
Setelah Gavin memarkirkan mobilnya Gavin, Jimmy dan Vania turun dari mobil dan memperhatikan jejeran villa yang berada di pesisir pantai kemuning.
" Apakah tadi kak Gavin di beritahu Anggi di villa mana Kelana menginap?" Tanya Jimmy pada Gavin.
" Namanya villa lembayung." Jawab Gavin tanpa mengalihkan pandangannya dari deretan villa di pantai kemuning ini.
" Kalau begitu ayo kita cari yang namanya villa lembayung." ajak Jimmy tidak sabar.
Merekapun bertiga menyusuri deretan villa yang tertata rapih satu per satu sambil membaca nama-nama yang tertera di plang yang telah terpampang di setiap halaman villa.
Setelah beberapa menit mereka menyusuri tepi pantai untuk mencari villa yang bernama lembayung akhirnya mereka menemukannya, villa yang mereka cari berada di deretan paling ujung dan tempatnya sangat nyaman untuk menenangkan diri.
Gavinpun dengan buru-buru menaiki anak tangga karena bangunan villa berupa rumah panggung yang sederhana namun nyaman. Gavin tidak sabar ingin bertemu Kelana.
Tok! Tok! Tok!
" Kelana...! apakah kamu ada di dalam?" Gavin mengetuk pintu sambil sesekali mengintip ke dalam villa lewat jendela yang berada di samping pintu.
" Kelana...! Apakah kamu ada di dalam?" panggil Gavin untuk ke dua kalinya
Kelana yang sedang tidur pulas akhirnya mendengar seseorang memanggil namanya dan mencoba membuka matanya yang masi sangat mengantuk.
" Kelana...! Apa kamu ada di dalam?" Gavin memanggil nama Kelana untuk ketiga kalinya.
" Mungkin kak Kelana sedang berjalan-jalan di pantai kak." celetuk Jimmy yang berdiri di belakang Gavin.
Kelana terbangun dari tidurnya dan memastikan dirinya kalau ia tidak salah dengar dari tadi ada yang memanggil namanya sambil menebak-nebak suara yang memanggil namanya.
" Gavin...! Bukankah itu suara Gavin?" darimana Gavin tau kalau aku ada di sini?" sambil mengerutkan kening Kelana membathin dan merasa terkejut dengan kedatangan Gavin.
Kelana bangkit dari tempat tidurnya dan menuju ke arah pintu untuk membuka pintu.
__ADS_1
Ceklek...
Suara pintu terbuka dari dalam villa.
Saat pintu terbuka Gavinpun langsung memeluk Kelana seerat-eratnya.
" Sayang aku sangat meridukanmu... Kenapa kamu pergi diam-diam seperti ini... Kenapa tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan semuanya..." Gavin meracau tanpa melepaskan pelukannya pada Kelana.
Uhuk..uhuk..uhuk...
Kelana terbatuk-batuk karena pelukan Gavin yang begitu erat.
Jimmy yang sadar melihat Kelana tidak bisa bernafas karena pelukan Gavin dengan cepat menepuk pundak Gavin untuk menyadarkannya. " Kak Gavin..., Apa kak Gavin mau membunuh kak Kelana."
Gavinpun tersadar setelah Jimmy menegurnya. " Oh maaf... Aku terlalu senang karena masi bisa menemukanmu." Gavin dengan reflek melepaskan pelukannya pada Kelana.
Setelah Kelana terlepas dari pelukan Gavin, Kelana masuk kembali ke dalam villa meninggalkan Gavin tanpa sepatah katapun dengan wajah yang masih marah dan kecewa pada Gavin.
Jimmy yang faham dengan situasi berinisiatif mengajak Vania berjalan-jalan di tepi pantai agar Gavin dan Kelana bisa bicara dan menyelesaikan permasalahan mereka.
" Ayo..." Vania langsung menerima ajakan Jimmy dan mereka berdua meninggalka Gavin dan Kelana.
Setelah Jimmy dan Vania meninggalkan Gavin, Gavinpun masuk ke dalam villa menyusul Kelana untuk menjelaskan kesalah fahaman ini.
" Untuk apa kamu mencariku...!" Tanya Kelana dengan nada ketus.
" Aku ingin menjelaskan apa yang kamu lihat waktu itu." Gavin mencoba tenang menghadapi kemarahan Kelana.
" Apalagi yang harus di jelaskan semuanya sudah jelas dengan apa yang aku lihat di depan mataku Vin." Kelana menolak penjelasan Gavin dengan mata berkaca-kaca sambil berjalan menuju dapur.
" Yang kamu lihat tidak seperti yang kamu bayangkan Na." Gavin mulai sedikit terpancing emosi sambil mengekor di belakang Kelana.
__ADS_1
" Tidak seperti yang ku bayangkan maksud kamu apa Vin sudah jelas-jelas kamu dan wanita itu sedang ber_". Kelana tidak sanggup melanjutkan kata-katanya ia hanya bisa menangis.
" Please kasih aku kesempatan menjelaskan semuanya Na." Gavin memohon dengan wajah yang memelas pada Kelana.
" Percuma Vin kamu menjelaskan semuanya aku sudah terlanjur sakit hati dan kecewa Vin. Selama ini aku fikir kamu laki-laki yang baik, ternyata dugaanku salah." Kelana terus menyeka air matanya yang dari tadi membasahi pipinya.
" Baiklah kasih aku kesempatan menjelaskan semuanya kejadian yang sebenarnya, terserah kamu mau percaya atau tidak. Setelah aku jelaskan semuanya aku janji aku akan pergi dan tidak akan mengganggumu lagi." Gavin terpaksa membuat perjanjian seperti ini agar Kelana mau mendengarkannya walaupun hatinya seperti teriris belatih.
Gavin menarik tangan Kelana lalu mendudukkannya di atas sofa yang berada di ruang tamu villa lalu ikut duduk di sebelah Kelana.
Gavin menarik nafasnya dengan berat dan bersiap-siap dengan keputusan Kelana setelah mendengarkan penjelasannya.
" Siang itu Leodra tiba-tiba datang kerumahku akupun kaget bagaimana dia bisa tau alamat rumahku seingatku cuma kamu, member dan Bang PD yang tau alamat rumahku ternyata sebelum kerumahku Leodra datang ke kantor management untuk mencariku dan kebetulan hari itu aku tidak ke kantor lalu dia bertanya pada Bang PD alamat rumahku, setelah dia mendapatkan alamat rumahku dia langsung datang kerumah setelah sampai di rumah aku tanya tujuannya apa mencariku tapi dia tidak memberitahuku tujuannya apa, diapun bercerita macam-macam tapi aku tidak begitu menanggapinya tiba-tiba kakinya tersandung kabel yang masi berserakan di lantai akhirnya dia terpental kearahku dan menimpaku, saat itu aku lagi duduk di sofa sambil mengerjakan sesuatu di tabku. Kalau aku mau berbuat macam-macam tidak mungkin pintu studio kubiarkan terbuka lagi pula di rumah ada banyak kamar ngapain main di studio." Gavin menjelaskan sedetail mungkin agar Kelana bisa faham dan berharap agar Kelana mau memaafkannya.
" Bukannya dia gadis yang merangkul lengan kamu waktu di party kemarin? Aku lihat kamu santai saja di rangkul seperti itu." tanya Kelana dengan senyum sinis.
" Ya dia Leodra, sebenarnya aku risih dan tidak suka cuma mau bagaimana lagi aku terpaksa waktu itu." Gavin terus berusaha untuk meyakinkan Kelana agar Kelana bisa percaya lagi dengannya.
Kelana mendengarkan penjelasan Gavin sambil mencoba untuk percaya dengan semua cerita Gavin. " Apakah aku kasih kesempatan sekali untuk Gavin karena selama kami pacaran Gavin tidak pernah berbohong sekalipun."
Kelana membhatin sambil meyakinkan hatinya karena dari lubuk hatinya yang paling dalam Kelana masih mencintai Gavin.
" Semuanya sudahku jelaskan sekarang terserah kamu mau percaya atau tidak keputusan terserah kamu." Gavin bangkit dari duduknya untuk pergi meninggalkan Kelana seperti janjinya tadi sebelum ia bercerita. Namun tiba-tiba tangannya di tarik dan membuat langkahnya terhenti.
" Aku percaya dengan semua penjelasanmu." Kelana memeluk Gavin dari belakang dan melarangnya pergi. Gavinpun memutar badannya agar bisa berhadapan dengan Kelana.
" Apa benar kamu masih percaya denganku?" Gavin memegang kedua pipi kelana untuk memastikan ucapan Kelana.
Kelana menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan pertanyaan Gavin. Gavinpun memeluk Kelana dengan bahagia sampai tidak sadar kalau Gavin meneteskan air mata karena bahagia.
Gavin mencium pucuk kepala Kelana lalu mereka saling bertatapan mata dan akhirnya bibir mereka saling menyatu Gavin menahan tengkuk Kelana agar bibir mereka terus menyatu. Mereka melepas rindu setelah 2 hari tidak bertemu.
__ADS_1
✎a❁ᴗ͈ˬᴗ͈) ༉‧ ♡*.✧
︶︶︶︶︶︶︶︶︶༉‧₊˚.