kelana membola seakan tidak percaya dengan ucapan Gavin barusan  "Ini pasti mimpi.." ini tidak mungkin, aku lagi halu, bangun bangun bangun Kelana.." Kelana berbicara dalam hati sambil menyadarkan dirinya kalau ini hanya mimpi. mata Kelana terus saja menatap Gavin sampai lupa berkedip tangan kelana gemetar.


"Kelana apa kamu baik-baik saja...?" Gavin menyadarkan Kelana dari lamunannya.


"Ah.." ya aku baik-baik saja." jawab Kelana dengan wajah yang masi kaget.


"Bagaimana pakah kamu mau kita menjalin hubungan lebih dari sekedar teman?" Gavin mengulang pertanyaannya barusan.


"Maksud kamu hubungan lebih dari teman itu seperti apa?" tanya Kelana yang pura-pura bego.


"Aku ingin kamu menjadi kekasihku." Gavin memperjelas kata-katanya agar lebih mudah di fahami oleh Kelana.


"Iya aku mau..." Jawab Kelana dengan wajah malu-malu.


"Kamu serius kamu mau menjadi kekasihku...?" tanya Gavin dengan wajah yang sangat bahagia.


"Iya aku mau menjadi kekasihmu." jawab Kelana untuk meyakinkan Gavin.


Dengan reflek Gavin memeluk Kelana dengan penuh bahagia, kekhawatiran yang selama ini ia takutkan berakhir dengan bahagia. hari ini perasaan Gavin tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata malam ini adalah malam yang sangat special dan sangat bermakna buat Gavin dan Kelana. mereka tidak ingin malam ini berlalu dua anak manusia yang baru saja menyatukan  hati mereka.


Mereka pun duduk di sebuah bangku taman di sekitar taman hiburan sambil menikmati ice cream. mereka sepasang kekasih yang masi hangat cinta mereka lagi bersemi, mereka masi kaku dan malu-malu.


"Boleh aku bertanya?'' Kelana mencoba memecah keheningan yang dari tadi tak ada suara sedikit pun.


"Tanya apa...?" jawab Gavin.


"Bagaimana dengan penggemar-penggemarmu?" bagaimana dengan media?" bagaimana dengan agencimu?" bukankah ada peraturan dalam agencimu kalau anak asuhnya tidak boleh pacaran selama masi terikat kontrak?" Kelana tau semua aturan-aturan itu karena Kelana mengikuti perkembangan boyband.


"Untuk saat ini kita rahasiakan dulu soal hubungan kita ini," tapi suatu hari nanti akan aku umumkan ke publik kalau kamu adalah kekasihku." jawab Gavin sambil mengelus rambut Kelana.


"Untuk keamanan karirmu aku tidak masalah jika harus menyembunyikan hubungan kita," dari publik yang penting kamu tidak mencoba untuk nakal dengan artis-artis cewek di sekitarmu." Sambil mengkrucutkan bibirnya Kelana mengingatkan Gavin.


"Itu tidak mungkin terjadi sayang." sambil mencium kening Kelana. Gavin meyakinkan Kelana kalau ia tidak akan berpaling dengan wanita lain.


Hati Kelana langsung berdetak kencang saat Gavin mencium kening Kelana. Kelana percaya dengan perkataan Gavin karena selama ini Gavin memang tidak pernah dekat dengan cewek manapun karena sifatnya yang dingin.


Setelah mereka menghabiskan waktu di taman hiburan dan mengahbiskan ice cream merekapun memutuskan untuk pulang karena waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam.


"Ayo kita pulang malam sudah mulai larut," kamu harus istirahat." ajak Gavin sambil menggandeng tanga Kelana.


Kelana pun menggenggam erat tangan Gavin seakan tidak mau melepaskannya. malam ini terasa sangat cepat berlalu baru saja mereka menikmati kebersamaan tapi harus terpisahkan oleh malam.


Merekapun sampai di rumah Kelana, Gavin membukakan pintu untuk Kelana dan mengantarnya sampai di depan pintu rumah Kelana.


"Kamu masuk dan beristirahatlah." sambil memegang pundak Kelana Gavin mencium kening Kelana sebagai ucapan selamat tidur.


Kelana menatap mata Gavin seakan tidak ingin jauh dari Gavin.


Mereka saling beradu pandang dan saling menatap satu sama lain dan dengan pelan bibir Gavin turun menghampiri bibir kelana dan akhirnya bibir mereka menyatu dalam heningnya malam, bibir mereka seakan enggan untuk saling melepas.


Gavin pun menghentikan aksinya dan meminta Kelana agar segera masuk ke dalam rumah.


"Masuklah udara semakin dingin tidak baik untuk kesehatanmu." pinta Gavin dan Kelana menuruti pinta Gavin.


Setelah Kelana masuk ke dalam rumah Gavin pun meninggalkan rumah Kelana.


✎ (❁ᴗ͈ˬᴗ͈) ༉‧ ♡*.✧

__ADS_1


︶︶︶︶︶︶︶︶︶༉‧₊˚.


__ADS_2