
Gavin terburu-buru meninggalkan studionya untuk menjemput Kelana di Caffee karena tadi pagi Gavin sudah berjanji untuk menemaninya ke salah satu butik langganannya.
" Kak Gavin buru-buru amat, mau kemana?" Tanya Edgar yang kebetulan bertemu di koridor kantor agenci.
" Aku mau menjemput Kelana makan siang sekalian menemaninya ke butik untuk membeli gaun." Jawab Gavin sambil berjalan tergesa-gesa.
" Cie kekasih yang siaga." Ledek Edgar sambil terkekeh.
" Sudahlah aku pergi dulu." pamit Gavin kepada Edgar lalu berjalan menuju parkiran mobil.
" Oke Kak, hati-hati." Balas Edgar sambil menaikkan jempolnya.
Gavin melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang karena di jalan lagi rame orang yang lagi mencari makan siang. Dengan menempuh waktu 15 menit Gavin pun sampai di parkiran Caffee tempat kerja Kelana namun Gavin tidak turun dari mobil karena Kelana melarangnya soalnya keadaan Caffee lagi banyak banyak mengunjung.
Tok...tok...tok...
Kelana mengetok kaca mobil Gavin.
" Apakah perkerjaanmu sudah beres semua." Tanya Gavin yang khawatir nanti Kelana kena marah karena mengajak Kelana keluar.
" Sebahagian sudah selesai sisanya nanti Anggi yang membereskannya." jawab Kelana santai.
Gavinpun menjalankan mobilnya dan menuju salah satu butik langganan Gavin, butik yang selalu dia percayakan untuk mengurus pakaian formalnya setiap Gavin ingin menghadiri acara-acara penting. Di sana juga menyediakan gaun-gaun mewah yang sangat cantik.
" Untung besok kamu libur jadi kamu punya banyak waktu untuk mempersiapkan semuanya." Gavin memulai obrolannya agar tidak sepi.
" Iya dan rencananya aku mau bersiap-siapnya di rumah Vania saja, boleh tidak?" Kelana harus minta persetujuan Gavin dulu sebelum Gavin ngambek.
" Boleh, berarti aku menjemputmu di rumah Vania saja?" Tanya Gavin.
" Iya biar aku ada teman di tempat acara." Jawab Vania.
" Baiklah kalau begitu nanti aku ke rumah Vania bersama Jimmy tapi kami beda mobil saja." Ucap Gavin dengan bersemangat.
" Kenapa beda mobil, bukannya kalau pakai satu mobil lebih mengurangi kemacetan?" Tanya Kelana dengan serius.
" Kalau kami naik satu mobil saja pulangnya nanti terlalu ribet karena harus mengantar Vania dulu terus mengantar kamu lagi, lebih baik Vania jadi tanggung jawab Jimmy saja dan kamu jadi tanggung jawab aku." Gavin melirik ke arah Kelana sambil mengedipkan satu matanya.
" Ih koq jadi genit sih." Kelana memukul lengan Gavin.
__ADS_1
" Hehe sekali-sekali kan nggak apa-apa sayang." Jawab Gavin dengan memasang wajah genit.
" Ih awas ya kalau sama cewek lain kamu kaya gitu juga." ancam Kelana sambil menarik hidung Gavin yang mancung.
" Aduh...aduh... Sakit sayang." Gavin merintih kesakitan pada Kelana sambil mengusap-ngusap hidungnya yang sudah di lepaskan oleh Kelana.
" Kamu sih genit banget." Kelana menyalahkan Gavin.
" Akukan genitnya cuma sama kamu nggak genit sama cewek lain sayang." Ucap Gavin untuk membela diri.
" Iya...iya... Aku percaya." Balas Kelana sambil memasang wajah cengengesan.
Setelah ngobrol selama di perjalanan akhirnya merekapun sampai di butik yang mereka tuju, merekapun turun dari mobil Kelana melongo melihat keadaan butik dari luar yang sangat bagus dan mewah.
" Ayo sayang." Ajak Gavin pada Kelana yang masih melongo mengagumi keindahan butik tampak luar.
Kelana yang menyadari ajakan Gavin tiba-tiba menarik Gavin ke samping mobil." Kita beli gaunnya di mall atau di toko yang biasa sajak yuk sayang."
" Kenapa sayang,? desain-desain di butik ini bagus-bagus dan sangat terkenal lho." Tanya Gavin dengan tatapan heran.
" Ini butik mahal sayang hanya artis-artis terkenal yang sanggup membeli koleksi desain butik ini." Jawab Kelana sambil berbisik pada Gavin.
" Bu_bukan begitu sayang cuma daripada kamu menghabiskan uangmu untuk membelikanku gaun yang mahal lebih baik kamu tabung saja uangnya." Kelana berusaha memberikan alasan agar Gavin tidak semakin kesal.
" Sayang aku ini seorang artis dan di acara party nanti orang akan berpakain mewah semua, tidak mungkin aku membiarkanmu pakai gaun yang murah." Tegas Gavin dengan sedikit menyombongkan diri.
" Baiklah kalau begitu aku ikut saja apa mau kamu." Kelana menuruti keputusan Gavin karena tidak mau berdebat panjang.
Kelana mengikuti langkah Gavin yang masuk ke dalam butik dengan sambutan para karyawan yang ada di dalam butik.
" Selamat siang Tuan Gavin." Sapa manager butik pada Gavin.
" Selamat siang." Jawab Gavin sambil duduk di salah satu sofa yang telah di sediakan.
" Bagaimana jas yang sudah aku pesan apa sudah selesai?" Tanya Gavin pada manager butik.
" Oh sudah tuan, sebentar saya ambilkan." Manager butik mengambilkan jas pesanan Gavin.
" Ini Tuan Jas pesanannya." Manager itu menyerahkan jas kepada Gavin.
__ADS_1
Gavin menuju ruang ganti untuk mencoba jas baru yang akan di pakai saat party nanti. Pada saat Gavin sibuk mencoba Jasnya, Kelana berkeliling melihat-lihat koleksi gaun mewah yang terpajang sesekali Kelana mengecek harga yang tertera pada label harga yang membuat biji mata Kelana hampir keluar dari kelopaknya.
" Gila gaun di sini harganya bisa beli sawah di kampung." Gerutu Kelana dalam hati.
Setelah Gavin selesai mencoba jasnya dan dia rasa tidak ada yang salah Gavinpun keluar dari ruang ganti dan mencari keberadaan Kelana.
" Kelana...!" panggil Gavin.
" Iya..." Kelana menghampiri Gavin setelah mendengar panggilan Gavin.
" Kamu dari mana saja?" tanya Gavin.
" Aku hanya melihat-lihat gaun yang ada di butik ini." jawab Kelana.
" Nona bisa tolong keluarkan semua koleksi gaun yang ada di butik ini yang belum di rilis?" pintah Gavin pada manager butik.
" Oh baik tuan kami akan keluarkan semua, kebetulan kami ada koleksi terbaru kami yang baru kemarin selesai di buat." Jawab manager butik sambil mengeluarkan semua koleksinya.
" Kelana kamu coba semua gaun-gaun itu yang mana paling cocok di tubuhmu." Pintah Gavin pada Kelana.
" Se_semua...?" Tanya Kelana dengan mata melotot karena kaget.
" Iya semua." Jawab Gavin dengan santai.
" Ba_baiklah." Lagi-lagi Kelana menuruti pintah Gavin karena Kelana tidak mau berdebat.
Kelana mulai mencoba gaun 1/1 dan di perlihatkan ke Gavin untuk minta persetujuan apa dia cocok dengan gaun yang di kenakannya, sudah 9 gaun yang di coba Kelana namun tidak ada yang cocok di mata Gavin karena gaun yang di coba Kelana rata-rata model **** dan Gavin tidak mau sampai Kelana memperlihatkan kulit mulusnya karena di party nanti banyak artis cowok yang akan hadir. Setelah Kelana keluar masuk kamar ganti akhirnya ada juga gaun yang cocok untuk Kelana dan Gavin menyetujuinya tanpa fikir panjang Gavin langsung menyuruh manager butik untuk membukusnya.
Gavin menuju kasir untuk membayar sepasang pakaian yang mau di belinya dengan harga di luar nalar sepasang jas saja yang di pesan Gavin seharga 90jt sedangkan harga gaun untuk Kelana seharga 80jt. Untuk seorang artis terkenal harga segitu belum seberapa di banding penghasilan yang Gavin dapat setiap habis konser, belum lagi hasil dari penjualan album dan kredit dari hasil collab-collab dengan artis ternama.
Setelah semuanya beres merekapun berpamitan pada manager butik.
" Terimasih nona atas pelayanannya." Pamit Gavin.
" Sama-sama tuan, hati-hati di jalan." Balas manager butik.
Kelana hanya bisa terdiam melihat Gavin membelanjakannya dengan begitu boros, Kelana tidak mau protes soalnya dia tidak mau kalau Gavin marah dan ujung-ujungnya mereka bertengkar. Merekapun menuju sebuah restoran untuk makan siang karena tadi mereka langsung ke butik untuk berbelanja. Sesampainya di restoran mereka langsung memesan makanan setelah menunggu sekitar 5 menit akhirnya makanan mereka datang merekapun makan dengan khitmat.
✎a❁ᴗ͈ˬᴗ͈) ༉‧ ♡*.✧
__ADS_1
︶︶︶︶︶︶︶︶︶༉‧₊˚.